Monday, January 9, 2017

The Jose Flash Review
Arrival

Membuat film bergenre sci-fi bukanlah tugas mudah. Meski tergolong fiksi, tetap saja ada kaedah-kaedah logika science yang bisa diterima akal sehat jika tak mau dicemooh penonton. Belum lagi tuntutan zaman sekarang dimana sebuah sci-fi harus menjadi ‘cerebral sci-fi’, dengan konsep grande yang mengusik pola pikir manusia atau setidaknya mampu berfilosofi. Beberapa tahun terakhir terbukti ada beberapa judul yang ‘lulus’ mendapatkan predikat bergengsi, ‘cerebral sci-fi’, seperti Interstellar, Gravity, dan The Martian. Tahun 2016 ini ada satu lagi kandidat ‘cerebral sci-fi’ yang dipuji banyak kalangan, Arrival. Diangkat dari novella Story of Your Life karya Ted Chiang (1998), naskahnya diadaptasi oleh Eric Heisserer (Final Destination 5, remake The Thing, A Nightmare on Elm Street, Hours, dan Lights Out). Sutradara Denis Villeneuve yang dikenal sebagai salah satu auteur berbakat lewat Incendies, Prisoners, Enemy, dan Sicario, memang sudah sejak lama ingin menggarap sci-fi, menerima proyek ini dengan perubahan-perubahan di sana-sini, termasuk judul yang diubah ke Arrival agar tak berkesan sebuah romantic-comedy. Memasang Amy Adams dan Jeremy Renner di lini terdepan, Villeneuve mencoba peruntungan di ranah ‘cerebral sci-fi’. Tentu dari nama Villeneuve, penonton, terutama pengamat karya-karyanya selama ini, mengharapkan sesuatu yang istimewa dari Arrival.

Dr. Louise Banks yang sehari-hari berprofesi sebagai seorang dosen linguistik, mendadak mendapatkan kontak dari tim elit dari pemerintah agar bisa membantu mereka mencari jawaban atas penampakan pesawat asing yang tiba-tiba muncul di langit Montana. Ternyata tak hanya di situ saja, karena pesawat asing serupa juga menampakkan diri di dua belas titik di seluruh penjuru dunia. Ia bersama fisikawan, Ian Donnelly ditugaskan untuk mencari tahu siapa alien penumpang pesawat asing tersebut, berasal dari mana, dan punya tujuan apa ke bumi. Louise memanfaatkan ilmunya sebagai pakar linguistik untuk memahami bahasa mereka dan berkomunikasi lewat metode khusus. Pihak pemerintah, tak hanya Amerika Serikat, tapi juga sebelas negara lainnya, khawatir mereka akan menyerang dan meluluh-lantakkan bumi. Maka hasil upaya berkomunikasi antara Louise dan alien bertentakel tujuh yang diberi nama Abbott dan Costello, menjadi penentu masa depan bumi.
Benar saja, sajian sci-fi dari Denis Villeneuve ini bukanlah tipikal action sci-fi dengan adegan aksi sarat CGI yang memanjakan mata dan memicu adrenaline. Namun bukan berarti ia tak punya daya tarik yang mengikat rasa penasaran penonton untuk mengikuti plotnya. Ada teka-teki yang harus dipecahkan, dan berkat storytelling Villeneuve, penonton seolah diajak mengikuti proses belajar yang dialami oleh Louise dan Ian. Mulai bagaimana metode menganalisis bahasa alien hingga menyusunnya menjadi terjemahan bahasa manusia. Lebih dari itu, poin penting yang dicapai menjadi konklusi yang bermakna begitu dalam tentang bahasa, sebagai pemersatu ataupun senjata bagi umat manusia. Dalam ingatan saya, masih belum ada film yang mengangkat serta menyampaikannya dengan begitu bold. Ya, ada twist ending yang mengejutkan kendati sebenarnya cukup bisa ditebak jika Anda jeli menganalisis tiap detail kepingan puzzle (baca; adegan), termasuk flashback-flashback yang diselipkan di berbagai antar-adegan. Namun Villeneuve tak mau terlalu menonjolkan twist-ending sebagai poin terpentingnya. Ada value lain yang menjadi konklusi di akhir yang membuat saya kembali mengingat-ingat detail adegan sejak awal, merangkainya, dan menyatukan menjadi satu konklusi penting. And what’s more interesting, the point was placed at the very beginning of the movie, seperti kebiasaan Villeneuve dalam bercerita. Bukan tak mungkin inti dari Arrival mampu mengubah pola pikir Anda tentang hidup.
Namun bukan berarti grand design Villeneuve tampil serba sempurna. Valued point mungkin memang menjadi highlight Villeneuve hingga agak mengesampingkan perkembangan karakter. Ini terasa sekali terutama pada karakter Ian Donnelly yang terkesan under-developed (dan tanpa andil apa-apa dalam ‘proses belajar’) hingga mendekati klimaks di mana ia tiba-tiba menjadi penentu konklusi. Nuansa sepanjang film yang serba dark, depressive, dan cenderung mellow, memang mendukung rasa penasaran sekaligus takjub di beberapa momen, tapi juga berpotensi menggiring beberapa penonton dalam kebosanan dan mungkin, dalam lelap. Sebenarnya penjabaran Arrival tak rumit-rumit amat. Anda tak perlu benar-benar paham semua teorinya. Sekedar memahami metodenya saja sudah lebih dari cukup. Namun jika Anda termasuk penonton yang kurang bersemangat jika diajak menganalisis dengan pendekatan ilmu tertentu yang tidak related dengan bidang Anda, bisa jadi Anda akan tersesat di tengah-tengah film.
Amy Adams sebagai Dr. Louise Banks adalah performa paling menonjol sepanjang film. Proses ‘belajar’ yang dilaluinya tak hanya convincing, tapi juga membuat saya tertarik untuk terlibat lebih dalam, dan penyampaiannya pun jadi mudah dicerna. Bukanlah persoalan mudah untuk tema sci-fi dengan grand design yang sekompleks ini, but she did it very well. Jeremy Renner sebagai Ian Donnelly sayangnya tak diberi porsi yang seimbang sehingga kehadirannya agak terkesan mubazir, selain memang cocok ketika menunjukkan sedikit kecongkakan di balik profesinya. Pemeran-pemeran pendukung lainnya seperti Forest Whitaker sebagai Colonel Weber, Michael Stuhlberg sebagai Agent Halpern, dan Mark O’Brien sebagai Captain Marks, cukup noticeable tanpa porsi lebih untuk jadi memorable dalam jangka waktu lama.
Teknis Arrival tentu saja digarap dengan tingkat keseriusan yang cukup tinggi. Sinematografi Bradford Young berhasil membuat semua adegan terasa benar-benar high concept, grandeur, dan dengan pergerakan kamera yang memancing rasa penasaran penonton untuk eksplor lebih jauh. Beberapa momen menegangkan pun berhasil tanpa dramatisasi berlebih. Editing Joe Walker menjaga pace tak terlalu membosankan di balik nuansa yang kelam dan keseriusan maupun susunan struktur adegan yang tetap mudah diikuti sekaligus dipahami kendati tak selalu berjalan linear. Tentu ini berkaitan dengan konsep besarnya yang harus Anda alami dan temukan sendiri. Scoring music Jóhann Jóhannsson, seperti halnya di Prisoners dan Sicario, masih mempertahankan nuansa dark dan depresif, termasuk potongan dari On the Nature of Daylight karya Max Richter yang menggiring emosi. Bedanya, kali ini scoring music memberikan nafas lebih ke dalam film, tak banyak momen hening dalam membangun nuansa. Sound design juga menjadi elemen yang tak kalah pentingnya dalam membangun suasana. Kontras antara silent moment dan kedalaman deep-bass terjaga baik keseimbangan maupun kualitas kejernihannya. Surround 7.1. (sayang tak ada format Dolby Atmos yang didistribusikan di Indonesia) lebih dari cukup dalam membangun nuansa sesuai konsep.
Arrival mungkin bukan sajian sci-fi yang bisa mudah (atau ‘mau’) dicerna oleh semua tipe penonton. Perlu rasa penasaran dan kemauan untuk mengikuti ‘proses belajar’ yang dibawakan lewat karakter-karakternya. Tak perlu khawatir, karena treatment storytelling Arrival sebenarnya cukup mudah dipahami. Jika Anda mau membuka diri, bukan tak mungkin Arrival bisa mengubah persepsi Anda tentang hidup seperti yang dimaksudkan sejak awal. Atau setidaknya, memperkaya khazanah Anda dalam memandang hidup. Bukan hal yang berlebihan pula jika saya menganggap Arrival sebagai pencapaian yang penting dari seorang Denis Villeneuve, sekaligus layak masuk ke dalam daftar film ‘cerebral sci-fi’ penting sepanjang masa.
Lihat data film ini di IMDb.

The 89th Academy Awards Nominees for:

  • Cinematography - Bradford Young
  • Directing - Denis Villeneuve
  • Film Editing - Joe Walker
  • Best Picture
  • Production Design - Patrice Vermette (Production Design) and Paul Hotte (Set Decoration)
  • Sound Editing - Sylvain Bellemare
  • Sound Mixing - Bernard Gariépy Stobl and Claude La Haye
  • Writing (Adapted Screenplay) - Eric Heisserer
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates