Saturday, February 11, 2017

The Jose Flash Review
Split

Master of horror. Master of thriller. Master of twist-ending. Predikat-predikat itu pernah melekat pada diri M. Night Shyamalan, terutama setelah The Sixth Sense (1999) dinobatkan sebagai salah satu film horror/thriller klasik. Dilanjutkan berturut-turut, Unbreakable (2000), Signs (2002), dan The Village (2004). Milestone yang telah ditorehkannya lewat The Sixth Sense membuat penggemar film selalu mengharapkan tema thriller/horror dengan twist-ending yang briliant di tiap karyanya. Ekspektasi seperti inilah yang menjadi bumerang ketika Lady in the Water (2006) dan The Happening (2008) dirilis. Ia mulai dianggap kehabisan sentuhan magisnya. Sampai ia harus menggarap ‘proyek pesanan’ (biasanya ia menggarap film dengan ide cerita sendiri, ditulis sendiri, dan disutradarai sendiri) seperti adaptasi live action The Last Airbender dan After Earth yang semakin menenggelamkan reputasinya.

I’m one of his fan and I think he’s more than just about horror/thriller and twist-ending. Di mata saya ciri khasnya ada pada kepiawaiannya menyusun universe dengan ‘aturan-aturan’ sendiri yang selalu bikin penasaran untuk terus mengikuti plotnya serta menemukan makna atau statement apa yang ingin disampaikannya. Tak selalu muluk-muluk atau tentang hal-hal  besar. I mean, siapa sangka ia sebenarnya penulis naskah dari film anak-anak Stuart Little (1999)? It ain’t big but admit it, it had its own charm, didn’t it? Tahun 2015 ia berkesempatan untuk mengembalikan reputasinya lewat The Visit yang cukup mendapatkan sambutan hangat, baik dari kritikus maupun penonton. But apparently it’s just a warming-up of his comeback. Awal tahun 2017 ini ia benar-benar diterima kembali sepenuhnya lewat Split yang menjadi jawara box office Amerika Serikat selama tiga minggu dengan penghasilan yang sampai tulisan ini diturunkan sudah melampaui US$ 146.9 juta, tentu saja still counting. Mengangkat tema DID (dissociative identity disorder) atau kepribadian multiple, Shyamalan mencoba menawarkan angle yang berbeda dari tema tersebut.
Tiga gadis muda diculik oleh sosok misterius ketika salah satunya usai merayakan ulang tahun; Claire, Marcia, dan Casey. Mereka dibawa ke sebuah ruangan sempit entah di mana. Si pelaku adalah pria kulit putih yang mengaku bernama Dennis. Ketika melihat ada sosok wanita yang lewat di depan pintu, mereka sempat mencoba memohon pertolongan. Ternyata wanita yang mengaku bernama Patricia itu tak lain dan tak bukan adalah Dennis. Barulah mereka sadar bahwa si penculik adalah pengidap DID.
Dennis sendiri sebenarnya berada di bawah pengawasan terapi dari Dr.  Karen Fletcher yang punya teori-teori sendiri tentang kasus DID, termasuk bahwa DID sebenarnya bukan kelainan tapi merupakan kelebihan yang tak dimiliki manusia biasa. Perlahan Karen mencoba mengidentifikasi tiap kepribadian yang muncul dalam diri Dennis dan menganalisis darimana asal kepribadian-kepribadian ini. Karen semakin penasaran untuk mempelajari lebih dalam ketika salah satu kepribadian Dennis mengaku sering mendapatkan penglihatan tentang sesosok monster mengerikan.
Sementara itu Claire, Marcia, dan Casey terus mencari cara untuk kabur, termasuk membujuk salah satu kepribadian Dennis yang masih berusia 9 tahun, Hedwig. Along the way, ketiganya menemukan rahasia salah satu dari mereka yang mungkin bisa menjadi kunci meloloskan diri dari sekapan Dennis.
Jika selama ini horor/thriller bertema serupa memanfaatkan DID sebagai twist-ending, seperti misalnya di Psycho, Identity, dan di film Indonesia, Belahan Jiwa, maka Split berani membeberkan dengan terang-terangan tema ini di awal film. Yeah, come on. It’s Shyamalan. He won’t use the old formulaic trick. Di sisi terluar, ia menyuguhkan hide-and-seek thriller dengan mastering sense Shyamalan yang mencekam dan memompa adrenalin, lengkap dengan battle of wit yang tak kalah mendebarkannya. Kemudian di lapisan berikutnya barulah tema DID digali dengan lebih mendalam dengan teori-teori serta ‘aturan-aturan’ yang masih belum pernah ada di medium film sebelumnya. Menjadikannya sebuah konklusi yang tak hanya mencengangkan (saking logis-nya, even though I don’t know if it’s medically true or not), tapi juga menjadi statement yang fair dan membawa perspektif baru pada kasus DID. Tak boleh diabaikan juga sedikit hint di penutup yang membuat fans atau siapa saja yang mengikuti film-film Shyamalan spontan bersorak. Yes, we can expect something bigger and bolder from Shyamalan in the future from here. I’m so excited for this glorious comeback.
Mustahil membahas tema DID tanpa performa akting pelakon yang harus membawakan peran dengan tingkat kesulitan berlapis tersebut. Itulah mengapa James McAvoy yang memerankan Dennis dan ke-23 kepribadian (meski tak semuanya ditampilkan di layar) layak mendapatkan kredit terbesar. Even maybe, the most important role he ever played so far. Tak hanya sosok utama yang terlihat sangat sakit jiwa lewat ekspresi wajah dan gesture, tapi juga kepribadian-kepribadian lain yang cukup signifikan, seperti Patricia, Barry, dan Hedwig. Manipulatif namun konsistensi tiap kepribadian terjaga. Betty Buckley sebagai Dr. Karen Fletcher pun mencuri perhatian saya berkat tampilan kecerdasan, ketenangan, serta pengertian yang begitu convincing untuk mengimbangi karakter Dennis dan kepribadian-kepribadian lainnya. Anya Taylor-Joy yang belum lama ini kita lihat sebagai Morgan di Morgan, membawakan peran Casey yang sebenarnya masih tak jauh berbeda dari peran sebelumnya. Lebih banyak terlihat diam dan tenang, tapi di sini terasa jauh lebih misterius dan bak memendam sesuatu yang bikin penasaran. Sementara Haley Lu Richardson sebagai Claire Benoit dan Jessica Sula sebagai Marcia mungkin porsinya tak lebih dari tipikal peran gadis korban di film-film thriller, tapi setidaknya masing-masing tampil cukup impresif.
Seperti kebanyakan film-film Shyamalan, teknis Split pun sebenarnya tak terlalu istimewa dan tak ada yang benar-benar baru, tapi tetap terasa maksimal sesuai tujuannya.  Sense of atmospheric dan timing inilah yang menjadi kekuatan film-filmnya, terutama yang bergenre horror/thriller. Sinematografi Mike Gioulakis yang mampu menghadirkan aksi karakter-karakternya begitu jelas sehingga berhasil menghadirkan ketegangan tersendiri. Didukung dengan editing Luke Franco Ciarrocchi yang membuat momen-momen thrilling-nya pada timing yang serba tepat dan membuat laju plot mengalir lancar tanpa terkesan dibuat terlalu rumit. Begitu pula music score gubahan West Dylan Thordson dengan bunyi-bunyian dan nada-nada sederhana tapi punya impact kengerian, suspicious, dan ketegangan yang efektif. Sound design dan sound mixing menghadirkan detail mengagumkan untuk membangun atmosfer, dengan pembagian kanal surround yang juga maksimal.
Bagi penggemar setia Shyamalan yang sempat skeptis setelah reputasinya meredup, Split menjadi pemuas dahaga yang kembali membangkitkan antusiasme akan karya-karyanya lagi. Twist-ending yang briliant dan bombastis memang bukan lagi menjadi komoditas utamanya, tapi Split masih menyimpan beberapa kejutan yang bikin terbelalak kagum sekaligus spontan bersorak ketika muncul. Above all, menghadirkan tema yang sudah sering diangkat ke genre horror/thriller tapi dengan konsep yang bisa membawa temanya ke level yang sama sekali berbeda, sekaligus konklusi yang fair dan menimbulkan perspektif baru pada kasus DID, Split jelas film yang pantang dilewatkan, apalagi bagi penikmat horror/thriller dan terutama penggemar Shyamalan.
Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates