Thursday, February 23, 2017

The Jose Flash Review
Salawaku

Salawaku, seorang anak laki-laki asal Pulau Seram, Maluku, bersikeras ingin mencari sang kakak, Binaiya yang tiba-tiba menghilang, meninggalkannya sebatang kara. Ia memutuskan mencarinya di Kota Piru, kota yang sempati ingin ditinggali oleh sang kakak. Perjalannya ditemani oleh seorang wisatawan asal Jakarta, wanita muda bernama Saras yang tak sengaja ditemuinya ketika tersesat di tengah-tengah laut. Di tengah perjalanan, keduanya bertemu Kawanua, sahabat Binaiya yang awalnya mengatakan juga ingin mencari Binaiya, tapi justru terkesan menghalang-halangi perjalanan Salawaku dan Saras. Ternyata bukan tanpa alasan. Kawanua punya rahasia tentang keberadaan dan hubungannya dengan Binaiya.

Road movie sejatinya menjadi pilihan treatment yang tepat digunakan untuk film dengan tujuan promosi pariwisata. Namun yang tak boleh diabaikan adalah interaksi antar karakter yang menjalani perjalanan bersama atau interaksi seorang karakter dengan orang-orang yang ditemuinya selama perjalanan sehingga menghasilkan (setidaknya) satu konklusi dari perjalanan yang dilalui. Singkatnya, perjalanan yang dilakukan punya makna tertentu. Film Indonesia punya cukup banyak contoh film seperti ini. Terakhir yang paling membekas dalam ingatan saya sampai saat ini adalah Laura & Marsha (2013) dan Mencari Hilal (2015). I have to say, road movie adalah salah satu genre paling favorit saya yang juga doyan traveling.
Salawaku yang merupakan debut penyutradaraan dari Pritagita Arianegara (asisten sutradarai di Soekarno: Indonesia Merdeka, About a Woman, Haji Backpacker, dan Another Trip to the Moon) ini awalnya memang ditujukan sebagai sarana promosi pariwisata Pulau Seram. Premise road movie yang ditawarkan pun sebenarnya cukup menarik untuk dikembangkan. Sayangnya, perjalanan yang digelar tak menyuguhkan interaksi yang terjalin baik antar karakter. Malahan di banyak kesempatan, pilihan tindakan yang dilakukan oleh karakter-karakternya patut dipertanyakan. Misalnya saja hubungan antara Salawaku dan Saras yang seringkali tak dilandasi motivasi yang jelas, apalagi kuat. Ketika karakter Kawanua masuk pun semakin membuat laju plot menjadi semakin absurd. Karakter Kawanua seperti kebingungan harus membawa kemudi plot ke arah mana. Masih ditambah chemistry ‘aneh’ antara Kawanua dan Saras, semakin parah setelah tahu rahasia Kawanua yang justru semakin membuat penonton kehilangan simpati terhadap karakternya.
Resolusi yang dilakukan pun terjadi dengan turnover yang terasa coming out of nowhere, tanpa melalui proses ataupun pemikiran yang masuk akal. Perkembangan konflik yang terjadi sepanjang film terasa terlalu disederhanakan bak film TV era TVRI. As a road movie, perjalanan yang dilalui terkesan serba basa-basi tanpa penggalian kedalaman yang cukup berarti. In short, it’s not even a memorable trip. Rather boring.
Akhirnya, konklusi yang tak kalah absurd-nya, tentang ‘hidup itu tentang meninggalkan atau ditinggalkan’ WHATT??? Maaf, saya gagal mengkoneksikan konklusi ini dengan proses perjalanan yang telah dilalui karakter-karakter di dalam film. Lagian, serius konklusinya dibuat sedemikian… anehnya? I mean, jadi dengan kata lain, kalau nggak mau ditinggalkan, makanya lebih baik meninggalkan lebih dulu. Begitu? Atau jangan ragu jika ingin meninggalkan, toh bisa jadi ke depannya Anda yang ditinggalkan? Atau… Well, whatever. Apapun itu, saya tak menemukan korelasi antara konklusi tersebut dengan elemen apapun dalam perjalanan yang dilalui Salawaku, Saras, dan Kawanua.
Yang masih sedikit menyelamatkan Salawaku adalah panoramic yang direkam oleh Faozan Rizal, dan penampilan para aktornya. Itupun sinematografi Faozan karena pemandangan alam setting yang memang sudah cantik, sementara untuk urusan manfaat lebih terhadap storytelling, tidak terlalu banyak memberikan pengaruh.  Penampilan para aktornya pun sekedar natural sesuai dengan porsi masing-masing yang diberikan oleh naskah. Tak sampai ada yang benar-benar istimewa dengan kedalaman maupun lapisan-lapisan karakter lebih.
Kredit cast terbesar mungkin layak disematkan kepada aktor cilik, Elko Kastanya yang meski baru pengalaman pertama kali berakting tapi terlihat cukup natural tanpa ada kecanggungan yang berarti. Beberapa momen emosional dari karakternya pun mampu ditampilkan dengan kapasitas yang pas. Karina Salim tampil sekedar ‘okay’ sesuai tuntutan karakter dalam menghidupkan sosok Saras yang sebenarnya ditulis dengan sangat biasa. Jflow Matulessy pun tampil luwes sebagai Kawanua kendati ambiguitas karakter yang diperankan membuat penonton gagal untuk bersimpati penuh kepadanya. Sebagai Binaiya, Raihaanun tak punya porsi yang cukup untuk menunjukkan kualitas aktingnya. Namun effort-nya dalam menampilkan karakter Binaiya secara sedikit lebih kompleks masih terlihat kendati pada akhirnya jatuh menjadi biasa saja. Terakhir, Shafira Umm tak punya kesempatan yang cukup untuk sekedar menjadi penampilan singkat berkesan. Sekedar noticeable, bahkan mungkin tergolong ‘blink and you’ll miss it’.
Selain sinematografi Faozan Rizal yang sebenarnya banyak terbantu oleh kondisi alam asli, teknis Salawaku lainnya juga tergolong biasa-biasa saja. Editing Sastha Sunu sekedar membuat laju plot yang tak banyak berkembang secara penting menjadi tak terkesan bertele-tele atau terlalu lambat bin sunyi bak ‘arthouse-arthouse’-an Indonesia pada umumnya. Yes, ia memang sunyi. Apalagi dengan scoring music dari Thoersi Argeswara yang tergolong minimalis dan dalam kadar yang minim pula. Namun setidaknya durasi yang hanya 82 menit masih tolerable.
Jujur, setelah melihat langsung saya jadi mempertanyakan kredibilitas berbagai festival film nasional yang bahkan sampai memenangkan Salawaku sebagai film terbaik. Ini bukan lagi urusan selera maupun relate atau tidaknya terhadap penonton tertentu. Bukan pula soal cerita yang sederhana. Ini soal pengembangan cerita yang tak jelas arahnya, pilihan aksi para karakter yang patut dipertanyakan motivasinya, resolusi yang coming out of nowhere, dan konklusi yang tak punya korelasi apa-apa dengan perjalanan sepanjang film. Naskah yang benar-benar berantakan dari Iqbal Fadly dan Titien Wattimena. Apa mungkin faktor ‘kemasan’ yang menjurus ke arah arthouse ditambah pemandangan-pemandangan yang memang luar biasa cantik mendistraksi? Well, sorry to say. Dalam bahasa saya, Salawaku adalah film yang sepanjang film disusun oleh momen-momen ‘apasik-apasik’ dan ditutup dengan celetukan, ‘lho sudah, begitu aja?’. Terserah Anda yang merasa diri berselera tinggi dan doyan arthouse mau mencibir selera saya. Tak akan mengubah resepsi saya terhadap Salawaku dan saya yakin saya tidak sendirian.
Lihat data film ini di filmindonesia.or.id.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates