Sunday, February 12, 2017

The Jose Flash Review
Lion

Anak terlantar, human trafficking, dan adopsi adalah kasus yang akrab ditemui terutama di negara dunia ketiga. Speaking of these kinds of cases, nalar kita seringkali dibawa pada what’s the worst that could’ve happened to them, the victims. Sangat jarang kita dibuat berandai-andai, bagaimana jika adopsi justru membuat perubahan positif bagi seorang anak. Well, di dunia yang sangat kejam ini tentu masih bisa kita temukan kebaikan-kebaikan yang membuat kemanusiaan kita sebenarnya masih punya harapan. Saroo, pemuda asal India yang diadopsi keluarga Australia membuktikannya lewat sebuah memoir nyata berjudul A Long Way Home yang dipublikasikan pertama kali tahun 2013. Memoir yang menceritakan perjalanannya menemukan ibu kandung dan keluarga aslinya setelah terpisah tanpa kabar selama 25 tahun ini diangkat ke layar lebar dengan naskah adaptasi yang dikerjakan oleh Luke Davies (Life – 2015, salah satu versi biopic James Dean) dan disutradarai Gareth Davis dimana ini menandai debutnya di layar lebar setelah selama ini dikenal sebagai sutradara serial TV dan iklan komersial di negaranya, Australia. Jajaran cast-nya tergolong ambisius dengan menggandeng Dev Patel (Slumdog Millionaires), Nicole Kidman, Rooney Mara, David Wenham, dan bahkan aktor Bollywood, Nawazuddin Siddiqui (The Lunchbox, Gangs of Wasseypur, Raees). Upayanya tak sia-sia karena terbukti berjaya di berbagai ajang penghargaan bergengsi internasional. Puncaknya, 6 nominasi Oscar 2017, termasuk untuk kategori Best Motion Picture of the Year.

Dibesarkan oleh seorang ibu tunggal yang bekerja sebagai kuli batu, Saroo yang masih berusia lima tahun kerap ikut sang kakak, Guddu, untuk mencari uang dengan caranya sendiri. Suatu ketika Saroo bersikeras ikut Guddu bekerja di tempat yang lebih jauh dari biasanya. Naasnya, Saroo tertinggal di dalam gerbong kereta api dan membawanya ke Calcutta. Di tengah kebingungan karena ia sendiri tidak tahu nama kota asalnya dan siapa nama lengkap sang ibu, petualangan Saroo pun dimulai dari satu tempat ke tempat lain. Sempat ditolong oleh seorang wanita bernama Noor yang ternyata berniat menjualnya. Lagi-lagi Saroo kabur dan berhasil diamankan oleh pihak kepolisian. Berita tentang sosok Saroo pun tersebar ke seluruh penjuru negeri tapi tak ada satu pun yang merespon, kecuali pasangan asal Australia yang berminat untuk mengadopsinya. Tak punya pilihan, Saroo pun menyetujui. Setelah menjalani pelatihan agar memahami tata krama ala Barat, Saroo pun berangkat ke Tasmania, Australia untuk bertemu orang tua angkatnya, John dan Sue. Keduanya merawat dan mendidik Saroo bersama anak adopsi asal India kedua, Mantosh dengan penuh kasih sayang bak anak sendiri. Sayang resepsi Mantosh berbeda. Itulah yang membuat Saroo tak akrab dengan Mantosh.
Dua puluh tahun kemudian, Saroo mengambil program studi manajemen hotel dan bertemu mahasiswa-mahasiswi berdarah India yang mengingatkannya akan jati diri sebelum diadopsi oleh John-Sue. Dengan dukungan sang kekasih, Lucy, sahabat-sahabat berdarah India lainnya, dan bantuan Google Earth, Saroo mengumpulkan kepingan demi kepingan memori yang tersisa tentang kampung halamannya dan memprediksi nama kota asal yang sebenarnya. Saroo merahasiakan upayanya ini dari orang tua angkatnya karena takut akan membuat mereka sedih dan kecewa. Dugaan Saroo salah. Ternyata ada alasan yang berbeda dari asumsi dirinya sendiri mengapa mereka memilih mengadopsi dirinya.
Ada alasan mengapa judul versi film dipilih adalah Lion, bukannya judul asli versi buku. Ia sadar betul bahwa fokus yang ingin dititik beratkan di sini bukanlah semata-mata perjalanan Saroo menemukan keluarga kandungnya, seperti yang terepresentasi lewat judul A Long Way Home. Ini adalah penggalan kisah terpenting dari sosok Saroo. Lebih dari sekedar perjalanan mencari asal, Lion justru merupakan perjalanan menemukan jati diri secara utuh. Istilah Lion yang dipilih untuk merepresentasikan berbagai ‘salah duga’ yang terjadi selama perjalanan pencarian jati diri tersebut. Salah duga atas alasan keluarga John-Sue memilih untuk mengadopsi anak-anak dari India. Salah duga atas persepsi umum tentang adopsi dan keluarga tiri. Ada beberapa persepsi umum yang ingin diputar-balikkan sesuai kenyataan berkaitan dengan isu adopsi. Lion memaparkan bukti nyata yang mengubah konsepsi umum yang cenderung ke arah negatif dengan hati yang begitu besar.
Sebenarnya treatment storytelling dan visual yang digunakan Gareth Davis tak ada yang benar-benar istimewa. Kesemuanya ia sampaikan lewat penuturan narasi sesuai kronologis dengan cukup selektif memilih momen-momen terpenting untuk merepresentasikan tiap elemen dalam karakter Saroo sehingga plot berjalan dengan mulus tanpa kesan strecthed. Paruh pertama ia manfaatkan untuk character investment yang cukup mendalam lewat karakter Saroo cilik. Sebuah ‘petualangan’ yang dengan mudah membuat penonton was-was, iba, tersentuh, sekaligus kagum. Paruh berikutnya ketika Saroo sudah menjalani hidup bersama orang tua angkatnya di Australia, dengan lembut dilema-dilema yang muncul secara natural dalam kasus adopsi dimasukkan. Satu per satu prasangka mulai mendapatkan rekonsiliasinya dengan kadar emosi yang pas. Tidak terlalu berlebihan, tapi tetap mampu dirasakan dengan mendalam oleh penonton, sekaligus thought-provoking. Proses pencarian pun disampaikan dengan dinamis tanpa detail yang bertele-tele, menyadari penonton modern pada umumnya sudah paham bagaimana menggunakan teknologi untuk melakukan pencarian. Mencari tanpa nama kota yang pasti adalah sebuah tantangan yang membuatnya menarik. Ia pun menampilkan garis besar-garis besar cara pencarian yang rasional saja, sisanya penonton dibiarkan menyimpulkan sendiri. Pilihan visual yang duration-wise tapi efektif.
Bagian terbaik dari Lion terletak pada konklusi yang berhasil menyentuh emosi saya yang terdalam. Bahagia sekaligus heart-broken. I don’t know how it managed to do it, mengingat treatment dan visualisasinya biasa-biasa saja. Tak ada dramatisasi yang berlebih. Mungkin character investment yang berhasil dilakukan secara tak disadari oleh saya. Saya rasa benar. Lion diam-diam telah melakukan proses dengan impact yang luar biasa melalui treatment yang biasa-biasa saja.
Lion merupakan film yang salah satu kekuatan terbesarnya bertumpu pada penampilan para aktor. Beruntung ia punya jajaran cast yang berkelas. Dev Patel sebagai Saroo dewasa memberikan performa emosi yang mendalam tanpa dramatisasi berlebihan. Dilema-dilema yang dipanggulnya terlihat dan terasa begitu jelas lewat ekspresi wajah dan gesture. Pada klimaks ia pun menunjukkan performa puncaknya untuk menarik simpati penonton. Lagi-lagi dengan kadar emosi yang pas, tanpa dramatisasi berlebihan. Nicole Kidman sebagai Sue pun menunjukkan kualitas akting dengan kedalaman emosi setara Patel. Karakter Lucy yang dipercayakan kepada Rooney Mara sebenarnya tak punya porsi kepentingan yang begitu penting bagi plot utama, tapi ia berhasil mencuri perhatian lewat kharisma dan pesona aura tersendiri yang terpancar di antara jajaran cast. Karakter John Brierley yang dibawakan oleh David Wenham  dan Mantosh yang dibawakan oleh Divian Ladwa tak diberi porsi yang cukup berarti untuk mampu menarik perhatian penonton. Above all, favorit saya di antara semua cast adalah Sunny Pawar sebagagi Saroo cilik yang dengan kepolosannya mampu menerjemahkan berbagai emosi yang cukup mendalam.
Seperti yang sempat saya sampaikan sebelumnya, tak ada treatment yang istimewa dari Lion. Semua ditangani dengan biasa-biasa saja dan tergolong sekedar ‘aman’ sesuai kebutuhan plot. Seperti pada sinematografi Greig Fraser yang tak saya temukan angle-angle maupun camerawork yang memorable. Semuanya sekedar mampu menyampaikan plot cerita dengan jelas dan mentransfer emosi cast kepada penonton dengan efektif. Begitu juga editing Alexandre de Franceschi yang sekedar membuat plotnya mengalir dengan pace yang tergolong tepat dan pas. Music score Hauschka dan Dustin O’ Halloran tergolong sangat sederhana dan minimalis dalam mengiringi momen-momen emosional, bahkan lebih banyak silent moment tanpa iringan musik apapun. Theme song Never Give Up yang ditulis dan dibawakan oleh Sia di credit title mampu memberikan impact after-taste yang uplifting.
Sebagai sebuah drama bertemakan adopsi dan menemukan keluarga asli yang hilang kontak selama puluhan tahun, Lion mungkin memang tak menawarkan sesuatu yang baru, bahkan lewat treatment yang minim inovasi jika tak mau disebut biasa saja. Namun ia menyodorkan emosi-emosi yang timbul dari isu terkait, yang mungkin berbeda dari konsepsi umum selama ini. Bagi saya ini adalah pilihan storytelling yang menarik dan terbukti berhasil memberikan impact lebih ketika sampai pada bagian konklusi. Membuat saya merasa bahagia sekaligus heart-broken. Maka tak heran jika Lion mampu mengaum lantang di berbagai ajang penghargaan bergengsi dunia, tak terkecuali Oscar.
Lihat data film ini di IMDb.

The 89th Academy Awards Nominees for:

  • Best Motion Picture of the Year
  • Best Performance by an Actor in a Supporting Role – Dev Patel
  • Best Performance by an Actress in a Supporting Role – Nicole Kidman
  • Best Writing, Adapted Screenplay – Luke Davies
  • Best Achievement in Cinematography – Greg Fraser
  • Best Achievement in Music Written for Motion Pictures, Original Score – Dustin O’Halloran & Volker Bertlemann


Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates