Wednesday, February 1, 2017

The Jose Flash Review
A Dog's Purpose

Dari antara hewan-hewan peliharaan, bisa jadi anjing adalah yang paling sering diangkat menjadi plot utama sebuah film. Ada banyak alasan sih. Selain salah satu binatang peliharaan paling populer yang paling banyak diadopsi manusia, yang artinya punya kedekatan emosional secara kumulatif paling tinggi, anjing juga punya karakteristik yang menarik untuk diangkat ke dalam cerita untuk disampaikan. Seiring dengan waktu dan bergesernya trend, film bertemakan anjing yang benar-benar digarap serius sebagai sajian layar lebar sudah semakin jarang ada. Eksplorasi dan perkembangan yang tergolong stuck di ranah itu-itu saja membuatnya lebih banyak bergeser untuk produksi film TV atau serial (atau animasi). Jika di era saya sempat populer franchise Air Bud, terakhir mungkin hanya Hachiko: A Dog’s Story (HADS – 2009), remake dari film Jepang Hachi-ko (1987), yang bisa dengan mudah diingat oleh penonton. Melihat peluang tersebut, DreamWorks membeli hak atas novel  A Dog’s Purpose (ADP - 2010) karya penulis humor Amerika Serikat, W. Bruce Cameron, yang menjadi New York Times bestseller selama 49 minggu dan menuai pujian di mana-mana. Amblin Entertainment kemudian mulai memproduksinya bersama Walden Media, Reliance Entertainment, Original Pictures, dan Pariah Entertainment Group. Cameron diajak untuk mengadaptasi naskahnya bersama dengan Cathryn Michon, Audrey Wells (The Truth About Cats & Dogs, George of the Jungle, The Kid, Under the Tuscan Sun, Shall We Dance), Maya Forbes (Monsters vs Aliens dan Diary of a Wimpy Kid: Dog Days), dan Wally Wolodarsky. Sementara Lasse Hallström yang pernah sukses menggarap HADS dan tiga kali meraih nominasi Oscar, yaitu untuk Mitt liv som hund dan The Cider House Rules, dipercaya untuk duduk di bangku penyutradaraan. Portfolio mengesankan, mulai What’s Eating Gilbert Grape, Chocolat, Dear John, Salmon Fishing in the Yemen, Safe Haven, sampai The Hundred-Foot Journey, tentu tak bisa diremehkan begitu saja. Aktor yang dipasang pun ada Dennis Quaid, Britt Robertson, K.J. Apa (yang sedang naik daun semenjak bermain di serial Riverdale), dan Josh Gad (pengisi suara Olaf di Frozen) yang menyuarakan karakter si anjing, Bailey.

Sempat santer skandal video rekaman syuting yang memuat penganiayaan terhadap seekor anjing hingga berbuntut boikot dari PETA, pihak distributor membuktikan bahwa video tersebut diedit sedemikian rupa sehingga terkesan ada penganiayaan. Padahal aslinya menurut pengakuan studio, pihak produser sangat ketat memantau proses syuting untuk memastikan talent-talent anjing ini mendapatkan perlakuan yang istimewa. Acara premiere pun dibatalkan, tapi the show must go on. ADP siap dirilis di seluruh dunia, tak terkecuali Indonesia yang sudah bisa menikmatinya di layar lebar jaringan non-XXI mulai 3 Februari 2017.
Kisah ADP bergulir dari narasi Bailey, seekor anjing yang mempertanyakan tujuan hidupnya. Apakah sekedar bersenang-senang, lari-larian ke sana kemari mengejar bola, atau membuat manusia bahagia, atau ada sesuatu yang lebih besar lagi. Ia melalui berbagai siklus kehidupan sebagai anjing dengan jenis, jenis kelamin, serta latar belakang yang berbeda-beda. Namun yang paling berkesan adalah kehidupannya sebagai seekor Retriever dan diselamatkan oleh seorang anak bernama Ethan ketika berada terkunci di dalam pengap dan panasnya mobil. Ethan yang anak tunggal langsung jatuh cinta dan berusaha meyakinkan kedua orang tuanya untuk mengadopsi anjing yang diberi nama Bailey ini. Seiring dengan waktu, Ethan pun berkembang dewasa dan kondisi keluarganya tak lagi seharmonis dulu. Kondisi kesehatan Bailey pun menurun hingga akhirnya menemui ajal. Bailey kemudian menerima takdir bereinkarnasi menjadi anjing jenis-jenis lain dengan jalan hidup yang berbeda-beda, mulai sebagai seekor German Shepherd K9 betina hingga Corgi. Dengan memori dari kehidupan-kehidupan sebelumnya yang masih terjaga, Bailey terus menganalisis dan mencari tahu tujuan hidupnya selama ini.
Tema mencari tujuan hidup bisa dibawa dengan dua tipe treatment yang berbeda. Mau dibuat filosofis dan berat, atau ringan dan menyenangkan tanpa melupakan aspek-aspek filosofis-nya. ADP justru menawarkan tema pencarian tujuan hidup dari sudut pandang (dan pola pikir polos) dari seekor anjing. Ini tentu sudah menjadi komoditas yang sangat menarik dari ADP. Benar saja, berpijak pada konsep unik bin menarik ini, plot ADP mengalir lancar lewat kejadian-kejadian sehari-hari yang mungkin membuat kita sebagai manusia penasaran, apa sih yang sebenarnya ada di benak para anjing. Lewat narasi dari Josh Gad yang berfungsi lebih sebagai suara hati, penonton diajak untuk menemukan pola-pola pikir sederhana dan naïf dari para anjing. Menariknya, kesemua pola pikir ini terasa sangat logis dengan perilaku anjing pada umumnya, dan yang tak kalah penting, menggelitik. In short, at one point ADP bak sebuah guidance bagi manusia untuk memahami perilaku anjing. It seems like it had quite a long and deep research on this matter and it deserved certain recognition.
ADP pun tak mau membawa tema mencari tujuan hidup ke arah yang berat dan kelewat filosofis. Ia menyelipkannya lewat pola formulaic di genre pet-human friendship. Sederhana namun tiap elemen yang dimasukkan terasa sekali konsisten menuju pada satu tujuan yang jelas dan solid. Yang tak kalah mengagumkannya, ada elemen-elemen cerita yang terlihat melalui riset yang tak kalah mendalam. Misalnya karakteristik tiap jenis anjing yang disesuaikan dengan kepribadian karakter manusianya. Ini jelas detail yang tak asal dan main-main.
Kembali ke permukaan terluarnya yang menurut saya paling menentukan dampaknya bagi penonton, Hallström terbukti sekali lagi mampu merangkai konsep unik dengan detail-detail mengagumkan tersebut dengan tangan dingin (atau lebih tepat, tangan ‘hangat’?)-nya sehingga membuat nuansa ADP begitu feel-good, manis, hangat, dan kendati punya momen-momen menyentuh (dan berhasil), tak sampai terjerumus ke dalam sorrow yang berlebihan. Nuansa feel-good berhasil dipertahankan secara konsisten di balik emotion roller-coaster-nya, bahkan meninggalkan after-taste yang tetap manis dan hangat untuk jangka waktu yang lama. Tak banyak film drama yang bisa mencapai titik ini, dan seperti kebanyakan film-film Hallström sebelumnya, ADP pun berhasil termasuk di dalamnya.
Dari jajaran cast yang mungkin hanya Dennis Quaid yang benar-benar populer, ADP sebenarnya memang terasa sebagai low budget production. Namun bukan berarti cast-nya tampil asal-asalan. K. J. Apa sebagai Ethan Montgomery remaja yang mendominasi durasi terbukti cukup layak mengisi peran lead dengan kharisma yang cukup kentara sebagai pendatang baru. Dennis Quaid sendiri sebagai Ethan dewasa mungkin tak punya banyak porsi untuk menanam simpati penonton, tapi ia memanfaatkan porsi yang ada dengan kharisma-nya yang seperti biasa, kuat. Britt Robertson mengisi peran Hannah remaja dengan pesona yang lebih dari cukup di porsinya. John Ortis sebagai Carlos dan Kirby Howell-Baptiste sebagai Maya pun memberikan performa yang cukup layak dalam mengisi porsi peran masing-masing. Above all, tentu saja bakat Josh Gad yang mengisi suara Bailey (atau Buddy, Tino, Ellie) dengan begitu santai, effortless, polos, sekaligus menggelitik.
Teknis ADP memang tak ada yang benar-benar istimewa. Malah jika mau jujur, ia masih mengikuti style film-film bertemakan sejenis yang sempat booming di era 80-90’an. Seperti sinematografi Terry Stacey dan editing Robert Leighton yang masih mampu membuat plotnya mengalir lancar, melewati kehidupan-kehidupan yang berbeda. Desain produksi Michael Carlin dan costume design Shay Cunliffe memberikan informasi rentang era dengan cukup jelas (art defining time). Pemilihan soundtrack dan scoring dari Rachel Portman menyatu sekaligus memberi warna lebih, sesuai dengan era sekaligus nuansa yang ingin dihadirkan.
Di tengah semakin jarangnya tema persahabatan manusia dan hewan peliharaan, khususnya anjing, apalagi dengan treatment layar lebar yang layak dan dengan sudut pandang unik, ADP bak oase yang memberikan kesegaran tersendiri. Feel-good, manis, hangat, informatif jika Anda tertarik memahami pola pikir dan perilaku anjing, sekaligus menyuguhkan perjalanan kontemplatif (meski dari sudut pandang anjing, tapi saya rasa masih sangat relevan diaplikasikan pada manusia) tentang tujuan hidup yang santai tanpa melupakan makna. Apalagi jika Anda mengaku pecinta hewan peliharaan, khususnya anjing, ADP pantang untuk dilewatkan. 
Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates