Thursday, February 23, 2017

The Jose Flash Review
Doraemon the Movie:
Nobita and the Birth of Japan
[ドラえもん 新
のび太の日本誕生]


Di antara manga Jepang, Doraemon bisa jadi adalah yang paling populer. Sejak muncul pertama kali tahun 1969, manga ini sudah mencapai 1.345 cerita dengan versi anime layar kaca mencapai 1.787 episode sejak 1973 hingga 2005. Versi layar lebarnya pun sampai sekarang sudah ada 37 film, tak termasuk Stand by Me Doraemon (2014) yang menjadi film spesial dan meledak di mana-mana, tak terkecuali Indonesia. Film layar lebar animasi 2D Doraemon sebenarnya cukup rajin menyambangi bioskop nasional Indonesia. Awal 2017 ini kita kembali disuguhi anime ke-36 yang sejatinya rilis Maret 2016 lalu di negara asalnya. Bertajuk Doraemon: Nobita and the Birth of Japan (BoJ), ini sebenarnya merupakan adaptasi dari seri komik Doraemon Petualangan seri 9 untuk versi Bahasa Indonesia dan pernah diangkat ke versi film panjang pada tahun 1988 dengan judul sama. Well, update teknologi animasi sekaligus pass-on ke generasi yang bebeda memang perlu dilakukan untuk menjaga legacy-nya yang sudah terbukti tak lekang oleh jaman.
Kesal dimarahi sang ibu karena ulangannya mendapat nilai 0, Nobita bertekad untuk hidup mandiri tanpa orang tua. Tekad yang sama ternyata juga dialami Suneo yang dipaksa kursus berbagai bahasa, Shizuka yang bosan menjalani les piano, bahkan Doraemon yang ingin keluar dari rumah karena takut akan hamster titipan bos ayah Nobita. Karena tak menemukan lahan yang layak untuk ditinggali di masa kini, maka mereka semua sepakat untuk pergi ke 70.000 tahun lalu. Mulailah mereka melakukan pekerjaan bercocok tanam dan beternak untuk sekedar memenuhi kehidupan sehari-hari dengan bantuan alat-alat canggih dari Doraemon. Ketika kembali ke masa kini, tak sengaja sosok anak laki-laki bernama Kukuru ikut. Ia menjelaskan tentang sukunya, Hikari ditawan oleh suku Kuruyami dan dijadikan budak pembangunan Istana Tokoyami sebagai persembahan untuk dewa Gigazombie. Doraemon, Nobita, dan teman-temannya akhirnya kembali ke masa lampau untuk membebaskan suku Hikari dan mencari tahu siapa sebenarnya di balik sosok dewa Gigazombie ini.
Seperti halnya kisah petualangan Doraemon lainnya, BoJ menyuguhkan petualangan seru dengan melibatkan berbagai gadget-gadget fantasi yang inovatif dan mengundang tawa, dan dengan value-value yang relevan. Setup plot BoJ mungkin tak punya koneksi secara langsung dengan gelaran petualangan yang ditampilkan, tapi ternyata bisa dikoneksikan dengan cukup relevan di konklusi. Elemen sejarah lahirnya Jepang yang tertuang dalam judul mungkin tak sepenuhnya terepresentasi dalam plot, tapi cukup informatif sebagai sekedar salah satu elemen. Konsep sci-fi dijalankan secara konsisten dan relevan, terutama dalam mengambil sudut pandang suku primitif yang lebih ke mistis.
Sinematografi Takashi Suehiro memvisualisasikan rangkaian petualangan dengan tepat guna, seiring dengan editing Toshihiko Kojima yang serba pas. Music score Kan Sawada memberikan feel yang lebih sinematis pada film dengan orchestra megah a la Hollywood, termasuk nomor yang mengingatkan saya akan Imperial March dari franchise Star Wars.
Penonton anak-anak yang sudah akrab dengan universe Doraemon akan sangat menikmati BoJ, begitu pula penonton dewasa yang pernah atau bahkan masih akrab sampai sekarang. Mungkin memang tak seemosional Stand by Me Doraemon, tapi formula-formula khasnya masih berhasil menjadikan BoJ suguhan yang berhasil menghibur, dengan petualangan seru yang disusun sesuai pada porsinya, dan value-value sederhana tapi cukup reflektif.
Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates