The Battleship Island

Hwang Jung-min, Song Joong-Ki, and So Ji-sub fought to reach freedom from the hellish Hashima Island.
Read more.

War for the Planet of the Apes

How the war with the apes will end? Read more.
Read more.

Valerian and the City of A Thousand Planets

Luc Besson to bring the classic sci-fi graphic novel to silver screen with Dane DeHaan, Cara Delevigne, and... Rihanna!
Read more.

Atomic Blonde

Charlize Theron portraying a cold bad-ass chick in Berlin Wall era.
Read more.

A: Aku, Benci, dan Cinta

Jefri Nichol, Amanda Rawles, Indah Permatasari, and Brandon Salim in a high school romance comedy.
Opens August 16.

Saturday, July 30, 2016

The Jose Flash Review
Bangkit!

Ada alasan kenapa tidak semua negara berani membuat film bertemakan disaster seperti yang dilakukan Hollywood. Masalah klasik sebenarnya tapi memang punya pengaruh yang begitu besar, yaitu budget. Investor mana yang berani mengeluarkan dana puluhan miliar untuk menggarap film tanpa ada proyeksi hasil (baca: balik modal) yang sepadan, terutama melihat pendapatan bersih film-film Indonesia dan minat masyarakat terhadap film-film Indonesia. Jangan bandingkan dengan film Hollywood yang memang punya jalur distribusi seluruh dunia yang sangat luas sehingga jika gagal di negara asal, masih bisa meraup banyak di negara-negara lain, terutama negara-negara dunia ketiga yang masih sangat menggemari film-film dengan pameran VFX semata. Sementara untuk film Indonesia jika mau dijual ke luar negeri pun harus melalui distributor tiap negara yang bersedia membeli hak siar yang biasanya tak bisa diharapkan sebagai sumber pemasukan utama. Namun benar, jika tak ada yang berani memulai, meski belum sempurna benar, kita tidak akan pernah punya film dengan VFX mumpuni seperti Hollywood. Bagaimana pun pencapaian besar bermula dari langkah kecil.

Untuk itulah Oreima Films-Kaninga Pictures, dengan didukung Suryanation berani mengambil langkah membuat film yang digadang-gadang sebagai film bertema bencana alam dengan tampilan visual effect terbanyak (konon sampai 1.330 shot yang memuat VFX) pertama di sinema Indonesia, bertajuk Bangkit!. Speaking of disaster movie, meski tak banyak sebenarnya ada beberapa judul yang berkaitan dengan disaster, seperti yang paling terakhir saya ingat Hafalan Surat Delisa. Tentu adegan bencana tsunami di Aceh hanya ditampilkan sebentar (dan itu pun dengan kualitas VFX ‘seadanya’) sementara fokus cerita lebih ke pasca bencana. Bangkit! mencoba sebuah gebrakan dengan menawarkan rangkaian bencana alam sebagai fokus sekaligus daya tarik utama. Menggandeng sutradara Rako Prijanto, yang filmografinya sudah cukup panjang serta pernah bekerja sama dengan Oreima Films di 3 Nafas Likas dan Terjebak Nostalgia, penulis naskah Anggoro Saronto (Sang Kiai, Sang Pialang, 7 Misi Rahasia Sophie, dan Terjebak Nostalgia), aktor-aktor yang sedang populer seperti Vino G. Bastian, Deva Mahendra, Acha Septriasa, dan Putri Ayudia, serta melibatkan BMKG, BASARNAS, dan PMI untuk detail yang lebih logis.

Menjadi anggota BASARNAS yang kerap berada di lini terdepan membuat Addri harus sering menomer sekiankan keluarganya; sang istri, Indri, putri sulungnya, Eka, dan putra bungsu, Dwi. Awalnya Indri bisa memahami dan mengalah. Namun kesabarannya makin diuji ketika cuaca Jakarta semakin memburuk. Konon menurut analisis BMKG, Jakarta terancam tenggelam akibat curah hujan yang sangat tinggi akibat badai musim dingin Asia dan badai panas Australia. Warga Jakarta terjebak, termasuk Indri dan kedua anaknya sementara Addri menjalankan tugasnya yang jelas berlipat-lipat di saat terjadi bencana besar seperti saat itu.

Sementara itu, Arifin, seorang analis BMKG yang batal menikah dengan tunangannya, Denanda, seorang dokter, pun harus mengesampingkan urusan pribadi mereka karena analisis serta strategi solutif Arifin sangat penting untuk menanggulangi bencana, bahkan sekaligus sebisa mungkin menyelamatkan Jakarta dari ancaman tenggelam.

Memilih sudut pandang cerita yang tergolong generik di genre disaster, terutama meletakkan dilema antara keluarga dan kemanusiaan, sebenarnya tak ada yang salah selama penggarapannya memang berhasil ‘menyentuh’ penonton. Sisi scientific yang fiktif pun masih sah-sah saja selama masuk akal dan konsisten. Ada alasan mengapa Bangkit! tergolong serius menyusun teori yang scientific serta detail profesi yang cukup informatif, apalagi sampai melibatkan tim BASARNAS, BMKG, dan PMI. Above all,  sebenarnya yang terpenting dalam film disaster (which was the first and main reason people watch a disaster genre movie) adalah kemampuannya membangun ketegangan di tengah bencana yang berkecamuk. For that purpose, Bangkit! harus saya akui sebenarnya cukup berhasil membuat saya merasakan ketegangan dan kekhawatiran akan apa yang akan terjadi pada karakter-karakter sentral. Pun juga koneksi emosional yang ditunjukkan terutama antara karakter Addri kepada Dwi, Indri kepada Eka, juga Indri kepada Addri.

Sayang, selain dari itu masih banyak minus yang begitu terasa sejak menit pertama. Yang paling mencolok tentu saja adegan demi adegan yang terasa jumpy di sana-sini, pada akhirnya menjadikan cukup banyak kontinuiti yang miss maupun kejanggalan demi kejanggalan. Juga, karakter-karakter (utama) yang dimunculkan menjadi tak punya kedalaman lebih selain emosi yang ditunjukkan hanya pada momen (di layar) itu. Saya jadi tak mengenal mereka secara personal. Emosi dan empati yang muncul simply berasal dari rasa kemanusiaan seorang ayah (dan juga ibu) kepada anak. Tak lebih.

Untuk urusan logika kemungkinan penyebab curah hujan tinggi dan solusi yang ditawarkan, saya tak berani berkomentar banyak karena memang tidak punya kompetensi di bidangnya. Toh, it’s all fair in the name of fiction. Namun tetap saja gempa yang dimunculkan di tengah bencana banjir terkesan unnecessary, selain sekedar menggenapi formula ‘film disaster tak lengkap tanpa menghancurkan landmark ikonik’. Lagipula dengan gempa sedahsyat itu (digambarkan sampai meluluh lantakkan gedung-gedung pencakar langit Jakarta rata dengan tanah), mustahil ada wilayah-wilayah lain di Jakarta yang tampak aman-aman saja. Sementara dengan logika awam sekalipun, gempa berskala menengah saja bisa dirasakan sampai kota lain yang jaraknya berpuluh bahkan beratus-ratus kilometer. Di adegan lain misalnya, mustahil ada korban kecelakaan pesawat yang begitu dahsyat ada survivor yang masih bisa jalan, bahkan dalam waktu tak sampai satu hari kemudian sudah beraktivitas biasa seperti tidak baru mengalami kecelakaan dahsyat. Bagi penonton awam mungkin detail-detail ini terkesan sepele, tapi sebenarnya cukup mengganggu kenyamanan saya menikmati thrill yang ditawarkan.

Vino G. Bastian sekali lagi memberikan performa emosi yang sesuai dengan kebutuhan cerita. Sayang karakter yang ditulis hanya satu dimensi membuat penampilannya tidak sampai jadi memorable, apalagi solid. The best of his performance terletak pada ikatan emosi yang dijalinnya bersama pemeran Dwi, Adriyan Bima. Begitu juga dengan Putri Ayudia sebagai Indri yang menunjukkan performa emosi pengundang simpati penonton. Sementara pasangan Deva-Acha tampil just okay, sesuai dengan porsi yang diberikan. Penarik perhatian terbesar bagi saya justru pada aktor cilik Adriyan Bima yang melakoni perannya dengan begitu hidup, tak ada sedikit pun kecanggungan, bahkan menunjukkan ikatan emosi yang cukup dengan Vino. I have a feeling, with the right direction his acting career span will be quite long. Sementara Yasamin Jasem sebagai Eka was just okay dengan screen time yang memang terbatas. Untuk pendukung lainnya, seperti Yayu Unru, Ferry Salim, Khiva Iskak, sampai Donny Damara lebih berfungsi sebagai cameo yang menarik karena sosok pemeran asli, bukan performa sebagai karakter yang diperankan. Lagi-lagi, bukan karena tampil buruk, tapi naskah lah yang membuatnya demikian.

Sejak awal Bangkit! dipromosikan sebagai film bertema bencana dengan penggunaan CGI yang digarap serius. Gembar-gembor ini ternyata bukan ambisi delusional. Tim VFX yang digawangi oleh Raiyan Laksamana (3 Nafas Likas, Doea Tanda Cinta, Di Balik 98, dan The Wedding & Bebek Betutu) bekerja cukup maksimal demi menghadirkan visual yang convincing. Tentu belum sampai sempurna betul (dan ini memang diakui oleh seluruh pihak yang terlibat), seperti pada detail CGI air banjir yang memang tak mudah (terutama karena efek feather yang terlalu halus di tepi-tepi tampilan CGI air), tapi penggunaan green screen di banyak kesempatan tergarap rapi dan berhasil mengecoh saya. Kredit lebih juga patut saya berikan kepada penata suara, sound design, dan sound editing yang menurut saya justru menjadi nyawa utama dari ketegangan serta kengerian suasana. Begitu hidup, detail, dan memberikan keseimbangan antara crisp, clarity, deep bass, maupun pemanfaatan fasilitas surround yang maksimal. Sinematografi Hani Pradigya cukup efektif menerjemahkan cerita maupun visualisasi ketegangan, sementara editing Wawan I Wibowo membuat pace cerita menjadi dinamis untuk menyamarkan (atau juga mengalihkan perhatian penonton?) jumpy antar adegan dan discontinuity. Meski masih ada kecolongan blooper yang terlihat dengan sangat jelas di layar. Aghi Narottama cukup mendukung ketegangan, emosi, sekaligus grandeur feeling lewat scoringnya. Terakhir, I don’t really like Nidji’s touch this time for the theme song.


Keberanian Oreima Films-Kaninga Pictures-Suryanation menghadirkan genre yang jarang dilirik di perfilman Indonesia memang patut diapresiasi. Dengan effort teknis yang serius pula. As a genre starter in our film industry, Bangkit! was more than just a decent one. Tentu next time perlu dibekali naskah dengan penulisan karakter-karakter yang lebih mendalam dan detail yang lebih logis. Sementara menantikan  film-film berikut dari genre sejenis, Bangkit! masih berhasil menjadi tontonan hiburan yang cukup mendebarkan sekaligus menyentuh. Lagipula setidaknya Anda tak mau melewatkan kesempatan menjadi saksi salah satu tonggak cukup penting di perfilman Indonesia di layar bioskop ‘kan?

Lihat data film ini di filmindonesia.or.id.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Wednesday, July 27, 2016

The Jose Flash Review
Phantom Detective [탐정 홍길동: 사라진 마을]

Salah satu genre favorit sinema Korea Selatan adalah investigasi. Beberapa judul film Korea Selatan yang akhir-akhir ini masuk di layar lebar Indonesia punya unsur investigatif dalam suguhan plotnya. Memang harus diakui Korea Selatan cukup piawai meramu  plot investigatif menjadi menarik, logis, cerdas, tanpa kehilangan aspek-aspek manusiawinya. Suguhan terbaru mereka adalah Phantom Detective (PD) yang ditulis dan disutradarai oleh Jo Sung-hee (A Werewolf Boy). Dibintangi Lee Je-hoon (Architecture 101) yang mana ini merupakan film pertamanya setelah selesai menjalani wajib militer, PD menawarkan karakter detektif fiktif Hong Gil-dong yang terinspirasi dari novel Korea yang dipercaya ditulis antara akhir abad 16 hingga awal abad 17, setara dengan karakter Robin Hood di dunia Barat. Hong Gil-dong juga menjadi nama pengganti sosok tak diketahui seperti John Doe di Amerika Serikat. Sama seperti Hong Gil-dong di PD yang diperkenalkan sebagai sosok detektif misterius dengan setting undefined.

Lewat narasi langsung dari karakter Hong Gil-dong, penonton diperkenalkan kepada sosoknya sebagai seorang detektif dari agensi ilegal yang dikepalai oleh putri konglomerat berjuluk President Hwang. Ambisi terbesar Hong Gil-dong adalah membalaskan dendam sang ibu yang dibunuh. Kesempatan itu datang ketika ia akhirnya menemukan Kim Byeong-Duk dan berniat mendatangi rumahnya. Di saat yang bersamaan, Kim ternyata diculik oleh sekelompok tak dikenal, meninggalkan dua orang cucunya, Dong-Yi yang duduk di kelas lima SD dan Mal-Soon yang masih berusia 8 tahun, sendirian di rumah. Berniat membunuh Kim di depan kedua cucunya, Hong Gil-dong membawa keduanya menemukan Kim. Dong-Yi dan Mal-Soon yang polos ternyata tak sebodoh itu. Meski pada akhirnya lebih sering menghalangi penyelidikannya, justru kedua anak ini yang membantu Hong menemukan Kim. Perlahan pun Hong makin peduli terhadap nasih kedua anak ini. Ketika saatnya tiba, Hong harus memilih untuk tetap menjalankan niatnya atau memburu penculik Kim yang ternyata berkaitan dengan rencana jahat yang lebih besar lagi.

Satu hal yang membuat PD menarik adalah gaya storytelling dan visual noir a la Sin City. Mulai narasi dari first person character bak diary, setting desain produksi tak terdefinisi baik waktu maupun tempat, sampai visualisasi adegan-adegan yang punya gaya unik, hanya saja tampilan hitam-putih. Plotnya pun sebenarnya berjalan dengan menarik dan bikin penasaran, meski sejak awal penonton disuguhi alur yang maju-mundur tanpa sekat pembatas yang jelas. Sayangnya, seiring dengan durasi PD plot semakin membingungkan membuat penonton terjerumus ke pusaran tidak jelas. Apalagi ternyata PD tak dibekali analisis investigatif yang menarik. Semua seolah mampu dibaca oleh karakter Hong secara spontan. Tak salah jika kemudian saya memilih untuk berhenti mencerna dan nikmati saja plot yang mengalir selanjutnya. Membingungkan dan terkesan bertele-tele, memang. Alhasil sejak awal film hingga akhir film, bagi saya PD terasa seperti babak ketiga (dari formula dasar storytelling) yang berlangsung begitu panjang. Hingga akhirnya mulai terkuak rahasia di balik penculikan Kim yang ternyata a greater cause. Revealing yang menarik sebenarnya, sayang untuk sampai ke sana harus melewati kelokan-kelokan plot yang tak begitu penting selain sekedar pameran style.

Meski terkesan terlalu ‘babyface’ untuk perannya, Lee Je-Hoon sebenarnya punya kharisma yang cukup untuk menjadi lead. Seorang detektif handal dan cerdas pula. But somehow, bagi saya pencuri perhatian terbesar adalah penampilan dua aktris cilik; Roh Jeong-Eui sebagai Dong-Yi dan yang paling utama, Kim Ha-Na sebagai Mal-Soon. Annoying at one point, tapi pada akhirnya berhasil menarik simpati penonton (dan juga karakter Hong sekalipun). Kim Sung-kyun sebagai sosok villain Kang Sung-Il memang tak diberikan porsi yang cukup untuk ‘membekas’ di benak penonton, tapi sosok bengisnya cukup tergambar dengan meyakinkan. Aktor senior Park Geun-Hyung sebagai Kim Byeong-Duk juga masih mampu menarik simpati penonton meski porsinya tergolong minim. Sementara Go Ara sebagai President Hwang tentu tampil memikat lewat pesona fisik dan aura sensualitasnya di balik porsi peran yang juga terbatas.

Mengedepankan visual bergaya sebagai daya tarik utama, tentu desain produksi  memegang peranan penting. Didukung sinematografi Byun Bong-Sun dan editing yang sebenarnya cukup pas dalam menghadirkan pace cerita. Well, bagaimanapun  naskah yang memang belum berhasil sepenuhnya diterjemahkan masih terasa di layar. Tata suara masih tergolong mumpuni, terutama fasilitas surround yang sangat terasa dimanfaatkan maksimal. Sedikit terdengar kurang mantap di beberapa dialog (front channel), termasuk narasi dan dialog yang tak punya perbedaan volume, tapi tak sampai mempengaruhi mood film. Terakhir, scoring cukup mendukung mood noir yang diusung PD sepanjang film.


Secara visual, PD mungkin masih menawarkan sesuatu yang menarik lewat mood noir yang tergolong jarang diangkat. Sayang jalinan plot yang ‘mungkin’ belum sepenuhnya berhasil diterjemahkan ke dalam bahasa gambar, membuat ia terasa membingungkan dan bertele-tele. Untung masih ada kehadiran dua aktris cilik yang setidaknya mampu menjadi aspek hiburan. So, tak ada salahnya mencoba PD jika bosan dengan pilihan mainstream dan mencari ‘rasa’ berbeda yang jarang disajikan.

Lihat data film ini di IMDb dan AsiaWiki.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Tuesday, July 26, 2016

The Jose Flash Review
Skiptrace [绝地逃亡]

Sebagai salah satu aktor Cina yang bisa dikatakan berhasil ‘menaklukkan’ Hollywood, wajar jika Jackie Chan berupaya untuk membuat keduanya bekerja sama dalam memproduksi film. Sebenarnya Jackie sempat bekerja sama dengan sutradara Renny Harlin yang kita kenal sebagai sutradara Die Hard 2 – Die Harder dan Cliffhanger untuk proyek bertitel Nosebleed yang akhirnya dibatalkan sama sekali setelah awalnya sempat akan melakukan pengambilan gambar di atap World Trade Center di pagi serangan 9/11. Untung Jackie saat itu menundanya karena mendapatkan ide koreografi yang lain. Proyek Skiptrace sendiri awalnya diumumkan tahun 2013 dengan Sam Fell (Flushed Away, The Tale of Despereaux, dan ParaNorman) di bangku sutradara dan Seann William Scott (Stifler dari franchise American Pie) sebagai ‘sidekick’ Jackie. Seiring dengan perkembangannya, Scott digantikan oleh salah satu dedengkot Jackass, Johnny Knoxville, dan bangku sutradara beralih ke Harlin. Perubahan ini menurut saya justru membuat Skiptrace terkesan lebih meyakinkan. I mean, Scott akan membuat banyak penonton teringat dengan peran serupa di Bulletproof Monk atau The Rundown (and it means it’s not good). Sedangkan Harlin tentu punya pengalaman (serta prestasi) lebih di genre action adventure.

Pasca kematian partner terbaiknya, Bennie Chan, opsir polisi Hong Kong lebih banyak menghabiskan tenaga untuk membuktikan bahwa konglomerat bernama Victor Wong adalah bos mafia berjuluk The Matador. Ia pun menjaga putri satu-satu dari sang sahabat, Samantha. Petunjuk penting muncul ketika terjadi pembunuhan di kasino milik Victor di Macau. Seorang pria Amerika yang dikenal penipu bernama Connor Watts dituduh sebagai pembunuhnya. Sebelum sempat tertangkap, Connor malah diculik dibawa ke Rusia oleh gembong mafia setempat. Maka berangkatlah Bennie ke Rusia untuk menemukan Connor dan mendapatkan informasi penting terkait Victor. Maka petualangan love-hate friendship keduanya dimulai dari Rusia ke Hong Kong lewat jalan darat.

Membaca sinopsis yang demikian sebenaranya penonton bisa dengan mudah menebak ke mana arah cerita. Well, this is a Jackie Chan’s movie. That’s not supposed to be the main reason why you see his, is that? Dengan formula-formula khas Jackie; aksi stunt bela diri dengan bumbu akrobatik, petualangan lintas negara antara 2 orang yang seru sekaligus kocak yang membuat keduanya saling mengenal dan akrab, hingga aksi klimaks yang ditunggu-tunggu, sekaligus membongkar rahasia sosok The Matador sebenarnya, Skiptrace mencoba untuk sekali lagi menghibur, terutama bagi para fans Jackie Chan. For that purpose, Skiptrace harus saya akui sekali lagi berhasil menjadi instant entertainment. Seru, lucu, dan punya hearty moment yang cukup. Harlin terbukti mampu bersinergi dengan ‘energi’ Jackie sehingga menjadikan adegan-adegan aksi khasnya sangat menghibur di sini. Harus saya akui, ada beberapa part terutama di babak kedua yang tak banyak berkembang, terkesan tidak penting, dan sekedar memanfaatkan latar sebagai pemanis yang cantik, tapi secara keseluruhan tidak sampai mengganggu pace film. Setidaknya, masih cukup membantu untuk membuat chemistry antara Bennie-Connor menjadi terasa lebih convincing.

Jackie Chan is still Jackie Chan. Tak banyak perbedaan karakter yang ia mainkan, tapi energinya sebagai (martial art) action hero tak sedikit pun pudar di usianya yang sudah kepala enam. Still gripping and still kickin’ ass. Johnny Knoxville pun menjadi sidekick yang bisa mengimbangi aksi (dan comedic) Jackie dengan baik. Karakter tipikal, tapi masih berhasil dimainkan sesuai porsi perannya. Fan Bingbing sebagai Samantha, seperti biasa, mempesona dengan daya tarik fisik dan keanggunannya, meski porsinya tergolong sedikit. Eric Tsang, Winston Chao, Michael Wong, dan Jung-hoon Yeon, dan tentu saja pegulat WWE, Eve Torres, turut mendukung film menjadi lebih menarik lagi.

Aksi beladiri Jackie yang fast-pace berhasil di-shot oleh sinematografi Kwok-Hung Chan yang sampai harus meregang nyawa, tenggelam ketika melakukan pengambilan gambar adegan sampan untuk film ini. Untungnya, posisi director of photography yang kemudian diserahkan kepada Chi-Ying Chan tak membawa kendala yang begitu berarti pada hasil akhirnya. Sambil menikmati aksi bela diri Jackie, penonton juga disuguhi berbagai panorama dan ‘pameran’ tradisi lokal terutama di Mongolia, Gurun Gobi,  dan provinsi-provinsi kecil di daratan Cina. Editing Derek Hui, Judd H. Maslansky, dan David Moritz makin membuat pace film terjaga sepanjang durasi, terlepas dari momen-momen tak begitu penting di pertengahan film yang masih bisa dirangkai sehingga tak sampai mengganggu pace keseluruhan. Scoring dari Kwong Wing Chan tak terlalu istimewa tapi cukup mengiringi tiap adegan sesuai dengan tujuannya. Kredit lebih untuk performance Jackie membawakan Rolling in the Deep dari Adele dengan ‘tradisi’ Mongolia yang bisa dianggap salah satu momen paling mengesankan sepanjang film.

Jackie Chan masih punya taji sebagai action hero Cina, bahkan mungkin masih merajai dan yang paling berhasil di pasar Amerika Serikat. Meski Skiptrace masih menyajikan suguhan yang tak jauh berbeda dengan film-film Jackie sebelumnya, ia masih mampu menjadi instant entertainment yang sangat menghibur, apalagi jika Anda termasuk fans Jackie. Nikmati saja gelaran aksi yang disajikan tanpa perlu banyak melibatkan otak. I was still having fun.


Lihat data film ini di IMDb
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Sunday, July 24, 2016

The Jose Flash Review
Ghostbusters (2016)

Sejak perilisan pertama kali di tahun 1984, Ghostbusters yang diprakarsai oleh Dan Aykroyd segera menjadi fenomena global. Berhasil mengumpulkan US$ 238.6 juta (dengan perhitungan inflasi setara US$ 525 juta saat ini), diikuti sekuelnya, Ghostbusters II (1989) yang masih berhasil mengumpulkan total US$ 215.3 juta di seluruh dunia. Ghostbusters pun menjelma menjadi franchise baru yang juga merambah novel, video game, dan serial TV animasi. Sayang perjalanan panjang mengiringi installment layar lebar ketiga. Sebenarnya berbagai ide cerita untuk installment ketiga bermunculan sejak lama, termasuk  dari Aykroyd sendiri  sejak 1990-an dengan titel Ghostbusters III: Hellbent. Columbia Pictures selaku studio dan para cast tak kunjung menemukan titik temu, sampai kematian salah satu pemeran personel utama, Harold Ramis (Dr. Egon Spengler) di tahun 2014 membuat cast asli yang lain semakin skeptis. Columbia Pictures pun membuka diri untuk kemungkinan-kemungkinan lain. Pitch dari Paul Feig untuk membuat reboot Ghostbusters dengan versi para wanita mendapatkan lampu hijau untuk diproduksi. Muncul pula rencana tetap membuat reboot dengan anggota tim para pria seperti aslinya yang dipercayakan kepada Russo Brothers (Joe & Anthony Russo – Captain America: The Winter Soldier dan Captain America: Civil War). Namun rencana ini akhirnya dibatalkan sama sekali dan Ivan Reitman (sutradara dua installment pertama) dalam sebuah wawancara mengakui rencana ini tidak pernah benar-benar dikembangkan secara serius.

Praktis tinggal Ghostbusters versi Paul Feig yang serius untuk dikembangkan. Feig kembali menggandeng Katie Dippold setelah sukses berkolaborasi di The Heat serta tentu saja Melissa McCarthy yang sudah menjadi ‘korban eksploitasi’ favorit Feig. Diikuti Kristen Wiig yang pernah bekerja sama dengannya di Bridesmaids, serta pendukung dari Saturday Night Lives lainnya, Kate McKinnon dan Leslie Jones. Menambah semarak suasana gokil, Chris Hemsworth didapuk menjadi Kevin, versi pria dari Janine Melnitz. Tentu saja proyek reboot ini diwarnai kontroversi, termasuk haters berjemaah yang mem-bash habis di berbagai situs review, bahkan sampai menuduh review-review positif sebagai review berbayar, tak ada yang bisa dipercaya sampai Anda menyaksikan (baca: mengalami)-nya sendiri.

Erin Gilbert adalah seorang profesor fisika di sebuah universitas yang karirnya sedang menanjak. Namun semuanya terancam berakhir ketika seorang pria mengenalinya sebagai penulis buku tentang fenomena paranormal beberapa tahun yang lalu bersama sahabatnya, Abby Yates. Ternyata buku itu dijual lagi oleh Abby secara online sebagai bentuk penggalangan dana demi keberlangsungan penelitiannya tentang dunia paranormal yang diyakininya ada. Awalnya Erin meminta Abby menurunkan iklan penjualan buku itu sebelum dilihat oleh para koleganya di universitas, tapi setelah mengalami sendiri Erin setuju untuk bergabung dengan Abby dan Jillian Holtzmann memburu para hantu yang berkeliaran dengan teknologi fisika yang mereka kembangkan. Apalagi setelah beberapa hari terakhir New York diteror oleh berbagai penampakan hantu yang meresahkan. Dengan bantuan petugas kereta bawah tanah, Patty Tolan dan pria dungu bernama Kevin, tim yang mereka namakan Ghostbusters tak hanya mulai membasmi hantu-hantu yang dilaporkan sedang berkeliaran, tapi juga menemukan dalang dari teror ini. Apalagi walikota Bradley tampak membutuhkan jasa mereka tapi tak mau nama mereka populer karena dipercaya akan membuat masyarakat makin panik.

Mengalami Ghostbusters versi Feig ini sebenarnya seperti mengalami kembali petualangan para pemburu hantu dari versi aslinya. Dengan jalinan plot investigatif yang sebenarnya cukup generik, lebih mengingatkan saya akan franchise Scooby Doo yang lebih scientific ketimbang Ghostbusters versi aslinya yang lebih banyak dipengaruhi okultisme dan materi-materi supernatural lainnya. Ditambah dengan karakter-karakter dan guyonan khas Feig yang begitu khas, seperti yang pernah ditunjukkan di Bridesmaids, The Heat, dan Spy. Mulai ‘mengeksploitasi’ habis-habisan Melissa McCarthy dan Kristen Wiig, humor situasional, slapstick, humor bereferensi pada budaya pop, sampai sindiran misogynist dan rasis yang sering dituduhkan sejak ide pertama all-female Ghostbusters diumumkan. Bagi saya sendiri hampir semua humornya berhasil, baik yang sekedar bikin senyum hingga yang tertawa terbahak-bahak. Karakter-karakter utamanya memang identik dengan versi original-nya, tapi masih punya karakteristik khas masing-masing, sehingga tak terkesan sekedar copy-paste dengan gender-swap semata.

Yang patut paling saya puji dari Ghostbusters versi Feig ini sebenarnya adalah kemampuan dalam menyeimbangkan antara bangunan universe baru yang khas milik ia sendiri dengan elemen-elemen original yang sudah melekat kuat, bahkan lewat elemen-elemen tribute dan cameo dari para cast aslinya yang berhasil ‘menyenangkan’. Pun bagi penonton yang belum pernah menyaksikan versi asli sebelumnya, Ghostbusters juga masih menyuguhkan jalinan cerita sederhana yang jelas serta tak lupa yang terpenting, pengalaman visual yang sangat menyenangkan. Lagipula, Feig menyelipkan elemen-elemen ‘asal-mula’ yang tak dimunculkan di dua versi aslinya, seperti nama, logo, dan kendaraan ‘dinas’ Ghostbusters.

Para pengisi karakter utama Ghostbusters versi Feig berhasil mendominasi durasi dengan cukup seimbang, terutama Melissa McCarthy sebagai Abby dan Kristen Wiig sebagai Erin. Disusul Kate McKinnon sebagai Jillian Holtzman yang ternyata mampu mencuri perhatian lewat perangainya yang berhasil menangkap kepribadian karakter versi orisinilnya, Dr. Egon Spengler, tapi dengan balutan sensualitas dan komedik yang pas serta khas. Leslie Jones sebagai Patty Tolan yang diset sebagai versi baru dari Winston Zeddmore, masih punya porsi peran yang kurang lebih sama seperti versi originalnya. Kalah jika dibandingkan ketiga lainnya, tapi tetap bisa menjadi penyampai guyonan (terutama yang bertema rasisme) yang cukup efektif. Sementara Chris Hemsworth sebagai Kevin di sini mendapatkan highlight yang lebih besar ketimbang karakter aslinya, Janine Melnitz. Tentu faktor ‘he’s Chris Hemsworth, he’s an action hero, Thor!’ yang tiba-tiba harus memerankan karakter komedik dungu, sangat berpengaruh, tapi ia juga punya porsi dalam cerita yang awalnya saya kira ‘begitu saja’ (baca: penghias layar semata), ternyata cukup penting menjelang klimaks.

Neil Casey sebagai tokoh villain, Rowan North, tampil tak terlalu berkesan tapi tergolong cukup baik dalam memerankan karakter jahat sekaligus nyentrik. Terakhir, tentu saja kehadiran para cameo dari Ghostbusters versi 1984-1989; Bill Murray, Dan Aykroyd, Annie Potts, Ernie Hudson, dan Sigourney Weaver mampu membuat penonton versi aslinya senyum-senyum.

Salah satu daya tarik Ghostbusters versi 2016 adalah tampilan visualnya yang mendukung petualangan para pemburu hantu menjadi begitu menyenangkan dan seru. Terutama sekali format 3D yang saya akui, terbaik selama beberapa tahun terakhir. Ada banyak sekali pop-out gimmick yang bersinergi dengan timing adegan sehingga menghadirkan efek spontanitasa yang maksimal bagi saya. Gimmick out-of-frame pun menjadi daya tarik lebih dari format 3D, apalagi jika Anda menyaksikannya di Large Premium Format seperti IMAX (yang sayangnya tak mampir di Indonesia karena lebih dikuasai Star Trek Beyond) atau Sphere-X sebagai alternatif yang punya kualitas kurang lebih setara. Sinematografi Robert D. Yeoman serta editing Melissa Bretherton dan Brent White tentu punya andil yang cukup besar dalam memaksimalkan ‘efek kejut’ 3D-nya, yaitu lewat framing yang tepat dan timing yang serba pas pula. Scoring Theodore Shapiro masih tak jauh-jauh bermain dengan original score-nya tapi masih mampu menghadirkan suasana creepiness sekaligus fun. Pemilihan soundtrack pendukung yang sebenarnya hanya beda aransemen dan tak jauh-jauh dari tema ‘who you gonna call’ serta lirik-lirik asli theme song Ghostbusters, tapi terkesan variatif ketika diletakkan pada momen-momen yang pas. Mulai versi Fallout Boys feat. Missy Elliott, Pentatonix, Walk the Moon, hingga Mark Ronson, Passion Pit & A$AP Ferg. Terakhir, tata suara juga memanfaatkan efek surround dengan maksimal, sekaligus menghadirkan keseimbangan suara yang jernih, crispy, deep bass, dan terdengar dahsyat menghiasi sepanjang durasi.


Ghostbusters versi Paul Feig memang dibuat untuk sebanyak mungkin memikat penonton, baik yang familiar dengan versi originalnya maupun penonton dari generasi baru (yang mau tak mau, perlu, mengingat rentang waktu antar installment yang cukup lama, yaitu 27 tahun!). Dengan mempertahankan elemen-elemen ‘klasik’ dengan warna-warna khas Feig yang modern, termasuk me-modern-kan plot yang lebih bisa diterima penonton masa kini yang kian rasional dan scientific, dengan detail minor ‘asal mula’ yang memuaskan, serta tentu saja menghadirkan petualangan yang masih mampu jadi menarik meski generik, Ghostbusters versi Feig adalah paket hiburan yang sangat seru dan menyenangkan. Bahkan mungkin masuk salah satu summer movie 2016 paling seru dan menyenangkan di tengah suguhan-suguhan yang didominasi kesan ‘gelap’. Experience it in 3D for the true experience it was intended to be!

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Friday, July 22, 2016

The Jose Flash Review
Star Trek Beyond

Ketika berencana me-reboot franchise Star Trek tahun 2009, Paramount sudah mempersiapkan tiga seri pertama dengan J. J. Abrams sebagai komandan, termasuk kontrak dengan para pemeran utamanya. Ketika Abrams memilih untuk fokus pada Star Wars: The Force Awakens dan hanya duduk sebagai produser, proyek installment ketiga reboot Star Trek sempat terombang-ambing. Tak hanya posisi sutradara yang sempat jatuh kepada penulis naskah dua installment pertama, Roberto Orci sebelum akhirnya jatuh ke tangan sutradara Taiwan yang angkat nama lewat franchise Fast & Furious sejak Tokyo Drift, Justin Lin, tapi juga naskah awal yang ditulis oleh Orci berasama Patrick McKay dan John D. Payne ternyata tidak memuaskan pihak Paramount hingga akhirnya ditunjuklah Simon Pegg, pemeran karakter Montgomery Scott yang sebelumnya lebih dikenal menulis naskah film-film komedi, terutama The Cornetto Trilogy (Shaun of the Dead, Hot Fuzz, dan The World’s End), dibantu Doug Jung yang menulis ulang naskahnya. Diharapkan, masuknya Justin Lin, Simon Pegg, dan Doug Jung ini mampu memberikan rasa atau warna baru untuk installment ketiga, Star Trek Beyond (STB). Bagi kita penonton Indonesia, STB tentu makin menarik dengan berita keterlibatan Joe Taslim sebagai karakter villain Manas, yang mau tak mau dikait-kaitkan dengan faktor Justin Lin yang sebelumnya memang pernah bekerja sama dengan Joe di Fast and Furious 6, seperti halnya J. J. Abrams ‘membawa’ Simon Pegg setelah franchise Mission: Impossible.

Dua setengah tahun dari ending Star Trek Into Darkness, kru USS Enterprise kembali ke pangkalan Federasi Persatuan Antar-Planet, Yorktown. Sebelum menjalankan misi selanjutnya, Kapten James T. Kirk mengajukan diri sebagai Vice Admiral karena merasa bosan bekerja di ‘lapangan’. Ia berniat mempromosikan Commander Spock sebagai pengganti kapten USS Enterprise. Padahal di saat yang sama Commander Spock berniat mengundurkan diri setelah mendapat kabar kematian sang ayah, Spock Prime. Masa tenang tak berlangsung lama ketika muncul pod tak dikenal mendekati nebula terdekat. Isinya adalah seorang wanita bernama Kalara yang mengaku pesawat beserta awaknya terdampar di sebuah planet dan diserang oleh pemimpin alien bernama Krall. Kalara meminta bantuan USS Enterprise untuk membebaskan pesawat serta awaknya. Berangkatlah mereka ke planet yang tak teridentifikasi bahkan di arsip terlengkap milik Federasi. Mendekati planet itu, USS Enterprise diserang oleh gerombolan pesawat asing secara masif hingga pesawat mereka hancur lebur dan terdampar di planet tersebut. Para kru yang terpencar harus mencari cara bagaimana bisa selamat dan kembali ke Yorktown, sebelum akhrinya mereka sadar bahwa Krall punya tujuan yang lebih besar dan mengancam Federasi Persatuan Antar-Planet.

Masih menyuguhkan kisah petualangan menjelajahi planet dan alam semesta, secara premise sebenarnya tak ada yang benar-benar istimewa ataupun baru di STB.  Namun bukan itu yang menjadi highlight STB bagi saya. Pegg-Jung lebih tertarik untuk mengeksplorasi hubungan antar karakter yang lebih kuat dan seimbang dari para kru USS Enterprise lewat petualangan yang mereka lewati. Jika di dua installment sebelumnya yang menjadi fokus adalah hubungan antara James T. Kirk dan Commander Spock, maka STB menawarkan hubungan antar karakter yang lebih banyak serta tak kalah menariknya. Misalnya sejak awal kita disuguhi kedekatan Kirk dengan Lieutenant Commander Leonard McCoy, kemudian ketika awak terpencar-pencar dimanfaatkan untuk memperdalam koneksi antara McCoy-Spock, Kirk-Chekov, Montgomery Scott-karakter baru bernama Jaylah yang ikut menjadi salah satu karakter paling menarik perhatian, dan sedikit porsi (jika tidak mau dikatakan sebagai sekedar pemanis) hubungan asmara antara Spock-Nyota. Jangan salah, untuk urusan plot utama tentang misi USS Enterprise meski tergolong ‘generik’ tapi masih mampu terjalin dengan seru, bikin penasaran hingga klimaks (terutama tentang motif dan latar belakang Krall), serta yang tak kalah pentingnya, konsep besar cerita tentang dilematis struggle vs peace and unity yang berhasil menggugah pemikiran saya. Above all, yang paling membuat saya puas adalah banyak sekali visualisasi adegan-adegan dahsyat yang super fun dan elemen-elemen visual yang super keren, misalnya yang paling menarik perhatian saya, 'lebah-lebah' Krall yang menyerang USS Enterprise (dan juga Yorktown) dengan sangat masif dan ‘brutal’ dan adegan pengalihan perhatian yang dilakukan Kirk. Tak terasa, berkali-kali saya secara spontan meneriakkan ‘wow’, ‘woooohoooo’, dan ‘wooooo’.

Pengisi karakter-karakter utama, seperti Chris Pine sebagai James T. Kirk dan Zachary Quinto sebagai Spock masih memberikan performa yang setara dengan installment-installment sebelumnya meski kali ini harus membagi porsi dengan karakter awak-awak lain. Karl Urban sebagai Leonard McCoy, Simon Pegg sebagai Montgomery Scott John Cho sebagai Sulu, (Alm.) Anton Yelchin sebagai Chekov, dan Zoe Saldana sebagai Nyota Uhura, secara berturut-turut mendapatkan porsi sekaligus koneksi antar karakter yang lebih banyak sehingga masing-masing mampu menjadi perhatian penonton secara merata. Setidaknya lebih noticeable bagi penonton terawam sekalipun.

Di jajaran karakter baru, Sofia Boutella yang sebelumnya menarik perhatian kita sebagai Gazelle lewat Kingsman: The Secret Service, tentu dengan mudah menarik perhatian penonton lewat kharisma serta aksi kick-ass-nya sebagai Jaylah. Di balik make up alien-nya, Idris Elba sebagai karakter villain Krall mungkin tak ditulis sedetail dan sekuat Khan di Star Trek Nero ataupun Khan, tapi setidaknya ia mampu menghidupkan karakter villain tersebut dengan cukup threatening dan emotion expression yang cukup kuat saat revealing di klimaks. Joe Taslim sebagai Manas, kaki tangan terdepan Krall yang meski awalnya sempat tak terdeteksi (karena perbedaan antara Krall dan Manas hanya pada warna kulit serta namanya yang baru disebut di pertengahan film), tapi ternyata punya porsi action sequence yang cukup memorable. Begitu juga wajah aslinya yang terpampang di menjelang akhir film.

Keterlibatan Lin memang membawa penyegaran bagi franchise, terutama dalam menghadirkan adegan-adegan serta visual yang dahsyat dan bikin melongo. Pertama, peran desain produksi tim Thomas E. Sanders dan tim visual effect yang berhasil menghadirkan elemen-elemen adegan dahsyat tersebut serta desain tata kota Yorktown yang mencengangkan. Kemudian sinematografi Stephen F. Windon mempengaruhi pula excitement feel yang dihadirkan. Utamanya pergerakan kamera yang dinamis dan di banyak kesempatan membawa penonton bak melayang-layang di luar angkasa. Lalu editing yang dilakukan Greg D’Auria, Dylan Highsmith, Kelly Matsumoto, dan Steven Sprung semakin mempertajam mood keseruan cerita. Sound design tak kalah berjasa dalam menghadirkan keseruan pengalaman-pengalaman petualangan luar angkasa lewat sound effect yang crisp, clear, dan deep bass, serta pemanfaatan fasilitas surround yang sangat maksimal. Sementara Michael Giacchino menghadirkan scoring yang tak hanya semakin memperkuat emosi cerita, tapi juga mempertahan kan original score Star Trek yang sudah berstatus klasik dengan warna yang lebih modern namun tetap punya taste classy. Pemilihan Sabotage dari The Beastie Boys untuk mengiringi adegan ‘gila-gilaan’ menjelang klimaks berhasil menjadi salah satu elemen cerita yang gokil. Apalagi The Beastie Boys memang punya relasi yang terjalin akrab sejak lama (konon lagu-lagu populer The Beastie Boys banyak yang memasukkan unsur Star Trek, seperti Intergalactic, Ch-Check It Out, dan Brouhaha. Lagu Sabotage pun sempat muncul di Star Trek versi 2009).

Sayang, format 3D tak menawarkan efek yang cukup signifikan, baik dari segi depth of field apalagi pop-out gimmick. Sementara format 4DX justru memberikan upgrade pengalaman yang jauh lebih terasa dan nyata dari petualangan yang sudah disuguhkan dengan baik. Rasakan sensasi melayang-layang di luar angkasa mengikuti pergerakan kamera yang dahsyat atau ngerinya guncangan dahsyat ketika USS Enterprise diserang Krall's bees habis-habisan, lewat seat motion dan vibration, water spray, wind blow, flashing blitz, serta ankle shock yang bertebaran di banyak kesempatan. Apalagi faktor sinematografi yang memang turut andil dalam memperkuat efek 4DX hingga berkali-kali saya dibuat memalingkan pandangan dan mempererat pegangan tangan pada handle seat. IMO, STB menawarkan pengalaman 4DX terbaik tahun ini so far. Melebihi keseruan format 4DX untuk Captain America: Civil War. Maka sangat tanggung dan rugi rasanya jika Anda punya pilihan mengalami di 4DX tapi melewatkannya begitu saja.

As a conclusion, saya yang sudah menjadi fan Star Wars sejak lama pun harus mengaku bahwa STB menawarkan petualangan sinematik luar angkasa yang jauh lebih fun, seru, gila-gilaan, dibandingkan Star Wars: The Force Awakens akhir tahun 2015 lalu. Ini baru sajian summer blockbuster a la Hollywood yang paling layak dialami di layar lebar.


Lihat data film ini di IMDb

The 89th Academy Awards Nominees for:

  • Makeup and Hairstyling - Joel Harlow and Richard Alonzo
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Friday, July 15, 2016

The Jose Flash Review
Sultan

Tak beda jauh dengan Indonesia, Hari Raya Idul Fitri (Eid) juga menjadi ajang perilisan film-film hi-profile dan blockbuster di ranah perfilman Hindi, terutama dengan formula masala (gabungan berbagai genre yang diracik menjadi satu: seringkali drama keluarga, romantis, dan action) yang menjadi signatural Bollywood. Sejak 2009 lewat Wanted, Salman Khan menjadi aktor favorit pengisi film-film Lebaran di India. Dilanjutkan Dabangg tahun 2010, Bodyguard 2011, Ek Tha Tiger 2012, Kick 2014, dan tahun 2015 lalu, Bajrangi Bhaijaan. Dari film ke film selalu mengalami peningkatan pendapatan. Tak heran jika Salman Khan menjadi ikon liburan Eid yang diincar major studio. Tahun ini Yash Raj yang merupakan salah satu studio terbesar di India, sekali lagi bekerja sama dengan Salman setelah Ek Tha Tiger. Mengangkat karakter pegulat India fiktif yang berjaya di Olimpiade, Yash Raj tampak menggarap serius Sultan dengan berbagai buzz yang menarik perhatian. Mulai ditunjuknya sutradara/penulis naskah Ali Abbas Zafar (sebelumnya bekerja sama dengan Yash Raj di Mere Brother Ki Dulhan dan Gunday), rumor bergabungnya berbagai aktor populer yang mengisi peran pelatih Sultan, seperti Sylvester Stallone dan Sanjay Dutt, sampai Farah Khan yang ditunjuk sebagai koreografer. Untuk peran yang dilakoni pun Salman dan Anushka Sharma menjalani pelatihan gulat yang tak main-main.

Liga pertunjukan MMA (Mixed Martial Arts) campuran milik Aakash Oberoi terus-menerus mengalami penurunan penonton yang ikut mempengaruhi minat investor. Atas saran sang ayah, ia mencoba menemui mantan pegulat India (satu-satunya) yang pernah menang di Olimpiade, Sultan Ali Khan di sebuah kota kecil bernama Haryana. Melihat kondisi fisik Sultan yang sekarang, Aakhash sempat ragu. Namun setelah melihat aksinya menarik traktor, Aakash bersikeras ingin Sultan ikut dalam liga ‘pertarungan bebas’-nya. Karena aiming-iming uang sebesar apapun tak mempan, Aakash menemui sahabat Sultan, Govind, yang akhirnya menceritakan masa lalu dan bagaimana Sultan bisa menjadi atlet gulat yang sampai berhasil meraih medali emas di Olimpiade. Semuanya melibatkan ambisi, seorang pegulat wanita bernama Aarfa Hussain yang kelak menjadi istrinya, sampai tragedi yang membuatnya membenci gulat.

Secara garis besar plotline, Sultan sangat setia pada pakem generik masala Bollywood. Dibuka dengan sebuah krisis yang membutuhkan karakter utama sebagai solusi, kemudian kembali ke flashback yang membuat sang karakter menolak untuk menjadi solusi krisis. Tentu saja flashback melibatkan pula kisah asmara klasik dan struggle dengan ambisi tinggi untuk mencapai tujuan, tapi akhirnya berakhir tragedi. Pasca overture/interval, barulah masuk ke struggle utama dengan setting masa kini yang memuat klimaks penebusan. Very formulaic, very generic in Bollywood term. Tapi jangan salah, dengan penggarapan serta penyutradaraan Zafar yang tepat, hikayat perjalanan panjang Sultan disampaikan dengan begitu menghibur lewat adegan-adegannya, mulai atraksi kecekatanan Sultan yang mengundang decak kagum sekaligus tawa, drama keluarga yang sangat menyentuh, musical performances yang memanjakan mata serta telinga, dan tentu saja adegan-adegan pertarungan mixed martial arts yang menegangkan sekaligus bikin penonton cemas akan keadaan Sultan. Durasi yang mencapai 170 menit berhasil membuat perjalanan hidup Sultan terasa begitu epic dengan berbagai ups and downs, padat namun mengalir dengan sangat lancar dan porsi yang serba pas, tak sedikit pun terasa membosankan.

Memerankan Sultan, Salman Khan dituntut tak hanya memainkan karakter utama secara kuat, tapi juga fisik yang prima dan koreografi yang tergolong rumit. Hasilnya, menurut saya ini adalah salah satu performance terbaik Salman sampai saat ini. Terutama sekali perkembangan karakter yang berhasil dimainkannya dengan perpindahan yang smooth dan natural. Mulai pria 30-an yang ceria, berubah menjadi highly ambitious atas nama cinta, arogan, hingga penyesalan yang luar biasa. Bak sebuah rangkaian track roller coaster yang berliku-liku, kadang signifikan, tapi semuanya terasa mengalir begitu saja. Chemistry yang dibangun dengan Anushka Sharma (ups and downs pula) pun terbangun dengan begitu convincing. Manis, heartbreaking, tapi we all obviously can feel the love aroung them both. Tentu ini juga tak lepas dari peran Anushka Sharma yang memainkan karakter Aarfa dengan tak kalah powerfulnya meski secara porsi masih sedikit di bawah karakter Sultan. Sementara Anant Sharma sebagai Govind, Amit Sadh sebagai Aakash Oberoi, dan Randeep Hooda sebagai Fateh Singh, pelatih Sultan, memberikan performa yang cukup memorable sesuai porsi masing-masing. Terakhir, tentu saja jajaran petarung asli yang jelas membuat adegan-adegan pertarungan makin seru dan mendebarkan.

Layaknya Bollywood’s masala kebanyakan, Sultan didukung teknis serba mumpuni untuk menghidupkan adegan-adegannya. Terutama sinematografi Artur Zurawski yang pergerakan kameranya selaras dengan pace film yang enerjik, mem-framing desain produksi Rajnish Hedao yang serba cantik, sekaligus membuat koreografi Farah Khan terkesan begitu nyata dan brutal. Dengan editing Rameshwar S. Bhagat yang juga membuat film terasa dinamis, tapi tetap berhasil mengeksploitasi emosi di momen-momen yang tepat. Score dari Julius Packiam masih tergolong generik di genre masala, tapi setidaknya cukup berhasil ‘mewarnai’ adegan-adegan menjadi lebih hidup dan menyenangkan. Begitu pula lagu-lagu dari Vishal-Shekhar yang cukup catchy, terutama favorit saya, Baby Ko Bass Pasand Hai, Jag Ghoomeya, dan tentu saja main title yang terus bergema dalam ingatan jauh setelah film berakhir. Tak boleh diabaikan pula kredit untuk sound design terutama dalam menghidupkan arena MMA dengan maksimal.


Sebagai tontonan khas Lebaran, Sultan jelas menjadi paket masala yang highly entertaining, termasuk jika Anda merindukan film Hindi dengan musical performance yang semakin jarang akhir-akhir ini. Tak berlebihan dan diletakkan pada momen-momen yang pas sehingga tak mengganggu rollercoaster emosi film, sajian musical performance Sultan termasuk mengesankan. Tak heran jika sampai tulisan ini dibuat, Sultan sudah menduduki posisi ketiga penghasilan tertinggi di India sepanjang masa sekaligus mengejar posisi My Name is Khan untuk pasar luar negeri terbesar. Tentu ini juga semakin mengukuhkan Salman Khan sebagai ikon Raja Film Lebaran.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Wednesday, July 13, 2016

The Jose Flash Review
Koala Kumal

Siapapun yang pernah melewati medio tahun 2008 ke atas dan tinggal di Indonesia pasti mengenal nama Raditya Dika. Sosok yang mulai dikenal sebagai blogger, kemudian merambah buku dan film, hingga saat ini sudah berhasil menjadi salah satu ikon sekaligus brand bernilai paling tinggi di tanah air. Bagaimana tidak, follower twitternya saja sampai tulisan ini diturunkan sudah sebanyak 13.9 juta. Satu per satu bukunya diangkat ke layar lebar dengan angka pendapatan yang kian meningkat. Mulai Kambing Jantan (2009), Manusia Setengah Salmon (2013) sebanyak 442.631 penonton, Cinta dalam Kardus (2013), Cinta Brontosaurus (2013) sebanyak 892.915 penonton, Malam Minggu Miko Movie (2014), Marmut Merah Jambu (2014) sebanyak 640.682, hingga Single (2015) yang akhirnya berhasil masuk klub 1 juta penonton, tepatnya 1.341.506 penonton. Perolehan angka yang makin meningkat ini didukung pula oleh effort Dika sendiri untuk mengembangkan diri, terutama dalam menulis naskah dan menyutradarai film-filmnya sendiri. Tahun 2016 ini novel terakhirnya, Koala Kumal (2015) mendapat giliran diangkat ke layar lebar oleh StarVision yang sudah memproduksi tiga film Dika sebelumnya; Manusia Setengah Salmon, Cinta Brontosaurus, dan Marmut Merah Jambu. Seperti biasa, Dika menggaet aktris-aktris muda potensial menjadi lebih bersinar. Kali ini giliran Sheryl Sheinafia yang kita kenal sebagai presenter Breakout  di Net serta pernah mendukung Marmut Merah Jambu, pemeran Sophie di Get Married 5, Anggika Bolsterli, Jessica Mila, dan Karina Nadila. Menggandeng pula aktris yang lebih senior, Acha Septriasa, menandai semakin serius dan dewasa karya yang dilahirkannya. Temanya pun masih belum beranjak jauh dari ‘kejombloan’ dan ‘belum bisa move on’.

Mendekati hari pernikahan, Dika mendadak diputuskan oleh tunangannya, Andrea yang jatuh hati kepada James, seorang dokter muda. Patah hati yang mendalam membuat Dika yang seorang penulis kesulitan konsentrasi melahirkan karya baru. Keadaan menjadi lebih absurd (baca: seru) ketika ia dihardik oleh seorang mahasiswi yang mengaku ketua klub buku, Trisna. Awalnya Trisna hanya meminta Dika untuk menjadi tamu di acara-acara bedah buku, tapi mendapati Dika yang kehilangan semangat menulis lagi membuat Trisna akhirnya memutuskan turun tangan menyembuhkan patah hati Dika. Langkah-langkah ‘move on’ mulai mencari gandengan baru hingga membalas dendam terhadap James dilancarkan. Sayangnya kesemuanya ini tidak berhasil menyembuhkan patah hati Dika. Dika pun semakin penasaran dengan Trisna yang terkesan paling niat untuk balas dendam. Ternyata Andrea menyimpan rahasia masa lalu yang membuat dirinya menjadi sosok seperti sekarang.

Tak ada yang salah sebenarnya dengan tema ‘susah move on’ yang terus-terusan menjadi ‘komoditas’ Dika, selama ia tak hanya mengeksploitasi problematika sejuta umat ini hanya sebagai sumber tawa semata, tapi alangkah baiknya jika juga bisa memberikan semacam efek ‘terapi’ bagi umatnya. Tentu saja dengan susunan plot yang mengalir lancar dan koheren hingga konklusi. For that matter, I have to admit, this time Dika did it very well. Sebagai penulis naskah, kepiawaiannya dalam menuturkan kisah dengan solid terasa sejak menit pertama film. Ia pun terasa semakin terasah untuk membuat penonton penasaran akan apa yang akan terjadi berikutnya, kendati masih ada titik di babak kedua yang terasa semacam repetisi dan bahkan membuat alur plot agak menurun ke titik jenuh, sebelum akhirnya berhasil back on track yang kembali mengalir lancar sebagai konklusi. Sedangkan sebagai sutradara, kepekaan dan kepiawaiannya pun makin terasah. Untuk pertama kalinya saya merasakan begitu tersentuh oleh salah satu adegan paling emosional, sekaligus dibuat tersenyum dengan konklusinya yang dewasa dan manis di film Dika. Juga, yang paling noticeable bagi saya adalah keterampilan menampilkan dua adegan dalam satu frame dengan nilai ketertarikan yang sama besar tanpa kesan fokus terpecah. Ada sedikit ‘rasa’ (500) Days of Summer dibubuhkan di beberapa momen, tapi tidak sampai terkesan menjiplak. Soal joke, well… Jika Anda termasuk cocok dengan joke absurd Dika selama ini, mungkin merasakan kadar yang menurun, tergantikan oleh kadar joke dengan setup ala komedi situasi yang semakin meningkat. Tak semuanya berhasil membuat saya terbahak-bahak, tapi setidaknya bisa membuat saya tersenyum dan memahami letak kelucuannya. Nilai plus lainnya, Dika berhasil memunculkan public placement dengan cara yang cukup fresh tapi tetap noticeable.

Sayangnya, as an actor, Dika masih di zona yang sama seperti film-film sebelumnya. Masih dengan ekspresi wajah (dan juga pengucapan dialog) serba datar. Sekalinya menampilkan ‘emosi’ lebih, itu untuk tujuan komedik. Acha Septriasa seperti biasa, tetap berhasil membuat karakternya terasa ‘hidup’ dan menarik bagi penonton meski tergolong antagonis. Namun tentu saja perhatian penonton akan paling banyak dialihkan oleh performance Sheryl Sheinafia yang terasa paling ‘hidup’ dengan keseimbangan yang sangat baik ketika membawakan adegan komedik maupun adegan pemancing emosi terdalam. Sementara di antara pemeran pendukung dan figuran yang diwarnai wajah-wajah populer, Cut Mini sebagai Mama Dika berhasil menjadi pencuri perhatian, terutama karena keluwesannya membawakan joke-joke ala Dika. In many comedic moments, justru yang paling berhasil adalah yang dibawakan olehnya. Kemudian ada Anggika Bolsterli yang penampilannya sangat mengingatkan saya akan sosok Zooey Deschanel. Meski sebelumnya pernah tampil di Youtubers dan Get Married 5, baru kali ini saya dibuat begitu terpesona. Karena penampilannya pula, saya jadi menyadari kepiawaian Dika dalam membuat aktris-aktris wanita muda yang meski tak bisa digolongkan pendatang baru, tapi membuat sosoknya lebih bersinar dan semakin dikenal lewat film-filmnya. Terakhir, saya tak boleh lupa menyebutkan nama Adipati Dolken yang lewat penampilan sekilasnya berhasil menjadi momen emosional terbaik sepanjang film, bahkan mungkin juga penampilan Dolken paling berkesan sepanjang karir aktingnya sampai saat ini, setidaknya bagi saya. 

Sisanya, masih ada Nino Fernandez yang sedikit banyak mengingatkan akan peran sejenis di franchise Get Married, Ernest Prakasa, Dede Yusuf, Dwi Sasono, Lydia Kandou, Muhadkly Acho, Karina Nadila, Bene Dion, Fico Fachriza, Yudha Keling, Kevin Anggara, Jessica Mila, Fero Walandouw, Kevin Julio, Henky Solaiman, Ronny P. Tjandra, sampai adik-adik kandung Raditya Dika; Yudhita, Kianty, Gianty, dan Edgar, yang hampir kesemuanya noticeable di adegan masing-masing.

Di teknis, hampir kesemua aspeknya mendukung produksi dengan baik. Mulai sinematografi Enggar Budiono yang mem-framing adegan-adegan sederhana terasa menjadi lebih efektif dan kaya dalam bercerita, hingga editing Cesa David Luckmansyah yang sudah tak perlu diragukan lagi kepiawaiannya dalam menjaga koherensi dan pace penuturan cerita. Andhika Triyadi sebagai penata musik juga layak mendapatkan kredit dalam membuat adegan-adegan komedik terasa lebih witty dan adegan-adegan emosionalnya menjadi lebih menyentuh, sama sekali tanpa ada kesan over-dramatic. Sebagai bonus, Sheryl Sheinafia menyumbangkan lagu Kedua Kalinya yang menambah 'baper' (=bawa perasaan) adegan diletakkannya lagu tersebut.

Seiring dengan kedewasaan fansnya, wajar jika Dika juga merasa perlu membuat karyanya lebih dewasa, terutama berkaitan dengan tema-tema signatural yang sudah relate secara kuat dengan fansnya. Mungkin bagi fansnya pula, KK terasa ‘kurang lucu’ jika dibandingkan film-film sebelumnya. Tapi saya rasa ada elemen cerita yang lebih valuable untuk disampaikan di balik substitusi humor yang mulai diarahkan ke komedi situasi tertata. Itu adalah effort sekaligus pencapaian lebih yang patut diapresiasi dari Dika lewat KK.

Lihat data film ini di filmindonesia.or.id.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Monday, July 11, 2016

The Jose Flash Review
Sabtu Bersama Bapak

Masih ingat dengan Jomblo, sebuah komedi tentang mahasiswa-mahasiswa jomblo yang sempat booming di tahun 2006? Film produksi SinemArt Pictures yang disutradarai Hanung Bramantyo dan berhasil mengundang sekitar 600.000 penonton plus dinominasikan untuk tiga ketegori di FFI ini diangkat dari tangan dingin seorang penulis novel bernama Adhitya Mulya. Jomblo adalah novel debutnya yang dirilis tahun 2004. Dari novel ini jugalah kepiawaian Adhitya dalam menulis kegelisahan pribadi menjadi menarik, bermakna, dan punya humor-humor khas yang segar. Kiprahnya di film dilanjutkan dengan menulis naskah Test Pack: You are My Baby (2012) yang merupakan adaptasi dari novel karya sang istri, Ninit Yunita. Tahun 2014 ia menelurkan novel Sabtu Bersama Bapak (SBB) yang segera menjadi bahan pembicaraan di mana-mana. Premise-nya sederhana. Seorang bapak yang baru saja didiagnosis terkena kanker dan tak punya banyak waktu, meninggalkan pesan-pesan dalam rekaman-rekaman video untuk ditonton kedua putranya tiap hari Sabtu sepulang sekolah. Sedikit mengingatkan saya akan My Life without Me (2003). Tapi jika My Life Without Me tergolong film drama depresif yang ‘hanya’ berfokus pada hari-hari terakhir seorang ibu pengidap kanker, maka SBB mengeksplor jauh ke depan sebagai dampak dari berpulangnya sosok orang tua ketika anak-anaknya masih kecil. Dengan kemasan yang lebih berwarna, pula. Kemudian Monty Tiwa yang pernah mengarahkan Test Pack tertarik untuk mengangkatnya ke layar lebar di bawah bendera Max Pictures (sebelumnya Maxima Pictures, tapi akhirnya memutuskan menggunakan nama Max Pictures untuk PH, sementara Maxima sendiri konon akan fokus di bisnis eksibisi) dengan bantuan dari Falcon Pictures. Satu per satu aktor papan atas tanah air direkrut untuk menghidupkan drama keluarga yang berani meramaikan bursa Film Lebaran tahun ini. 

Kehidupan keluarga Gunawan Garnida terguncang ketika dirinya divonis tak berusia lama lagi karena kanker yang diidapnya. Tak ingin berlarut-larut dalam kesedihan, ia segera mempersiapkan segalanya untuk masa depan sang istri, Itje, serta kedua anaknya, Satya dan Cakra yang masih kecil, setelah ia berpulang. Peninggalan paling berharga adalah rekaman video berisi pesan-pesan dengan berbagai topik hingga Satya dan Cakra menikah. Ratusan rekaman video itu diputarkan oleh sang Ibu tiap hari Sabtu setelah Satya dan Cakra pulang sekolah. Setelah dewasa, kedua putranya ini menjalani hidup sesuai ajaran sang ayah lewat rekaman video. Satya dan istrinya, Rissa, dikaruniai dua orang anak laki-laki. Mereka tinggal di Paris, mengikuti pekerjaan Satya. Sementara Cakra masih menjomblo di usianya yang sudah melewati kepala tiga. Padahal posisinya di kantor sudah mencapai level Deputy Director di sebuah bank nasional dan serba mapan. Anak-anak buahnya, terutama Firman dan Wati seringkali membantunya mencari jodoh, termasuk ketika muncul karyawan baru di divisi lain yang ditaksir Cakra, Ayu. Sayang, Cakra yang canggung dengan wanita (terutama yang ditaksirnya) sering salah tingkah dan justru dianggap orang aneh oleh Ayu. Kini giliran Satya dan Cakra sama-sama ditantang untuk menjalani sendiri peran sebagai seorang (dan calon) suami serta bapak sesuai yang diamanatkan Sang Bapak dulu.

Sebagai orang yang lebih tertarik medium film ketimbang buku, saya seringkali nonton film adaptasinya dulu sebelum membaca versi buku. Itu pun jika filmnya berhasil membuat saya tertarik dan penasaran dengan versi buku. Begitu pula dengan SBB. Dengan berbekal trailer (yang sebenarnya lebih menonjolkan sisi melankolis dan tearjerker sebagai komoditas utama SBB), saya (dan saya yakin, banyak pula calon penonton non-pembaca bukunya) yang mengira SBB adalah drama penguras air mata yang bersumber dari karakter sang bapak, Gunawan. Ternyata saya salah. SBB sebenarnya lebih tepat sebagai sebuah pelajaran parenting, terutama untuk para (dan calon) bapak. Tidak salah jika trailer mencitrakan sebagai film penguras air mata, toh citra tersebut jelas jauh lebih menjual bagi penonton Indonesia ketimbang sebagai ‘pelajaran parenting’. Bagi saya, konsep ‘parenting lesson’ ini jelas jauh lebih menarik ketimbang just another tearjerker movie with disease exploitation. Memang benar nasehat-nasehat Gunawan lewat rekaman video menjadi elemen penting dalam cerita, tapi ternyata lebih sebagai sebuah setup dari konflik-konflik utama yang membuat nasehat-nasehat Gunawan bukan hanya pelajaran verbal semata, melainkan tantangan yang tak mudah dijalankan. Misalnya menjadi suami dan bapak untuk kedua anaknya ternyata tak harus selalu sesuai dengan yang diamanatkan Gunawan untuk Satya mentah-mentah. In the pursuit of family perfection tak bisa dicapai dengan cara-cara kaku. Tiap orang punya kelebihan dan kekurangan yang harus dipahami. Begitu juga menjadi sosok yang bertanggung jawab, mempersiapkan segalanya sebelum berani melamar seorang wanita, ternyata tak sepenuhnya membuat Cakra bisa dengan mudah mencari pasangan yang tepat. Ada yang harus dikorbankan. Kejadian demi kejadian membuat Satya dan Cakra harus menemukan jalan mereka sendiri.

Tearjerker yang mengharu-biru (apalagi dengan campaign #RinduAyah yang coba dibuat viral oleh Monty) tetap dihadirkan seperti yang dicitrakan lewat trailer. Bahkan masih berhasil pada momen-momennya. Namun itu bukanlah satu-satunya amunisi Monty untuk menarik perhatian penonton. Seperti yang dituangkan dalam novel, kadar drama rumah tangga yang mungkin terkesan tipikal tapi sangat realistis menjadi porsi paling dominan, diikuti bumbu komedi (khas Adhitya Mulya, sekaligus khas Monty Tiwa) yang bisa lebih mudah dihadirkan lewat sub-plot Cakra dan ke-jomblo-annya dengan porsi yang lebih sedikit tapi ternyata justru lebih membekas. Didukung karakter Firman dan Wati yang memang berhasil membuat suasana menjadi pecah. Secara garis besar, Monty masih mampu meringkas novelnya menjadi satu paket tontonan yang tetap berhasil menyampaikan poin-poin penting lewat jalinan cerita yang disusun, meski masih menimbulkan beberapa pertanyaan yang ada di novelnya. Monty menjadikan SBB drama yang mengalir sederhana bak film-film drama besutannya. Ada beberapa blend antara haru dan hura yang masih terasa kurang menyatu, tapi setidaknya masih berhasil dijembatani dengan cukup baik lewat editing sehingga perpindahannya tak terlalu tearasa signifikan (bahasa Jawa: njeglég). 

Banyak penonton yang menilai SBB sebagai film tentang seorang anak kepada Sang Bapak. Namun bagi saya SBB justru lebih tentang Bapak kepada anak-anaknya, terutama cara mengasuh dan mendidik agar menjadi pribadi yang siap menghadapi hidup sendiri kelak. Malahan, SBB mendobrak banyak konsepsi tentang parenting, terutama peran serta kedudukan orang tua dan anak menurut budaya Timur, kemudian persepsi bahwa semua wejangan orang tua harus didengarkan dan dijalankan secara absolut, apalagi dari sosok yang sudah tiada (yang biasanya menjadi lebih di-‘dewa’-kan). Padahal dibutuhkan pula pengalaman, ilmu, dan kejelian. Jika tidak, buat apa punya kehidupan dan keluarga sendiri jika hanya menduplikasi sang Bapak, bukan?

Dengan jajaran cast papan atas nasional, SBB jelas punya kekuatan yang besar di divisi akting. Pemilihan Abimana Aryasatya bersanding dengan Ira Wibowo awalnya membuat saya mengerutkan kening. Ternyata Ira mampu menghidupkan karakter Itje mulai usia 30-an (setara dengan karakter Abimana) sampai usia lanjut dengan sangat baik dan meyakinkan. Tak ada kesan ‘aneh’ ketika keduanya bersanding, tak ada pula kesan ‘maksa’ ketika Ira tampil dengan berbagai ciri fisik penuaan. Abimana seperti biasa, sangat berwibawa dan tampak bijaksana, sangat cocok sebagai sosok Gunawan Garnida. Ira pun memberikan performa yang convincing, baik ketika membangun chemistry yang kuat dengan Abimana, maupun sebagai ibu yang tak kalah bersahaja.

Sementara Arifin Putra dan Acha Septriasa juga menunjukkan chemistry yang tak kalah kuatnya. Masing-masing pun memberikan performa akting di atas rata-rata. Begitu convincing, baik sebagai pasangan maupun orang tua, dengan emosi yang begitu pas. Deva Mahenra akhirnya menemukan karakter komedik yang hidup dan tak terkesan dibuat-buat. Pun ketika sampai pada momen-momen serius, ia tetap  bisa menarik simpati penonton. Sheila Dara Aisha sebagai Ayu cukup mencuri perhatian. Tak hanya lewat fisik, tapi juga pesona aura  yang juga tak kalah appealing. Terakhir, tentu tak boleh melupakan peran Jennifer Arnelita sebagai Wati dan Ernest Prakasa sebagai Firman yang jelas menjadi ‘pemecah’ suasana paling menonjol. Sayang terdapat turn-off untuk pemeran kedua putra Satya-Rissa; Ryan dan Miku yang kemampuan akting yang masih jauh dari kata layak.

Sinematografi Rollie Markiano menghadirkan shot-shot yang sesuai dengan kebutuhan storytelling sekaligus pergerakan kamera yang sangat pas dengan mood keseluruhan film, baik ketika momen mellow maupun komedi. Hanya saja (fake) lens-flare yang menghiasi di hampir tiap shot sebenarnya terlalu berlebihan dan sangat mengganggu. Ryan Purwoko turut menyusun film dengan pace yang serba pas, berhasil menjaga mood film, dan efektif dalam menyampaikan poin-poin penting cerita. Desain produksi Angga Prasetyo memberikan elemen-elemen yang terkesan sederhana, tapi tetap menarik dan catchy di tiap setting cerita, mulai rumah keluarga Garnida di Bandung, kantor Cakra, sampai rumah keluarga Satya di Paris. Terakhir, musik dari Andhika Triyadi menjadi penggerak emosi yang tak kalah penting. Tak hanya musik-musik stirring yang mencoba 'menyayat' perasaan penonton. Favorit saya saat adegan mimpi Satya-Bapak, Satya Kangen Bapak. Tak ketinggalan pemilihan lagu yang catchy. Lagu Cinta dari Iwan Fals begitu membuat suasana romantis antara Gunawan-Itje menjadi sangat syahdu, sementara I’m Sorry dari Wizzy membuat adegannya semakin heart-breaking.


Bagi Anda yang belum membaca novelnya, saya menyarankan untuk menonton versi filmnya terlebih dulu, seperti yang saya lakukan. Dengan urutan demikian, saya berhasil meresapi tiap emosi yang coba dihadirkan. Ketertarikan saya akan topik yang diangkat pun tergugah dengan teramat sangat dan memutuskan membaca versi novel yang ternyata punya detail lebih. Alhasil, saya mendapatkan pengalaman sekaligus konsep yang lebih utuh, baik tentang parenting yang menjadi tema utama, sekaligus (re-) storytelling Monty Tiwa yang mampu merangkum cerita SBB sesuai dengan poin-poin pentingnya. Bayangkan jika saya membaca novel baru filmnya, bisa jadi saya lebih banyak terfokus untuk mencari-cari apa yang sama dan berbeda dari novelnya ketimbang merasakan tiap emosi yang berusaha ditampilkan Monty, para cast, dan kru lainnya. Secara garis besar, saya menganggap SBB sebagai film adaptasi yang berhasil, sekaligus film keluarga, terutama bagi para (dan calon) orang tua, yang penting untuk ditonton dan dialami.

Lihat data film ini di filmindonesia.or.id.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates