Thursday, February 23, 2017

The Jose Flash Review
Buka'an 8


Tuntutan sosial di negara kita (dan bisa jadi di nyaris seluruh wilayah yang mengaku menganut budaya ketimuran) tak pernah ada habisnya. Setelah ‘kapan kawin’, masih ada tuntutan lain menjelang fase berikutnya: punya anak. Tak kalah ribet dan hebohnya dengan pernikahan, persiapan menantikan kelahiran anak pertama menjadi salah satu fase kehidupan yang tak kalah menarik untuk diangkat ke medium film. Adalah pasangan salah satu sineas berkualitas tanah air, Angga Dwimas Sasongko, dan istrinya yang selalu bertindak sebagai produser di film-film sang suami, Anggia Kharisma, yang kebetulan baru saja dikaruniai anak pertama, Angkasa Rigel, di akhir 2015 lalu, mengabadikan momen penting tersebut dalam sebuah film. Masih diproduksi di bawah bendera Visinema Pictures dengan menggandeng Chanex Ridhall Pictures dan Kaninga Pictures, film bertajuk Buka'an 8 (B8) ini naskahnya dipercayakan kepada Salman Aristo yang tak perlu diragukan lagi kepiawaiannya dalam menyusun naskah cerdas sekaligus menggelitik. Chicco Jerikho mengisi peran utama sekaligus salah satu produser, didukung nama-nama populer seperti Lala Karmela yang terakhir kita lihat di Ngenest, Sarah Sechan, Tyo Pakusadewo, Dayu Wijanto, dan berbagai cameo yang kian menyemarakkan suasana sebagai sajian chaotic comedy.

Alam sedang kelabakan setengah mati. Sang istri, Mia, sudah mendekati tanggal kelahiran anak pertama mereka. Di saat yang sama ia harus meladeni twitwar dengan beberapa orang. Maklum, Alam ternyata seorang blogger yang juga bekerja di penerbit independen dan punya puluhan ribu follower. Masalah masih bertambah ketika uang yang sudah mereka siapkan untuk menyewa kamar VIP di rumah sakit terkemuka sebagai tempat persalinan ternyata tidak cukup karena promo yang mereka incar sudah kadaluarsa. Pontang-pantinglah Alam mencari uang tambahan demi menjaga gengsi di mata keluarga Mia, terutama Sang Ambu (ibu) dan Abah yang awalnya tak memberikan restu pada hubungan mereka, Seiring dengan waktu upaya-upaya Alam justru membongkar rahasia-rahasia Alam yang selama ini ia sembunyikan dari Mia dan keluarganya.
‘Dijual’ sebagai film chaotic comedy seputar kelahiran anak pertama, nyatanya B8 juga mengawinkan dengan banyak elemen pendukung yang menyindir fenomena-fenomena sosial akhir-akhir ini. Mulai media sosial lengkap dengan twitwar dan selebtwit hingga politik. Menjadikan B8 tak hanya menjadi chaotic comedy yang personal, tapi juga satir yang sindir sana-sini. Biasanya formula seperti ini cenderung terkesan terlalu cerewet yang pada akhirnya menciderai penceritaan plot utama. Namun B8 mampu menghindari kecenderungan tersebut. Tak hanya berhasil mengkoneksikan elemen-elemen satir dan plot utama dengan korelasi sebab-akibat yang solid, tapi juga diseimbangkan dengan justifikasi yang adil. Misalnya, ia tak hanya menyindir social media-addict yang meletakkan aktivitas dunia maya di atas kehidupan pribadi bersama orang-orang tersayang, tapi juga memberikan manfaat dari aktivitas tersebut yang juga bisa dirasakan oleh orang-orang tersayang. Kesemua elemen ini disusun dalam sebuah rangkaian kronologis yang terasa begitu tertata rapi, runtut, mengalir lancar, dan logis. Jika ada bagian yang menurut Anda dibuat-buat untuk mempermudah resolusi, maka saya masih mempercayai ‘selalu ada jalan yang datang dengan tidak terduga-duga’. Ada ‘rencana dari Yang di Atas’ yang membuat manusia mensyukuri segala kejadian di dunia. Toh sebelumnya sempat ditampilkan hint-hint menuju resolusi. Bukan sebuah resolusi yang tiba-tiba muncul out of nowhere.
Jika naskah Salman Aristo sudah tersusun dengan begitu rapi dan solid, eksekusi Angga Dwimas Sasongko pun semakin memperkuat hasil akhir B8. Di sini Angga seolah membuktikan bahwa dirinya tak hanya piawai dalam menggarap genre drama dengan sensitivitas, dramaturgi, dan timing yang sangat baik sehingga mampu memberikan impact (terutama emotional impact), tapi juga mampu mengarahkan chaotic comedy dan sedikit aksi dengan energi yang sesuai. Alhasil di comedic moments-nya, B8 terasa begitu asyik, seru, menegangkan, mencemaskan, sekaligus menggelitik. Sementara ketika menginjak emotional moments-nya, B8 terasa begitu manis dan hangat. Pencapaian ini menjadikan Angga layak menyandang gelar sebagai sutradara dengan craftsmanship versatilitas genre yang tinggi.
Beberapa kali bekerja sama dengan Angga membuat Chicco Jerikho tampak semakin nyaman dan santai dalam menghidupkan perannya. Meski masih terasa ‘sangat Chicco’, karakter Alam yang emosinya meledak-ledak tanpa pikir panjang, spontaneous, agak ‘ngehek’, tapi begitu mencintai keluarganya, terasa begitu membumi tanpa mengesampingkan elemen-elemen komikal yang cukup untuk mengundang tawa. Turnover di saat-saat genting pun dibawakan dengan mulus dan mampu mengundang simpati penonton. Terakhir, chemistry yang dibangunnya dengan Lala Karmela dan juga Tyo Pakusadewo di salah satu adegan, semakin menambah nilai plus dari penampilannya kali ini. Lala Karmela terasa pas memerankan karakter Mia meski masih tak banyak beranjak dari peran serupa sebelumnya di Ngenest. Scene stealer terbesar adalah Sarah Sechan dengan berbagai celetukan khas Sunda-nya yang entah sudah ada sejak di skenario atau merupakan hasil improvisasi sendiri. Tyo Pakusadewo pun punya comedic moment yang tak kalah berkesannya. Dayu Wijanto sebagai mama Alam masih terasa agak ‘berjarak’ dengan karakter Alam, tapi masih mampu menyampaikan tujuan karakternya sesuai dengan porsinya. Di lini pendukung/cameo, Maruli Tampubolon sebagai dokter kandungan pengganti, Melissa Karim, Mo Sidik, Ary Kirana, Desta, hingga TJ, masing-masing punya momen yang noticeable, bahkan cukup mengesankan.
Keberhasilan B8 sebagai chaotic comedy yang berenergi sekaligus drama yang hangat tak lepas dari peran sinematografi Robie Taswin, terutama lewat camera work-nya. Bahkan gambar-gambar established pun mampu ‘bercerita’ sekaligus menghantarkan emosi yang sesuai. Editing Teguh Raharjo semakin mempertegas efektivitas dan energi storytelling sekaligus comedic-moments-nya. Tampilan grafis Twitter dan WhatsApp yang menghadirkan picture profile yang bergerak menjadi daya tarik bahkan sumber komedi tersendiri. Musik dari Mc Anderson pun memberikan warna yang lebih menghidupkan adegan-adegan menjadi makin asyik diikuti. Adegan-adegan seru menjadi makin seru, sementara adegan dramatis menjadi semakin hangat tanpa kesan berlebihan. Pemilihan lagu tema Untuk Perempuan yang Sedang Dalam Pelukan dari Payung Teduh makin menghanyutkan, mengiringi credit title berupa motion photograph kru dengan anak masing-masing (bagi yang sudah dikaruniai) maupun dengan sang ayah (bagi yang masih belum dikaruniai anak).
Utamanya B8 memang menjadi sebuah sajian komedi yang personal tentang bagaimana proses kelahiran anak pertama bisa punya pengaruh besar bagi pasangan dan orang-orang yang ada di sekitarnya. Tak hanya menjadi momok karena bayang-bayang tambahan biaya hidup yang makin gila-gilaan, tapi juga mempengaruhi pilihan prioritas dalam hidup. Memasukkan satir terutama tentang media sosial adalah keputusan yang pas untuk dikawinkan. Menjadikan B8 sebuah time-capsule yang cerdas dan reflektif dengan kemasan yang sangat menghibur dari awal hingga akhir. Anda akan dibuat tersenyum, bahkan mungkin tertawa terbahak-bahak, khawatir dan bersimpati pada karakter-karakternya, mungkin sedikit tersindir yang membawa Anda ke sebuah refleksi pribadi, dan pada akhirnya teringat akan keluarga. Mengenang kembali masa-masa kelahiran anak pertama (yang bisa jadi makin merekatkan hubungan dengan pasangan) bagi yang sudah pernah dikaruniai anak dan merefleksikan perjuangan orang tua ketika menantikan kelahiran Anda dulu bagi yang belum dikaruniai anak.
Lihat data film ini di filmindonesia.or.id dan IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates