Wednesday, January 4, 2017

The Jose Flash Review
The Unspoken

Trend film horror ternyata masih dengan formula ‘baru pindah ke sebuah rumah yang dikenal punya cerita masa lalu kelam’ dan ‘aliran sesat’. The Unspoken, sebuah film horror indie yang ditulis dan disutradarai oleh Sheldon Wilson, adalah salah satunya. Saking indie-nya, bahkan cast yang digunakan pun tak terlalu populer. Hanya ada nama Jodelle Ferland (masih ingat cewek cilik tak berbibir di poster Silent Hill, Bree di The Twilight Saga atau Patience di The Cabin in the Woods?), Anthony Konechny (Sam di X-Men: Apocalypse dan Paul di Fifty Shades of Grey), dan yang paling familiar bagi saya, Neal McDonough (Dave dari serial Desperate Housewives). Namun setidaknya The Unspoken ini masih punya poster dan trailer yang ‘menjanjikan’. Kendati secara tertulis produksi 2015, The Unspoken baru rilis Oktober 2016 lalu di Amerika Serikat. Sementara kita di Indonesia bisa menyaksikannya di bioskop mulai 4 Januari 2017 di bawah bendera Moxienotion (yang artinya hanya tayang di bioskop-bioskop non-XXI).

Tahun 1997 lalu, keluarga Anderson mendadak menghilang secara misterius di rumah mereka sendiri yang sejak itu berjuluk Briar House dan dijauhi oleh warga sekitar. Tujuh belas tahun kemudian, seorang gadis yang kerap mengambil kerja sambilan sebagai pengasuh anak di sebuah day care, Angela, mendapatkan tawaran di Briar House. Mengabaikan larangan dari sang ayah dan sahabatnya, Pandy, Angela mengambil tawaran tersebut. Awalnya tak ada yang aneh dengan Jeanie, single mom yang baru pindah ke Briar House bersama putra semata wayangnya, Adrian, yang berhenti berbicara sejak sang ayah meninggal. Namun sejak satu per satu kejadian aneh terjadi di Briar House, Angela penasaran untuk mengulik lebih lanjut misteri yang selama ini beredar di sekitarnya. Di saat yang bersamaan, geng pria seumuran Angela mengincar Briar House karena selama ini mereka ternyata menyimpan rahasia di rumah tersebut.
Formula yang sudah terlalu familiar cenderung ke usang sebenarnya sah-sah saja selama masih digarap dengan treatment yang setidaknya bikin horornya berhasil. Sayangnya, The Unspoken bukanlah salah satunya. Alih-alih mengembangkan plot dengan investigasi yang membuka selubung misteri perlahan hingga revealing yang mengejutkan (tentu juga harus konsisten dengan setup-setup yang sudah dibangun pula), satu jam pertama diisi oleh jumpscare-jumpscare usang dengan timing dan camera work yang masih sering meleset pula. Sementara ‘in-between’ jumpscare diisi oleh adegan-adegan (penjelasan yang ternyata tak terlalu penting pula) yang berjalan lambat dan sunyi. Sub-plot tentang hubungan antara Angela dan Pandy yang awalnya bisa jadi bumbu atau malah bisa jadi setup cerita yang menarik, ternyata tak dikembangkan ke mana-mana. Berakhir sebagai ‘sensation-seeker’ yang gagal dipedulikan penonton. Begitu pula sub-plot geng Luther yang ternyata tak memberikan kontribusi apa-apa selain ‘menambah korban’. In my opinion, sub-plot-sub-plot ini berpotensi dikembangkan, bahkan digabungkan menjadi satu racikan yang jauh lebih solid, serta menjadikannya horror dengan variasi yang berbeda. Sayangnya, kapasitas Sheldon selaku penulis naskah maupun sutradara masih belum mampu melakukannya. Satu hal paling menarik adalah ending yang menggiring penonton ke persepsi ‘jahil’ bahwa ini adalah prekuel dari salah satu franchise horror legendaris yang diangkat dari kisah nyata.
Penampilan aktor-aktris di The Unspoken sebenarnya tak buruk-buruk amat, tapi gara-gara penulisan karakter yang terkesan asal, bakat serta effort mereka pun jadi mubazir. Jodelle Ferland sebagai Angela bisa jadi young lead yang menjanjikan jika naskahnya dikerjakan dengan jauh lebih baik. Begitu pula Chanelle Peloso sebagai Pandy, Pascale Hutton sebagai Jeanie, dan Anthony Konechny sebagai Luther, yang terasa sekali berupaya tampil semaksimal mungkin tapi masih belum berhasil to steal it. Sunny Suljic sebagai the strange boy, Adrian, punya kekuatan kharisma yang setara, let’s say, dengan pemeran-pemeran Damien Omen, for instance. Kemisteriusan wajah didukung ekspresi yang menebar teror, menjadikannya aktor cilik dengan potensi besar. Terakhir, yang paling ‘berpengalaman’ dan tampil paling natural adalah Neal McDonough sebagai Officer Bower. Sayang, (lagi-lagi) karakternya teramat sangat under-developed sehingga membuat karakternya terkesan numpang lewat saja.
Produksi indie bukanlah alasan untuk dukungan teknis yang kurang maksimal. Cukup banyak produksi indie yang berhasil ‘mengakali’ teknis sehingga tetap memberikan efek sesuai kebutuhan treatment film. Secara keseluruhan, teknis The Unspoken masih terasa layak, tapi untuk menghadirkan nuansa yang dibutuhkan, kesemuanya masih jauh dari berhasil. Mulai dari camera work Eric J. Goldstein yang bahkan masih gagal mengeksekusi jumpscare-jumpscare generiknya, sampai editing Tony Dean Smith yang tak banyak membantu memperbaiki segalanya. Desain produksi Rick Whitfield dan timnya pun tak tampak terlalu istimewa meski masih dalam golongan ‘aman’. Scoring music Matthew Rogers juga terdengar terlalu generik di genrenya.
Dari premise-nya, The Unspoken memang terasa bak sekedar memadu-padankan berbagai formula generik di genre horror yang sedang trend (dan hampir basi, sebenarnya). Ada potensi-potensi konsep keseluruhan yang menarik. Sayangnya Sheldon belum mampu merangkainya jadi satu kesatuan yang solid dengan bangunan plot yang berkembang, koheren, serta solid. Hasil akhirnya, lebih banyak jumpscare usang yang diulang-ulang dan dengan timing yang masih sering meleset pula. Sungguh sayang sekali. Namun jika Anda penggemar genre horror yang sekedar mencari tontonan pengisi waktu luang, bolehlah dicoba tanpa ekspektasi apa-apa. It won’t hurt a lot if you’ve already known that it’s that bad, will it?
Lihat data film ini di IMDb
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates