Thursday, February 23, 2017

The Jose Flash Review
Moammar Emka's
Jakarta Undercover


Sejak pertama kali diterbitkan tahun 2003, novel Jakarta Undercover (JU) karya Moammar Emka sudah menjadi fenomena budaya pop Indonesia. Bagaima tidak, topik seks dan segala jenis dunia malam yang sebelumnya lebih sering dianggap tabu tiba-tiba menjadi domain publik luas. Tak heran jika Rexinema dan Velvet Silver sempat mengadaptasinya ke layar lebar berjudul sama di tahun 2007. Karena format novelnya yang hanya memberikan deskripsi sebuah fenomena esek-esek di tiap babnya, maka perlu modifikasi bentuk narasi utama untuk kemudian baru dimasukkan fenomena esek-esek sebagai latarnya. Tahun 2017 ini Moammar Emka sendiri yang berinisiatif untuk sekali lagi mengangkat novelnya ke layar lebar. Lewat Graffent Pictures, Emka menggandeng sutradara Fajar Nugros dan istrinya yang selama ini sering bertindak sebagai produser, Susanti Dewi, di bawah bendera Demi Istri Production. Naskahnya disusun bersama oleh Emka, Nugros, dan Piu Syarief (Pintu Harmonika, Cinta Selamanya, dan upcoming, Trinity: The Nekad Traveler). Jika versi 2007 menyuguhkan kisah thriller tentang seorang wanita yang menyamar menjadi stripper waria dikejar-kejar oleh oknum setelah menjadi saksi pembunuhan, maka versi 2017 dengan tajuk Moammar Emka’s Jakarta Undercover (MKJU) ini bak sebuah biopic dari Emka sendiri dengan bumbu-bumbu tambahan di sana-sini.

Didukung nama-nama populer baik di lini main cast maupun supporting dan cameo, seperti Oka Antara, Baim Wong, Ganindra Bimo, Tyo Pakusadewo, Lukman Sardi (satu-satunya aktor dari versi 2007 yang kembali hadir meski dengan peran yang sama sekali berbeda), Richard Kyle, Nikita Mirzani, Babe Cabiita, Cut Memey, Ucok Baba, Erick Estrada, hingga penampilan breakthrough dari Female DJ, Tiara Eve, dan penampilan tak terduga dari Agus Kuncoro, MKJU jelas menarik rasa penasaran dari berbagai kalangan penonton.
Pras, seorang wartawan sebuah majalah politik asal Jawa yang merantau di Jakarta sedang resah akan profesinya. Tak hanya soal menulis artikel yang tidak sesuai dengan minatnya, tapi juga mempertanyakan manfaat tulisannya bagi masyarakat luas. Niat hati menolong orang-orang yang sama sekali tak dikenal sebelumnya, justru membawa dia ke dunia underground Jakarta yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Awink, seorang pria kemayu yang bekerja sebagai go-go dancer, Yoga, bos mafia penggerak bisnis narkoba dan prostitusi bawah tanah, dan Laura yang ternyata adalah seorang model sekaligus pelacur kalangan atas. Awink dan Yoga merasa punya hutang nyawa dengan Pras sehingga memperlakukannya istimewa di pesta-pesta mereka. Sementara Laura menemukan sosok sahabat yang tulus pada diri Pras. Diam-diam Pras dan Laura pun saling jatuh cinta. Namun persahabatan dan asmara tersebut tak membendung ambisi Pras untuk menelusuri jaringan dunia malam beserta dengan variasi-variasi prakteknya dan menjadikannya bahan tulisan artikel di majalah. Sampai ketika ia berniat membatalkan publikasi tulisannya itu, semuanya sudah terlambat. Persahabatan, asmara, dan nyawanya sendiri jadi terancam.
Dari premise-nya imajinasi penonton otomatis membayangkan sebuah biopic yang menyajikan cara kerja Emka dalam menyusun novel JU dengan bumbu roman a la Moulin Rouge. Tentu mungkin tak 100% akurat, tapi setidaknya latar yang ditampilkan memberikan gambaran yang jelas dan nyata dari fakta di lapangan. Cliché memang, apalagi ketika dilempar di masa kini dimana berbagai praktik esek-esek dan dunia malam sudah menjadi rahasia umum dan termasuk sering diangkat ke medium film.  Nugros membawa MKJU sebagai film dengan narasi dan kronologis yang runtut sebagai penggerak plot utamanya. Kelebihannya, kendati cliché, MKJU masih mampu menjadi sajian yang bikin penonton penasaran, terutama akan apa lagi yang akan ditampilkan selanjutnya dan sejauh apa konsekuensi yang harus dihadapi Pras atas apa yang telah dilakukannya, yang tentu saja mengarah pada konklusi apa yang ingin disampaikan MKJU. Ini berkat visualisasinya yang punya keseimbangan antara momen manis, menegangkan, menggelitik, maupun thoughtful.
Kompensasinya, ia mengabaikan lapisan yang lebih dalam dari tiap karakter sehingga dilematisnya tak sampai (atau kurang) ‘menggerakkan’ emosi maupun simpati penonton. ‘Lapisan’ yang ditampilkan hanya sebatas sebagai deskripsi karakter semata, bukan perkembangan sebagai dampak dari kejadian dalam plot. Transisi antar adegan pun terasa bak segmen demi segmen berdiri sendiri yang dijahit menjadi kesatuan berkesinambungan ketimbang rangkaian adegan menjadi satu kesatuan yang utuh. Berbagai satir yang dimasukkan di banyak kesempatan tapi menyampaikan satu suara: olok-olok terhadap kota Jakarta, sempat mengaburkan gagasan utama apa yang ingin dituju. Namun rupanya ini disengaja untuk memberikan kesan ‘kekacauan’ dari subjeknya, karena kemudian adegan ditutup dengan sebuah kata dari mulut karakter utama yang seolah tak hanya menyampaikan kerinduan terhadap karakter lawannya, tapi juga kerinduan terhadap kehidupan yang dijalaninya sebelum mengenal ‘dunia bawah tanah’ Jakarta. Bagi saya, ini adalah konklusi yang terkesan sederhana tapi lebih dari cukup untuk menggaris-bawahi keseluruhan gagasan film; kemuakan dan kerinduan.
Menceritakan geliat dunia malam Jakarta tentu tak afdol tanpa menghandirkan erotisme. Versi asli MKJU konon diwarnai cukup banyak nudity yang tentu saja tidak memungkinkan untuk penayangan luas di negara kita. Untung saja sistem LSF saat ini sudah tak lagi asal main potong. Ada proses mediasi untuk mencapai kompromi sehingga ‘sensor’ dilakukan oleh pemilik film sehingga tak ada bagian dari MKJU versi lolos sensor yang terasa dipotong secara kasar. Menyisakan beberapa penampakan ‘boobies’ dari samping. Atmsofer erotis masih bisa dirasakan tanpa kesan yang terlalu vulgar.
Salah satu kekuatan terbesar MKJU adalah penampilan dari jajaran cast yang mostly menjadi nyawa dari film. Oka Antara mungkin tak punya keistimewaan khusus dalam membawakan peran Pras selain sekedar pas. Namun ada momen-momen penting di mana ia mengerahkan kapasitas aktingnya dengan maksimal, terutama di ending dimana ia menyampaikan konklusi dengan begitu emosional. Penampilan tak kalah mencengangkannya adalah Baim Wong sebagai Yoga. Image protagonis sinetron yang selama ini melekat kuat pada sosoknya memang sempat diputar-balikkan ketika mengisi peran psikopat di Lily: Bunga Terakhirku. Namun di MKJU ini kematangannya dalam membawakan peran antagonis yang bengis secara effortless, tanpa gimmick yang terkesan terlalu dibuat-buat, terlihat dengan amat jelas. Sama seperti Oka, Baim juga punya momen emosional yang mampu ditampilkannya dengan sangat baik dan timing yang pas. Dalam memerankan sosok pria kemayu (tak sampai banci), Ganindra Bimo mungkin memang tak benar-benar istimewa karena bukanlah sosok ‘cowok banget’ pertama yang memerankan karakter kemayu. Namun keluwesannya dalam membawakan peran tersebut, juga tanpa gimmick yang telalu dibuat-buat, patut mendapatkan apresiasi lebih. Setidaknya dari peran ke peran yang ia mainkan sebelumnya, tingkat kesulitan dan keberhasilannya dalam membawakan peran layak mendapatkan pengakuan.
Sebagai debut akting, Tiara Eve yang selama ini dikenal sebagai Female DJ, tampil tak kalah mencengangkan. Berbagai momen emosional dibawakan dengan convincing, termasuk pada momen konklusi dimana kapasitas akting tertingginya terlihat dengan begitu maksimal. Sementara di jajaran pemeran pendukung dan cameo lainnya, mulai Tio Pakusadewo, Lukman Sardi, Nikita Mirzani, Babe Cabiita, Sammy Not a Slim Boy, sampai Ucok Baba tampil noticeable sesuai porsi peran masing-masing. Erick Estrada menjadi scene stealer tersendiri lewat peran orang gila. Namun kejutan terbesarnya adalah penampilan Agus Kuncoro yang menghidupkan sosok Mama San dengan tenang, tak banyak bicara, dan elegan. Sementara Richard Kyle kali ini terlihat berusaha meningkatkan kemampuan aktingnya tapi masih jauh dari kesan baik dalam mengisi peran Ricky. Mungkin akan lebih ‘mulus’ jika menggunakan dialog Bahasa Inggris sepenuhnya.
Secara keseluruhan teknis MKJU tergolong tergarap baik. Sinematografi Padri Nadeak tak hanya mampu mengeksplorasi keseluruhan desain produksi dari Oscart Firdaus, tapi juga menggerakkan plotnya dengan energi yang pas untuk sebuah thriller dan dalam menggambarkan ‘gairah’ geliat dunia malamnya. Editing Yoga Krispratama pun merangkai adegan sesuai dengan energi yang ingin dicapai. Sayangnya ada adegan-adegan insert yang diselipkan di antara adegan yang mungkin bertujuan menyampaikan backstory atau memberikan deskripsi karakter yang lebih banyak, tapi jumlahnya yang terhitung banyak membuat flow plot utama terasa kurang lancar. Tata suara Khikmawan Santosa dan Mohamad Ikhsan Sungkar memberikan kedalaman atmosferik yang cukup untuk menghidupkan suasana latar. Musik scoring yang mostly bernuansa techno dari Treehouse Sound mendukung tiap momen menjadi lebih berenergi.
MKJU memang merupakan upaya menceritakan kembali kisah berlatar dunia malam Jakarta yang tertata lebih baik dan lebih relatable dengan versi novel. Menghibur lewat sajian cerita yang cliché tapi tetap seru dan bikin penasaran untuk diikuti, sedikit thoughtful terutama tentang hidup di belantara Jakarta. Sebuah showcase performa akting yang sangat baik pula dari keseluruhan cast utama. Sayang rasanya jika melewatkan mengalami ‘petualangan dunia malam Jakarta’ di layar lebar.
Lihat data film ini di filmindonesia.or.id dan IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates