Sunday, January 22, 2017

The Jose Flash Review
Ballerina

Meski masih belum sebesar dan sekuat Hollywood, industri animasi Perancis sebenarnya sangat layak untuk dilirik. Terakhir yang cukup mengemuka di pasar internasional adaptasi The Little Prince (Le Petit Prince) yang digarap Mark Osborne. Akhir 2016 lalu, ada satu animasi 3D produksi Perancis-Kanada yang juga tak kalah menarik. Menggabungkan tema struggle to make dream comes true dengan dunia balet, Ballerina jadi semakin menarik karena kehadiran voice talent populer seperti Elle Fanning, Dane DeHaan, dan bahkan penyanyi pop, Carly Rae Japsen. Dari naskah yang disusun oleh Eric Summer, Carol Noble (La père Noël), dan Laurent Zeitoun, Ballerina menjadi debut sutradara Eric Summer dalam menggarap film animasi layar lebar setelah sebelumnya dikenal sebagai sutradara serial TV, dibantu Éric Warin yang pernah berpengalaman dalam penggarapan film animasi peraih nominasi Oscar, Les Triplettes de Belleville. Kita di Indonesia beruntung bisa menyaksikan Ballerina lebih dulu sebelum tayang resmi di Amerika Serikat 3 Maret mendatang dengan judul Leap!.

Félicie dan Victor yang tinggal di panti asuhan memutuskan untuk kabur dan menggapai mimpi mereka. Victor ingin menjadi penemu sementara Félicie mengejar cita-cita untuk menari, khususnya balet. Mereka berdua berpisah untuk berlomba siapa duluan yang berhasil mewujudkan mimpinya. Keberuntungan mempertemukan Félicie dengan Odette, seorang wanita pincang yang bekerja sebagai tukang bersih-bersih di kediaman keluarga Le Haut. Odette menerimanya untuk membantu pekerjaan bersih-bersih. Félicie melihat kesempatan ketika putri Nyonya Régine Le Haut, Camille, ternyata menantikan surat panggilan untuk berlatih di sekolah balet paling bergengsi, Paris Opera Ballet. Diam-diam Félicie menyamar sebagai Camille dan berlatih di Paris Opera Ballet di bawah bimbingan koreografer terkenal, Mérante. Kebetulan ia sedang mengaudisi untuk tampil bersama bintang balet papan atas, Rosita di pertunjukan The Nutcracker. Ternyata menjadi penari balet tak semudah yang ia bayangkan. Odette yang melihat upaya Félicie akhirnya memutuskan untuk membantu. Godaan dari penari balet pria, Rudolph, Victor, serta hambatan dari Camille dan Régine yang akhirnya mengetahui rahasianya, semakin menguji seberapa kuat tekad untuk menggapai mimpinya sebagai penari balet.

Tema upaya menggapai mimpi memang sudah menjadi salah satu tema yang paling sering diangkat, termasuk di ranah film animasi dengan target audience utama anak-anak. Dengan menggabungkan tema-tema khas animasi Disney seperti yatim piatu dan wanita jahat (sering direpresentasikan sebagai nenek sihir. Bahkan meski karakter Régine bukan penyihir secara literal, ada momen dimana Félicie menyebutnya sebagai penyihir), Ballerina pun sebenarnya masih mengusung tema yang sama dengan formula-formula generiknya. Namun ia tak asal sekedar play by the formula. Sejak awal film, ia seolah sudah mengingatkan bahwa perjalanan menggapai mimpi itu sama sekali tak mudah, bahkan mendekati mustahil. Note realistis inilah yang kemudian membuat saya mengapresiasi lebih. Ia menunjukkan proses perjalanan yang tak membuat semuanya tampak mudah. Pun juga tak terkesan terlalu berat untuk dicerna sekaligus dinikmati oleh penonton cilik. Penggambaran sosok karakter utama yang tak terlalu sempurna, bisa juga melakukan sesuatu yang tak terpuji juga merupakan keputusan yang realistis setelah selama ini karakter utama lebih banyak digambarkan sebagai sosok serba putih dan menjadi objek penindasan semata. Toh ia juga menunjukkan konsekuensi dan tanggung jawab sebagai penyeimbang yang mendidik. Diwarnai oleh performance-performance balet yang begitu memanjakan mata (bagaimana tidak, adegan-adegan performance-nya benar-benar dikoreografi secara khusus oleh pebalet kelas dunia, Aurélie Dupont dan Jérémie Bélingard dari Paris Opera Ballet) dan iringan musik-musik yang sebenarnya terlalu pop untuk nuansanya, tapi tetap ear-catchy. Mulai Carly Rae Japsen, Chantal Kreviazuk,  Demi Lovato, hingga Sia. Penggunaan setting abad 19 dengan sedikit menggabungkan fakta sejarah, seperti sosok Gustave Eiffel (bahkan ditunjukkan pembangunan Statue of Liberty yang diplesetkan secara jenaka menjadi Statue of Puberty), turut menjadi nilai plus yang menarik.

Namun Ballerina masih terasa punya pace yang seringkali tidak pada irama yang tepat. Ada beberapa momen yang terkesan terlalu slapstick dan dengan penanganan timing yang kurang tepat sehingga agak mengurangi potensi emosi yang ditimbulkan pada penonton. Aksi Régine yang terlampau sadis dengan menggunakan martil untuk memukul karakter lainnya juga menurut saya terlalu berlebihan dan sempat membuat saya mengernyitkan dahi.

Pemilihan voice talent populer ternyata tak sekedar menjadi daya tarik semata. Elle Fanning dan Dane DeHaan membuktikan bahwa mereka mampu menghidupkan karakter Félicie dan Victor dengan nafas tersendiri. Maddie Zieggler (yang kita kenal sebagai dancer alter-ego Sia di beberapa music video-nya) sebagai Camille pun tak kalah mengesankan. Bahkan saya sempat tak menyangka bahwa Carly Rae Japsen lah yang berada di balik sosok Odette yang kalem dan agak pemurung. Sungguh bertolak belakang dari sosoknya selama ini sebagai pop-princess yang lebih sering terlihat ceria. Terrence Scammell memberikan kharisma tersendiri yang cukup kuat ke dalam sosok Mérante. Tak boleh dilupakan juga Antoine Schoumsky sebagai Rudolph dan Julie Khaner untuk suara Régine.

Sebagai sebuah produksi animasi, Ballerina punya kualitas animasi 3D yang tak kalah dengan Hollywood, terutama lewat detail yang mengagumkan. Ditambah sinematografi yang memaksimalkan potensi-potensi sinematiknya berkat Jericca Cleland serta editing Benjamin Massoubre, Mirenda Ouellet, dan Yvann Thibaudeau yang turut merangkai adegan-adegan dengan flow yang cukup nyaman diikuti dengan match editing yang menarik pula, kendati ada beberapa momen penting dan potensial untuk menjadi emosional yang terasa terlalu carried-away. Scoring Klaus Badelt memberikan keseimbangan nuansa klasik sesuai eranya dengan spirit modern, meski penggunaan lagu-lagu yang terdengar terlalu pop belum mampu sepenuhnya nge-blend secara mulus.

Bagi penonton dewasa, Ballerina mungkin sekedar just another - struggle to reach dreams come true - themed movie. Namun untuk penonton cilik, ia merupakan sajian bertema tersebut yang realistis, manis, sekaligus memanjakan panca indera, terutama indera penglihatan dan pendengaran. Secara teknis ia pun bukan produksi yang main-main, apalagi bagi dance, terutama ballet, enthusiast. Tak ada salahnya mengajak anak, keponakan, maupun penonton cilik untuk menikmati tontonan mendidik yang realistis sekaligus sangat menghibur.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates