Tuesday, January 24, 2017

The Jose Flash Review
Monster Trucks

Franchise merupakan aset penting bagi studio film, apalagi major studio Hollywood. Maka tak heran jika major studio selalu berupaya menciptakan dan mengembangkan franchise-franchise baru yang bisa dijadikan komoditas jangka panjang. Upaya itulah yang awalnya hendak dilakukan Paramount Animation bersama salah satu divisi saudaranya, Nickelodeon Movies lewat Monster Trucks (MT). Sebuah film fantasi-aksi-petualangan-komedi dengan target audience utama anak-anak usia 6-12 tahun. Derek Connolly (Jurassic World dan upcoming, Kong: Skull Island) ditunjuk untuk menyusun naskah dari konsep cerita Jonathan Aibel, Glenn Berger, dan Matthew Robinson. Chris Wedge didapuk untuk duduk di bangku sutradara yang mana merupakan debut penyutradraan untuk film live-action (sebelumnya menggarap animasi seperti Ice Age, Robots, dan Epic). Dengan memasang aktor Lucas Till (Havok dari franchise X-Men) dan Jane Levy (Mia di Evil Dead versi 2013 dan Rocky di Don’t Breathe), budget sebesar US$ 125 juta terdengar terlalu berlebihan, apalagi melihat hasil akhirnya (setidaknya dari trailer) yang hanya sampai ‘sejauh’ itu. Namun why don’t we just give it a try?

Tinggal di sebuah kota kecil di Dakota Utara membuat Tripp ingin segera lulus sekolah dan memulai hidup baru. Hobinya mengutak-atik mesin mobil membuatnya mulai merakit sebuah Monster Truck dari onderdil-onderdil yang didapatnya dari pusat rongsokan mobil bekas. Suatu hari kota kecil tempat ia tinggal diserang sosok monster misterius yang gemar menembus mobil dan menghabiskan bensin di dalamnya. Perusahan kilang minyak bernama Terravex yang sedang mengeksplorasi potensi minyak di kota kecil itu juga menjadi salah satu korbannya. Investigasi pun dilakukan. Siapa sangka salah satu monster misterius itu masuk dan bersembunyi ke dalam monster truck yang sedang dirakit oleh Tripp. Persahabatan antara keduanya pun terjalin setelah Tripp mendapat ide untuk menjadikan monster yang diberi nama Creech ini sebagai ‘mesin’ dari Monster Truck-nya. Namun setelah menjadi buruan Terravex, Tripp dan Creech dibantu seorang gadis yang sebenarnya menaruh hati kepadanya, Meredith, bos pusat rongsokan mobil bekas, Mr. Weathers, serta sahabatnya, Sam, mencari habitat terbaik untuk Creech. Mereka pun menemukan fakta bahwa sebenarnya Creech mencari keluarganya.
Tema persahabatan antara manusia dan monster sudah menjadi salah satu formula favorit di genre fantasy-action-adventure-comedy sejak lama. Di ranah klasik tentu semua orang mengingat E.T.: Extra Terrestrial, atau yang terakhir paling berkesan, remake dari Pete’s Dragon. MT pun sebenarnya masih memanfaatkan formula-formula basic dari tema tersebut. Tak ada yang salah selama punya konsep serta desain karakter yang dibangun baik dan menarik. For that purpose, jujur, sejak pertama kali menonton trailernya, saya termasuk yang mengerutkan dahi saking ‘aneh’-nya konsep yang ditawarkan. I mean like, sosok makhluk monster yang dijadikan mesin Monster Truck? Namun ternyata konsep ini dieksekusi dengan cukup baik. Meski berada pada koridor fantasi, tapi sosok Creech (dan juga keluarganya) masih dibekali penjelasan-penjelasan biologis yang masih masuk akal, serta penggabungan dengan mekanisme mesin mobil yang sangat rasional. Pengembangan plot pun tergolong layak, dengan suntikan elemen-elemen cerita yang juga menarik, seperti tentang orang tua biologis yang belum tentu lebih baik dari orang tua tiri. Kendati tak sepenuhnya dikembangkan dengan sinergi yang kuat dengan plot utama, setidaknya masih ada upaya untuk memasukkan value-value lebih dari yang ditampilkan pada permukaan terluarnya. Ada pula romance dengan dosis yang cukup (dan aman) untuk film bertarget audience utama anak-anak. Tak ada adegan ciuman, ‘aksi’ terjauhnya hanyalah berpegangan tangan.
Sayangnya secara emosional, MT agaknya kurang mampu memanfaatkan segala potensi yang dimilikinya. Tak hanya keseruan petualangan yang seharusnya bisa dipompa lebih dahsyat lagi dari adegan-adegan yang tergolong ‘nekad’ dan gila, tapi juga drama keluarga dan persahabatan yang terkesan lewat begitu saja. Saya masih bisa dibuat tersenyum bahagia, tapi belum sampai menyentuh relung hati. Tak sampai jatuh menjadi just another TV movie, tapi sekali lagi, MT punya potensi-potensi tersebut.
Meski tak memberikan kesan yang terlalu istimewa, tapi setidaknya Lucas Till membuktikan bahwa dirinya punya potensi sekaligus kharisma yang cukup sebagai lead. Setidaknya (lagi), di film fantasi-aksi-petualangan yang lebih ditargetkan untuk anak-anak. Jane Levy sebagai Meredith pun menunjukkan bahwa dirinya mampu membawakan peran yang berbeda dari stereotype horror dan thriller yang ia mainkan selama ini. Rob Lowe yang mengisi peran antagonis Reece Tenneson dan Danny Glover sebagai Mr. Weathers mungkin tak terlalu berkesan dan replaceable, tapi menjadi bonus yang menyenangkan bagi penonton dewasa (yang sudah menjadi moviegoers sejak lama, tentu saja).
Kendati tak ada yang benar-benar istimewa, teknis MT masih mendukung konsepnya di genre fantasy-action-adventure. Terutama sinematografi Don Burgess yang membuat adegan-adegan aksi dan kejar-kejarannya terasa fun serta cukup seru. Editing Conrad Buff IV mungkin agak off-beat di beberapa momen, tapi setidaknya masih mampu mengemban tugas penyampaian cerita dan membuat adegan-adegan aksinya terkesan cukup seru, dengan thrilling moments yang termasuk berhasil. Scoring David Sardy yang terdengar punya ‘warna’ classical fantasy-action-adventure cukup memberikan perpaduan nuansa fun sekaligus kemegahan yang seimbang, kendati sekali lagi, tak sampai tahap memorable ataupun hummable. Sayangnya, sound mixing MT terdengar kurang seimbang. Inilah salah satu faktor penting yang membuat beberapa momen aksinya punya feel yang kurang maksimal. Pembagian kanal surround sebenarnya cukup dimanfaatkan, tapi masing-masing kanal terdengar kurang  bertenaga. Entah memang dari mastering-nya atau kebetulan faktor teater tempat saya menyaksikannya.

Tema MT mungkin bagi kebanyakan penonton sekarang (apalagi yang sudah melewati usia anak-anak) sudah terlampau basi. Masih bermain-main di tema maupun formula lama, pun juga terasa masih kurang maksimal memanfaatkan potensinya sebagai film aksi-petualangan maupun drama. Namun MT jelas bukan film yang buruk. Setidaknya ketika menyaksikan di layar lebar, saya mendapati penonton anak-anak cukup ekspresif sepanjang film. Ya, mungkin saya yang terlalu dewasa sehingga tak lagi bisa merasakan excitement yang sama. Mungkin benar bahwa MT sebenarnya tergolong berhasil untuk target audience utamanya, yaitu anak-anak berusia sekitar 6-12 tahun. Jadi jika anak atau keponakan Anda tertarik ketika melihat poster atau trailernya, tak ada salahnya mencoba. Siapa tahu Anda sendiri juga bisa ikut terhibur, nostalgic akan film-film bertema serupa yang dulu sempat booming ketika masih anak-anak, sama seperti yang saya alami. 
Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates