Monday, January 30, 2017

The Jose Flash Review
Resident Evil: The Final Chapter

Di antara anekdot kutukan game yang diangkat ke layar lebar nyaris mustahil gagal secara komersial dan kualitas (let’s say, gagal memuaskan penggemar versi game-nya), adaptasi game action-horror-survival keluaran Capcom, Resident Evil (RE- 2002) membuktikan bahwa mereka mampu mematahkan kutukan tersebut. Kendati sebagian besar kritikus menghujani tiap installment dengan kritik pedas dan buruk, angka box office-nya tak pernah mengecewakan. Bahkan hingga saat ini pendapatan totalnya dari 6 film nyaris mendekati angka 1 milyar dolar. Padahal per installment budgetnya rata-rata ‘hanya’ US$ 35-65 juta. However, ketika pengembangan cerita sudah dianggap mentok dan bertele-tele, menutup keseluruhan seri adalah keputusan yang paling bijak daripada semakin dijauhi penggemar-penggemarnya dan merusak keseluruhan franchise. RE yang sudah semakin melelahkan akhirnya mencapai ‘the final chapter’-nya di installment ke-enam. Perjalanannya ternyata jauh dari kata mulus. Sempat diumumkan sejak akhir 2012, bahkan sampai seri ketujuh sekaligus reboot dalam format serial, akhirnya baru terealisasi 2015. Apalagi ditambah kehamilan anak kedua Milla Jovovich yang mau tak mau membuat jadwal syuting mundur.

Ketika masa produksi pun, Resident Evil: The Final Chapter (TFC) diwarnai kecelakaan yang membuat lengan kiri stunt double Jovovich, Olivia Jackson harus diamputasi, dan bahkan seorang kru bernama Ricardo Cornelius yang harus mengorbankan nyawanya setelah terlindas Hummer yang menjadi properti syuting. Ali Larter dari Resident Evil: Afterlife (installment keempat), Iain Glen, dan Shawn Roberts kembali hadir. Sementara Li Bingbing yang awalnya dikabarkan kembali mengisi peran Ada Wong batal tampil. However, TFC menjadi penentuan bagaimana kualitas Paul W. S. Anderson dalam menuliskan naskah sekaligus membawa keseluruhan konsep universe RE versinya.
Melanjutkan langsung dari ending installment sebelumnya, Resident Evil: Retribution, Alice terbangun di tengah reruntuhan White House, mendapati dirinya lagi-lagi dikhianati oleh Albert Wesker. Hologram Red Queen tiba-tiba muncul memberi tahu bahwa ia harus kembali ke markas The Hive di Racoon City dalam tempo 48 jam untuk menghentikan Umbrella Corporation yang berniat menyebarkan antivirus pembunuh organisme apapun yang terjangkit T-virus dan seluruh umat manusia benar-benar punah dari muka bumi. Maka berangkatlah Alice berpacu dengan waktu. Alice juga harus berhadapan dengan Dr. Isaacs dan pasukannya yang membuatnya jadi umpan zombie. Untung saja Alice tak sendiri. Ia mendapatkan bantuan dari kelompok penyitas yang terdiri dari Doc, Abigail, Christian, Cobalt, Razor, dan Claire Redfield yang pernah bekerja sama dengannya ketika di Arcadia. Ternyata Umbrella Corporation menyimpan rencana rahasia besar sedari awal, termasuk menyangkut identitas Alice sebenarnya.
Setelah semakin lama semakin terasa diulur-ulur atau punya perkembangan cerita tapi diirit-irit demi kelangsungan installment franchise, akhirnya TFC menjadi semacam titik terang ke mana arah franchise versi Paul W. S. Anderson ini menuju. Perkembangan plot di TFC memang tak banyak berarti, dengan formula yang sangat familiar pula. Kehadiran karakter-karakter baru pun tak dimanfaatkan sebagai pengembangan yang berarti bagi keseluruhan plot, selain sekedar ‘the more the merrier’. Namun setidaknya ada revealing dan konklusi yang memuaskan after all this time. Tak benar-benar original, apalagi bagi penonton yang familiar dengan tema post-apocalypse beberapa tahun terakhir, tapi tergolong cukup relevan dengan perkembangan cerita sepanjang lima installment sebelumnya. Masih mengangkat isu cleansing humanity, bahkan bawa-bawa metafora Biblical, juga mempertanyakan apa yang membuat seseorang lebih manusia ketimbang yang lain. Tambahan elemen-elemen disuntikkan ke dalam konsep setidaknya masih mampu memberikan energi lebih untuk membuat installment kali ini tetap menarik, yaitu teknologi prediksi aksi dan yang paling memuaskan tentu saja adegan-adegan menegangkan dari installment pertamanya yang dihadirkan kembali dengan modifikasi. Tetap mampu memompa adrenaline dengan konsep life-threatening sekaligus pemicu nostalgia.
Sama seperti installment-installment sebelumnya, ending TFC pun termasuk menggantung. Bisa ditebak, embel-embel ‘the final chapter’ tentu tentatif. Jika hasil box office-nya masih menguntungkan, kenapa tidak dilanjutkan? Well, ending TFC menunjukkan peluang tersebut. Namun jika tidak dilanjutkan sekalipun, ending TFC sudah cukup memberikan konklusi sekaligus revealing yang memuskan untuk keseluruhan franchise RE versi Paul W. S. Anderson.
Milla Jovovich masih melanjutkan peran Alice dengan kualitas yang kurang lebih sama. Tak lebih baik ataupun lebih buruk. Setidaknya konsistensi karakter masih dijaga dengan baik. Begitu juga Ali Larter sebagai Claire Redfield yang masih saja tak berfungsi lebih ketimbang di Resident Evil: Afterlife. Penampilan Ruby Rose yang baru saja mencuri perhatian kita di xXx: Return of Xander Cage, ternyata hanya sekedar numpang lewat sebagai Abigail. Eoin Macken sebagai Doc, Fraser James sebagai Razor, Willaim Levy sebagai Christian, Rola sebagai Cobalt, dan aktor muda Korea Selatan, Joon-Gi Lee, pun nasibnya tak berbeda jauh. Tak punya banyak kesempatan untuk sekedar menarik perhatian penonton. Mungkin hanya Iain Glen sebagai Dr. Isaacs dan Shawn Roberts sebagai Wesker yang masih bisa di-‘kenali’ penonton, itu pun lebih karena character investment di installment-installment sebelumnya.
Sebagai sajian horror-action-adventure, pace yang cepat bisa mendukung keseruan adegan. Sayangnya treatment yang digunakan TFC terasa kurang tepat porsi. Sinematografi Glen MacPherson dipadu editing Doobie White yang ganti shot tiap sedetik membuat banyak detail adegan aksi menjadi samar dan kurang jelas (termasuk gore yang seringkali terasa ‘kurang sadis’). Belum lagi kehadirannya yang terus-menerus sempat memberikan efek lelah bagi penonton untuk mengikuti. Untung saja lama-kelamaan intensitasnya berkurang sehingga berangsur menjadi lebih nyaman untuk diikuti. Desain produksi Edward Thomas tak jauh-jauh dari tipikal post-apocalypse akhir-akhir ini, terutama Mad Max: Fury Road, lengkap dengan hummer. Scoring music dari Paul Haslinger masih menghadirkan elemen-elemen techno yang masih tergolong selaras dalam mendukung emosi pada adegan- adegan yang dihadirkan. Sound design tertata cukup pas dengan kebutuhan, termasuk pembagian kanal surround yang efektif. Tak sampai terdengar dahsyat, tapi masih sangat layak di genrenya.
Format 4DX menawarkan ‘rasa’ lebih, terutama lewat seat movement dan wind-water spray yang membuat penonton berkali-kali bak benar-benar digampar. Namun yang paling membuat saya terkesan adalah efek wind blows untuk adegan deadly fan. Dari rekomendasi teman-teman, format 3D tak memberikan kontribusi apa-apa seperti dua installment RE sebelumnya yang memang di-shot dengan kamera 3D. Kali ini Anderson memilih kamera 2D biasa, kemudian di-convert ke format 3D. So jika Anda menginginkan pengalaman yang paling maksimal, I think I’ll recommend the 4DX 2D.
Bagi yang mengikuti franchise RE, TFC jelas menjadi installment yang pantang untuk dilewatkan. Setidaknya setelah merasa lelah dengan apa yang terjadi di tiap installment, ia menawarkan revealing sekaligus konklusi yang memuaskan. Adegan-adegan aksi, termasuk revisit dari installment pertama, juga menjadi hiburan tersendiri, kendati di beberapa momen terasa ‘kacau’. Saya sendiri tak mengharapkan franchise versi Paul W. S. Anderson akan dilanjutkan lagi setelah ini. TFC sudah lebih dari cukup untuk menutup franchise film adaptasi dari game tersukses ini dengan baik dan terhormat.
Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates