Wednesday, March 1, 2017

The Jose Flash Review
Fabricated City
[조작된 도시]


Varian genre sinema Korea Selatan semakin beragam seiring dengan perkembangan dan penghasilan film-film mereka yang memang signfikan. Bahkan termasuk genre sci-fi yang punya tingkat kerumitan sekaligus kesulitan teknis sehingga sebisa mungkin dihindari sinema-sinema non-Hollywood. Korea Selatan seolah membuktikan level kapasitas mereka kepada penonton dunia. Fabricated City (FC) yang disutradarai sekaligus ditulis naskahnya oleh Park Kwang-hyun (dikenal lewat adaptasi drama panggung Welcome to Dongmakgol – 2005 yang sukses besar secara komersial maupun oleh kritik), mencoba menggabungkan tema investigasi pembunuhan, kritik sosial terhadap hukum dan persepsi masyarakat, dengan kecanggihan teknologi cyber. Menggandeng aktor K-drama muda (populer lewat Smile Again), Ji Chang-wook, bintang Miss Granny, Shim Eun-kyung, dan Oh Jung-se (The King of Pigs, How to Use Guys with Secret Tips, dan Petty Romance), FC berhasil melewati angka satu juta penonton di weekend pembukaannya. Di Indonesia FC diimpor oleh CBI Pictures (sebelumnya bernama Jive!) dan tayang mulai 1 Maret 2017 di bioskop-bioskop non-XXI Indonesia.

Di kehidupan nyata Kwon Yoo termasuk pemuda pengangguran yang lebih banyak menghabiskan waktunya di depan layar komputer bermain game online. Namun di dunia virtual ia termasuk pemain top. Suatu ketika ia mendapatkan telepon dari seorang gadis yang minta tolong untuk mengantarkan telepon selulernya yang tertinggal di warnet. Tak ada yang mencurigakan ketika ia mengantarnya langsung ke rumah si gadis. Namun keesokan harinya ia tiba-tiba diringkus polisi atas tuduhan pembunuhan dan pencabulan terhadap gadis yang ia tolong semalam sebelumnya. Sementara sang ibu berusaha keras mencari kebenaran atas dirinya, Kwon Yoo meringkuk di penjara dengan perlakuan bully dari berbagai penjahat kelas kakap. Salah satunya Ma Deok-soo. Ketika mendapatkan kabar duka dari seseorang yang mengaku pengacaranya, Min Chun-sang, Kwon Yoo bertekad kabur untuk mencari kebenaran sekaligus membersihkan nama baiknya dari segala tuduhan. Dengan bantuan teman-teman cyber-nya, Yeo-Wool alias Mr. Hairy dan Demolition, Kwon Yoo mulai melacak siapa di balik pembunuhan yang dituduhkan kepadanya. Konsekuensinya, Kwon Yoo tak hanya dikejar-kejar pihak berwenang, tapi juga pelaku sebenarnya yang ternyata juga melakukan modus pembunuhan serupa dan mengkambing-hitamkan pihak lain.
Dari layer teratas, FC tampak seperti kebanyakan film thriller investigasi, let’s say macam The Fugitive. Namun yang menjadikannya menarik adalah bumbu sci-fi dengan melibatkan visualisasi dunia cyber yang sophisticated. Sayangnya, FC lebih fokus untuk menghadirkan rangkaian non-stop action yang awalnya seru dan digarap dengan tension-building skill yang baik. Lama-kelamaan terasa over-the-top hingga pada satu titik makin melelahkan tanpa perkembangan yang cukup signifikan. Memang ada sindiran sosial, terutama soal bagaimana masyarakat dengan mudah mencemooh tersangka kejahatan sebelum dijatuhi vonis resmi dari pengadilan (well, remind me of what One Way Trip, to be honest) tapi ditampilkan sekedar sebagai elemen pendukung, bukan fokus utama.
Satu per satu ‘amunisi’ adegan kekerasan diumbar di hampir sepanjang film. Mulai kejar-kejaran dengan mengorbankan puluhan mobil hingga yang menjurus ke arah gore kendati tak sepenuhnya tampil on-screen secara vulgar. Tiga perempat dari durasi total yang mencapai dua jam 126 menit, penonton disuguhi adegan aksi tanpa henti, tanpa ampun, dan tanpa motivasi pelaku yang jelas. For a moment, saya sempat mengira ‘oh, it’s just another psychotic act seperti Joker di The Dark Knight (literally, bahkan ada adegan yang sangat mengingatkan akan salah satu adegan iconic dari TDKR!). Baru menjelang akhir ada sedikit twist yang akhirnya menjelaskan motif sekaligus cara kerja si pelaku, yang ternyata menjelaskan pula makna harafiah dari judul Fabricated City. Bukan twist yang benar-benar baru, rumit, ataupun mind-blowing, tapi bagi saya tetap merupakan konsep yang sebenarnya menarik untuk diangkat.
Beban karakter (baca: jagoan) utama, Kwon Yoo, dibawakan oleh Ji Chang-wook dengan kharisma yang lebih dari cukup. Memang tak ada momen yang benar-benar berhasil menggerakkan hati saya (film memang tak memberikan ruang lebih untuk ini), tapi setidaknya lebih dari cukup sesuai kebutuhan konsep film. Shim Eun-Kyung sebagai Yeo-Wool dan Ahn Jae-Hong sebagai Demolition cukup noticeable tanpa porsi yang membuat mereka mendapatakn simpati lebih dari penonton. Oh Jung-se menghidupkan karakter Min Chun-Sang yang misterius dengan kharisma yang cukup kuat pun juga remarkable.
Sinematografi Nam Dong-geun dengan camera work yang dinamis tapi tetap nyaman untuk diikuti mampu memberikan energi dan tensi yang sesuai dengan konsep film. Pun juga editing Kim Jin-oh yang makin mempertegas konsep adrenaline-rush, kendati harus mengorbankan potensi emosional di beberapa momen demi menjaga pace cerita. Begitu pula Score music dari Kim Tae-sung yang menambah tensi non-stop action a la Hollywood blockbuster. Sound mixing memberikan detail yang cukup sekaligus pembagian kanal surround yang terdengar kedalamannya di beberapa momen.
Mencoba menggabungkan investigation thriller, hi-tech sci-fi, sindiran sosial, dan action blockbuster, FC mungkin tak hadir sepenuhnya seimbang. Namun dengan kemasan non-stop over-the-top action, setidaknya mampu menjadi hiburan eye-candy yang seru dan sesekali berhasil membuat saya tergelak dari kursi maupun memalingkan pandangan. Sempat bikin lelah di satu titik, tapi revealing twist di akhir sangat layak untuk disimak.
Lihat data film ini di IMDb.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates