Thursday, February 16, 2017

The Jose Flash Review
The State vs Jolly LL.B 2
[जॉली एलएलबी २]


Ada alasan mengapa film bertema court drama masih jarang diangkat. Pertama, perlu riset dan pemahaman khusus terhadap bidangnya, apalagi tiap regional punya hukum yang berbeda-beda. Kedua, karena tema yang begitu spesifik membuat penonton yang tertarik pun menjadi segmented. Penonton umum cenderung menghindari karena takut akan sulit memahami, kebosanan, dan mungkin tertidur. Ketiga, menulis dan mengembangkan plot berlatar belakang hukum punya tingkat kesulitan yang tinggi. Tak hanya harus jeli memanfaatkan 'celah-celah' untuk dijadikan kasus berdaya tarik, tapi juga kemasan akhir yang tetap bisa meghibur di balik tema yang serius. Drama kemanusiaan dan thriller lebih sering dijadikan treatment. Terakhir yang paling berkesan dalam benak saya adalah The Judge (2014) yang menyentuh sentimentil penonton lewat kisah ayah-anak. Sementara yang dikemas dalam bentuk komedi cerdas harus menarik waktu lebih jauh lagi. Yaitu Legally Blonde (2001) yang dibawakan secara cemerlang oleh Reese Witherspoon. Sayang sekuelnya di tahun 2003 tak sesukses installment pertama.

Sinema Hindi baru tahun lalu memukau penonton dunia lewat court drama yang menyentil aspek kesetaraan gender, hak wanita, dan lemahnya hukum di negara mereka lewat Pink yang dibintangi Amitabh Bachchan. Awal tahun ini sinema Hindi mencoba mengulang kesuksesan komedi satir bertema ruang pengadilan, Jolly LL.B (2013) lewat sekuelnya, The State vs Jolly LL.B 2 atau judul singkatnya, Jolly LL.B 2 (JLLB2). Akshay Kumar yang jelas jauh lebih populer dipilih untuk menggantikan sosok sentral Jolly LL.B. Namun karakter yang ia perankan bukan karakter yang sama dari JLLB. Hanya julukan yang sama dan Saurabh Shukla yang melanjutkan peran Hakim Tripathy. So JLLB2 sebenarnya lebih tepat disebut sebagai spin-off ketimbang sekuel.
Bertahun-tahun Jagdish Mishra bekerja sebagai sekretaris seorang pengacara terkenal hanya karena sang ayah sebelumnya sudah tiga puluh tahun menjadi sekretarisnya. Sebagai pengacara yang bersertifikat Jagdish terus berharap suatu hari diberi kesempatan menangani kasus. Sayang masa itu tak kunjung datang, maka ia nekad berinisiatif membuka kantor pengacara sendiri dengan menggunakan uang dari calon klien majikannya yang ditolak, Heena. Siapa sangka 'penipuan' yang ia lakukan itu berbuntut Heena bunuh diri karena putus asa. Untuk menebus kesalahan dan memulihkan reputasi, ia mulai mempelajari kasus kematian suami Heena yang diduga korban polisi korup, Inspektur Suryaveer Singh. Investigasi ini membawa dirinya ke dalam jaringan kotor kepolisian Lucknow yang tak hanya membahayakan reputasinya, tapi juga nyawanya. Apalagi Inspektur Suryaveer ditangani oleh pengacara terbaik di Lucknow, Pramod Mathur. Adu argumen dan kecerdasan pun berlangsung alot dan lama di ruang persidangan Hakim Sunderlal Tripathi.
Secara garis besar, formula JLLB2 memang terkesan kurang lebih sama dengan installment pertamanya. Namun jika Anda membandingkan hasil akhirnya, JLLB2 terasa seperti versi ‘spiced-up’ dari JLLB. Ada cukup banyak improvement yang dilakukan di berbagai aspek. Lebih banyak sindiran dan mock yang disebar di berbagai penjuru film dengan cara yang lebih relevan dengan plot utama. Bahkan film ditutup dengan sebuah sketsa kecil yang secara sederhana dan literal menyindir makna ‘keadilan’. Pembangunan karakter utama, Jagdish Mishra alias Jolly dibuat lebih kompleks dengan menghadirkan sosok yang gelap di awal sebagai setup turnover cerita yang (ternyata) punya impact lebih mendalam. Keseimbangan sosok Jolly sebagai karakter serius dan gokil pun terasa pada porsi yang lebih pas dan solid ketimbang sosok serupa di JLLB. Terakhir, look keseluruhan JLLB2 jelas terasa dibuat lebih proper, higher budget, dan lebih ‘Bollywood’ ketimbang JLLB yang masih agak ‘FTV’. Alhasil, JLLB2 menjadi sebuah komedi satir yang jauh lebih seimbang di berbagai aspek dan digarap dengan lebih solid dalam menyindir, mengolok-olok, dan menggugat berbagai isu di dalam dunia peradilan. Tak lupa pula unsur ‘hearty’ yang menjadi komposisi yang tak boleh diabaikan sebagai sebuah drama kemanusiaan.
Reputasi kualitas akting Akshay Kumar yang tergolong versatile sekali lagi terbuktikan lewat penampilannya sebagai Jagdish Mishra alias Jolly. Sosok Jolly yang bak punya dua sisi yang berlawanan mampu diterjemahkan Akshay dengan keseimbangan yang luar biasa sehingga emosi penonton tak sampai terbiaskan ketika salah satu sisi ditampilkan di layar. Saurabh Shukla sebagai Hakim Sunderlal Tripathi masih melanjutkan peran yang kurang lebih sama dari JJLB, tapi kali ini dengan kadar komikal yang sedikit lebih banyak. Annu Kapoor punya kharisma yang pas sebagai Pramod Mathur, menjadikannya rival yang sepadan bahkan di berbagai kesempatan lebih kuat bagi Jolly. Huma Qureshi sebagai Pushpa memang tak punya cukup porsi dalam plot tapi cukup menarik perhatian. Terakhir yang paling mencuri perhatian adalah Sayani Gupta sebagai Hina Siddiqui. Dengan porsi yang termasuk terbatas, she’s stolen it quite strong.
Dibandingkan installment pertama, teknis JLLB2 jelas terasa lebih proper dan lebih sinematik khas Bollywood. Terutama berkat sinematografi Kamal Jeet Negi yang menyuguhkan variasi-variasi shot yang tepat guna dan pergerakan kamera yang menarik untuk diikuti. Editing Chandrashekhar Prajapati membuat pace cerita mengalir lancar dan dengan porsi yang serba pas dalam membangkitkan emosi penonton di tiap fasenya. Musik dari Vishal Khurana memberikan keseimbangan yang pas antara drama, komedi, dan thriller meskipun tak terlalu signatural. Nomor-nomor musikal yang dihadirkan cukup ear-catchy dengan porsi dan timing yang pas. Desain produksi Gautam Sen menghadirkan kondisi interior yang sebenarnya tergolong kumuh menjadi terkesan eksotis dengan tetap punya vibrasi warna yang pas.
Sebagai sebuah court drama (atau lebih tepat, komedi satir), JLLB2 merupakan paket hiburan cerdas yang dibangun dengan komposisi serba seimbang antara drama, komedi, dan thriller. Penuh dengan berbagai sindiran, olok-olok, dan gugatan, tak hanya berkaitan dengan hukum, tapi juga kondisi sosial-budaya, yang meski sangat banyak tapi sama sekali tak terasa terlalu stuffed-up ataupun terlampau cerewet. Kemasan investigatif yang tak kalah seru dan cerdasnya membuat flow JLLB2 asyik dan bikin penasaran untuk diikuti. Improvement yang cukup signifikan dari JLLB pertama. Penonton yang tak menonton installment pertama ataupun tak memahami sistem peradilan di India pun tak akan dibuat mengerutkan kening untuk mengikutinya. Dengan berbagai kelebihan yang dimilikinya, JLLB2 merupakan sajian Bollywood yang sangat bagus di awal tahun 2017 ini. Melanjutkan kegemilangan tahun 2016 yang telah menelurkan banyak film-film yang dengan jelas membuktikan kelebihan-kelebihan luar biasa dari sinema Bollywood.
Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates