Thursday, February 23, 2017

The Jose Flash Review
Rings

Bagaimanapun, di teritori manapun, sampai kapanpun, horror merupakan genre yang selalu diminati. Tak heran jika ada banyak sekali franchise horror yang sudah menyandang status ‘klasik’. Hollywood pun me-remake horror-horror Jepang yang sempat menjadi trend, termasuk yang digarap paling serius dan paling berhasil adalah The Ring (2002) dan sekuelnya, The Ring Two (2005). Tentu ini tak lepas dari tangan dingin sutradara Gore Verbinski dan naskah Ehren Krueger yang punya visi tersendiri untuk versi Hollywood-nya. Horror murah tapi keuntungan yang lumayan tentu akan terus dipertahankan. Meski penghasilan The Ring Two mengalami penurunan tapi masih tergolong menguntungkan. Seiring dengan bergantinya trend horror, Paramount mengambil alih rights adaptasi The Ring dari DreamWorks dan merencanakan installment baru sejak 2014. Sutradara Spanyol, F. Javier Gutiérrez (yang lebih dulu dikenal di berbagai ajang penghargaan internasional lewat Tres días atau Before the Fall) dipercaya untuk menggarapnya dengan naskah yang disusun oleh David Loucka (Dream House, House at the End of the Street), Jacob Estes, dan Akiva Goldsman (A Beautiful Mind, The Da Vinci Code, I Am Legend).

Berbagai format coba dikembangkan, mulai 3D, rebooth, hingga akhirnya diputuskan sebagai sebuah sekuel dengan mengambil setting 13 tahun setelah The Ring. Produksi sendiri sebenarnya sudah dimulai pertengahan 2015. Namun sempat melakukan re-shoot pertengahan 2016 dan penundaan jadwal rilis beberapa kali hingga jadwal akhir dari September 2016 ke Februari 2016. Proses yang mencurigakan, tapi trailer yang dirilis sejak pertengahan tahun 2016 lalu tampak menjanjikan, sehingga masih menyisakan rasa penasaran pada diri saya.
Julia panik ketika sang kekasih yang kini tinggal di asrama kampus, Holt, tiba-tiba menghilang tanpa kabar. Ketika menyusul ke kampus, ia menemukan bahwa seorang dosen, Gabriel, melakukan eksperimen rahasia yang melibatkan beberapa mahasiswanya. Benar saja, Holt adalah salah satu partisipannya. Holt pun menceritakan perihal kutukan video tentang Samara Morgan yang sempat menghebohkan belasan tahun silam. Penonton video tersebut akan menemui ajal dalam tempo 7 hari. Cara mematahkan kutukannya adalah dengan meng-copy dan menunjukkan video tersebut ke orang lain. Karena rasa penasaran sekaligus menyelamatkan Holt dari kutukan, Julia diam-diam menonton isi video tersebut. Julia dan Holt pun bertekad menyelidiki latar belakang video tersebut yang membawa mereka ke kota kecil bernama Sacrament Valley. Harapan mereka Samara bisa tenang dan kutukan akan berakhir dengan terkuaknya misteri. Mereka menemukan rahasia orang tua kandung Samara yang ternyata membawa petaka lain lagi bagi mereka berdua.
Mengamati tipe horror franchise The Ring yang melibatkan kematian korban, sebenarnya bisa memanfaatkan cara kematian yang variatif untuk menggenjot adrenaline penonton sebagai formula dasarnya. Let’s say a la Final Destination. Bukankah tujuan utama penonton menyaksikan horror adalah mencari heart-sport, baik melalui thriller yang memompa adrenaline maupun jumpscare? Rings lebih memilih untuk mengembangkan premise dasar ke berbagai kemungkinan plot. Menarik juga sebenarnya, tapi tetap saja perlu diimbangi dengan formula dasar horror yang mutlak harus ada. Rings masih menyisakan satu-dua jumpscare yang ternyata gagal terasa dan penampakan sosok Samara yang makin lama makin kebal bagi penonton.
Now let’s see on how it expanded the story. Oke, memasukkan aspek ilmiah tentang jiwa adalah pilihan menarik. Sayangnya aspek ini hanya dimunculkan sebagai gimmick sementara saja, tanpa pengembangan korelasi dengan plot utama yang cukup matang maupun relevan. Aspek relationship Julia dan Holt juga menarik dengan mengambil legenda Orpheus yang sampai dimanifestasikan dalam sebuah adegan. Sayang kemudian elemen relationship ini tak dikembangkan menjadi bagian dari plot maupun character investment yang cukup untuk membuat penonton peduli akan nasib keduanya.
Plot kemudian berubah haluan menjadi investigasi misteri Samara Morgan yang (lagi-lagi) sayangnya mengalir dengan kelewat bertele-tele. Formula halusinasi a la Oculus digunakan pada fase ini. Mungkin formulaic dan predictable bagi beberapa penonton, tapi saya tetap peansaran dengan berbagai kemungkinan formula yang digunakan selanjutnya. Formula kemudian berubah lagi menjadi hide-and-seek thriller yang mengingatkan saya akan Don’t Breathe, lengkap dengan sosok antagonis buta-nya. Penggabungan formula yang kelewat banyak ini dilakukan dengan transisi yang kelewat signifikan sehingga alih-alih menjadi perpaduan yang saling mendukung, justru jatuh menjadi saling tumpang-tindih dan at some point, melelahkan. Belum lagi jika ingin menyambungkan latar belakang sosok Evelyn, ibu kandung Samara, di installment sebelumnya yang terkesan janggal. Konklusi akhir tentang rebirth (no, it’s not a spoiler. It’s even on the tagline!) lagi-lagi formulaic tapi tergolong relevan dan masuk akal pada kasus sejenis. Sayangnya, daya tariknya sudah sampai pada titik dimana penonton (setidaknya saya) sudah tak peduli lagi ke arah mana lagi franchise ini mau dibawa.
Matilda Anna Ingrid Lutz dan Alex Roe sebagai pasangan Julia dan Holt mungkin terlihat bak karakter utama mediocre di film horror sejenis. Tak ada yang benar-benar istimewa maupun memorable, tapi lebih dari cukup untuk menjadi daya tarik sepanjang film berjalan. Johnny Galecki pun punya keseimbangan antara antagonis dan protagonis yang cukup seimbang sebagai Gabriel meski karakternya tak punya kesempatan yang cukup untuk menarik simpati penonton. Vincent D’Onofrio berpotensi menjadi sosok antagonis yang menarik dan kharisma cukup sebagai Burke. Faktor porsi lagi-lagi menggagalkan upaya tersebut.
Teknis Rings mungkin memang taka da yang istimewa maupun memorable, tapi sebenarnya cukup mumpuni untuk sekedar menghadirkan nuansa horror dan misterinya. Mulai sinematografi Sharone Meir dengan camera work yang bergerak cukup dinamis di momen-momen klimaksnya. Editing Steve Mirkovich dan Jeremiah O’Driscoll terlihat berupaya untuk menjaga pace cerita tetap berjalan lancar di balik plot yang berjalan bertele-tele dan transisi antar formula yang sama sekali berbeda yang cukup banyak. Sayang upayanya masih belum benar-benar berhasil untuk menghindarkan dari kelelahan. Desain produksi Kevin Kavanaugh sedikit mengembangkan konsep aslinya dengan tone yang masih konsisten. Score music Matthew Margeson terdengar cukup memberikan sumbangsih dalam pembangunan atmosfer horror-nya. Tak terlalu bisa memorable dalam memori sih, tapi cukup terdengar eerie. Sound editing di beberapa momen cukup berhasil mendukung jumpscare (non-horror) moment, sementara di jumpscare horror moment-nya justru tak banyak berhasil.
Rings sebenarnya masih sangat potensial untuk dikembangkan. Mungkin bukan dari segi pengembangan cerita, tapi cukup satu saja formula horror yang cukup kuat untuk dipertahankan dan didaur-ulang. Sayangnya Rings berupaya memasukkan terlalu banyak formula coba-coba yang pada akhirnya membuatnya terasa kelelahan dan semakin mengaburkan korelasi dengan plot utama yang entah masih relevan atau tidak. Jika Anda sekedar mencari horror ringan atau penasaran dengan pengembangan investigasinya, boleh lah dicoba untuk dialami. Tanpa ekspektasi apa-apa tentu saja untuk menghindari kekecewaan. Tak sampai busuk sekali sih, tapi masih jauh dari kata berhasil untuk sekedar mempertahankan reputasi maupun ekspektasi terhadap franchise-nya.
Lihat data film ini di IMDb
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates