Friday, February 3, 2017

The Jose Flash Review
The Chocolate Chance

Menggabungkan tema kuliner dengan drama romantis mungkin bukan barang baru, tapi tergolong jarang. Itulah sebabnya perpaduan keduanya yang dipersatukan lewat sebuah filosofis menarik selalu menarik untuk disimak. Jika Hollywood (produksi bersama Perancis) punya Chocolat (2000), Indonesia mecatat Brownies (2004), Cintapuccino (2007), Saus Kacang (2008), dan Filosofi Kopi (2015). Awal 2017 ini DariHati Films yang tahun 2015 lalu memproduksi Catatan Akhir Kuliah (CAK) mencoba menghadirkan tema serupa yang diangkat dari novel roman remaja berjudul sama karya Yoana Dianika (2013), The Chocolate Chance (TCC). Jay Sukmo yang pernah dipercaya menggarap CAK kembali duduk di bangku sutradara, sementara naskah adaptasinya disusun oleh Johansyah Jumberan yang sekaligus menjabat sebagai produser, seperti layaknya di CAK. Bintang muda yang sedang sering muncul di layar lebar, Pamela Bowie dipasang di lini terdepan bersama degnan Ricky Harun (yang juga sedang high demand. Baru saja muncul di Demi Cinta pekan sebelumnya, pekan ini ada dua filmnya sekaligus yang dirilis bersamaan. Satunya adalah From London to Bali), Miqdad Addausy (Lupus di Bangun Lagi Dong Lupus - 2013), Sheila Dara Aisha yang pernah dipasangkan dengan Deva Mahenra di Sabtu bersama Bapak, didukung Ferry Salim, Karina Suwandi, Donna Harun, Joshua Pandelaki, Ronny P. Tjandra, Roweina Umboh, Muhadkly Acho, dan Abdur Arsyad.

Film dibuka dengan suasana kafe cokelat bernama Fedde Velten Café dengan salah satu staf pembuat minuman cokelat bernama Orvala Theobroma. Suatu hari kafe didatangi oleh sosok pemuda yang membongkar kenangan-kenangan Orvala. Ia ternyata adalah Juno Aswanda, teman semasa SMA Orvala yang dulu sempat hampir jadian dengannya. Sayang  saat itu Juno harus lebih dulu berangkat kuliah ke luar negeri tanpa sempat saling mengutarakan perasaan masing-masing. Kini Orvala sudah menjalin hubungan serius dengan pria bernama Aruna Handrian. Bahkan Aruna lah yang membantu Orvala membuka kafe impiannya itu. Kedatangan Juno kembali membuat Orvala bimbang siapa sosok yang layak mendapatkan tempat di hatinya.
Dari permukaan terluar, TCC memang terdengar just another triangle teenage romance. Namun sebenarnya sama sekali tak jadi masalah selama ia punya pembangunan plot yang tersusun baik, logis, dan yang tak kalah penting, disertai elemen-elemen yang bisa jadi daya tarik tersendiri. Gimmick cokelat bisa jadi salah satu elemen yang dipakai sebagai daya tarik. Sayangnya TCC melewatkan potensi ini sehingga pada akhirnya elemen ‘cokelat’ terkesan hanya menjadi tempelan semata. Ada sih filosofi cokelat yang sempat disampaikan lewat dialog, tapi lebih terkesan asal sekedar ada, tanpa punya korelasi yang cukup kuat dengan plot utama.
Parahnya lagi, laju plot TCC pun terasa begitu melelahkan. Satu jam pertama dihabiskan khusus untuk flashback lima tahun lalu dengan detail yang tak perlu (saya meminjam istilah majas pleonasme, yang berarti penggunaan kata yang tak perlu untuk memperjelas makna yang sebenarnya sudah jelas) saya rasa tak punya urgensi apa-apa. Struktur cerita seperti ini mengingatkan saya akan film-film roman Hindi yang berniat memperkuat chemistry pasangan dalam benak penonton sebelum masuk ke konflik utama di paruh kedua. Bedanya, TCC hanya berdurasi 98 menit. Jadi porsi yang digunakan untuk membangun chemistry keduanya ke dalam benak penonton jelas terlalu lama dan bertele-tele. Apalagi ternyata pondasi yang dibangunnya ternyata sekedar menjelaskan kronologis hubungan antara Juno dan Orvala, bukan menanamkan pertalian emosi dengan penonton. Ketika masuk ke konflik utama, laju plot TCC beralih menjadi terlalu tergesa-gesa. Lengkap dengan kelokan-kelokan tak penting yang sekedar mempermulus jalan kedua karakter utama menuju tujuan akhir cerita. Secara keseluruhan porsi serta laju plot TCC terasa jauh dari kesan seimbang. Bagi saya, ketidak-seimbangan ini jadi punya pengaruh pada kenyamanan mengikuti laju ceritanya. In short, melelahkan.
Pamela Bowie sebenarnya adalah salah satu aktris muda yang punya cukup potensi dan kharisma. Sayang selama ini ia masih terjebak pada peran-peran tipikal yang kurang menantang bakat aktingnya. Peran Orvala yang dibawakan masih mengingatkan saya akan peran yang dilakoninya sebagai Laura di Melbourne Rewind, apalagi dengan rentang waktun antar film yang tak terlalu lama. Tak buruk, tapi juga tak ada yang istimewa. Ada upaya-upaya mengasah akting, terutama di momen-momen emosional yang lebih terlihat natural, tapi ia butuh tingkat kesulitan lebih untuk ‘naik kelas’. Penampilan Ricky Harun di genre drama setelah selama ini lebih lekat dengan image komedi pun tak buruk, tapi tak juga istimewa. Malah jujur, saya lebih bisa menemukan daya tarik seorang Ricky Harun dari peran-peran komedik (dengan gimmick guyonan yang tepat, tentu saja) ketimbang peran drama yang terasa terlampau biasa saja. Sementara aktor-aktris pendukung lain, mulai Miqdad Addausy, Sheila Dara Aisha, Ferry Salim, Karina Suwandi, Donna Harun, Joshua Pandelaki, Ronny P. Tjandra, Roweina Umboh, Muhadkly Acho. Abdur Arsyad, hingga Aditya Suryo Saputro dan Rahmet Ababil, lebih terasa sebagai penyemarak semata, tanpa porsi lebih untuk mencuri perhatian penonton.
Teknis TCC tergarap cukup rapi kendati (lagi-lagi) taka da yang benar-benar istimewa. Sinematografi Martua Raymond GT masih bisa menghindarkan film dari kesan ‘terlalu FTV’ dengan pergerakan kamera yang smooth dan cukup eksploratif. Editing Ryan Purwoko mungkin bukan faktor penyebab bertele-telenya laju maupun keseimbangan plot TCC, tapi upayanya untuk sekedar membuat cerita berjalan lancar dan nyaman diikuti masih belum cukup berhasil. Musik dari Andhika Triyadi masih ‘bermain aman’ di genrenya. Tak sampai terlalu sinetron maupun FTV, tapi juga masih belum cukup sinematis.

Dengan potensi-potensi yang ada, sangat disayangkan sebenarnya atas pilihan fokus cerita yang mengakibatkannya tak seimbang dan kelokan-kelokan tanpa tujuan jelas selain sekedar memuluskan jalan menuju final. Alhasil, TCC harus menjadi just another teenage romance, tanpa makna maupun filosofis lebih, tanpa ada kesan tersendiri pula. Dibandingkan CAK, TCC seperti sebuah kemunduran bagi DariHati Films dalam hal penceritaan.
Lihat data film ini di filmindonesia.or.id.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates