Saturday, February 11, 2017

The Jose Flash Review
Journey to the West 2:
The Demons Strike Back
[西遊伏妖篇]

Di ranah literatur legenda Cina, kisah Sun Gokong, siluman-siluman lainnya, dan Bhiksu Tong yang mencari kitab suci ke Barat mungkin jadi yang paling populer dan difavoritkan banyak orang, selain tentu saja legenda Siluman Ular Putih. Entah sudah berapa puluh versi dalam berbagai media, mulai buku, komik, serial, dan tentu saja layar lebar. Di era 2000-an ada versi animasi, Monkey King: Hero is Back (2015), The Monkey King versi Pou-Soi Cheang (2014) yang menghadirkan Donnie Yen, Aaron Kwok, dan Chow Yun-Fat dalam satu layar dan sekuelnya di tahun 2016 lalu, along with A Chinese Odyssey Part III yang di-bash habis-habisan. Terakhir adalah Journey to the West: Conquering the Demons (JttW) versi Stephen Chow yang menghadirkan Wen Zhang dan Shu Qi. Menyambut Tahun Baru Imlek 2017, dirilis sekuelnya dengan tajuk Journey to the West 2: The Demons Strike Back (JttW2). Meski Stephen Chow masih menyusun naskah bersama tim penulis lainnya, tapi kali ini bangku penyutradaraan diserahkan kepada Tsui Hark yang sudah menjadi sutradara legendaris pencetak karya-karya klasik macam A Better Tomorrow, The Swordsman, Kung Fu Master, Time and Tide, hingga era Detective Dee dan Flying Swords of Dragon Gate. Nama-nama ini jelas tidak bisa dianggap remeh. Apalagi di jajaran cast ada personel boyband EXO yang baru saja kita lihat di xXx: Return of Xander Cage, Kris Wu, Lin Gengxin, dan Jelly Lin yang sempat kita temukan di The Mermaid-nya Stephen Chow. Harapannya dengan budget yang konon mencapai US$ 63.9 juta dan hak siar internasional dibeli Sony Pictures (yang artinya punya jaringan tayang yang lebih luas), penghasilan box office-nya bisa melampaui installment pertama yang mencetak angka US$ 215 juta di seluruh dunia. Well, sampai tulisan ini diturunkan JttW2 sudah berhasil mengumpulkan US$ 208 juta dan tentu saja akan terus bertambah seiring dengan jadwal rilis negara-negara lain, termasuk Indonesia yang tayang midnite bertepatan dengan malam Cap Gomeh dan reguler mulai 17 Februari 2017.

Film dibuka dengan Bhiksu Tang dan ketiga murid silumannya; Monkey King, Pigsy, dan Sandy yang terjebak sebagai atraksi pertunjukan sirkus. Monkey King berontak dan hampir meluluhlantakkan desa tersebut. Untung Bhiksu Tang masih punya ‘senjata’ untuk mengendalikan muridnya yang paling bandel itu. Perjalanan mereka pun dilanjutkan dan tiba di kerajaan Biqiu dengan Raja yang bertingkah bak anak-anak akibat ramuan awet muda dari sang Perdana  Menteri. Monkey King curiga ada yang tidak beres dengan seisi istana, tapi Bhiksu Tang meminta untuk tak buru-buru berburuk sangka. Pertentangan insting dan pilihan cara menghadapi siluman antara keduanya mencapai puncak ketika lagi-lagi Monkey King mencurigai sosok Felicity, gadis muda pemberian Raja Biqiu karena Felicity mengingatkannya akan sosok Duan yang sempat membuatnya jatuh cinta di installment pertama.
Dibandingkan versi-versi lainnya, saya harus mengakui keunikan JttW versi Stephen Chow. Selain tentu saja humor-humor mo lei tau khas Chow, tapi juga penggambaran karakter-karakter yang berbeda. Yang paling kentara adalah sosok Bhiksu Tang yang biasanya digambarkan serba bijak dan kudus, di sini justru dibuat lebih manusiawi dengan akal-akalan licik (terutama dalam menangani Monkey King), ego sedikit lebih besar, dan pada akhirnya punya dilema yang lebih beragam pula. Jika di installment pertama fokus terletak pada perkembangan karakter Bhiksu Tang dan hubungan asmaranya dengan Duan, maka di sini masih melanjutkan perkembangan karakter Bhiksu Tang dan hubungannya dengan Monkey King. Fokus cerita ini juga menjadi kelebihan versi Chow dibandingkan versi lain yang sekedar menyampaikan kronologi peristiwa perjalanan ke Barat mencari kitab suci. Love-hate relationship antara Bhiksu Tang dan Monkey King di sini terasa sekali punya perkembangan yang terarah dan menuju pada titik temu yang memuaskan untuk saling belajar. Tentu saja seiring dengan petualangan aksi spektakuler dan humor-humor khas Chow sebagai bungkus terluarnya. Naskah yang disusun terarah oleh Chow berpadu dengan penyutradaraan Tsui Hark yang sudah sangat pakar dalam menangani film aksi petualangan, menghasilkan sebuah paket hiburan yang asyik diikuti, absurd a la Chow, spektakuler, sekaligus bermakna lebih mendalam.
Agak disayangkan cast dari installment pertamanya tidak melanjutkan peran di JttW2. Namun ternyata cast baru masih bisa menghadirkan excitement tersendiri. Kris Wu sebagai Bhiksu Tang mungkin terasa terlalu muda dan ‘aneh’ dibandingkan karakter yang sama di versi-versi lain. Tapi melihatnya sebagai karakter yang berdiri sendiri, sama sekali berbeda dari versi lain, sosok manusiawi dengan berbagai kegokilannya masih mampu diterjemahkan dengan pas serta seimbang oleh Wu. Sosok Monkey King di tangan Lin Genxing pun mampu menjadi sosok furious yang tetap bisa menarik simpati penonton. Duo Wang sebagai Zhu Bajie, Mengke Bateer sebagai Sandy, Bao Bei’er sebagai Raja Biqui, dan Yao Chen sebagai Perdana Menteri mengisi peran-peran komedik yang cukup berhasil memancing tawa. Terakhir, tak boleh dilupakan penampilan Jelly Lin sebagai Felicity yang menjadi eye-candy dengan touching moment yang cukup berhasil di balik porsinya yang tak terlalu banyak.
JttW2 adalah sebuah visual spectacle, maka tak heran jika ada banyak studio yang dikerahkan untuk menggarap efek-efek visualnya. Overall memang tak sepenuhnya sempurna, tapi lebih dari 80% CGI terlihat nyata dan memanjakan mata. Beberapa kekurang-sempurnaan terletak pada keying green-screen yang masih agak terlihat mencolok. Desain produksi Yoshihito Akatsuka, desain kostum, dan special effect make up juga layak mendapatkan pujian lebih dengan tampilan detail yang luar biasa cantik dan warna-warni vibrant. Sinematografi Choi Sung-fei berhasil mengeksplorasi semua elemen-elemen cantiknya terlihat lebih maksimal sekaligus membuat detail adegan-adegan aksinya terlihat jelas serta terasa seru. Tentu editing Tsui, Li Lin, dan Jason Zen juga memegang peranan penting dalam menjaga pace serta timing yang pas dan efektif. Score music Raymond Wong terdengar serba grandeur dan a la Hollywood Blockbuster untuk adegan-adegan aksi serunya dengan sedikit sentuhan ornamen India. Sound mixing dan sound design tertata tak kalah bombastis, setara visualnya. Pembagian kanal surround pun terdengar maksimal dan detail.
Sebagai installment yang mengusung kisah dan karakter yang sudah begitu familiar bagi penonton kita, Anda tak perlu khawatir akan kebingungan jika belum menonton installment pertama dari versi Stephen Chow ini (apalagi seingat saya memang tidak tayang di bioskop Indonesia). Dengan mudah Anda akan memahami dan mengikuti kisahnya. Sekalipun ada benang merah dengan JttW, sosok Duan dan kontribusinya bagi perkembangan karakter Bhiksu Tang ditampilkan dengan cukup jelas lewat adegan-adegan flashback. Nikmati saja perkembangan hubungan antara Bhiksu Tang dan Monkey King yang gokil nan seru, humor mo lei tau a la Stephen Chow, dan suguhan visual spectacle yang memanjakan indera penglihatan plus pendengaran, JttW2 menjadi sajian hiburan ringan yang punya makna lebih. Penggemar humor Stephen Chow maupun kisah Monkey King pantang untuk melewatkan. Ini adalah versi kisah Monkey King terbaik selama beberapa tahun terakhir atau mungkin malah salah satu yang terbaik sepanjang masa.
Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates