Thursday, February 9, 2017

The Jose Flash Review
Ok Jaanu

Cinta atau karir? Belum lama ini sebuah film musikal fenomenal yang berjaya di banyak ajang penghargaan bergengsi dunia, La La Land, mengangkat tema klasik yang ternyata sampai sekarang masih sangat relevan. Awal tahun 2017 ini Bollywood juga menawarkan tema serupa tapi dengan fokus dan tentu saja, treatment yang berbeda. Film bertajuk Ok Januu (Bahasa Inggris: Ok, Darling!) yang diproduksi oleh Madras Talkies milik Mani Ratnam dan Dharma Prouctions milik Karan Johar ini merupakan remake dari film Tamil berjudul O Kadhal Kanmani yang juga diproduksi Ratnam tahun 2015 lalu. Dengan sentuhan khas Bollywood, tentu tema universal ini diharapkan bisa menjangkau penonton yang lebih luas di seluruh dunia. Naskahnya masih dikerjakan Ratnam sendiri, tapi bangku penyutradaraan diserahkan kepada Shaad Ali yang pernah mengarahkan Saathiya, Bunty Aur Babli, Jhoom Barabar Jhoom, dan Kill Dil. Aditya Roy Kapoor dan Shraddha Kapoor kembali dipasangkan setelah Aashiqui 2. Seolah nama-nama tersebut belum cukup untuk menjadi daya tarik, masih ada komposer legendaris, A. R. Rahman yang menggarap musiknya, dan Gulzar yang piawai menuliskan dialog-dialog indah.
Adi baru saja pindah ke Mumbai untuk menghadiri sahabatnya, Jennifer, yang akan menikah, sekaligus memulai karir di sebuah studio pembuatan video game. Impiannya cuma satu: pergi ke Amerika Serikat untuk mengalahkan kekayaan Mark Zuckerberg. Baru tiba di stasiun kereta api ia sudah dipertemukan dengan seorang gadis yang berniat melompat ke jalur rel kereta api. Ternyata gadis yang mengaku bernama Tara ini juga hadir di pemberkatan pernikahan Jennifer. Setelah ngobrol beberapa saat, mereka menemukan beberapa persamaan dan kecocokan. Yang terpenting, mereka sama-sama tak mau menikah dan punya ambisi mengejar passion yang besar untuk lebih diutamakan ketimbang berumah tangga. Jika Adi bermimpi ke Amerika Serikat, Tara yang bekerja sebagai arsitek bermimpi suatu saat bisa ke Paris. Meski berusaha membatasi diri dengan kesepakatan untuk tidak jatuh cinta, percikan asmara yang begitu kuat tak bisa begitu saja dibendung. Hingga memutuskan untuk tinggal bersama (baca: kumpul kebo) pun, mereka masih saja berusaha keras untuk menjaga perasaan. Tiba waktunya ketika sama-sama berkesempatan mewujudkan impian masing-masing, keduanya dihadapkan pada pilihan sulit, hubungan asmara yang sudah terlanjur terjalin kuat dan merelakan impian mereka selama ini lewat begitu saja, atau sebaliknya.
Secara garis besar mungkin dengan mudah Anda berkesimpulan ‘La La Land banget’. Tak salah karena tema yang memang serupa. Namun keduanya dikembangkan dengan treatment dan arah yang sangat berbeda. Jika La La Land memang berfokus pada pilihan antara asmara atau meraih mimpi, maka Ok Jaanu menitik beratkan pada dilematis mengontrol perasaan diri terhadap pasangan agar tidak berakhir menyakitkan. Karakter Tara sengaja dibangun dengan trauma atas rumah tangga kedua orang tuanya yang bubar jalan, sehingga ketakutannya menjadi masuk akal. Dilema yang dihadirkan pun cukup terasa berkat chemistry antara Aditya dan Shraddha yang memang terjalin kuat. Sementara karakter Adi tidak diberikan latar belakang yang cukup untuk menjadikan ketakutannya rasional. Anggap saja ia seperti kebanyakan pria muda yang lebih tertarik untuk mengejar karir setinggi mungkin dan menganut paham carpe diem. Dilematis sejenis yang dialami Tara juga ditunjukkan dengan jelas oleh karakter Adi, menjadikannya dilema komunal yang seimbang.
Sayang, sama seperti arah hubungan Adi dan Tara, laju plot yang dihadirkan Shaad Ali di sini seolah terasa kebingungan mau dibawa ke arah mana. Alhasil nyaris lebih dari separuh film dihabiskan untuk memupuk chemistry antara keduanya tanpa laju yang cukup berarti dan bahkan beberapa tergolong pengulangan. Hubungan yang carefree, gila-gilaan, tapi juga dilematis. Bandingkan dengan penyampaian gaya hubungan serupa di Befikre yang somehow lebih terasa berjalan mulus di balik rangkaian hal-hal gila dan dilematis-nya.  Konklusinya pun tergolong sangat biasa tanpa statement yang cukup kuat dengan konflik yang semenarik dan serelevan (dengan kondisi sosial masa kini) itu.
Sub-plot hubungan antara Paman Gopi dan Bibi Charu menurut saya sangat potensial untuk menjadi refleksi yang kuat bagi ketakutan hubungan Adi dan Tara. Sejak awal niatan tersebut terlihat jelas dan sempat pula menuju ke arah tersebut.  Sayangnya Shaad Ali tak menemukan cara untuk mengkoneksikan sub-plot tersebut ke plot utama sehingga menjadi konklusi yang bold. Sub-plot ini pun akhirnya berjalan sendiri tanpa punya dampak yang terasa signifikan terhadap hubungan Adi dan Tara.
Bekal menjadi pasangan di Aashiqui 2, Aditya Roy Kapoor dan Shraddha Kapoor masih memberikan performa sekaligus chemistry yang convincing dan cukup kuat. Setidaknya dilema keduanya terasa dengan jelas lewat gesture dan ekspresi wajah. Penampilan aktor veteran, Naseeruddin Shah pun menjadi pendukung yang tak kalah mencuri perhatian, baik karena kharisma aktingnya yang terpancar kuat maupun chemistry dengan Leela Samson sebagai Charu yang tak kalah hangatnya. Sementara Jasmeet Singh Bhatia sebagai Bantee, Sharma Vibhoutee sebagai Jennifer, dan Kitu Gidwani sebagai ibu Tara tampil pas sesuai porsi masing-masing.
Tampilan visual menjadi salah satu daya tarik utama Ok Jaanu. Tak hanya sinematografi Ravi K. Chandran yang mengeksplorasi setting serta emosi-emosi cerita dengan variasi shot, tapi juga tampilan animasi game yang digarap oleh karakter Adi yang begitu memanjakan mata. Motion graphic di credit title-pun menunjukkan kelanjutan kisah asmara Adi dan Tara dengan fun. Editing A. Sreekar Prasad masih tergolong aman untuk sekedar menggerakkan plotnya, di luar storytelling Shaad Ali yang seringkali masih kurang jelas. Desain produksi Sharmishta Roy begitu memukau di banyak kesempatan, terutama kamar hotel dan rumah Paman Gopi. Desain kostum Eka Lakhani pun layak mendapatkan kredit lebih. Score music dari A.R. Rahman seperti biasa, mampu menyuntikkan energi sekaligus nuansa romantisme tersendiri. Tak ketinggalan sedikit eksperimen dengan memasukkan elemen-elemen suara a la 16 bit sesuai dengan visual style bak video game. Track-track pengiringnya beberapa cukup catchy, terutama theme song Ok Jaanu dan The Humma Song.
Kendati Aditya Roy Kapoor dan Shraddha Kapoor menghadirkan chemistry manis yang convincing dan kuat, agaknya masih belum cukup untuk menjadikan Ok Jaanus sebuah drama romantis bertema menarik dengan konklusi yang bernas. Salah satu faktornya adalah storytelling Shaad Ali yang masih kurang jelas dan seringkali terasa kebingungan membawa arah cerita. Akhirnya Ok Jaanu menjadi sebuah drama romantis yang just ok. Dengan tema yang serupa, saya masih lebih memilih Befikre untuk direkomendasikan. Namun setidaknya Ok Jaanu punya visual yang sayang dilewatkan di layar lebar.
Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates