Thursday, January 26, 2017

The Jose Flash Review
Kaabil [काबिल]

Tahun 2016 lalu Sinema Hindi seolah menunjukkan kualitas yang maksimal di mata dunia. Begitu banyak film-film yang ditulis dan digarap solid dengan tema-tema yang beragam. Padahal ada beberapa judul yang sebenarnya masih mengangkat tema yang itu-itu saja (misalnya friendzone dan gagal move on). Ada pula tema-tema yang mencoba menggugat kondisi sosial setempat. Contoh yang paling memorable adalah Pink yang mempertanyakan kedudukan wanita dalam tatanan sosial serta hukum. Awal tahun 2017 ini ada satu lagi film yang mencoba menggugat hukum serta kondisi keadilan di negaranya. Diproduseri Rakesh Roshan (Koi... Mil Gaya, franchise Krrish, dan Kites) di bawah bendera Filmkraft Production, salah satu aktor papan atas Bollywood, Hrithik Roshan ditunjuk sebagai lead. Naskahnya disusun oleh Sanjay Masoom dan Vijay Kumar Mishra, sementara bangku sutradara dipercayakan kepada Sanjay Gupta yang kerap menggarap film yang terinspirasi dari film-film populer lain (misalnya Kante yang dianggap terinspirasi dari Reservoir Dogs dan Zinda dari Oldboy). Kaabil sendiri juga dinilai perpaduan film Korea Selatan, Broken (2014) dengan Blind Fury (1989).

Awalnya Kaabil diperkenalkan kepada penonton betapa manisnya hubungan pasangan yang sama-sama tuna netra, Rohan Bhatnagar dan Supriya. Kendati tak bisa melihat, Rohan dianugerahi kelebihan-kelebihan yang menakjubkan. Salah satunya adalah menirukan suara orang lain. Bakat inilah yang ia manfaatkan untuk menjadi dubber film animasi sebagai mata pencaharian. Namun ada pula yang memanfaatkan kelemahan keduanya, Amit Shellar, adik seorang legislator yang sedang dalam masa kampanye, Madhavrao Shellar. Bersama sahabatnya sejak kecil, Wasim, Amit memperkosa Supriya. Tanpa saksi mata dan barang bukti, Supriya dan Rohan tak bisa berbuat apa-apa. Apalagi polisi sudah disuap oleh Madhavrao untuk bungkam. Rohan tak terima dan bertekad menuntut balas dengan kelebihan yang ia miliki dan strategi cerdas yang telah disusunnya.

Dari permukaan terluar, Kaabil mungkin terkesan punya cerita yang cliché di ranah sinema, terutama Bollywood. Ditambah sosok antagonis yang dibuat begitu pekat hingga penonton dibuat sebal setengah mati dengan sosoknya. Namun Kaabil tak mau terjebak dalam penggarapan yang standard. Elemen 'buta' pun tak sekedar menjadi gimmick (pemicu tearjerker) semata, tapi dimanfaatkan untuk menyampaikan metafora terhadap hukum itu sendiri. Konsep 'back to you' yang diselipkan di berbagai konteks dialog semakin memperkuat metafora yang seolah 'menggugat' kebutaan hukum. Kesemuanya dibungkus dengan thriller cerdas yang menegangkan sekaligus bikin penasaran. Sedikit brutal, hingga saya berkali-kali harus memicingkan mata, tapi tak sampai terkesan eksploitatif. 

Namun bukan berarti Kaabil tanpa kelemahan. Terutama sekali dalam hal keseimbangan pace. Paruh pertama ia adalah drama romantis yang manis, sementara paruh kedua merupakan action thriller yang heart-pounding. Meski masing-masing digarap dengan pace tertata baik sesuai kebutuhan, pun juga turn-over yang cukup mulus, masih ada beberapa momen (terutama paruh pertama yang digunakan sebagai setup sekaligus character investment) yang terkesan agak diulur-ulur. Tak sampai mengganggu kenyamanan mengikuti kisahnya, tapi jelas bisa jauh lebih padat, terutama pada nomor-nomor musikalnya. Selain itu ada juga elemen yang politically wrong, dimana ia tak segan-segan melukai orang tak berdosa demi memuluskan strateginya. Kendati dibuat tak sampai menemui ajal, tetap saja politically (and morally) wrong.

Hrithik Roshan sekali lagi membuktikan kepiawaiannya dalam membawakan peran-peran tak biasa. Tak hanya untuk urusan chemistry bersama Yami Gautam yang terbangun dengan sangat meyakinkan hingga mampu memberikan setup dengan efek 'menggugah', tapi juga keseimbangan serta transformasi perwatakan karakter yang luar biasa. Memikat sebagai pecinta sekaligus mengancam sebagai jagoan vigilante. Bahkan merupakan salah satu peran terbaiknya selama ini. Tak boleh dilupakan juga aksinya menirukan suara berbagai pihak dengan begitu meyakinkan. Yami Gustam sendiri tampil mempesona dan terasa mampu mengimbangi kapasitas performa Roshan. 

Dua bersaudara Ronit Roy dan Rohit Roy sebagai Shellar bersaudara mungkin memang dibuat se-hitam-hitam-nya, tapi keduanya memang berhasil menghidupkan karakter bajingan sebajingan mungkin, baik lewat perilaku, ekspresi wajah, maupun gesture. Typical tapi masih berhasil. Narendra Jha sebenarnya bisa punya porsi rivalry yang  baik dengan Roshan lewat karakter Inspector Chaubey. Sayangnya naskah tak memberikannya banyak kesempatan. Namun ia tetap terlihat membawakan perannya dengan maksimal. Terakhir, tak boleh dilewatkan special appearance perwakilan India di Miss Universe 2015, Urvashi Rautela, di atas panggung yang meski terkesan norak dan murahan, tapi tetap punya daya tarik (terutama fisik) tersendiri.

Di teknis, Kaabil tampak melakukan eksplorasi, terutama di sinematografi Sudeep Chatterjee dan Ayananka Bose. Perhatikan saja high-angle disertai camera movement yang begitu mengeksplorasi. Editing Akiv Ali pun mampu menmberikan pace yang pas di masing-masing bagian dengan transformasi yang tergolong mulus. Ada beberapa pace yang terasa agak kurang padat, tapi lebih faktor naskah dan penyutradaraan. Setidaknya ia masih terlihat berusaha menyeimbangkan semuanya dengan komposisi yang serba pas. Musik dari Rajesh Roshan cukup memberikan warna sesuai kebutuhan nuansa masing-masing kendati belum sampai tahap memorable. Sound design secara keseluruhan tergolong tergarap baik dengan pembagian kanal surround yang cukup maksimal. Hanya saja di beberapa momen, terutama di paruh pertama film, terdengar kurang crisp dan clear.

Kaabil memang masih punya kelemahan yang tak sampai mengganggu tapi tetap bisa jadi lebih padat dan berkelas. Namun dengan poin-poin lebih, mulai konsep sebagai film yang menggugat hukum dengan cara yang cerdas, kreatif, sekaligus bold, bangunan action-thriller yang gripping, serta actor performances yang luar biasa, semua kekurangan yang sebenarnya masih terasa di sana-sini menjadi tak begitu berarti lagi. Bersaing head-to-head secara ketat dengan Raees yang dibintangi SRK, Khaabil merupakan sajian pembuka tahun yang sangat baik di ranah sinema Hindi. 

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates