Saturday, January 14, 2017

The Jose Flash Review
The Bye Bye Man

Mitos dan kutukan rupanya masih menjadi tema horor yang menarik untuk dikembangkan. Tak terkecuali di tengah trend horor yang sedang condong ke arah eksorsisme dan elemen-elemen relijius seperti The Conjuring dan Insidious. Bagi saya pribadi, ada kerinduan tersendiri akan horor yang dibangun berdasarkan misteri mitos (baik yang memang sudah ada sejak dulu maupun karangan baru). Ingat bagaimana video kutukan Sadako di franchise The Ring atau potongan-potongan film di Sinister, atau tiap kali mendengar nama Candyman disebut, mampu mengundang rasa ketakutan tersendiri. Marc D. Evans dan Trevor Macy melalui Intrrepid Pictures yang pernah memproduksi Oculus, menggandeng STX Entertainment untuk mempersembahkan horror yang dikembangkan dari kutukan dan mitos, The Bye Bye Man (TBBM). Bangku penyutradaraan dipercayakan kepada Stacy Title, sementara naskah adaptasi dari cerpen The Bridge to Body Island karya Robert Damon Schneck, dikerjakan oleh sang suami, Jonathan Penner. Keduanya sempat diganjar nominasi Oscar tahun 1994 untuk film pendek Down on the Waterfront. Dengan statusnya sebagai film horor indie berbudget rendah, TBBM menampilkan aktor Douglas Smith (yang pernah kita lihat di Ouija, Terminator Genisys dan upcoming, Miss Sloane), Lucien Laviscount (serial Scream Queens), dan yang paling menarik, Carrie-Anne Moss (masih ingat Trinity dari trilogi The Matrix?) serta aktris veteran, Faye Dunaway. Beruntung kita di Indonesia mendapatkan kesempatan menyaksikannya di layar lebar berbarengan dengan jadwal rilis di Amerika Serikat, 13 Januari 2017, berkat Feat Pictures selaku distributor.

Elliott yang masih duduk di bangku kuliah memutuskan keluar dari asrama kampus dan menyewa sebuah rumah tua untuk tinggal bersama sang kekasih, Sasha, dan sahabatnya sejak kecil, John. Semuanya tampak baik-baik saja hingga mereka menemukan sebuah meja rias dengan ukiran tulisan “don’t say it, don’t think it, bye bye man” dan sekeping koin yang sering muncul secara misterius. Hawa aneh juga dirasakan Sasha, tapi Elliott yang selalu realistis selalu mengabaikannya. Peringatan dari teman Sasha yang punya indera keenam, Kim, pun tak diindahkan. Sampai Elliott yang awalnya mencurigai ada affair antara Sasha dan John, mulai mengendus ada yang tidak beres yang membuat mereka bertiga melihat hal yang tidak ada dan tak melihat yang sebenarnya terjadi. Penyelidikannya membawa ke kejadian era 60-an lalu tentang sosok misterius bernama Bye Bye Man.
Seperti kebanyakan horor bertemakan kutukan dan mitos misteri, TBBM sebenarnya punya gabungan formula yang sangat menarik, yaitu Candyman + Oculus. Apalagi saking berbahayanya mitos ini sehingga membuat informasinya pun dibuat seminim mungkin. Ini bisa jadi memperkuat nuansa misteri dan ketegangan bila dikembangkan dengan baik. Sebaliknya, jika tak tahu bagaimana meng-handle-nya dengan baik, film akan terasa clueless mau dibawa ke arah mana. Sayangnya, TBBM masih berada di tengah-tengahnya. Pada akhirnya ia memang mampu menyampaikan penjelasan kepada penonton tentang mitos dan misterinya. Elemen kecurigaan Elliott akan affair dari Sasha dan John sebagai setup pun sebenarnya menarik. Namun masih terasa pula kebingungan bagaimana menyampaikannya dengan susunan yang baik, mudah dipahami, serta visualisasi yang tepat guna. Alhasil tak heran jika masih ditemukan momen-momen off di tengah-tengah bagian hingga akhirnya mulai me-reveal misterinya. Stacy Title pun tampaknya masih kurang mampu menyusun nuansa creepy dan menegangkan di berbagai kesempatan, meski sudah punya sense of jumpscare timing yang tepat hingga berhasil membuat saya tergelak dari bangku, bahkan berkali-kali mengumpat. Untungnya lagi, ia mampu memberikan konklusi yang cukup memuaskan di genre dan temanya meskipun sudah tergolong formulaic.
Sebenarnya tak ada yang benar-benar istimewa dari penampilan aktor-aktrisnya. Toh memang tak dibutuhkan kapasitas akting khusus. Setidaknya Doulgas Smith sebagai Elliott, Lucien Laviscount sebagai John, dan Cressida Bonas sebagai Sasha masih membangun chemistry asmara dan persahabatan yang cukup meyakinkan, apalagi karena memang dimanfaatkan sebagai pondasi pengembangan cerita. Penampilan pemeran-pemeran pendukung, seperti Jenna Kanell sebagai Kim, Michael Trucco sebagai Virgil, dan Cleo King sebagai Mrs. Watkins, cukup memberikan impresi yang layak. Namun tentu saja yang paling mencuri perhatian adalah Carrie-Anne Moss sebagai Detektif Shaw, Faye Dunaway sebagai Nyonya Redmon, Doug Jones sebagai sosok Bye Bye Man, dan tak boleh dilupakan Erica Tremblay (iya, ia adik Jacob Tremblay!) sebagai si cilik Alice.
Meski tergolong indie dan low budget, TBBM punya kualitas teknis yang masih tergolong layak dan di banyak kesempatan mampu mendukung kebutuhan-kebutuhannya sebagai sebuah sajian horor. Misalnya sinematografi James Kniest yang mampu mengeksplorasi momen-momen horornya (termasuk jumpscare) menjadi cukup efektif. Tentu saja editing Ken Blackwell juga punya andil peran yang tak kalah pentingnya. Desain produksi Jennifer Spence cukup membangun nuansa ngeri kendati desain sosok Bye Bye Man sendiri sebenarnya masih bisa jauh lebih mengerikan dan ‘meneror’ (saya membayangkan seandainya dibuat selevel sosok Sinister). Scoring musik dari The Newton Brothers masih menghadirkan level yang setara dengan scoring Ouija dan Oculus. Tak terlalu istimewa ataupun memorable, tapi lebih dari cukup dalam mendukung momen-momen menegangkan. Sound design juga memberikan dukungan yang efektif, terutama dalam menghadirkan jumpscare-jumpscare yang berhasil, sekaligus pembagian kanal surround yang cukup termanfaatkan.
TBBM memang punya gabungan formula premise yang menarik. Sayangnya dikembangkan dengan treatment yang masih jauh dari kategori baik. Masih bisa jauh lebih padat, dengan visualisasi yang lebih efektif dan pembangunan nuansa eerie yang lebih terasa pekat. Namun setidaknya TBBM masih punya jumpscare-jumpscare yang berhasil. Memang masih belum mampu menjadi sajian horor yang remarkable (padahal potensinya cukup besar) dan akan Anda ingat dalam jangka waktu yang lama, tapi sebagai sajian horor ringan di saat tak ada pilihan tontonan lain yang menarik perhatian Anda, ia masih sangat layak dan enjoyable. Apalagi jika Anda termasuk penggemar horor, TBBM menurut saya sayang untuk dilewatkan begitu saja.
Lihat data film ini di IMDb
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates