Tuesday, January 10, 2017

The Jose Flash Review
Live by Night

Genre mobster/mafia/gangster akan selalu ada di tiap generasi seiring eksistensinya yang memang tak pernah benar-benar hilang sampai kapanpun. Jika di ranah klasik ada The Godfather Trilogy, Scarface, The Untouchable, Mobsters, dan masih banyak lagi, di era 2000-an lebih banyak yang diangkat dari biopic macam Public Enemies, American Gangster, Black Mass, dan Legend, atau yang diangkat dari buku fiksi seperti Gangster Squad. Yang terbaru, Warner Bros. sejak tahun 2012 lalu telah membeli hak untuk novel Live by Night (LBN) yang ditulis oleh Dennis Lehane (Mystic River, Shutter Island, dan Gone Baby Gone). Ben Affleck yang sudah membuktikan reputasi penyutradaraan lewat Gone Baby Gone, The Town, dan Argo, kembali dipercaya untuk menggawangi proyek keempatnya ini, sekaligus mengadaptasi naskahnya. Leonardo DiCaprio sempat didapuk mengisi peran utama hingga akhirnya mundur dan hanya bertindak sebagai salah satu produser lewat Appian Way. Proyek pun tak lantas berjalan mulus karena komitmen Affleck di Gone Girldan Batman v Superman: Dawn of Justice. Praktis, produksi baru dimulai menjelang akhir 2015. Affleck menggandeng cukup banyak aktor berkualitas, seperti Elle Fanning, Breandan Gleeson, Chris Messina, Sienna Miller, Chris Cooper, dan Zoe Saldana ke dalam jajaran cast, yang membuat LBN punya daya tarik tersendiri.

LBN membidik perjalanan seorang putra kapten polisi Boston, Joe Coughlin,  di era 20’an. Ia jatuh cinta dan menjalin hubungan dengan Emma Gould, gundik bos mafia Irlandia Boston, Albert White. Asmara mereka terendus Albert yang lantas memburu mereka berdua. Bos mafia Italia pesaing Albert, Maso Pestacore, memanfaatkan kesempatan ini untuk memeras sekaligus menyingkirkan Albert. Awalnya Joe menolak karena tak mau terlibat terlalu dalam ke lingkaran mafia. Namun setelah pengkhianatan yang semakin memperburuk keadaan, Joe berniat membalas dendam kepada Albert dengan menjadi perwakilan Maso yang sedang mengembangkan bisnis rum dan perjudian di Ybor City, Tampa, Florida. Perlahan Joe menata kembali hidupnya, apalagi setelah bertemu Graciella Corrales, saudari dari rekan bisnisnya. Namun fokus utamanya untuk menjadi bos mafia paling berkuasa dan berpengaruh di Ybor City sekaligus membalas dendam terus berjalan. Tak peduli sekalipun putri Irving, sheriff Tampa, bernama Loretta yang bisa menjegal langkahnya dalam melobi penghapusan aturan perjudian, dengan pendekatan relijiusnya.
Agak sulit sebenarnya membangun kisah mobster/mafia/gangster yang tetap menarik, segar, dan sebisa mungkin meminimalisir genre-clichés. Belum lagi keseimbangan antara keseriusan konsep cerita lewat drama dengan gelaran adegan-adegan aksi yang tetap wajib ada untuk memberikan keseruan film sebagai platform hiburan. LBN terasa sekali mencoba untuk menjaga segala keseimbangan tersebut. Namun how hard the effort, tetap saja ada cliché-cliché yang begitu terasa, terutama di awal film sebagai background cerita. Faktor wanita, kekuasaan, dan dendam.
Satu hal yang sebenarnya menarik dan CMIIW, dalam ingatan saya, belum ada (atau setidaknya masih sangat jarang) adalah karakter sentral, Joe Coughlin, yang basically adalah pria baik-baik yang terpaksa terjun ke lembah hitam dengan pergulatan-pergulatan batin sepanjang perjalanannya, juga subteks tentang karma. Diperkuat pula oleh kehadiran sosok Loretta dan Graciella yang memang sengaja memberikan pengaruh karakter Joe ke depannya. Sayangnya, meski secara konteks saya bisa dengan mudah menemukan pergulatan batin dan transformasi Joe, tapi tidak pernah benar-benar dirasakan sebagai transformasi yang solid. Ada pula konsistensi karakter Joe yang kerap melakukan pendekatan berbeda untuk bernegosiasi ketimbang membunuh, tapi jatuhnya justru terkesan licik dan seringkali, menggelikan. Most of the time, agak mengganggu kharismatik sosok Joe sebagai mafia yang (seharusnya) bengis dan setidaknya, intimidatif.
Selain itu, beberapa subplot pendukung yang sebenarnya punya andil pengaruh yang cukup besar ke konsep besar, yakni perkembangan karakter Joe, justru seolah menjadi selipan-selipan yang mendistraksi tujuan utama karakter Joe untuk menghabisi Maso Pestacore. Terasa sekali Affleck masih kesulitan merangkai sub-plot-sub-plot yang penting ini menjadi satu kesatuan yang solid. Other than that, LBN sebenarnya masih menjadi sajian mobster movie yang layak untuk disimak, termasuk juga porsi adegan-adegan aksi yang lebih dari cukup.
Penampilan Affleck sebagai pengisi peran utama, Joe, sebenarnya menjadi salah satu faktor yang melemahkan LBN. Somehow, menurut saya Affleck tak punya kharisma yang seimbang antara sosok mafia yang bengis, intimidatif, sekaligus berhati baik. Beda dengan, let’s say Johnny Depp di Public Enemies dan Black Mass, atau Tom Hardy di Legend. Bukan hanya karena ekspresi wajahnya yang lebih terlihat flat dan kaku ketimbang ‘dingin’ intimidatif, tapi juga di saat melontarkan joke, kharismanya sebagai seorang mafia sirna begitu saja. Untung saja aktor-aktor pendukung masih memberikan kharisma yang cukup kuat, seperti Robert Glenister sebagai Albert White, Remo Girone sebagai Maso Pescatore, Chris Cooper sebagai Irving Figgs, Chris Messina sebagai Dion Bartolo, dan tentu saja tak boleh dilupakan, Brendan Gleeson seabagai Thomas Couglin. Zoe Saldana sebagai Graciella Corrales pun punya pesona keanggunan dan kelembutan yang memberikan keseimbangan ke dalam nuansa film yang serba ‘keras’. Elle Fanning juga cukup mencuri perhatian lewat karakter Loretta Figgis yang punya kepribadian ‘menarik’ dan bikin penasaran. Sienna Miller sebagai Emma Gould mendapatkan porsi yang terbatas sehingga masih kurang berkesan di benak saya.
Seperti kebanyakan film bertema mobster/mafia/gangster, LBN didukung oleh teknis-teknis yang cukup layak. Bahkan sinematografi Robert Richardson mempersembahkan shot-shot yang ‘sempurna’ dan cantik. Dalam menghadirkan adegan-adegan aksinya, mungkin masih bermain ‘aman’ dengan energi yang mediocre, tapi lebih dari cukup untuk sekedar memberi kesan seru. Editing William Goldenberg pun masih mampu menjaga pace cerita sehingga tak terlalu tenggelam dalam kebosanan dengan porsi yang secara keseluruhan, sesungguhnya lebih banyak drama dan dialog ketimbang action. Desain produksi Jess Gonchor, termasuk desain kostum Jacqueline West memberikan warna keanggunan dan keindahan tersendiri sesuai eranya, meski belum sampai menjadi signatural film secara khusus. Scoring Harry Gregson-Williams masih mampu mendukung keanggunan, keseruan, ketegangan adegan, sekaligus ekotisme ala Kuba yang cukup memberikan nafas kesegaran tersendiri di genrenya. Sound design terdengar mantap dengan keseimbangan antara crisp dan clarity, terutama di adegan-adegan baku tembak. Bahkan fasilitas Dolby Atmos dimanfaatkan maksimal untuk ‘meghujani’ penonton dengan suara desingan peluru dari kanal-kanal atas.
LBN mungkin masih punya sangat banyak cliché di genrenya. Kendati punya konsep-kosep sekaligus subteks yang menarik, sayangnya masih belum bisa menjadi satu kesatuan yang benar-benar solid. Belum lagi kharisma Affleck sebagai tokoh sentral yang gagal memberi nafas utama yang diperlukan. Dengan standard yang telah dicapai Affleck sebagai sutradara sejauh ini, LBN mungkin meruapkan yang terlemah. Sama sekali tak buruk, tapi tentu bisa jauh lebih baik lagi. Setidaknya jika Anda menggemari genre mobster/mafia/gangster, LBN tergolong sayang untuk dilewatkan begitu saja di layar lebar.
Lihat data film ini di IMDb
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates