Sweet 20

Tatjana Saphira to perform young Niniek L. Karim in South Korea's hit remake.
Opens Lebaran 2017.

Jailangkung

Rizal Mantovani and Jose Purnomo to pass-on the Jailangkung mythology.
Opens Lebaran 2017.

Surat Kecil untuk Tuhan

Bunga Citra Lestari starred in a child-abuse awareness tearjerker based on Agnes Davonar's best seller novel series.
Opens Lebaran 2017.

Mantan

Gandhi Fernando to find his soul mate out of five fabulous exes.
Read more.

Transformers: The Last Knight

Michael Bay to put the dino-bots back to the world for another mission.
Opens June 21st.

Friday, September 30, 2016

The Jose Flash Review
Athirah

Biopic agaknya masih menjadi genre favorit di perfilman Indonesia. Setidaknya dari sudut pandang produser yang seolah tak henti mencari sosok yang cerita hidupnya diangkat ke layar lebar dengan label ‘inspiratif’. Untungnya di tengah treatment biopic yang itu-itu saja (baca: glorifikasi berlebihan, delusional, bahkan mengarah ke megalomaniac dan menjadi hagiografi), masih ada upaya untuk membuat biopic dengan tema tertentu dan tidak menjadikan subjek sebagai tokoh sentralnya tapi punya pengaruh terhadap sosok subjek. Pendekatan itulah yang digunakan oleh produser Mira Lesmana, sutradara sekaligus penulis naskah Riri Riza, dibantu oleh Salman Aristo. Nama-nama yang tak perlu diragukan lagi kualitasnya di industri filmmaking Indonesia. Diadaptasi dari novel berdasarkan kisah nyata yang ditulis oleh penulis biografi tokoh-tokoh terkenal Indonesia mulai KD, Chrisye, Titiek Puspa, Merry Riana, Joko Widodo, sampai Raam Punjabi, Alberthiene Endah berjudul sama, Athirah mencoba mengangkat sosok wakil presiden kita, Jusuf Kalla lewat sang ibu, Athirah dengan fokus pada tema poligami yang sedikit banyak mempengaruhi kepribadiannya kelak. Tentu tema poligami di ranah perfilman Indonesia juga bukan hal baru, mengingat kita punya Ayat-Ayat Cinta (2008) dan Surga yang Tak Dirindukan (2015) yang sempat sukses jadi box office melewati angka satu juta penonton. Namun di tangan Riri Riza, tentu penonton bisa mengharapkan hasil yang berbeda. Apalagi sang karakter utama diperankan oleh Cut Mini yang mana tahun 2016 ini bisa jadi salah satu tahun paling gemilang bagi karirnya sebagai aktris layar lebar, setelah tampil di Juara, Koala Kumal, Ini Kisah Tiga Dara, dan Me vs Mami.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Erased [僕だけがいない街]

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Wednesday, September 28, 2016

The Jose Flash Review
One Day [แฟนเดย์]

Lihat situs resmi film ini.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Tuesday, September 27, 2016

The Jose Flash Review
Storks

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Monday, September 26, 2016

The Jose Flash Review
Call of Heroes [危城]

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Sunday, September 25, 2016

The Jose Flash Review
Pink

Ada alasan mengapa tak banyak court drama atau drama berlatarkan ruang persidangan dibuat. Selain menyangkut keahlian profesi khusus yang artinya harus dibuat dengan detail yang tidak main-main, court drama juga tak mampu menjangkau range penonton yang terlalu luas karena memang tak banyak yang tertarik dengan intrik-intrik perkara hukum dan ruang persidangan. Padahal mau tak mau sebagai warga negara, tentu semua orang seharusnya paham dengan hukum yang berlaku di wilayah tinggalnya. Beberapa film memilih menggabungkannya dengan sub-genre lain sehingga terasa lebih accessible. Most of them are family-themed karena memang lebih mudah untuk menarik simpati sekaligus menggerakkan emosi penonton karena faktor kedekatan (well, siapa sih yang tak relate dengan isu-isu keluarga?). Contoh yang paling mudah diingat karena tergolong paling baru dirilis adalah The Judge (2014) yang dibintangi oleh Robert Downey, Jr. dan Robert Duvall. Sinema Hindi pun tak mau kalah mencoba menggabungkan genre court drama dengan isu-isu sosial. Pink yang disutradarai dan ditulis naskahnya oleh sineas Bengali, Aniruddha Roy Chowdhury, dibantu oleh Ritesh Shah (Kahaani, D-Day, Airlift, dan Te3n) ini mengangkat tema feminisme di balik kasus perkosaan yang sempat marak di tanah Hindustan. Dengan dukungan aktor sekaliber Amitabh Bachchan dan model/aktris berbahasa Telugu dan Telugu yang makin populer setelah tampil di film Hindi, Baby (2015) lalu, Taapsee Pannu, Pink dengan segera menjadi buah bibir para kritikus serta meraih sukses komersil di negaranya.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Saturday, September 24, 2016

The Jose Flash Review
The Magnificent Seven (2016)

Tema Western memang pernah mengecap era berjayanya sendiri, tapi jelas bukan era 2000-an. Tak hanya tak banyak film bertemakan Western yang dibuat, tapi hasil box office-nya tergolong biasa-biasa saja. Dalam ingatan saya, hanya ada Brokeback Mountain (2005), 3:10 to Yuma (2007) yang merupakan remake dari versi tahun 1957, The Assassination of Jesse James by the Coward Robert Ford (2007), True Grit (2010), Lone Ranger (2013) remake Disney yang menjadi the biggest flop of that year, Quentin Tarantino’s Django Unchained (2012) dan The Hateful Eight (2015), serta yang terakhir, Jane Got a Gun (2016). Oh iya, jangan lupakan animasi Nickelodeon, Rango (2011). Kendati demikian, Brokeback Mountain, True Grit, Rango, Django Unchained, dan The Hateful Eight sukses mengumpulkan lebih dari US$ 100 juta di seluruh dunia. Artinya, sebenarnya masih ada kemungkinan film bertemakan western menuai sukses besar, tergantung aktor-aktris dan tentu saja sutradara di baliknya.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Wednesday, September 21, 2016

The Jose Flash Review
Bad Moms

Anda pernah mendengar istilah reverse psychology atau psikologi kebalikan? Pada intinya, ini merupakan teknik melakukan/meyakini sesuatu yang merupakan kebalikan dari yang diinginkan, dengan harapan subjek melakukan hal yang ditujukan. Di manga/anime/dorama GTO: Great Teacher Onizuka, teori ini pernah diterapkan pada subjek guru. Hollywood pun pernah mengangkat tema serupa di Bad Teacher (2011) yang menurut saya hasilnya sangat-sangat buruk. Konsep inappropriate stuffs untuk mencapai good purpose gagal menjadi sesuatu yang memikat. Sejak itu, jujur saya agak skeptis dengan Bad Moms (BM) ketika pertama kali merilis trailer.

Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Morgan

Tak banyak anak sutradara yang juga memilih profesi sebagai sutradara. Di Hollywood yang paling populer mungkin Sofia Coppola yang merupakan anak dari Francis Ford Coppola. Sementara di Indonesia ada nama Kamila Andini yang adalah anak dari Garin Nugroho. Diam-diam ternyata dinasti Scott punya satu nama lagi yang memilih jalur penyutradaraan dan patut diperhitungkan. Adalah Luke Scott, putra dari sutradara visioner Ridley Scott yang sudah menelurkan puluhan karya blockbuster sekaligus menjadi legenda sinema seperti Alien, Blade Runner, sampai Gladiator, dan keponakan dari mendiang Tony Scott (Top Gun, True Romance, Man on Fire). Sebelumnya Luke baru menyutradarai 1 episode dari serial TV horror The Hunger dan 1 film pendek bertajuk Loom (2012). Baru pertengahan 2015 lalu, ia memberanikan diri menangani sebuah project yang diproduseri sang ayah berdasarkan naskah yang masuk ke dalam Black List’s Best Unproduced Screenplays tahun 2014 oleh Seth W. Owen (Peepers -2010). Aktor-aktris senior macam Paul Giamatti, Brian Cox, Toby Jones, Jennifer Jason Leigh, Michelle Yeoh, dipilih untuk mendukung aktris muda Kate Mara (Fantastic Four versi 2015 dan TheMartian) sekaligus Anya Taylor-Joy yang pada 2015 lalu sempat mencuri perhatian lewat The VVitch: A New-England Folktale sebagai sosok judul film. Tak beda jauh dari tema favorit sang ayah, Luke mencoba bermain-main di ranah sci-fi meski skala ceritanya masih bisa dibilang terbatas.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Tuesday, September 20, 2016

The Jose Flash Review
Blood Father

Sebagai salah satu aktor kelas A Hollywood, Mel Gibson bukannya tak pernah bermain di film indie yang bahkan termasuk kelas B, seperti Get the Gringo (2012). Tahun 2016 ini ia kembali bergabung dalam project indie yang ‘nyaris’ menjadi film aksi kelas B, tapi punya background yang sebenarnya menarik. Diangkat dari novel berjudul Blood Father (BF) rilisan 2005 karya Peter Craig (juga menulis naskah untuk film The Town, The Hunger Games : Mockingjay Part 1 & 2, serta upcoming biopic fotografer perang garapan sutradara Steven Spielberg, It’s What I Do), digarap oleh sutradara Perancis, Jean François Richet yang kita kenal lewat duologi biopic Mesrine: Killer Instinct dan Mesrine: Public Enemy #1 serta Assault on Precinct 13. Naskahnya diadaptasi sendiri oleh Craig, dibantu Andrea Berloff (World Trade Center dan Straight Outta Compton). Meli didampingi oleh aktris muda Erin Moriarty yang pernah kita lihat di The Watch, The Kings of Summer, dan Captain Fantastic. Mendapatkan kehormatan diputar premiere di Cannes Film Festival 2016, BF mendapatkan sambutan yang surprisingly, baik.

Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Monday, September 19, 2016

The Jose Flash Review
Operation Chromite
[인천상륙작전]

Perang Korea boleh jadi cukup penting dalam sejarah dunia, mengingat sampai sekarang pihak yang berseteru, yaitu Korea Selatan dan Korea Utara masih saling bergejolak. Namun rupanya bagi Amerika Serikat, yang mana sebenarnya punya andil yang cukup besar dalam Perang Korea, lebih memilih untuk nyaris melupakannya. Bandingkan dengan Perang Vietnam yang lebih sering dibahas. Padahal di Perang Korea sendiri, Amerika Serikat mengerahkan sekitar 2 juga prajurit. Terhitung Amerika Serikat baru sekali mengangkat tema ini ke layar lebar, yaitu lewat Inchon (1981) yang disutradarai Terence Young dengan Laurence Olivier sebagai Jendral Douglas MacArthur. Sayangnya, film ini pun dianggap terlalu absurd untuk dikenang. Baru ketika sinema Korea Selatan melesat, ada inisiatif untuk kembali mengangkatnya ke layar lebar. Taewon Entertainment selaku studio menunjuk John H. Lee alias Lee Jae-han (The Run Cuts Deep, A Moment to Remember, Sayonara Itsuka, dan 71 Into the Fire) sebagai sutradara dan naskah yang dibantu oleh Lee Man-hee yang mana ini merupakan kerjasama kali ketiga dengan Lee Jae-han. Selain memasang aktor/model Lee Jung-jae (Il Mare dan TheThieves), project bertitel Operation Chromite (OC) ini juga menggaet aktor Hollywood, Liam Neeson untuk mengisi peran Jendral Douglas MacArthur sekaligus tentu saja, daya tarik tersendiri untuk pasar internasional.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Saturday, September 17, 2016

The Jose Flash Review
Pete's Dragon (2016)

Tahun 2016 bisa jadi menjadi salah satu tahun paling produktif bagi Disney. Tak hanya mengandalkan film-film Marvel yang sudah membukukan milyaran dolar, Walt Disney juga mencoba menghadirkan film-film dongeng dari old vault mereka, seperti The Jungle Book, sekuel Alice in Wonderland, Alice Through the Looking Glass, kemudian The BFG yang digarap oleh Steven Spielberg, dan kini Pete’s Dragon (PD). Judul yang saya sebutkan terakhir ini merupakan remake film berjudul sama yang dirilis tahun 1977. Kisah PD sendiri awalnya sebuah cerpen karya Seton I. Miller dan S. S. Field yang dibeli oleh Disney tahun 50’an untuk dijadikan salah satu program antologi di Disneyland. Namun rupanya treatment dari penulis naskah Malcolm Marmorstein membuat Disney tertarik untuk mengangkatnya ke layar lebar. Jika versi 1977 adalah film live action musikal yang digabung dengan animasi 2D untuk sosok Sang Naga dan lebih cenderung ke komedi, maka PD versi 2016 tak lagi dibuat musikal, dengan bantuan CGI untuk membuat tampilan Sang Naga yang realistis, dan lebih sebagai drama keluarga yang hangat dan menyentuh. Dipilihlah David Lowery yang dikenal lewat film yang berjaya di Sundance, Ain’t Them Body Saints (2013). Tak hanya duduk sebagai sutradara, Lowery juga menuliskan naskahnya bersama Toby Halbrooks (co-produser sekaligus colorist Upstream Color dimana Lowery bertindak sebagai editor). Persamaan dengan versi 1977 rupanya hanya ada pada judul dan core value, karena Lowery ternyata melakukan perubahan yang cukup signifikan dalam hal plot. Mengaku mengambil referensi dari film-film animasi produksi Ghibli, terutama karya Hayao Miyazaki, PD versi 2016 menjanjikan kehangatan serta kemagisannya sendiri.

Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Sully

Januari 2009 lalu, dunia penerbangan digegerkan oleh peristiwa pendaratan darurat pesawat US Airways 1549 di atas Sungai Hudson, New York. Tak hanya pendaratan mukjizat yang mana semua nyawa penumpangnya berhasil diselamatkan, tapi juga kontroversi keputusan yang dibuat oleh sang pilot, Captain Chesley Sullenberger atau yang akrab dipanggil Sully. Kisah mukjizat ini menarik perhatian Clint Eastwood untuk diangkat ke layar lebar. Sebagai sutradara yang piawai menggarap kisah-kisah kepahlawanan kemanusiaan menjadi sosok yang begitu simpatik di mata penonton, seperti yang terakhir, American Sniper  (2014), Eastwoodmemang sutradara yang pas untuk mengangkat kisah ini. Didasarkan pada buku Highest Duty: My Search for What Really Matters yang ditulis oleh Chesley Sullenberger sendiri bersama mendiang jurnalis Jeffrey Zaslow, naskahnya disusun oleh Todd Komarnicki (Resistence – 2003 dan Perfect Stranger – 2007). Sebagai sosok Sully, dipilihlah aktor sekaliber Tom Hanks, bersama Aaron Eckhart dan Laura Linney. Daya tarik lainnya adalah keputusan untuk menggunakan kamera ALEXA 65 mm IMAX untuk hampir keseluruhan adegan.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Monday, September 12, 2016

The Jose Flash Review
Baar Baar Dekho

‘Ajaran’ untuk menghargai tiap momen dalam hidup bersama orang-orang terkasih di atas ambisi pribadi sudah sangat sering disampaikan lewat film, apalagi Hollywood. Yang paling mudah terlintas dalam benak saya adalah Click, film drama komedi Adam Sandler yang harus saya akui menjadi film terkelamnya sampai saat ini. Saking menghantuinya, Click menjadi salah satu referensi utama saya jika menyebut tema ‘embracing every moment in life’. Tahun 2016 ini ada satu judul film Hindi yang mencoba mengangkat tema ini. Lahir dari buah pikiran Nitya Mehra (astrada di Life of Pi dan The Reluctant Fundamentalist) di akhir 2013, Excel Entertainment mempercayakan project ini sebagai debut layar lebarnya, baik sebagai penulis naskah (dibantu Sri Rao, Anuvab Pal, dan Anvita Dutt – Queen dan Shaandaar) maupun sutradara. Produser Karan Johar melalui Dharma Production kemudian tertarik untuk ikut terlibat, seiring dengan rumor masuknya Aamir Khan, Hrithik Roshan, dan Deepika Padukone di jajaran cast-nya. Hingga akhirnya diputuskan Sidharth Malhotra, aktor yang tergolong baru namun sudah menarik perhatian di mana-mana terutama lewat Student of the Year dan baru saja, Kapoor & Sons, serta salah satu Hindi’s sweetheart, Katrina Kaif sebagai sang lawan main. Secara plot, Baar Baar Dekho (BBD - English: Look Again and Again) dinilai mengambil inspirasi dari film Hollywood yang tak terlalu populer, Shuffle (2011).

Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Warkop DKI Reborn :
Jangkrik Boss! Part 1


Orang Indonesia mana yang tak kenal Warkop DKI? Setelah masa jaya selama kurang lebih dua dekade, yaitu 80-90’an, sosok dan guyonan mereka masih terus menemani penonton Indonesia baik lewat rerun tiap momen Lebaran maupun serial di layar kaca. Bahkan satu-satunya personel yang masih hidup, Indro, sampai saat ini masih terus berkiprah di perkomedian Indonesia, meski dengan style yang mengikuti kekinian. Stand up comedy, salah satunya. Begitu legendaris nama mereka terpatri di hati jutaan orang Indonesia, maka sayang jika harus diakhiri. Mustahil memang menggantikan sosok ketiganya yang begitu khas, tapi setidaknya style dan spirit guyonan ala mereka masih bisa dilestarikan. Maka atas prakarsa Falcon Pictures yang tahun ini sudah punya dua film masuk ‘klub 1 juta penonton’, tercetuslah ide untuk membawa Warkop DKI kembali ke penonton Indonesia. Bukan lewat format remake ataupun biografi, tapi sebuah tribute yang diharapkan bisa meneruskan legacy humor a la mereka untuk generasi-generasi berikutnya. Anggy Umbara yang sukses membawa ketiga installment Comic 8 mencapai jutaan penonton kembali ditunjuk menjadi komandan, bersama stand up comedian Bene Dion Rajagukguk dan Andi Awwe Wijaya untuk menuliskan naskahnya. Untuk pemeran Dono, Kasino, Indro tidak diperankan oleh komedian, melainkan aktor-aktor yang sudah populer, yaitu Abimana Aryasatya, Vino G. Bastian, dan Tora Sudiro. Berbagai reaksi bermunculan ketika satu per satu materi teaser, baik foto maupun trailer diluncurkan. Terutama sekali penampilan ketiga aktor utama dalam mem-personasi sosok aslinya. Pro maupun kontra, semua berujung pada rasa penasaran untuk menyaksikan langsung hasil akhirnya film bertajuk Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 1 (JB1).

Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Sunday, September 11, 2016

The Jose Flash Review
Algojo: Perang Santet

Memilih jalur independen memang tak pernah mudah. Setidaknya ini yang bisa saya tarik setelah mengikuti perkembangan sepak terjang seorang Rudi Soedjarwo sejak mendirikan workshop filmmaking ‘Underdog Fightback’ (UF) dan studio audio-visual terintegrasi, Integrated Film Solution (IFS). Tak hanya mencoba memproduksi film-film sendiri tanpa campur tangan PH yang lebih besar, Rudi juga memberdayakan bakat-bakat baru baik di crew maupun casting. Jika beberapa bulan lalu ia merilis drama romantis yang terkesan sangat personal bagi seorang Rudi, Stay with Me, maka kali ini di tahun yang sama, ia akhirnya mendapatkan slot tayang untuk film ketiga UF-IFS (jika dihitung berdasarkan urutan rilis di layar lebar), Algojo: Perang Santet (APS). 
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Nerve

Beberapa bulan belakangan pengguna smartphone dihebohkan dengan kemunculan aplikasi social media/chat terbaru yang memungkinkan pengguna untuk live online dirinya dan disaksikan oleh sebanyak mungkin penonton. Penonton pun bisa berinteraksi langsung melalui teks komentar. Yang bikin aplikasi ini jadi populer dalam waktu singkat adalah ‘iming-iming’ bisa mencairkan credit yang terkumpul menjadi cash money. Setelah mencoba beberapa hari saya berani menyimpulkan bahwa aplikasi bernama Bigo Live ini cocok untuk siapa saja yang ingin menjadi insta-famous, meski tanpa talent apapun. Buang-buang waktu, buang-buang kuota, dan tidak punya esensi yang menarik. I mean, come on, buat yang punya talent atau keahlian khusus tidak bakalan buang-buang waktu ‘siaran’ di aplikasi internet bukan? Lagian kecuali jika memanfaatkan wi-fi gratisan, kuota yang dihabiskan untuk bermain Bigo Live tidak sepada dengan cash money yang dihasilkan. Singkatnya, saya setuju jika ada anekdot yang mengatakan bahwa Bigo Live bikin bego. Hanya yang (maaf) bego saja yang masih bisa di-kadalin Bigo Live.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Wednesday, September 7, 2016

The Jose Flash Review
The BFG


Nama Roald Dahl memang sudah populer sebagai penulis cerita anak-anak dan fantasi. Tak sedikit karyanya yang diangkat ke media audio-visual, di antaranya Charlie and the Chocolate Factory, Matilda, Fantastic Mr. Fox, dan bahkan Gremlins yang diadaptasi bebas dari karya tulisnya. Ada satu judul lagi yang sebenarnya punya perjalanan menarik untuk menjadi film layar lebar, yaitu The BFG yang pertama kali dipublikasikan tahun 1982. Ide awalnya sejak 1991 yang dikembangkan oleh produser Frank Marshall-Kathleen Kennedy dan diproduksi lewat Paramount Pictures. Bahkan tahun 1998, mendiang Robin Williams sempat bernegosiasi untuk peran BFG dan ikut reading, tapi sayangnya dianggap kurang memuaskan. Tahun 2011 DreamWorks akhirnya mengambil alih rights-nya dan naskahnya ditulis ulang oleh mendiang Melissa Mathison (E.T.) yang meninggal dunia akhir 2015 lalu. Awalnya John Madden ditunjuk sebagai sutradara, hingga akhirnya nama Steven Spielberg diumumkan sebagai sutradara di tahun 2014. Kemudian Walden Media, Amblin, dan terakhir, Walt Disney setuju untuk ambil bagian dalam project ini. Sayang perjalanan panjang project ini tak sebanding dengan hasil box office-nya yang tergolong salah satu ‘biggest bomb of the year’, bersama Alice Through the Looking Glass dan Ben-Hur.

Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Collide [Autobahn]

Pengumuman kebangkrutan Relativity Media Juli 2015 lalu mempengaruhi jadwal rilis banyak film-film potensial, bahkan tidak sedikit yang nasib distribusinya tidak jelas sama sekali. Salah satunya Collide atau yang di beberapa negara berjudul Autobahn yang awalnya rencana rilis 30 Oktober 2015 lalu, terus-terusan diundur hingga hak edar yang sempat dioper ke Open Road benar-benar dihapus. Untungnya untuk peredaran di luar US, Collide sedikit lebih beruntung. Jika tidak, sia-sialah budget yang disumbangkan oleh IM Global, Sycamore, DMG Entertainment (Cina), dan yang paling punya reputasi di genre action Hollywood, Silver Pictures milik Joel Silver (franchise Lethal Weapon, The Matrix, dua film pertama Die Hard, dan Predator). Padahal Collide termasuk film yang punya potensi besar berkat nama Anthony Hopkins, Ben Kingsley, Nicholas Hoult, dan Felicity Jones. Disutradarai Eran Creevy (Welcome to the Punch) yang menuliskan naskahnya sendiri bersama F. Scott Frazier (the upcoming xXx: Return of Xander Cage), Collide menyapa penggemar film aksi Indonesia terlebih dahulu sebelum di negara asalnya yang terakhir direncanakan rilis 30 Oktober 2016. Itupun jika tidak ada perubahan lagi.

Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Ini Kisah Tiga Dara


Sejak awal kemunculannya sebagai produser, sutradara, maupun penulis naskah, Nia Dinata bisa dianggap punya ketertarikan lebih dalam mengangkat tema wanita dari sudut sosial budaya. Lihat saja Ca  Bau Kan  (2001), Arisan! (2003), Berbagi Suami (2006), Perempuan Punya Cerita (2007), dan terakhir, Arisan! 2 (2011) yang punya benang merah karakter wanita di tengah hiruk pikuk kondisi sosial Indonesia. Saya pun tak kaget ketika mendengar kabar ia tertarik membuat film yang terinspirasi dari film musikal Nasional klasik karya Usmar Ismail, Tiga Dara (1956). Saya langsung membayangkan kisahnya yang ternyata masih relevan dengan kondisi sosial saat ini dengan balutan artistik serba cantik, berkelas, dan dialog-dialog satir yang menohok sekaligus menggelitik, khas Nia Dinata. Singkatnya, Arisan!-esque (atau istilah yang lebih umum: a little bit hipster) version of Tiga Dara. Masih menggandeng sahabat-sahabat dari circle-nya yang sering diajak ikutan main di film-filmnya, seperti Shanty Paredes, Rio Dewanto, Reuben Elishama, Cut Mini, dan Joko Anwar, Nia juga mempercayakan peran-peran penting ke actor-aktris yang tak kalah menariknya, mulai aktris senior legendaries, Titiek Puspa, Tara Basro, Ray Sahetapy, Richard Kyle, dan pendatang baru yang sempat kita lihat di Ada Apa Dengan Cinta 2 sebagai asisten Cinta, Tatyana Akman. Momen perilisan ulang Tiga Dara (1956) versi restorasi 4K menjadi momen yang tepat pula sebagai salah satu gimmick promosi versi Nia yang diberi tajuk Ini Kisah Tiga Dara (IKTD).
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Friday, September 2, 2016

The Jose Flash Review
Me Before You

Drama romantis dengan elemen pasien penyakit tertentu (yang seringkali mematikan) sudah menjadi bahan tearjerker di banyak sekali film. Mulai yang sekelas FTV sampai yang timeless seperti Dying Young, The Notebook, atau yang modern classic macam The Fault in Our Stars.  Tentu saja masing-masing dengan variasi sub-plot atau treatment agar tidak jatuh menjadi ‘just another tearjerker romance’. Salah satu novel tearjerker romance era 2000-an yang cukup dikenal adalah Me Before You (MBY - 2012) karya novelis Inggris, Jojo Moyes. Moyes sendiri menjadi salah satu dari sedikit novelis roman yang menerima penghargaan Romantic Novel of the Year Award dari Romantic Novelists’ Association dua kali, yaitu untuk Foreign Fruit (2004) dan The Last Letter From Your Lover (2011). Meski mendapatkan review positif dari media, MBY sempat menuai protes dari kalangan advokasi disability karena dianggap mempromosikan posisi pasien disability sebagai beban masyarakat di sekitarnya dan euthanasia. Namun ini tak menggoyahkan MGM dan New Line Cinema untuk mengadaptasinya ke layar lebar. Nama-nama di belakangnya termasuk ‘baru’, seperti Moyes sendiri yang menulis naskah film panjang untuk pertama kali dan sutradara Thea Sharrock yang juga merupakan debut pertamanya di layar lebar. Daya tariknya mungkin terletak pada aktor-aktris, seperti Emilia Clarke, Charles Dance, dan Samantha Spiro yang populer lewat serial fenomenal Game of Thrones, serta Sam Claflin yang sebelumnya kita kenal sebagai Finnick Odair dari franchise The Hunger Games dan William di franchise The Huntsman. Berkali-kali mengalami penundaan jadwal rilis tak menyurutkan penggemar drama romantis hingga berhasil mengumpulkan US$ 196.2 juta (and still counting) di seluruh dunia.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates