Friday, February 10, 2017

The Jose Flash Review
John Wick: Chapter 2


Di tengah gempuran franchise, sekuel, prekuel, spin-off, dan adaptasi buku komik, John Wick (JW – 2014) menawarkan sebuah sosok ‘jagoan’ orisinil yang sebenarnya tergolong formulaic. Seorang assassin yang berniat menuntut balas setelah ada sesama assassin yang menghabisi anjing peninggalan almarhumah sang istri dan mencuri mobil antik-nya. Terdengar konyol memang, tapi siapa sangka premise dasar ini ternyata terinspirasi dari kisah nyata seorang pria mantan Navy SEAL, Marcus Luttrell yang mengejar pembunuh anjing kesayangannya sepanjang empat county dengan sebuah truk. Tak ada yang menyangka pula proyek berbudget US$ 20 juta ini berhasil menarik perhatian penggemar action-thriller dengan sub-genre gun-fu (istilah plesetan untuk aksi bela diri menggunakan senjata api) sekaligus arthouse enthusiast berkat simbolisme-simbolisme, bangunan universe, dan style neo-noir-nya. Tak pelak penulis naskah Derek Kolstad dan sutradara Chad Stahelski (yang sebelumnya berlatar belakang stunt double, termasuk di film Keanu Reeves yang legendaris, The Matrix) kemudian mengembangkan kemungkinan menjadi sebuah franchise baru. Tak tanggung-tanggung, petualangan John Wick dibangun untuk sebuah trilogy. Bahkan sebelum John Wick: Chapter 2 (JWC2) rilis tahun 2017, Chapter 3 sudah langsung dipersiapkan.

Melanjutkan langsung dari ending installment pertama, John Wick menuntaskan dendamnya kepada pelaku pencurian mobil Mustangnya sekaligus pembunuhan Daisy, anjing peninggalan sang istri. Baru saja pulang dan mengubur senjata-senjatanya, ia kedatangan tamu tak diundang; bos mafia bernama Santino D’Antonio. Ia menugaskan John untuk menghabisi adik kandungnya, Gianna, yang diangkat menjadi ketua dewan bos-bos mafia tingkat tinggi berjuluk ‘High Table’. Meski sudah pensiun, John mau tak mau harus menjalankan misi tersebut karena kesepakatan masa lalu yang pernah dibuatnya dengan D’Antonio. Ketika misi berhasil diselesaikan, ternyata John Wick masih harus berhadapan dengan semua anggota mafia di New York karena sesuai kode etik, D’Antonio mengeluarkan sayembara berhadiah US$ 7 juta bagi siapa saja yang berhasil membunuhnya.
Plot yang ditawarkan di installment kedua ini mungkin terdengar biasa saja. Namun jika pernah terpukau oleh treatment aksi installment pertama, tentu Anda bisa membayangkan bakal seperti apa keseruannya. Benar saja, JWC 2 menawarkan aksi dinamis dan brutal secara nyaris non-stop. Chad Stahelski lagi-lagi memamerkan kepiawaiannya dalam menggarap koreografi gun-fu dan bela diri menggunakan senjata tajam lainnya di nyaris sepanjang film. Malahan bisa dibilang kadarnya berlipat-lipat dibandingkan di installment pertama. Dengan highlight headshot dan tabrakan bertubi-tubi, JWC2 bisa dibilang the ultimate definition of ‘headshot’ dan ‘die hard’.
Namun sama seperti installment pertama, JWC2 was deeper than it looked from the surface. Ia memang tidak mengutamakan jalinan plot yang boleh dibilang formulaic di genrenya sebagai daya tarik utama. Namun adalah bangunan universe yang makin ditunjukkan dengan jelas dan solid di sini. Jika di installment pertama kita hanya ditunjukkan mata uang khusus dan hotel khusus kaum kriminal bawah tanah, maka di sini ada lebih banyak lagi keunikan-keunikan universe yang dijadikan latar. Tak hanya ekspansi, tapi juga bangunan universe yang masih punya koneksi kuat dengan yang ditunjukkan di installment pertama. Contoh yang terpenting adalah adanya hierarki kepemimpinan dunia kriminal bawah tanah yang dijuluki ‘High Table’ dan kode-kode etik yang membuat plot di JWC2 ini menjadi begitu thoughtful. Bagaimana sebuah pilihan aksi memicu konsekuensi tak terduga secara beruntun. Dengan demikian jalinan plot yang ditawarkan JWC2 (dan juga sudah cukup jelas terlihat untuk installment ketiga sekaligus konklusi) terkesan tak asal ada, tapi merupakan bagian dari grand design universe yang kokoh.
Keanu Reeves mungkin salah satu aktor dengan ekspresi paling dingin. Ada yang menyebutnya selalu tampil kaku dalam berakting. Namun jika karakter demikian menjadi ciri khas dengan kekuatan misterius sekaligus mengintimidasi, kenapa tidak dimanfaatkan? Karakter John Wick bisa menjadi begitu iconic berkat personifikasi dari Keanu Reeves sendiri. Di sini pun ia mampu menjaga konsistensi dari film pertama, pun juga menunjukkan kekhawatiran yang terasa begitu jelas dan mengundang simpati tanpa harus ditampilkan secara eksplisit. Kharisma villanous Riccardo Scamarcio sebagai Santino D’Antonio dan Ian McShane sebagai Winston tak kalah kuatnya mengimbangi sosok John Wick. Ruby Rose yang menandai penampilan ketiga di tahun 2017 setelah berturut-turut di xXx: Return of the Xander Cage dan Resident Evil: The Final Chapter semakin menunjukkan bakatnya yang luar biasa di genre aksi lewat karakter Ares. Di tangan Common, karakter Cassian menjadi tak sekedar just another henchman. Ada kharisma lebih yang membuat karakternya lebih berkesan. Penampilan kembali John Leguizamo sebagai Aurelio dan Lance Reddick sebagai Charon menjadi penyambung yang masih noticeable kendati porsinya tergolong sangat terbatas. Claudia Gerini sebagai Gianna pun meninggalkan kesan yang cukup mendalam di balik penampilannya yang juga tergolong singkat. Terakhir, tak boleh ketinggalan menyebutkan nama Laurence Fishburne yang menandai reuni dengan Keanu setelah franchise The Matrix sebagai The Bowery King dan pemilihan legenda spaghetti Western, Franco Nero sebagai sosok  yang sangat layak dan terhormat, Julius.
Simbol-simbol melalui warna lighting yang ditampilkan di installment pertama pun masih dipertahankan di sini, bahkan menjadi sebuah signature yang wajib ada. Begitu juga permainan camera work yang ternyata merepresentasi kondisi karakter utama. I know it sounded overthink, but wasn’t it interesting? Selebihnya, sinematografi Dan Laustsen membuktikan bahwa sebuah film aksi tetap bisa terasa seru dan menegangkan dengan camera work yang mulus dan tidak shaky seperti yang menjadi trend akhir-akhir ini. Editing Evan Schiff pun membuat flow JWC2 begitu mulus tanpa mengorbankan efek adrenaline rush yang tetap maksimal. Music score dari Tyler Bates dan Joel J. Richard beserta pemilihan soundtrack JWC2 masih menyuntikkan energi lebih untuk membuat adegan-adegan aksi beserta thriller-nya terasa lebih maksimal, meski menurut saya tak se-signatural score dan soundtrack-soundtrack dari installment pertama. Sound mixing menjadi salah satu kekuatan JWC2 sebagai film aksi. Keseimbangan semua elemen suara begitu terjaga, sementara sound effect-nya terdengar begitu bombastis tanpa terkesan terlalu berisik. Pembagian kanal surround-pun tertata dengan sangat detail dan presisi meski hanya sampai 7.1, tidak sampai Auro 11.1 atau Dolby Atmos seperti halnya installment pertama.
So yes, tak salah jika JW dianggap sebagai franchise orisinil action baru terbaik. Tak banyak yang mampu menarik perhatian penggila aksi blockbuster non-stop gila-gilaan sekaligus pengantusias film artistik. JW seolah berhasil memukau kedua kubu tersebut dan JWC2 semakin mengejahwantahkan diri sebagai salah satu sekuel terbaik sepanjang masa yang berhasil melampaui installment sebelumnya dari berbagai segi. Kini tinggal menunggu John Wick Chapter 3 yang sebenarnya sudah cukup jelas terbaca dari ending JWC2 tapi justru membuat saya semakin tak sabar, tata aksi dan detail-detail universe apa lagi yang akan dihadirkannya. Tak ketinggalan, konklusi dari perjalanan sosok John Wick yang layak menyandang gelar salah satu karakter assassin paling ikonik sepanjang masa.
Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates