Saturday, December 31, 2016

The Jose Flash Review
Eloise

Film horor yang berdasarkan kisah nyata dan melakukan syuting di lokasi asli kejadian sudah bukan formula baru di genrenya. Bahkan sempat jadi trend. Namun seiring dengan perkembangan jaman, sekedar ‘based on true story’ dan ‘shot on real location’ tak cukup untuk mengundang rasa penasaran penonton untuk menyaksikan filmnya. Salah satu upaya demikian coba dilakukan sekali lagi oleh Buy Here Pay Here Entertainment, SLAM, dan Palm Drive lewat Eloise. Bukan, ini bukan berasal dari cergam anak buah tangan Kay Thompson dan Hilary Knight. Ini adalah sebuah horor fiktif yang menggunakan popularitas sebuah rumah sakit jiwa terbesar di Amerika Serikat, Eloise Insane Asylum (EIA). Sayang, rumah sakit jiwa yang berdiri sejak 1832 di Westland, Michigan, dan saking besarnya sampai punya kode pos sendiri, dengan fasilitas meliputi toko roti, bar, kantor pos, serta gedung pemadam kebakaran sendiri ini sekarang sudah terbengkalai dan ludes terbakar. Hanya tersisa gedung utamanya saja.

Eloise dikerjakan oleh sutradara Robert Legato yang selama ini lebih sering dikenal sebagai penata visual effect pemenang penghargaan, seperti Apollo 13, Titanic, Hugo, dan The Jungle Book, serta sering bertindak sebagai second unit director. Naskahnya disusun oleh Christopher Borrelli (Whisper, The Marine 2, The Vatican Tapes). Meski tergolong produksi kecil, setidaknya Eloise masih bisa menarik perhatian karena didukung aktor-aktris yang cukup dikenal, terutama Chace Crawford (Gossip Girl), Eliza Dushku (Bring It On dan Wrong Turn), Brandon T. Jackson (franchise Peter Jackson), serta aktor legendaris, Robert Patrick (T-1000 di Terminator 2: Judgment Day). Produksi yang sudah dimulai sejak 2014 agaknya mengalami kendala yang tidak dipublikasikan, hingga baru tayang di Amerika Serikat Februari 2017 nanti. Sementara kita di Indonesia sudah bisa menyaksikannya lebih dulu di akhir Desember 2016.
Jacob Martin tiba-tiba didatangi oleh seorang pengacara yang mengatakan bahwa ia mewarisi harta kekayaan jutaan dolar dari sang ayah yang baru saja meninggal dunia. Untuk bisa mencairkannya, ia diwajibkan untuk menemukan sertifikat kematian seorang wanita bernama Genevieve yang diklaim sebagai sang bibi, sebagai bukti klarifikasi kematiannya. Sertifikat itu tersimpan di arsip rumah sakit jiwa yang sudah lama terbengkalai, Eloise Insane Asylum. Bersama sahabatnya, Tony, mencari tahu lewat internet cara agar bisa masuk ke Eloise. Ditemukanlah Scotty yang ternyata dulu pernah berkunjung ke Eloise karena sang ibu bekerja sebagai perawat di sana. Kakak perempuan Scotty mendengar niat mereka dan memutuskan ikut bergabung dalam pencarian. Tak diduga, mereka tersedot masuk ke dalam masa lalu kelam Rumah Sakit Jiwa Eloise, sekaligus menyingkap masa lalu Jacob yang sebenarnya.
Secara premise, Eloise mungkin termasuk yang sangat generik, apalagi di genre horor. Setup iming-iming kekayaan, masuk ke tempat angker, dan menyingkap misteri penyebab keangkeran. Ya, tidak bisa dipungkiri, awalnya Eloise masih terjebak dalam cliché itu. Namun seiring dengan berjalannya plot, saya menemukan konsep-konsep menarik yang diangkat. Tema phobia yang awalnya saya kira hanya sebagai selipan semata, ternyata punya peran penting dalam revealing dan konklusi-nya. Disampaikan dengan cukup konsisten pula. Treatment visual antara masa kini dan masa lalu pun ditampilkan dengan cukup impresif. Sayang, masih ada beberapa jumpscare dan horror moment yang secara timing masih agak missed, hingga menimbulkan kesan horror yang kurang maksimal. Tidak buruk, tapi bisa jadi jauh lebih mencekam dan mendebarkan.
Seperti kebanyakan horror dengan formula serupa, aktor-aktris yang tampil di sini tak punya banyak kesempatan untuk memberikan performa terbaiknya. Tak buruk, tapi juga tak ada yang terlalu istimewa. Setidaknya Chace Crawford dan Elza Dushku yang terlihat lebih menonjol ketimbang yang lain masih punya kharisma yang layak untuk mengisi peran lead. Brandon T. Jackson dan P.J. Byrne di lini berikutnya pun mendukung dengan performa yang cukup, sesuai dengan porsi masing-masing. Pencuri perhatiannya tentu saja ada pada Robert Patrick yang mampu meneror hanya dengan tatapan misterius nan keji.
Teknis Eloise tergolong mediocre, tapi setidaknya serba cukup untuk menghadirkan horor yang masih layak untuk diikuti. Sinematografi Antonio Riestra dan editing Greg D’Auria bersinergi cukup baik dalam menyampaikan cerita dengan porsi serta durasi yang pas dan transisi present day-past yang jelas, kendati horror moment-nya masih bisa jauh lebih efektif dalam memberi efek kejut maupun menakut-nakuti, misalnya untuk efek claustrophobic yang lebih menyesakkan penonton. Begitu juga scoring Ronen Landa yang masih bisa mewarnai atmosfer eerie dan thrilling yang cukup terasa.
Eloise mungkin memang hanyalah produksi horror kecil yang tak terlalu wah dalam berbagai aspeknya. Tak juga menawarkan orisinalitas cerita maupun groundbreaking elements. Namun ia masih menyuguhkan penuturan cerita yang tergarap baik, dengan konsep-konsep yang jelas dan menarik. Setidaknya jika Anda really into horror dan kehabisan ide tontonan, Eloise bisa jadi pilihan yang layak untuk mengisi waktu bersantai.

Lihat data film ini di IMDb
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates