Tuesday, January 31, 2017

The Jose Flash Review
Bleed for This


Latar belakang olah raga kerap digunakan untuk melahirkan kisah-kisah inspiratif, baik berdasarkan kisah nyata (biopic) maupun fiktif. Di ranah ring tinju, terakhir kita disuguhi kembalinya tokoh fiktif legendaris Rocky yang di-estafet ke putra mantan lawannya di Creed. Di tahun yang sama juga ada Southpaw yang digarap oleh Antoine Fuqua. Sebelumnya sudah cukup banyak judul yang tergolong notable, seperti Cinderella Man dan Fighter. Akhir tahun 2016 lalu ada satu film bertema serupa yang menarik karena diangkat dari kisah nyata kembalinya sosok juara tinju, Vinny Pazienza pasca kecelakaan yang mengakibatkan tulang belakangnya cidera parah. Film bertajuk Bleed for This (BfT) ini ditangani (penulis naskah sekaligus sutradara) oleh Ben Younger yang juga menandai come back-nya setelah Prime tahun 2005 silam. Aktor muda yang 2014 lalu mencuri perhatian lewat Whiplash, Miles Teller, ditunjuk memerankan sosok Vinny. BfT didukung pula oleh Aaron Eckhart, Ciarán Hinds, dan Katey Sagal. Bukan merupakan proyek ambisius dengan budget tinggi (‘hanya’ US$ 6 juta), tapi tetap punya daya tarik tersendiri terutama dari jajaran cast-nya. Di Indonesia, BfT diimpor oleh Jive! dan siap tayang di bioskop-bioskop non-XXI mulai 1 Februari 2017.

Sejak awal penonton diperkenalkan kepada sosok Vinny, petinju muda yang sedikit congkak, arogan, dan gemar membual. Bermain-main di kelas ringan, karirnya nyaris disudahi oleh sang manajer yang melihatnya tak lagi menaruh hati pada tinju. Namun sang ayah, Angelo, bersikeras bahwa Vinny harus bisa menjadi juara tinju. Mantan pelatih Mike Tyson yang kini lebih sering mabuk-mabukan, Kevin Rooney, ditunjuk untuk melatih Vinny. Kevin menganjurkan Vinny naik tingkatan sesuai dengan berat badannya. Dengan pelatihan dari Kevin, Vinny berhasil sekali lagi meraih gelar juara di tingkatan yang baru. Namun puncak karir Vinny terancam ketika tiba-tiba ia mengalami kecelakaan yang membuat tulang belakangnya cidera. Ia harus mengenakan alat bantu bernama halo yang di-mur di tengkoraknya selama kurang lebih enam bulan. Resikonya kemungkinan lumpuh atau lebih fatal lagi, tulang belakangnya hancur. Seluruh anggota keluarganya khawatir akan kondisi Vinny yang ingin terus melanjutkan karir di atas ring.
Secara premise, BfT tampak punya potensi yang besar untuk menjadi drama sport yang menggugah dan (syukur-syukur) inpiratif. Sayangnya, Ben Younger membawanya dengan treatment standard, tipikal drama sport pada umumnya. Mulai introduksi, setup, proses struggling, hingga konklusi, kesemuanya disusun secara linear dengan formula-formula cliché di genrenya. Tak ada  penekanan pada momen-momen emosional yang (seharusnya bisa) menjadi highlight film. Memang, ada adegan-adegan tertentu yang membuat saya sempat memicingkan mata, tapi that’s it. Tak ada kedalaman emosi maupun empati lebih sepanjang film. Alhasil, ya, saya memahami dengan jelas konklusi apa yang ingin disampaikan oleh film (apalagi juga disampaikan secara verbal di akhir film), tapi tidak benar-benar merasakan empati terhadap karakter utama, apalagi merasa terinspirasi.
Untungnya di balik treatment yang sangat standard, formulaic, dan cliché, BfT masih punya dukungan cast yang terasa sekali memberikan performa terbaik. Malah menurut saya BfT menjadi semacam etalase kualitas akting bagi para aktornya. Miles Teller sebagai Vinny mungkin tak tampil sekuat di Whiplash. Apalagi penokohannya memang kurang simpatik. Namun upayanya untuk memberikan penampilan terbaik masih sangat jelas terasa dan terlihat. Yang jadi favorit saya justru Aaron Eckhart sebagai Kevin Rooney. Tak hanya jauh berbeda dari tipikal karakter yang ia perankan, Eckhart menunjukkan kedalaman emosi lebih, melebihi porsi yang diberikan naskah. Pergolakan batin yang dialaminya bisa terbaca dengan jelas lewat ekspresi wajah dan gesture. Hal yang sama juga diberikan Ciarán Hinds sebagai Angelo Paz yang mengingatkan saya akan sosok Al Pacino, dan Katey Sagal sebagai Louise Paz.
Sama seperti treatment filmnya yang sangat biasa saja, teknis BfT pun tak ada yang benar-benar istimewa. Mulai sinematografi Larkin Seiple (saya hanya menemukan satu camera-work yang menarik, yaitu ketika kamera berjalan bak di dalam mobil, kemudian mengikuti Vinny dan Angelo yang keluar dari mobil dan masuk ke rumah), hingga editing Zachary Stuart-Pontier yang sekedar membuat laju plotnya berjalan dengan pace yang pas untuk diikuti. Hanya editing musik yang tiba-tiba di-cut untuk sedikit efek komedik yang berhasil menarik perhatian saya. Pemilihan soundtrack, khususnya The Stroke dari Billy Squier, Too Dry to Cry dari Willis Earl Beal, dan nomor-nomor berkarakter kurang lebih sama, cukup memorable karena terasa menyatu ketika mengiringi adegan-adegannya.  Scoring dari Julia Holter yang lebih banyak menghadirkan permainan not-not sederhana serta bunyi-bunyian unik terdengar masih sejalan dengan pilihan-pilihan soundtrack-nya. And it quite worked. Terakhir sound design tak menyuguhkan sesuatu yang istimewa. Sekedar layak untuk genre-nya.
Jika Anda tertarik dengan tema maupun premise yang ditawarkan di materi-materi promonya, BfT tetap akan menjadi sajian yang menarik untuk diikuti. Sama sekali tak buruk, tapi memang hanya sampai sejauh itu saja pencapaiannya. Susah untuk memberikan simpati (apalagi maerasakan empati) kepada karakter-karakternya, terutama Vinny, kendati kita sadar yang dialaminya tergolong tough. Susah pula merasakan emosi tertentu, misalnya glorious, kebanggan, apalagi maupun tersentuh dari adegan-adegan yang disuguhkan. Inspirational? Bisa saja, apalagi dengan bantuan penyampaian konklusi secara verbal di ending. But as to me, BfT was just another average sport drama about struggle to reach the top once again. Oh, dengan penampilan aktor-aktornya yang (setidaknya) menjadi something to see in BfT. 
Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates