Saturday, January 21, 2017

The Jose Flash Review
Istirahatlah Kata-Kata
[Solo, Solitude]

Sebelum memulai review, let me ask you this basic question: apa tujuan pembuatan biopic? Jawaban yang paling mendasar adalah sebagai pengingat. Dengan diangkat ke sebuah medium, baik itu buku maupun film, sesosok menjadi selalu diingat, abadi. Ketika sebagian besar manusia mungkin melupakan, termakan oleh waktu, literatur bisa dibuka-buka kembali dan dipindah-tangankan antar generasi. Maka sebuah biopic layaknya memuat poin-poin penting yang setidaknya memberi gambaran sebuah era, ide-ide atau pemikiran dari subjek sang sosok, dan jika memungkinkan, menunjukkan mengapa sosok tersebut layak menjadi sosok penting yang dicatat sejarah. Apa sumbangsih dan perannya bagi masyarakat? Apa yang membedakannya dari kebanyakan orang-orang di sekitarnya?

PR berikutnya adalah treatment seperti apa yang akan digunakan untuk menyampaikan tokoh (beserta pemikiran-pemikirannya) sehingga efektif menjalankan tujuan-tujuan yang saya sebutkan di paragraf sebelumnya. Ini tentu terkait dengan kalangan mana yang hendak dituju. Perlu ada riset yang cukup sebenarnya agar treatment dan form yang dipilih bisa menyampaikan message secara efektif kepada target audience utamanya.
Wiji Thukul adalah salah satu dari orang hilang yang selama ini dikenal sebagai penulis puisi sekaligus aktivis yang sering terlibat dalam berbagai aksi unjuk rasa. Sama seperti kebanyakan aktivis era Orde Baru, Wiji Thukul juga sempat menjadi pelarian di daerah terpencil hingga akhirnya dinyatakan hilang. Minimnya informasi membuat sosoknya hingga saat ini menjadi semacam mitos, bersama orang-orang hilang lainnya. Kemisteriusan ini lah yang sebenarnya membuat keputusan mengangkat sosok Wiji Thukul ke sebuah biopic masih tergolong sulit. Sisi dan pendekatan seperti apa yang cocok untuk menyampaikannya. Yosep Anggi Noen yang selama ini dikenal sebagai sineas muda di jalur arthouse, terutama setelah film panjang pertamanya, Vakansi yang Janggal dan Penyakit Lainnya (Peculiar Vacation and Other Illnesses), mencoba mengangkat sosok Wiji Thukul lewat kacamatanya. Judul dalan Bahasa Indonesia, Istirahatlah Kata-Kata (IKK) memberikan gambaran keseluruhan dari angle yang ia bidik. Begitu juga judul Bahasa Inggris, Solo, Solitude yang selain merujuk pada kota Solo sebagai asal Wiji Thukul, juga menggambarkan keterasingan serta kesendirian yang menjadi highlight film.
IKK dibuka dengan sesosok wanita dan gadis cilik yang sedang diinterogasi oleh seorang pria yang dari atributnya dengan mudah diidentifikasi sebagai aparat. Ia mempertanyakan keberadaan ayah dari si gadis cilik. Adegan berikutnya barulah ditunjukkan sosok pria kurus yang secara susunan adegan jelas merujuk pada sosok sang ayah dari si gadis cilik. Ia sedang dalam perjalanan menuju Pontianak untuk mengasingkan diri. Dengan bantuan dua orang bernama Thomas dan Martin, ia mendapatkan tempat tinggal untuk bersembunyi, bahkan juga identitas baru dengan nama Paul. Selama berada dalam persembunyian, Paul tetap terus mencoba menuliskan gugatan-gugatannya terhadap opresi pemerintah serta ABRI, sambil sesekali diliputi kekhawatiran ketika harus berpapasan dengan oknum aparat. Kesepian juga yang akhirnya membuat ia memikirkan anak dan terutama sang istri, Sipon, yang masih tinggal di Jawa. Ia memutuskan pulang untuk melepas rindu. Awalnya Sipon menyambut dengan bahagia, tapi ia dibuat bingung dengan perasaannya sendiri karena ternyata kondisi sudah tak bisa kembali sama seperti sebelum sang suami menjadi buronan politik.
Bagi yang familiar dengan gaya storytelling Anggi Noen, seperti di film-film pendek dan Vakansi yang Janggal, sebenarnya bisa dengan mudah menduga treatment seperti apa yang diterapkannya di IKK. Apalagi dengan tema dan pemilihan judul yang demikian. Ya, hampir keseluruhan style storytelling khas Anggi ada di IKK. Mulai long take yang benar-benar kelewat panjang tanpa substansi yang jelas, minim dialog dan scoring pengiring sehingga lebih banyak suasana sunyi, shot over shoulder (juga untuk memberikan kesan realistis), hingga dominasi long atau medium shot statis (mungkin maksudnya untuk memberikan kesan realis, tapi harus mengkompensasi tereduksinya ekspresi dan emosi aktor, yang tentu saja akan mempengaruhi emosi penonton juga). Sedikit bedanya, kali ini Anggi tak terlalu banyak bermain-main dengan metafora simbol-simbol yang terlalu rumit untuk di-‘baca’. Lebih straight-forward, mungkin karena ini berdasarkan kisah nyata dimana kronologis tetap menjadi hal yang penting. Absennya metafora simbol-simbol di sini bisa jadi kekuatan sekaligus kelemahan bagi IKK. Mungkin ia bisa lebih accessible untuk range penonton yang lebih luas, tapi pada akhirnya turut mengurangi impact dari keseluruhan film. Kesunyian yang menjadi salah satu treatment khas Anggi pun kali ini  terasa hanya sekedar bentuk ekspresinya semata, bukan kebutuhan film. Saya membayangkan jika banyak long take yang dipangkas sesuai kebutuhan, mungkin durasi keseluruhan IKK bisa mencapai sekitar 60 menit tanpa mengurangi esensi-esensinya.
Mungkin ada penonton yang merasakan atmosfer teror yang luar biasa dari kesunyian ini (entah bagaimana hingar-bingarnya kehidupan sehari-hari penonton seperti ini, sampai-sampai dengan nuansa kesunyian seperti di sini saja bisa merasakan teror), tapi tidak berhasil untuk saya. Selain kesunyian, tak ada dukungan elemen lain yang memberi kekuatan atmosfer teror. Bukan akting para aktornya (kecuali penampilan Arswendi Nasution yang menurut saya paling lumayan membangun ketegangan, kendati kemudian ternyata tak terjadi apa-apa), bukan dialog yang membangun ketegangan, bukan juga scoring yang nyatanya memang absen.
Jika dianalisis, IKK sebenarnya terbagi dalam beberapa fase secara kronologis. Dimulai dari pelarian Wiji Thukul ke Pontianak yang dibantu rekan-rekannya, kemudian fase menghadapi kemungkinan ancaman-ancaman dari kehadiran aparat, dilanjutkan fase Wiji Thukul yang akhirnya memberanikan diri keluar ke muka umum, entah karena sudah jengah dalam persembunyian hingga sudah tak peduli lagi dengan kehadiran ancaman dari aparat, hingga terakhir, kerinduan terhadap istri dan anaknya. Kesemuanya dibuka sekaligus ditutup dengan kehadiran sang istri, Sipon yang sebenarnya menarik jika mau dijadikan sebagai story-device (apalagi dibawakan dengan sangat baik oleh Marissa Anita. Malah penampilan paling berkesan dibanding aktor-aktris lainnya di sini, termasuk Gunawan Maryanto, pemeran sosok Wiji Thukul sendiri). Sayang, kehadiran Sipon seolah hanya menjadi salah satu komponen dari cerita saja. Selebihnya hanya fase-fase kronologis tanpa ada transisi antar fase yang cukup representatif untuk menyatukan antar komponen, dengan bombardir gugatan-gugatan terhadap sosok ABRI (sekarang TNI) yang sebenarnya tergolong cliché dan sudah menjadi rahasia umum bagi masyarakat umum Indonesia, terutama yang sempat mengalami era Orde Baru. Misalnya ketika ada tentara yang dengan seenaknya minta potong rambut gratisan dan sesosok pria gila yang gagal menjadi tentara karena sang ayah melarang dengan alasan takut dijadikan alat perang semata. Mungkin ini untuk memberikan gambaran bagaimana sosok ABRI di era Orde Baru. Alih-alih memberikan gambaran dengan poin-poin penting terhadap sosok Wiji Thukul, IKK justru terkesan terlalu sibuk menggugat (baca: mengolok-olok) ABRI. Jika IKK dimaksudkan untuk generasi milenial yang tidak sempat mengalami era Orde Baru, perlu riset yang lebih mendalam apakah treatment seperti ini bisa membuat mereka lebih peduli? Lantas bentuk kepedulian dari generasi milenial seperti apa yang diharapkan? Jika tidak, IKK hanya akan menjadi sekedar pengingat tentang kondisi iklim demokrasi di Indonesia era Orde Baru, dengan segala opresi-opresinya.
Sebenarnya setelah first viewing, saya sempat mencari-cari tahu review berbagai media, mungkin saja ada aspek-aspek yang luput dari perhatian saya hingga membuat saya tidak bisa mendapatkan kesan seperti halnya kebanyakan media yang begitu mengagung-agungkan IKK. Bahkan saya menyempatkan untuk menyaksikan kedua kalinya di layar lebar. Ternyata apa yang saya temukan tidak lah berbeda dengan apa yang mereka temukan. Bedanya, di mata saya semua yang media anggap istimewa, biasa saja di mata saya (dan saya yakin, saya bukanlah satu-satunya yang merasakan demikian). Bahkan ada media yang menyarankan penonton mencari tahu sebanyak-banyaknya info tentang sosok Wiji Thukul sebelum menonton IKK karena ia memang tak memberikan banyak informasi tentang sang subjek. Saya pun lantas berpikir, untuk apalagi menonton IKK jika saya sudah punya bekal yang cukup tentang sosok Wiji Thukul? Hanya untuk mengetahui atau merasakan kembali nuansa opresif Orde Baru? Saya sudah pernah melaluinya dan apa yang digambarkan IKK masih jauh dibandingkan, let’s say Marsinah (Cry Justice), apalagi Pengkhianatan G-30S/PKI (dalam membangun nuansa terornya ya, terlepas dari content-nya yang kini lebih dianggap sebagai propaganda semata). Sorry to say, meski saya menyukai beberapa line di film, secara keseluruhan IKK terasa lebih banyak kosong, tak memberikan apa-apa bagi saya. Bahkan mungkin sekedar etalase ekspresi berkarya Yosep Anggi Noen lainnya dengan menggunakan frame sosok sepopuler Wiji Thukul semata. Well, that’s from my point of view. If the movie worked on you, lucky you then. If not, that's okay. You're definitely not alone.
Lihat data film ini di http://filmindonesia.or.id/
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates