Saturday, December 31, 2016

The Jose Flash Review
Why Him?

Perseteruan antara calon mertua dan calon menantu ternyata tak hanya menarik pada kebudayaan Timur saja, tapi juga di Barat. Masih terpatri jelas dalam ingatan saya komedi romantis (atau lebih tepatnya komedi keluarga) tentang mertua vs menantu, Meet the Parents yang dilanjutkan sekuelnya, Meet the Fockers dan Little Fockers. Salah satu penulis naskah di balik ketiga seri tersebut, John Hamburg, bersama Ian Helfer (The Oranges) kemudian kembali menyusun naskah bertema serupa dengan modifikasi-modifikasi yang lebih ‘menyesuaikan jaman’ dan treatment yang lebih ‘nakal’. Shawn Levy dan Ben Stiller pun tertarik memproduseri, sementara aktor James Franco dan Bryan Cranston dari serial Breaking Bad, terpilih untuk mengisi peran lini utama. Sementara di lini pendukung, ada Cedric the Entertainer, Zoey Deutch (Beautiful Creatures dan Dirty Grandpa), Megan Mullally dari serial Will & Grace, dan Keegan-Michael Key dari serial MADtv. Yang tak kalah penting, film bertajuk Why Him? (WH) ini diset sebagai film Natal, yang eksistensinya sudah semakin jarang.

Ned dan Barb Fleming selama ini merasa selalu terbuka dan jujur dengan kedua anaknya, Stephanie yang sedang duduk di bangku kuliah, dan si bungsu, Scotty. Namun Ned terkejut ketika tak sengaja mendapati bahwa Stephanie sudah menjalani hubungan serius dengan seorang pria bernama Laird Mayhew. Awalnya image Laird di mata Ned tergolong buruk. Sikapnya slengean, seringkali tak senonoh, dan gemar menggunakan kata-kata umpatan. Menjelang Natal, Ned sekeluarga diundang Laird ke rumahnya yang mewah dan canggih. Ternyata Laird adalah seorang milyuner muda berkat aplikasi-aplikasi yang ia kembangkan. Awalnya Ned enggan, tapi karena tak ingin dianggap berprasangka buruk, akhirnya undangan ini dipenuhi juga. Sementara Ned masih terus berprasangka buruk, Barb dan Scotty justru semakin akrab dengan Laird. Kebencian Ned semakin memuncak ketika Laird berniat melamar Stephanie. Menurutnya, Stephanie masih terlalu muda dan masih harus menyelesaikan kuliahnya. Namun above it all, tentu kebencian Ned punya andil besar. Hubungan antara Ned, Stephanie, dan keluarganya semakin memanas.
Meski sekilas mirip premise Meet the Parents (MtP) atau bisa juga sebagai versi in-reverse, WH ternyata punya cukup banyak perbedaan yang fundamental. Jika MtP mengandalkan komedi situasi dari perbedaan kepribadian antara mertua-menantu, WH mempertajam konsep generation gap dengan sangat bold. Terutama dari latar belakang karakter Ned yang sudah bertahun-tahun menjadi penguhasa percetakan konvensional dan Laird yang pengembang aplikasi digital. Generation gap ini semakin jelas tersirat lewat guyonan-guyonan yang dihadirkan. Mostly, verbally vulgar yang masih bisa membuat tertawa terbahak-bahak (apalagi jika Anda memahami istilah-istilah ‘jorok’ masa kini). Sayangnya, joke-joke situasional yang dihadirkan meski secara struktur masih membuat plot berkembang, tapi terasa seperti segmen-segmen yang berdiri sendiri. Lebih disayangkan lagi, tiap ‘segmen’ tersebut berakhir dengan kentang (kena tanggung). ‘Punchline’-nya masih sering kurang ‘nonjok’. Mungkin ekspektasi saya yang ketinggian, mengharapkan komedi situasional yang se-kacau-kacaunya seperti yang terjadi pada MtP. Lucu, masih bisa bikin saya tertawa terbahak-bahak secara sponton, tapi menurut saya punya potensi untuk jadi jauh lebih ‘pecah’ lagi.
Selebihnya, WH tak punya masalah yang benar-benar berarti. Plotnya bergerak dengan sangat lancar dengan bumbu-bumbu yang relevan serta memperkuat konsep besar tentang generation-gap. Proses-proses titik balik yang disematkan di sana-sini pun digarap dengan mulus dan natural. Formulaic di genrenya, tapi punya conclusion yang bijak, tak memihak salah satu kubu, serta tetap terasa manis dan hangat sebagai sebuah sajian Natal keluarga. Apalagi ditambah bonus cameo tak terduga yang pasti membuat generasi 80-90’an kegirangan di menjelang klimaks.
James Franco sebagai Laird Mayhew tentu menjadi pusat perhatian dan nyawa utama dari film. Untungnya, ia memang cocok dan berhasil mengemban tugas yang tak ringan tersebut. Bryan Cranston sebagai Ned Fleming mungkin masih sedikit di bawah performa Robert DeNiro dalam mengisi peran sejenis di franchise MtP, tapi sudah lebih dari cukup dalam menghidupkan konflik utama dengan tetap punya sisi komedik yang pas. Megan Mullally sebagai Barb Fleming tampil cukup menyenangkan, setara penampilan Blythe Danner di MtP. Zoey Deutch sebagai Stephanie Fleming mungkin diberi porsi peran lebih sedikit dari seharusnya, tapi masih mampu cukup bersinar lewat kecantikan fisik maupun personality yang terpancar. Scene stealer di WH ada pada karakter Gustav yang diperankan dengan sangat menggelitik oleh Keegan-Michael Key. Tak boleh dilupakan pula cameo dari (suara) Kaley Cuoco, Steve Aoki, Adam Devine, YouTuber, Tobuscus alias Toby Turner, dan penampilan kejutan dari duo personel band legendaris yang akan membuat para fans maupun penonton dari generasi 80-90’an bersorak.
Sinematografi Kris Kachikis mungkin memang tak ada yang benar-benar istimewa, tapi setidaknya mampu menyampaikan laju plot beserta membuat comedic-comedic moment menjadi berhasil. Editing William Kerr pun turut membuat comedic timing-nya berhasil kendati perpindahan sequence-nya membuat kesan tiap segmen yang terpisah-pisah. Desain produksi Matthew Holt beserta art dari Gary Warshaw layak mendapatkan kredit, terutama untuk rumah Laird yang sophisticatedly fun. Pemilihan soundtrack, mulai yang klasik seperti I Wanna Rock N’ Roll All Night dari KISS hingga Mama Do the Hump dari Rizzle Kicks, membuat WH makin asyik dan menyenangkan untuk dinikmati. Begitu pula music score dari Theodore Shapiro yang cukup menyemarakkan nuansa-nuansa komedi maupun emosionalnya.
Sebagai sebuah komedi, WH punya potensi yang jauh lebih ‘pecah’. Formulaic, tapi disusun dengan konsep yang bagus dan konsisten. Namun tentu yang paling penting tentu saja predikatnya sebagai film Natal keluarga yang hangat dan manis. Untuk tujuan tersebut, WH masih bisa dijadikan pilihan yang tepat. Tentu, jika seluruh anggota keluarga Anda sudah cukup umur dan tak tabu dengan istilah-istilah nakal bin jorok yang dilontarkan di sana-sini. Enjoy and happy holiday!
Lihat data film ini di IMDb
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates