Sunday, January 8, 2017

The Jose Flash Review
Promise

Invasi Screenplay Films dari FTV ke layar lebar agaknya berjalan sukses. Bagaimana tidak, dari empat film layar lebar yang mereka produksi pertama, Magic Hour (2015), London Love Story (2016), ILY from 38.000 Ft (2016), dan Headshot (2016), kesemuanya bisa dibilang sukses. Bahkan dua di antaranya sudah melewati angka satu juta penonton. Kesuksesan ini tak lepas dari peran sutradara Asep Kusdinar, penulis naskah Sukhdev Singh dan Tisa TS, serta tentu saja artis-artis eksklusif mereka, seperti Michelle Ziudith dan Dimas Anggara yang sudah punya massa luar biasa banyaknya. Dengan kontrak bersama Legacy Pictures yang dimulai sejak ILY from 38.000 Ft lalu, kualitas production value mereka terasa meningkat dari FTV-ish menjadi lebih sinematis. Kerjasama keduanya kembali terjalin lewat Promise yang dibintangi Dimas Anggara bersama Mikha Tambayong, Boy William, dan pendatang baru yang baru saja kita lihat sekilas di ILY from 38.000 Ft (serta merupakan adik kandung dari Annisa Rawles yang kita lihat di Single-nya Raditya Dika), Amanda Rawles. Dengan dream-team dan artis-artis eye-candy dosis tinggi, Promise di awal tahun 2017 ini sekali lagi mencoba menarik perhatian penonton remaja, terutama yang sudah menjadi fan setia produksi-produksi mereka.

Meski bersahabat sejak kecil, Aji dan Rahman punya kepribadian serta kehidupan yang berbeda. Aji dikenal playboy sementara Rahman pemalu untuk urusan asmara. Maklum, Rahman dibesarkan di lingkungan keluarga yang taat beragama. Ketik dewasa, Rahman pindah ke Italia dan bersahabat dengan Moza yang sebenarnya menaruh hati kepada dirinya. Sayang Rahman seolah tak menggubris perhatian Moza dan menganggapnya hanya sebagai sahabat. Kemunculan Aji di Italia dan mengenalkan pacarnya, Kanya, membuat hidup Rahman yang awalnya baik-baik saja menjadi terusik. Rahman rupanya punya masa lalu dengan Kanya yang belum terselesaikan. Persahabatan Rahman dan Aji juga terancam.
Bagi yang sudah tahu seperti apa content produksi Screenplay Films biasanya, tentu tak akan mengerutkan dahi ketika menyaksikan Promise. Ya, ia masih berisi roman dengan bumbu khas remaja saat ini, mulai friendzone, cinta pertama yang tak pernah mati, sampai pilihan antara persahabatan dan asmara. Seperti biasa pula, kesemuanya dibungkus dengan dialog-dialog ‘ajaib’ yang berusaha romantis ala pujangga, karakter-karakter yang tak kalah ‘ajaib’-nya, serta twist cliché yang juga terasa kurang relevan dengan kebutuhan cerita. Namun agaknya Promise sudah mulai meminimalisir ‘keajaiban-keajaiban’ yang biasa dihadirkan. Masih cliché, tapi disampaikan dengan logika-logika yang masih lebih masuk akal (ketimbang produksi-produksi sebelumnya), meski masih ada satu-dua yang agak ‘ganjil’. Misalnya logika Pak Haji yang relijius kok malah menikahkan putranya dengan gadis yang gaya berpakaian sehari-harinya tergolong kelewat seksi, atau bagaimana mungkin gara-gara kepergok nonton bokep saja bisa langsung dinikahkan. Well, jika kita terbuka terhadap pola pikir masyarakat desa, bukan tidak mungkin ini terjadi. Setidaknya, begitu menurut seorang teman yang kebetulan berasal dari pelosok. Speaking of cheesiness and cliché, setidaknya Promise sudah beberapa langkah lebih dewasa dan ‘tidak mengganggu’ dari ILY from 38.000 Ft. Karakter Kanya masih kurang digali lebih dalam, terutama dari segi alasan pilihan sikap serta transisinya, tapi jika mau menggunakan logika remaja masa kini, ya memang seperti demikianlah adanya.  Setidaknya saya masih menemukan kedewasaan, misalnya tentang menerima pilihan orang lain sampai kualitas nilai-nilai dalam pencarian pasangan hidup. Dialog-dialog ‘ajaib’ yang ‘mengganggu’ tergantikan oleh penggunaan kata-kata puitis yang sayang masih dibawakan dengan biasa saja oleh para aktornya sehingga jatuhnya pun jadi biasa saja. Secara keseluruhan meski belum sepenuhnya mulus, Promise masih menyajikan arah plot yang acceptable.
Namun bukan berarti Promise benar-benar bebas ‘hambatan’. Struktur adegan yang disusun membuat flow plot secara keseluruhan jadi terasa tersendat-sendat dan lompat-lompat, jika tidak mau dikatakan tidak utuh. Mungkin susunan ini dimaksudkan untuk memberikan unsur kejut ke dalam plot (termasuk twist ending yang sudah menjadi ciri khas produksi Screenplay Films). Sayangnya, upaya ini justru sedikit menciderai kenikmatan mengikuti plotnya secara runtut, meski bagi penggemar berat produksi Screnplay justru ditunggu-tunggu dan jadi salah satu nilai jualnya.
Penampilan aktor-aktris yang menghiasi layar memang tak ada yang benar-benar istimewa. Apalagi mereka membawakan karakter yang biasa-biasa saja, tapi dengan kapasitas akting yang pas. Misalnya, Dimas Anggara sebagai Rahman yang pemalu, dibawakan dengan convincing dan pada porsi yang pas. Sayang, aksen Jawa yang seharusnya menjadi salah satu elemen penting dari karkaternya masih jauh dari konsisten. Boy William masih memerankan karakter Aji dengan tipikal yang biasa ia bawakan. Mikha Tambayong sebagai Moza mampu mencuri perhatian lewat pesona fisik yang makin bersinar terang, ditambah kharisma performa yang makin kuat, kendati memainkan karakter tipikal pula. Amanda Rawles sebagai Kanya pun menambah nilai eye-candy bagi film dengan performa yang cukup layak untuk seorang pendatang baru, selain tentu saja pesona fisik yang sudah tak perlu diperdebatkan lagi.
Sementara di pemeran pendukung, Surya Saputra sebagai ayah Rahman yang tampil cukup menarik, apalagi dengan aksen Jawa serta gesture relijius yang jarang kita lihat dari performanya selama ini. Sementara Mawar Eva De Jongh sebagai Salsabila dan Ricky Cuaca tak diberi porsi lebih meski cukup mencuri perhatian. Terakhir, Ira Wibowo, Doni Alamsyah, dan Annisa Hertami tak lebih dari sekedar ada sebagai syarat semata.
Improvement yang paling kentara dari Promise adalah teknis yang makin sinematis dan memanjakan indera penglihatan serta pendengaran. Sinematografi Rama Hermawan mempersembahkan shot-shot dramatis serta sinematis di hampir semua kesempatan, termasuk drone shot, baik di setting Jogja maupun Italia. Mungkin ketajaman gambar untuk drone shot masih agak pixelate, tapi setidaknya punya pergerakan yang smooth. Tata artistik dari Ricardo Marpaung dan Oke Yoga yang warna-warni, begitu memanjakan mata, terekam kamera dengan sangat maksimal. Tata kostum Aldie Harra wajib mendapatkan kredit tersendiri karena memang menjadi ‘pencolok’ mata yang paling memanjakan. Editing Wawan I Wibowo mungkin kebingungan merangkai konsep struktur susunan adegan agar tetap nyaman diikuti, tapi masih mampu menjaga pace tiap momennya. Scoring music dari Joseph S Djafar pun makin terdengar sinematis. Cukup megah, emosional, tanpa kesan dramatis berlebihan ala sinetron ataupun FTV. Begitu pula theme song dari Melly Goeslaw yang mampu memberi emosi tersendiri dalam adegan.
Sama seperti produksi-produksi Screenplay Films, seharusnya Anda sudah punya ekspektasi yang tepat jika ingin menyaksikannya. Setidaknya bersiap-siap dengan ‘segala kemungkinan’-nya. Dengan demikian bisa jadi Anda tetap mampu menikmatinya, seperti yang terjadi pada saya. Accept the cheesiness and the cliché, and just enjoy the flow. Setidaknya, Promise masih mampu membuat saya tersenyum dengan perasaan senang ketika film berakhir. Tak se-‘mengganggu’ film-film sebelumnya, eye-candy yang sangat memanjakan mata sepanjang film, dan dengan tingkat kedewasaan yang sedikit di atas biasanya, Promise adalah sebuah peningkatan produksi Screenplay Films di banyak aspek.
Lihat data film ini di filmindonesia.or.id
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates