Monday, January 9, 2017

The Jose Flash Review
La La Land

Musikal mungkin bukan genre yang populer di Indonesia. Bahkan bisa jadi genre yang paling tak diminati. Entah kenapa banyak penonton kita yang geli sendiri tiap kali nonton film yang dialognya dinyanyikan. Padahal film musikal, seperti halnya pertunjukan drama panggung, adalah seni pertunjukan yang berkelas di banyak negara, dan film musikal terus diproduksi kendati secara kuantitas tak banyak. Akhir tahun 2016 ini kita disuguhi film musikal dari sutradara muda, Damien Chazelle, yang sukses besar, baik secara komersial maupun di berbagai ajang penghargaan bergengsi, lewat Whiplash. Jika Whiplash menyuguhkan permainan drum, maka di film bertajuk La La Land (LLL), penonton akan dibawa pada nuansa jazz murni yang mengalun lembut nan indah. Istilah La La Land sebenarnya merujuk pada Los Angeles yang disingkat jadi LA sekaligus ungkapan ‘tak terjangkau’ dari tanah Hollywood yang ‘menjual’ mimpi. Dengan nomor-nomor musikal yang benar-benar baru (bukan berasal dari lagu-lagu populer maupun drama panggung musikal), konsep LLL sejatinya sudah ada di dalam benak Chazelle sejak 2009 lalu. Namun karena namanya kala itu belum dikenal dan resiko tak diterima penonton yang besar karena pure jazz sudah dianggap punah, maka baru setelah kesuksesan Whiplash proyek ini akhirnya bisa terwujud. Menyandingkan (kembali) Emma Stone dan Ryan Gosling (setelah di Gangster Squad dan Crazy, Stupid, Love), upaya ‘beresiko’ Chazelle ini terbukti disambut hangat, bahkan sudah menyapu bersih tujuh penghargaan Golden Globes 2017 dari semua nominasi yang diraih. Ini merupakan rekor sepanjang masa, mengalahkan One Flew Over the Cuckoo’s Nest (1975) yang menyapu bersih enam kategori, dan Midnight Express (1978) yang membawa pulang lima dari tujuh nominasi Golden Globes.

Mia adalah seorang barista di sebuah café di dalam kompleks studio Hollywood yang mengejar mimpi sebagai seorang aktris selama bertahun-tahun. Sebuah pertemuan tak terduga (dan sebenarnya tak mengenakkan juga) dengan seorang pria bernama Sebastian membuat Mia jadi penasaran. Pasalnya mereka jadi sering tak sengaja bertemu di berbagai kesempatan. Sayangnya, keduanya saling menjaga gengsi untuk saling jatuh hati. Serupa dengan Mia, Sebastian adalah seorang pianis yang harus ‘melacur’, memaikan piano tanpa perhatian dari pengunjung sebuah restoran, demi mewujudkan ambisinya untuk membuka bar jazz yang memainkan jazz murni, bukan fusion. Bukan mimpi yang mudah, karena jazz murni sudah dianggap punah dan tak punya peminat selain kaum lanjut usia. Seiring dengan waktu, Mia dan Sebastian jadi saling dukung untuk menggapai mimpinya. Namun ketika masing-masing mimpi mulai menemukan titik terang, mereka jadi tak punya waktu lagi untuk bersama-sama hingga berujung saling menyalahkan. Dilematis antara pilihan mimpi dan asmara menjadi penentu masa depan Mia dan Sebastian.
Secara garis besar, LLL sebenarnya menawarkan kisah klasik menggapai mimpi di ‘tanah terjanji’, Hollywood, Los Angeles. Sejak awal sejarah Hollywood, kisah seperti ini sudah ‘menginspirasi’ sekaligus ‘mematahkan hati’ banyak sekali ‘umat’. Namun yang menjadi istimewa adalah bagaimana Chazelle menerjemahkannya menjadi sebuah sajian musikal yang mengalun bak musik jazz murni yang menenangkan dan indah. Ia membawa alur LLL selaras dengan alunan musiknya. Semua dengan presisi yang luar biasa tepat. Terasa sekali kesemua elemennya; mulai pergerakan kamera Linus Sandgren (bahkan menggunakan aspect ratio 2.55:1 yang merupakan ukuran pertama format CinemaScope di era 50’an!), gerakan aktor-aktris, termasuk koreografi Mandy Moore (bukan penyanyi era 90’an itu. Yang ini koreografer Dancing with the Stars dan berbagai proyek bergengsi lainnya), editing Tom Cross, hingga scoring music Justin Hurwitz, tertata dan terencana menjadi satu kesatuan yang luar biasa padu.
Ada cukup banyak tribute yang terasa di sini, terutama film-film musikal klasik era 50-60’an seperti Dancin’ in the Rain, West Side Story, dan tentu saja yang paling dominan, film musikal Perancis, Les parapluies de Cherbourg. Tak ketinggalan pula referensi pada Casablanca dan Rebel Without a Cause yang semakin memperkuat nuansa era keemasan tersebut, meski settingnya sendiri adalah masa kini. Mungkin saja ini seperti menegaskan bahwa sesuatu yang klasik masih bisa relevan dan berpadu dengan kondisi zaman kapan pun.
Tak hanya unggul di tampilan audio-visual, naskah LLL pun dikerjakan dengan tak main-main. Selain tema dilematis mimpi-asmara yang begitu bold disampaikan, hingga membuat penonton merenungkan sekaligus turut merasakan secara mendalam, ada pula unsur kompromi antara hal-hal yang dianggap ketinggalan jaman dengan ‘kekinian’ agar bisa tetap survive, yang juga sama kuatnya disampaikan, tanpa kesan saling tumpah-tindih sama sekali.
Chemistry Emma Stone sebagai Mia dan Ryan Gosling sebagai Sebastian adalah nyawa utama dari LLL. Berkat penampilan (sekaligus chemistry) yang luar biasa, LLL menjadi kisah cinta yang manis sekaligus pahit, dreamy sekaligus realistis. Effort mereka untuk menampilkan tap-dance dan membawakan nomor-nomor musikal juga patut mendapatkan kredit tambahan. Terutama Ryan Gosling yang benar-benar memainkan piano dengan jemarinya sendiri. Penampilan John Legend sebagai Keith mungkin mampu menyemarakkan film, kendati performanya masih jauh dari kesan cukup powerful di porsinya. Di lini pendukung meski porsinya tergolong amat sedikit, tapi cukup noticeable. Seperti J.K. Simmons sebagai Bill dan Tom Everett Scott sebagai David.
Selain sinematografi Linus Sandgreen yang minim cut (ada cukup banyak long-take yang mengundang decak kagum) dan editing Tom Cross yang menggunakan banyak teknik transisi klasik, terutama ‘iris’, yang memperkuat nuansa retro, desain produksi David Wasco, artistik Austin Gorg, set dekorasi Sandy Reynolds-Wasco, dan desain kostum Mary Zophres (terutama kostum para aktris), masing-masing menyumbangkan kontribusi yang tak kalah pentingnya. Sound design pun tertata dengan keseimbangan yang luar biasa, antara musik, dialog, dan sound effect. Semua terdengar mantap lewat kanal 7.1 (sayang, taka da versi Dolby Atmos yang masuk Indonesia).
Tak mudah membuat film musikal dari materi yang benar-benar asli, bukan adaptasi dari pertunjukan drama panggung musikal maupun materi lainnya. Namun Chazelle lewat LLL sekali lagi menunjukkan sensitivitas dalam memasukkan unsur musik dalam sajian audio-visual yang luar biasa. Didukung naskah yang tergarap bold dalam mengangkat tema-tema pentingnya, performa aktor-aktris yang luar biasa, nomor-nomor musikal yang terus-terusan mengalun dalam memori untuk jangka waktu yang lama, serta teknis yang serba kuat dalam mendukung nuansa sekaligus menghanyutkan penonton, LLL adalah sajian film musikal terbaik dalam beberapa tahun terakhir. Ia mengalir dengan keselarasan luar biasa bak alunan jazz yang lembut, tapi sesekali bisa mengejutkan. Sayang jika melewatkan untuk dialami di layar lebar dengan fasilitas audio mumpuni.
Lihat data film ini di IMDb.

The 89th Academy Awards Nominees for:

  • Actor in a Leading Role - Ryan Gosling
  • Actress in a Leading Role - Emma Stone
  • Cinematography - Linus Sandgren
  • Costume Design - Mary Zophres
  • Directing - Damien Chazelle
  • Film Editing - Tom Cross
  • Music (Original Score) - Justin Hurwitz
  • Music (Original Song) - Audition (The Fools Who Dream)
  • Music (Original Song) - City of Stars
  • Best Picture
  • Production Design - David Wasco (Production Design) and Sandy Reynolds-Wasco (Set Decoration)
  • Sound Editing - Ai-Ling Lee and Mildred Iatrou Morgan
  • Sound Mixing - Andy Nelson, Ai-Ling Lee and Steve A. Morrow
  • Writing (Original Screenplay) - Damien Chazelle




Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates