Selamat Hari Film Nasional

Celebrate Film Nasional by watching Film Indonesia. Find one suits you here.

The Guys

Raditya Dika on his following project in 2017.
Read more.

Stip dan Pensil

Ernest Prakasa to go back to the high school and learn to teach people around.
Opens April 19.

Kartini

Hanung Bramantyo pick Dian Sastrowardoyo to portray Kartini in her new version of biopic.
Opens April 19.

Fast and Furious 8

When someone has broken the solid family, will they still believe in theirs?
Read more.

Sunday, May 29, 2016

The Jose Flash Review
Money Monster


Sub-genre real-time thriller bisa dibilang sangat jarang dibuat, bahkan di Hollywood sekalipun. Namun keunikannya menyuguhkan ketegangan lewat hitungan waktu yang sejalan dengan apa yang dialami penonton di layar memberikan keasyikan mengikuti alur plotnya, terutama faktor ‘terasa nyata’ yang lebih. Sejauh ini film real-time thriller yang bisa saya sebutkan secara spontan karena saking berkesannya adalah Phone Booth dari Joel Schumacher dan Buried dari Rodrigo Cortés. Tahun 2016 ini, satu real-time thriller dihadirkan kembali dengan tema media, terutama pertelevisian yang digabung dengan tema financial, terutama pasar saham. Naskahnya yang sempat masuk daftar Blacklist tahun 2014 sebagai unmade script yang paling disukai, disusun oleh kolaborasi Jamie Linden (We Are Marshall, Dear John), Alan DiFiore, dan Jim Kouf (Rush Hour, Snow Dogs, National Treasure 1-2, dan Taxi versi US), serta dikomandoi oleh aktris Jodie Foster yang menandai karir penyutradaraan film panjang keempat setelah terakhir, The Beaver tahun 2011. Jajaran cast diisi duet aktor-aktris papan atas, George Clooney dan Julia Roberts.

Money Monster (MM) adalah program TV yang membahas tentang dunia financial, dengan host fenomenal yang sedang di puncak karir, Lee Gates. Di episode terakhir sebelum pindah kerja ke sebrang jalan, sang sutradara, Patty Fenn mendapatkan kejutan ketika seorang pria misterius tiba-tiba masuk ke studio yang sedang syuting live dengan membawa senjata dan memaksa Lee mengenakan rompi berpeledak. Pria yang diketahui bernama Kyle Budwell ini menuntut tanggung jawab atas saran yang diberikan Lee seminggu sebelumnya untuk membeli saham sebuah perusahaan bernama Ibis. Sehari sebelum kejadian itu, pihak Ibis yang dikepalai Walt Camby, mengklaim adanya glitch pada sistem sehingga ‘uang’ milik pemegang saham sirna begitu saja. Kyle kehilangan US$ 60.000 yang merupakan semua uang yang ia punya. Menolak ganti rugi bernilai sama dari Lee, Kyle menuntut penjelasan langsung dari Walt Camby yang seharusnya menjadi bintang tamu di acara tersebut tapi raib entah ke mana.

Kondisi di kantor Ibis pun tak kalah paniknya. Diane Lester selaku juru bicara perusahaan pun penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi pada saham Ibis karena uang senilai ratusan juta dollar mustahil hilang begitu saja dalam semalam. Bekerja sama dengan Patty, Diane mencari tahu ke mana saja Walt selama ‘menghilang’. Penyelidikannya sampai melibatkan pakar alogritme Ibis yang ada di Korea Selatan, Won Joon. Karena rasa penasaran, mereka semua, bahkan publik luas, menjadi balik mendukung Kyle, sambil terus mengikuti perkembangan kasus Ibis secara live di TV, hingga klimaks yang mengungkap semuanya.

Di permukaan, MM adalah sebuah real-time thriller tentang hostage yang mengambil latar dunia pertelevisian dan narasi dunia finansial. Konsep gabungan ini saja sebenarnya sudah terdengar menarik. Apalagi sebagai sebuah thriller, sentuhan Foster ternyata teramat sangat gripping (bahkan ada momen di mana saya berhasil dibuat spontan berteriak!), tanpa meninggalkan kesan realistis dengan menampilkan karakter Kyle yang just an ordinary man, bukan penjahat profesional kelas kakap. Namun menurut saya, justru orang biasa macam Kyle ini bisa jadi lebih membahayakan ketika sudah pada titik didihnya. We’ll never know how far he will go and what will happen to him. Alur plot yang disusun pun terkesan berjalan mulus, tanpa sedikit pun terasa draggy. Memposisikan karakter Kyle, Lee, dan Walt secara berurutan serta bergantian sebagai villain yang kemudian akhirnya tergantikan oleh karakter yang lain, menjadi faktor menarik berikutnya yang patut dicatat.

Namun yang paling saya kagumi dari MM adalah konsep lebih besar yang coba dihadirkan. Pernahkah Anda kecewa dengan sesuatu, misalnya layanan umum, tapi malas untuk memprotes karena faktor waktu yang terbatas atau menganggap tak worth untuk diurusin? Baru ketika ada orang lain yang berani buka suara untuk memprotes, Anda baru memberikan dukungan kepadanya. Setujukah Anda jika perubahan atas sesuatu yang tidak benar hanya bisa berubah dan diperbaiki jika ada yang berani mengambil tindakan ekstrim untuk mengubahnya? Benar, dimana pun, bahkan di Amerika Serikat sekalipun, ada banyak hal menyangkut kepentingan umum tapi tak banyak yang berani bersuara. Dukungan baru diberikan kepada orang yang akhirnya berani bersuara. Namun ketika orang tersebut gagal, publik yang tadinya mendukung akan diam saja dan kembali ke rutinitas sehari-hari seperti tak pernah terjadi apa-apa. Itulah sindiran yang saya sebut sebagai cermin besar untuk siapa saja, tak hanya yang terlibat di pasar saham ataupun media. Tepat setelah ‘drama penyanderaan’ berakhir di siaran TV secara live, semua orang yang seharian mengikuti perkembangannya tiap detik di depan TV dan sempat mendukung Kyle, kembali beraktivitas seperti biasa seperti tak pernah terjadi apa-apa. Lewat lapisan-lapisan yang sebenarnya sudah menarik dan sangat bold, naskah MM dan Foster ternyata menawarkan bigger picture yang jauh lebih menohok dan berlaku universal untuk siapa saja. Very impressive!

Baik George Clooney maupun Julia Roberts sama-sama memberikan performa yang maksimal. Clooney tentu tak sulit menghidupkan karakter Lee dengan star charm power yang sama, tak terkecuali perkembangan karakter ketika berbalik mendukung Kyle dan berani beraksi lebih for bigger cause. Roberts pun tak menemui kesulitan memerankan karakter Patty yang cerdas, bijak, sekaligus berani. Keduanya pun berhasil menjalin chemistry yang begitu convincing dan konsisten meski ada cukup banyak adegan yang harus diambil terpisah terkait perbedaan jadwal. Jack O’Connell juga sangat convincing sebagai Kyle, just ordinary man yang nekad melakukan apa saja ketika berada di titik didih. Meski bisa melihat dengan jelas ketakutan dan keraguan dalam ekspresi wajahnya, saya tetap merasa terancam dengan kehadirannya yang tampak bisa nekad melakukan apa saja tanpa memperhitungkan konsekuensinya.

Di lini berikutnya, Caitriona Balfe sebagai Diane Lester berhasil mencuri perhatian saya. Tak hanya dari segi fisik yang punya pesona kecantikan serta keanggunan tersendiri, karakternya diberi porsi peran yang lebih sehingga dengan mudah menarik simpati penonton. Terakhir, Dominic West yang mengisi sosok Walt Camby, menampilkan kharisma villain yang cukup kuat meski screen presence-nya tergolong sedikit.

Real-time thriller macam MM tentu membutuhkan timing yang serba tepat, agar momen-momen ketegangannya tak kendur sedikit pun, tapi tetap menjaga realisme serta poin-poin yang ingin disampaikan. Matt Cheese sebagai editor terbukti mampu mengemban tugasnya dengan teramat sangat baik. Begitu juga sinematografi Matthew Libatique yang tak hanya mampu ber-storytelling dengan baik, tapi juga mendukung emosi lebih di beberapa momen terpentingnya yang dipertajam scoring dari Dominic Lewis.

Sekilas saya dengan mudah dibuat jatuh cinta oleh kemampuan Foster menghadirkan real-time hostage thriller yang begitu gripping, akting para cast yang menghidupkan karakter-karakter yang ditulis dengan sangat baik dan realistis. Berkat konsep besar yang ternyata tak hanya ‘percikan-percikan’ satir kecil sejak awal film, tapi menjadi konklusi yang begitu menggugah di akhir, saya harus mengakui MM sebagai film yang berhasil menjadi begitu bold, dengan kemasan gripping thriller yang sangat menghibur. Tenang saja, aspek financial di sini masih bisa dipahami penonton super awam sekalipun. So, I really really suggest you not to miss my this year’s most favorite, so far.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Friday, May 27, 2016

The Jose Flash Review
Warcraft

Dimulai dengan sebuah video game real time strategy (RTS) yang dirilis pertama kali tahun 1994, Warcraft berkembang menjadi salah satu franchise video game raksasa sepanjang masa. Sampai 2016 ini sudah beredar enam judul game core (tak termasuk expansion pack-nya) dengan genre yang berkembang pula. Dari RTS hingga massively multiplayer online role-playing game (MMORPG) dan digital card game, diikuti novel, komik, manga, dan bahkan punya majalah sendiri. Tinggal satu format yang belum: film layar lebar. Ada alasan kenapa Blizzard Entertainment terkesan sangat berhati-hati memberikan hak adaptasi layar lebarnya, mengingat reputasi film adaptasi dari game yang nasibnya bak kutukan. Meski rencana adaptasi layar lebar sudah diumumkan sejak 2006, pergantian naskah dan sutradara mewarnai perkembangannya. Dari sisi naskah, Blizzard tak mau adaptasi Warcraft ini menjadi terlalu mirip dengan The Lord of the Rings yang begitu populer. Sementara dari sisi sutradara, tercatat ada director yang (notoriously) dikenal sebagai ‘spesialis’ adaptasi game, Uwe Boll, Sam Raimi, hingga akhirnya jatuh ke tangan Duncan Jones, putra David Bowie yang daftar filmografinya baru Moon dan Source Code tapi punya reputasi yang baik. Di tangan Jones pun, Warcraft tak sepenuhnya mulus, mengingat Jones sempat menghadapi beberapa masalah pribadi dalam prosesnya. Mulai sang istri yang didiagnosis kanker payudara hingga kematian sang ayah. Dengan mengaku naskah yang ditulis berdasarkan plot novel Warcraft: The Last Guardian, installment pertama Warcraft di layar lebar akhirnya siap tayang di musim panas 2016 ini. Meski terkesan ‘segmented’, pemain dan penggemar game-nya yang terbukti mencatat angka bersejarah, tentu kiprah pertamanya ini tak boleh diremehkan begitu saja. Tak hanya Jones, Charles Leavitt (Blood Diamond, Seventh Son, dan In the Heart of the Sea) yang berkolaborasi denganya dalam menyusun naskah, juga menjadi alasan tambahan.

Hikayat Warcraft dimulai dari dunia para orc bernama Draenor yang sedang sekarat. Menurut Gul’dan, sang pemimpin, satu-satunya harapan mereka adalah dunia baru bernama Azeroth lewat sebuah portal yang hanya bisa dibuka dengan kekuatan magis bernama Fel. Meski meragukan Gul’dan, seorang kepala suku Frostwolf bernama Durotan, bersama istrinya yang sedang hamil, Draka, dan Orgrim memutuskan untuk bergabung.

Sementara itu di kerajaan Azeroth, seorang komandan militer, Sir Anduin Lothar, mendapatkan laporan serangan desa-desa manusia yang menurut Khadgar, seorang penyihir muda, akibat dari kekuatan Fel. Khadgar merekomendasikan untuk berkonsultasi kepada gurunya, Medivh. Mengikuti jejak Fel, Lothar, Khadgar, dan Medivh diserang oleh kaum orc. Dari bentrokan ini, mereka berhasil menangkap seorang tawanan wanita separuh-orc bernama Garona. Awalnya mereka berniat memanfaatkan Garona untuk menyerang kaum orc, tapi setelah mengetahui rencana jahat Gul’dan, diupayakanlah sebuah perundingan diplomatis antara orc dan manusia. Namun rupanya pengaruh Gul’dan terlalu kuat hingga perang antara kaum manusia dan orc pun tak terelakkan.

Jujur, saya bukan pemain (apalagi fans) games-nya. Jangankan main, tertarik untuk main saja tidak. But hey, adaptasi film layar lebar (apalagi installment pertama) seharusnya mampu memperkenalkan ‘universe’-nya dengan efektif. Syukur-syukur bisa membuat penonton ‘awam’ tertarik mengikuti ceritanya atau mulai main game-nya. Harapan yang sama pun sempat terbersit dalam pikiran saya. Sejak awal, atmosfer bak The Lord of the Rings memang tak bisa dielakkan. Keduanya sama-sama punya creature orc, ada perang yang melibatkan manusia dan orc, dan yang paling penting, sama-sama bersetting dunia fantasi yang serupa. Namun Warcraft sudah membuat saya tak peduli dengan jalinan plot yang ada sejak pertama kali bergulir. Menurut analisis dugaan saya, penyebabnya adalah adaptasi yang masih terlalu mentah dari game (apalagi strategi dan RPG) ke dalam format cerita layar lebar. Saya bisa merasakan cukup banyak adegan terkesan berbelit-belit ala RTS dan RPG. ‘Langkah-langkah’ ini mungkin cukup seru dan bikin penasaran ketika berada di konsol game dimana pemain dibuat penasaran dan berpikir untuk menentukan nasib berikutnya. Sedangkan di layar lebar dimana penonton tinggal duduk manis dan menikmati cerita, tentu ini memberikan kesan bertele-tele. Apalagi sebenarnya plot dasar Warcraft (setidaknya, di installment ini saja) tergolong sangat-sangat generik di genre petualangan fantasi.

Jangankan muatan filosofis-filosofis mendalam, layer cerita yang membuat penonton tertarik, misalnya untuk menganalisis karakter sehingga ikut peduli dan menebak what will happen next saja tidak ada. Maka tak salah jika banyak (terutama yang berasal dari non-pemain game-nya) yang merasakan capek dan kemalasan untuk mengikuti plotnya. Even worse, saya bisa melihat para cast yang seolah-olah berusaha menahan tawa untuk mengolok-olok lakon yang mereka perankan sendiri. Adegan-adegan perang memang ada di sana-sini tapi dengan konsep yang ‘biasa saja’ dan peletakan di antara adegan-adegan yang bertele-tele, excitement untuk menikmati atau sekedar mengikuti keseruan perangnya menjadi berkurang drastis.

Warcraft punya cukup banyak karakter dengan porsi yang nyaris sama besarnya sehingga konsentrasi penonton (setidaknya bagi saya) untuk benar-benar tercuri perhatiannya menjadi terbagi-bagi. Alhasil karakter-karakter, apalagi para aktor pemerannya, tak membekas terlalu banyak pasca film berakhir. Coba saya breakdown satu-satu. Paula Patton sebagai Garona menjadi aktor yang paling saya ingat sepanjang film. Selain menjadi ‘kaum minoritas’ di antara para pejantan, penulisan karakternya memang menjadi yang paling menarik. Kemudian Ben Schnetzer sebagai penyihir muda, Khadgar yang juga menarik dan punya porsi peran yang cukup penting. Sementara Travis Fimmel sebagai Lothar, Ben Foster sebagai Medivh, dan Dominic Cooper sebagai Llane Wrynn punya porsi peran yang kurang lebih sama.

Di peran-peran motion capture, Toby Kebbell (Durotan), Anna Galvin (Draka), Daniel Wu (Gul’dan) tak buruk, tapi karena bukan ‘barang baru’ lagi di perfilman dunia dan juga harus berbagi porsi daya tarik, penampilan ketiganya tak bisa dianggap istimewa pula. Terakhir, aktris Ethiopia yang sedang naik daun, Ruth Negga (serial Agents of S.H.I.E.L.D., Preacher, dan next di karya Jeff Nichols kedua di tahun 2016 ini, Loving) sebenarnya mengisi karakter yang tak terlalu punya peran penting, tapi penampilannya cukup berhasil mencuri perhatian saya.

Meski punya plot yang tak membuat saya tertarik mengikuti, Warcraft masih menawarkan kemegahan visual effect yang setidaknya masih bisa membuat saya bertahan mengikutinya. Bisa dibilang, Warcraft sangat ambisius dalam menampilkan visual effect. Lihat saja ada berapa firma effect yang dilibatkan, termasuk yang punya reputasi paling atas di Hollywood; Industrial Light & Magic dan Weta. Apalagi format 3D yang harus saya akui, terbaik di tahun 2016 ini, so far. Depth of field-nya luar biasa. Bahkan untuk shot close-up orc pun terasa sekali kesan gigantic dan grandeur-nya. Beberapa gimmick pop-out ditampilkan tapi karena untuk adegan yang ‘biasa-biasa’ saja, sehingga tak memberikan efek kejut dan fun yang cukup berarti.

Sinematogafi Simon Duggan lebih dari cukup untuk menyampaikan cerita, termasuk beberapa shot ala RPG yang memberikan efek keseruan lebih. Meski secara keseluruhan belum ada adegan yang bisa memberikan kesan ‘luar biasa’. Editing Paul Hirsch pun cukup tepat sesuai pace yang diinginkan Duncan. Kesan plot yang bertele-tele terasa sudah coba diminimalisir. Jika masih terasa, itu lebih karena faktor naskah ketimbang editing. Terakhir, scoring dari Ramin Djawadi juga cukup menghidupkan kesan megah dan seru, meski (lagi-lagi) tak memorable, apalagi hummable.

Untuk format 4DX, Warcraft sebenarnya menawarkan gimmick efek yang cukup komplit. Mulai motion seat, vibrating seat, water spray, kilauan blitz, wind, dan ankle shock. Beberapa shot first person pun menawarkan efek experience yang lebih. Notable moment untuk adegan-adegan sorcery yang melibatkan motion seat bak gempa, kilauan blitz, dan hembusan angin kencang.

Dengan presentasi yang coba ditawarkan, installment pertama Warcraft ini sebenarnya tak tergolong buruk. Sayangnya, bahkan Jones-Leavitt (Leavitt sendiri sebenarnya juga tak berhasil membuat Seventh Son yang setipe jadi lebih menarik) pun belum bisa membuat hikayatnya menarik perhatian penonton non-gamer. Sekali lagi terbukti bahwa adaptasi game ke layar lebar sama sekali bukan pekerjaan yang mudah. Malah mungkin lebih sulit ketimbang adaptasi novel atau komik. Faktor utamanya jelas medium yang sangat jauh berbeda. Jika novel dan komik sama seperti film yang tinggal dinikmati oleh penikmat, game masih harus melibatkan peran pemain. Namun jika Anda tergolong pemain, apalagi jika sampai menjadi salah satu fan-nya, adaptasi ini jelas pantang untuk dilewatkan. Selebihnya, nikmati saja sajian visualnya yang memang memanjakan mata.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Sunday, May 22, 2016

The Jose Flash Review
My Stupid Boss


Entah sejak kapan buku berisi sketsa-sketsa komedi booming di Indonesia. Correct me if I’m wrong, seingat saya sejak Raditya Dika meluncurkan buku pertamanya, Kambing Jantan, satu per satu buku berisi sketsa-sketsa komedi bermunculan dengan style dan tema yang tak jauh berbeda, yaitu seputar asmara, kejombloan, dan self-mocking. Fenomena mengekor sudah biasa terjadi di Indonesia. Untungnya di tengah kolam yang semakin sesak dan basi, muncul buku sketsa komedi bertajuk My Stupid Boss tahun 2009 silam. Buku sketsa komedi yang ditulis oleh seorang penulis berkode sandi Chaos@work terasa beda tapi tetap dekat dengan segmennya yang cukup luas di Indonesia karena berfokus pada dunia kantor serta hubungan antara bos-karyawan. Kesuksesan pun membuat bukunya hingga 2016 ini sudah sampai pada jilid ke-5. Tentu saja kesuksesan sebuah buku membuat para produser film tertarik untuk mengangkatnya ke layar lebar. Apalagi ternyata film-film Raditya Dika yang juga diadaptasi dari buku-buku sketsa komedinya semakin lama semakin sukses mencetak angka box office. Tak mau main-main, Falcon Pictures mempercayakan salah satu sutradara/penulis naskah Indonesia yang dikenal punya style yang unik, Upi, dan pernah bekerja sama di produksi Belenggu, untuk menggarap naskah sekaligus mengarahkan. Sebagai daya tarik utama, Falcon juga menunjuk pasangan Habibie-Ainun, Reza Rahadian dan Bunga Citra Lestari, sebagai lead. Dengan berbagai elemen-elemen menarik yang sudah ada di tangan, My Stupid Boss (MSB) tak sulit untuk menuai sukses di pasaran.

Setelah sekian lama tak bekerja dan ikut sang suami, Dika, seorang konsultan perusahaan pertambangan yang lebih banyak bekerja di rumah, Diana memutuskan untuk mencari kesibukan dengan bekerja di perusahaan milik sahabat Dika ketika kuliah di Amerika Serikat yang berjuluk Bossman. Awalnya Diana dibuat bimbang setelah menyaksikan dengan mata kepala sendiri banyak karyawan yang memilih mundur setelah berhadapan dengan Bossman, termasuk seorang pengacara yang lebih memilih memecat dirinya sendiri. Namun berkat dukungan Dika, Diana memilih untuk mencobanya dulu. Benar saja, sejak hari pertama bekerja, satu per satu keganjilan dari perilaku dan pola pikir Bossman mulai membuat Diana jengah. Resign juga bukan solusi karena itu artinya Diana harus membayar penalti dari kontrak yang sudah ditandatangani. Akhirnya Diana memutuskan untuk melancarkan ‘perang mental’ dengan Bossman.

Premise bos vs karyawan di ranah perfilman Indonesia terhitung jarang (atau malah belum ada yang benar-benar dijadikan plot utama?) tapi punya relevansi dengan kebanyakan masyarakat Indonesia, terutama yang tinggal di kota besar dan bekerja di perusahaan. Sebagai sebuah adaptasi, Upi cukup piawai meracik sketsa-sketsa komedi dari sumbernya menjadi plot cerita yang lebih rapi, dibumbui dengan humor-humor khas dirinya sendiri. Itulah sebabnya sejak awal, MSB terasa begitu renyah dan fresh sebagai sebuah sajian komedi. Sebagian besar humor yang diusung mengandalkan perilaku-perilaku ganjil (baca: asshole) dari Bossman serta yang bersifat kultural, misalnya logat dan istilah Bahasa Jawa dari celetukan-celetukan Bossman ataupun budaya-budaya Melayu lainnya. Maka tak heran jika ada penonton yang tidak memahami Bahasa Jawa atau familiar dengan budaya Melayu gagal untuk dibuat tertawa. Namun tenang saja. Upi masih punya karakter-karakter pendukung yang ditulis dengan tak kalah menarik dan nyentrik untuk mengundang tawa, pun juga the whole atmosphere yang dibangun sebenarnya sudah bisa dengan mudah untuk membuat penonton sekedar tersenyum kok.

Sayangnya, kesegaran yang terasa dari joke-joke ini kian lama kian menurun dan terasa terjadi pengulangan konsep guyonan seiring dengan perkembangan plot yang pace-nya semakin menurun. Kemudian dimasukkan konsep ‘perang mental’ antara Diana dan Bossman yang membuat plotline kembali menarik untuk disimak. Sayangnya konsep bagus ini berhenti berlangsung. Alih-alih menjadikannya sebuah klimaks sekaligus pangkal dari konklusi, sebuah ‘anti-klimaks’ yang entah coming out of nowhere mencoba menjadi ‘twist’ yang terkesan menggampangkan penyelesaian dan juga ‘pesan moral’ yang dipaksakan masuk. Bisa saja sih jika Anda menganggap ‘twist’ ini sebenarnya akal-akalan Bossman saja. Upi pun masih mampu menangani ‘twist’-nya dengan emosi yang cukup tanpa meninggalkan karakteristik dari Bossman maupun Diana, tapi siapapun tetap saja bisa merasakan sebuah ‘anti-klimaks’ di sini.

Pasangan Reza Rahadian dan BCL semakin mengukuhkan diri mereka sebagai aktor-aktris papan atas Indonesia, baik dalam memerankan karakter masing-masing maupun membangun chemistry di antara keduanya. Dengan desain karakter yang ‘terinspirasi’ dari karakter Bobby Pellit di Horrible Bosses, terbukti Reza memberikan feel yang berbeda dan tetap menjadikan karakter Bossman signatural miliknya sendiri. Sangat komikal tapi tetap terasa natural. Sebuah presentasi akting komedi yang ternyata juga berhasil di antara filmografi seriusnya. Sementara BCL juga memberikan performa yang signatural pada karakter Diana yang sebenarnya kalau diteliti lagi juga ‘diinspirasi’ dari karakter populer lain, Amélie Poulain dari Le fabuleux destin d’Amélie Poulain. Namun di tangan BCL, karakter Diana menjadi begitu hidup dan unik dengan ekspresi-ekspresi wajahnya.
Di deretan pendukung pun masing-masing berhasil mencuri perhatian penonton berkat karakter-karakter yang ditulis dengan menarik. Mulai dari Bront Palarae (Adrian), Nadiya Nisaa (Sikin), Iskandar Zulkarnain (Azhari), serta tentu saja terutama, Chew Kinwah (Mr Kho). Tak ketinggalan Melissa Karim sebagai Bu Boss yang tak kalah gokilnya dibandingkan Bossman, Alex Abbad (Dika), sampai penampilan singkat (namun cukup noticeable) Richard Oh, Ronny P. Tjandra dan Nazyra C. Noer.

Bukan rahasia lagi jika karya-karya Upi selalu punya konsep visual yang unik dan tak tergarap asal-asalan, meski seringkali ‘terinspirasi’ dari berbagai elemen-elemen visual (dan terkadang juga elemen-elemen cerita). Secara keseluruhan visual MSB didominasi perpaduan warna merah dan hijau yang terasa dari desain kostum hingga set. Desain produksi yang seperti ini sebenarnya ‘sangat’ Le fabuleux d’Amélie Poulain. Tak ketinggalan scoring a la Yann Tiersen dengan dominasi alunan akordion yang digarap oleh Aghi Narottama. Tak terlalu orisinil memang, tapi upayanya menghadirkan desain produksi yang terkonsep sehingga tampak cantik secara visual (yang masih tergolong jarang dilakukan film-film Indonesia), layak mendapatkan kredit tersendiri. Apalagi kemudian sinematografi Muhammad Firdaus mampu merekam kesemuanya dengan sangat baik tanpa meninggalkan fungsi storytelling yang tetap menjadi prioritas utama. Terakhir, editing Wawan I Wibowo harus diakui punya andil yang cukup penting dalam membuat joke-joke sebagai komoditas utamanya berada pada timing-timing yang tepat, begitu juga menjaga emosi tiap kebutuhan adegan pada porsi serta timing yang pas.

Saya harus mengakui, mengadaptasi sebuah buku kumpulan sketsa-sketsa komedi menjadi satu skenario film utuh yang punya runtutan kronologis rapi dan baik tidak lah mudah. Bisa dibilang malah harus menulis plot utuh dari awal, baru kemudian memasukkan joke-joke dari materi asli. Untuk tugas itu, Upi saya anggap cukup berhasil, terutama konsep ‘perang mental’ yang menarik dan cerdas. Meski pada akhirnya konsep ini tak diteruskan hingga klimaks dan pemicu konklusi, digantikan twist coming out of nowhere (agak menggelikan memang, mengingat di bio twitter Upi tertulis “gak terima pesanan moral”, but who knows). Mungkin Upi lebih baik jika menulis dan menyutradarai materi ceritanya sendiri, tapi MSB jelas juga bukan karya yang digarap sembarangan. Angka penonton yang sampai tulisan ini dibuat sudah melewati 2 juta penonton (and still keep counting), membuktikan kiprah Upi kali ini bisa diterima selera penonton kita. Semoga ini menjadi semacam ‘pancingan’ untuk karya-karya Upi selanjutnya juga ditunggu banyak penonton. She deserves it.

Lihat data film ini di IMDb dan filmindonesia.or.id.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Aisyah: Biarkan Kami Bersaudara


Meski punya slogan Bhinneka Tunggal Ika, isu toleransi, terutama toleransi antar umat beragama, sampai sekarang masih menjadi isu yang seolah-olah hanya digembar-gemborkan lewat pelajaran sekolah, tapi faktanya selalu menjadi masalah sosial. Saya pribadi di jaman Orba sebenarnya tumbuh dengan toleransi yang terasa nyata sejak kecil. Intolerant baru terasa mencuat sejak era reformasi dimana setiap kubu (akhirnya) merasa punya hak untuk bersuara atas nama kepentingan masing-masing di atas bendera demokrasi. Sebagai bangsa yang baru belajar (benar-benar) berdemokrasi, konflik sosial akibat intolerant menjadi gejala yang wajar setelah berpuluh-puluh tahun harus membungkam diri jika tak mau didor oleh petrus alias penembak misterius. Namun seiring dengan intolerant yang semakin mengkhawatirkan dan melibatkan kekerasan, perlu ada gerakan positif untuk membawa balance toleransi antar golongan (terutama, antar umat beragama). Sineas-sineas kita tak sedikit yang ‘berani’ mengangkat tema ini secara terang-terangan. Terutama sekali Hanung Bramantyo yang meski dari luar sering mengangkat tema reliji, tapi sebenarnya lebih sebuah kritik sosial dengan latar belakang agama. Tanda Tanya (?) menjadi karyanya yang paling ‘vulgar’ meneriakkan stop terhadap intolerant. Sempat menuai kontroversi lewat visualisasi simbol-simbol yang terkesan ‘kasar’ dan blak-blakan, harus diakui Tanda Tanya menjadi salah satu film Indonesia terpenting dalam mengangkat isu intolerant.

Mungkin realita ini pula yang menggerakkan sutradara Herwin Novianto, yang sebelumnya kita kenal lewat Jagad X Code dan salah satu film yang berhasil menggugah jiwa nasionalisme saya meski tanpa alasan yang rasional, Tanah Surga… Katanya, sekali lagi mencoba mengangkat tema toleransi antar umat beragama yang lebih difokuskan untuk range audience lebih luas, terutama anak-anak. Tentu ini bukan pekerjaan yang mudah, karena harus mampu menyuarakan tema toleransi secara nyaring dengan kemasan yang sesederhana mungkin untuk dipahami siapa saja. Naskahnya ditulis oleh salah satu penulis naskah papan atas Indonesia, Jujur Prananto (Petualangan Sherina, AADC, tapi juga pernah berpengalaman menuliskan naskah film reliji dengan kemasan yang pop macam Doa yang Mengancam dan Haji Backpacker), sayang film bertitel Aisyah: Biarkan Kami Bersaudara (ABKB) ini tak dibarengi promosi yang layak. Mulai poster teaser yang menjadi bahan bully-an karena typo di mana-mana, hingga poster resmi yang terkesan ‘just another religious-themed drama’ dan cenderung cheesy. Mungkin dalam benak produser, drama reliji punya pangsa pasar sendiri yang banyak dan kuat di Indonesia. Kontan, tak ada daya tarik lainnya selain Laudya Cynthia Bella di lead role, serta komika Arie Kriting dan Ge Pamungkas di supporting role. Padahal sebenarnya ABKB punya selling point yang begitu besar dan target audience yang lebih luas ketimbang ‘hanya’ kaum muslim.

Merasa kecewa setelah sang ‘abang-abangan’ yang tiba-tiba pamit akan berangkat kerja di Aceh, Aisyah mengambil tawaran yayasan tempat ia bernaung untuk mengajar di sebuah dusun terpencil di Timor Tengah Utara. Sempat ditentang oleh sang ibu, Aisyah berhasil meyakinkan dengan petuah sang ayah tentang bekerja untuk berbagai kebaikan. Ternyata dusun terpencil ini kondisinya jauh lebih buruk dan ‘menyusahkan’ ketimbang bayangan yang ada di benaknya. Tak hanya harus melewati jalan tak beraspal yang memabukkan, sumber airpun sangat terbatas dan jauh dari dusun. Belum lagi rute berkilo-kilo dari tempat tinggal ke sekolah tempat ia mengajar yang harus dilaluinya dengan jalan kaki. Masyarakat dusun yang kesemuanya beragama Katolik ternyata tak banyak tahu tentang Islam. Tak heran jika di hari pertamanya mengajar muncul ketakutan dari para murid tentang sosoknya yang berhijab. Namun semuanya tak menghalangi semangat Aisyah untuk mengabdi.

Seiring dengan mulai bisa beradaptasi secara nyaman dengan penduduk dusun, Aisyah pun menemukan siapa dan ada apa di balik prasangka buruk tentang kaum muslim yang ada di kelasnya.

Secara storyline, mungkin banyak penonton yang teringat akan Sokola Rimba yang memang diangkat dari kisah nyata. Bedanya, jika Sokola Rimba lebih fokus pada perkembangan karakter Butet Manurung (yang mungkin sulit dipahami dan dinikmati penonton cilik), maka ABKB menawarkan lebih banyak aspek dengan kemasan yang lebih mudah dipahami serta dinikmati penonton cilik sekalipun. Mengajarkan toleransi kepada anak-anak (dan orang dewasa juga, sebenarnya) sebenarnya tak sulit. Tak perlu simbol-simbol yang ditampilkan secara eksplisit macam kepala babi di etalase restoran seperti yang dilakukan Hanung di Tanda Tanya. Menampilkan kehidupan sehari-hari sebenarnya lebih dari cukup untuk memnberikan gambaran nyata tentang toleransi. Toh sebenarnya kehidupan sehari-hari kita sebenarnya jauh lebih toleran daripada yang diberitakan media ataupun digembar-gemborkan ormas-ormas itu. Maka Jujur pun tak neko-neko dan muluk dalam menyusun plot ABKB. Nyaris nyerempet ke ranah sinetron atau FTV jika tak ditangani oleh sentuhan sinematis dari Herwin. Cliché, tapi justru dengan format seperti inilah ABKB mampu menggapai seluas-luasnya target audience, termasuk penonton yang akrab dengan sinetron dan FTV yang harus diakui, masif secara kuantitas.

Namun jangan terburu-buru meremehkan lapisan luarnya yang cliché, karena dengan teliti dan keseimbangan yang sangat baik, naskah Jujur tetap memuat nilai-nilai penting dan utama yang ingin disampaikan, secara halus, natural, tanpa terkesan dipaksakan ada, pretensius, ataupun terlalu menggurui. Singkatnya, ABKB mendidik dengan cara menunjukkan, bukan menggurui. Tak perlu ceramah muluk-muluk lewat dialog, karakter Aisyah justru diberi porsi ‘action’ lebih untuk menunjukkan ‘materi pendidikan’-nya. Begitu pula joke-joke tentang perbedaan keyakinan yang terbukti berhasil membuat penonton tertawa, tanpa terasa ofensif.

Ketika trailernya baru dirilis, ada seorang teman yang berkomentar bahwa trailer ABKB memberikan kesan yang menimbulkan prasangka yang tak benar. Di trailer itu seolah-olah umat Katolik (yang tinggal di NTT) anti-Islam, padahal teman saya ini tahu betul bahwa kenyataannya, teman-teman muslimnya yang mengajar di daerah  tersebut tak pernah diperlakukan secara didiskriminatif oleh penduduk lokal (yang beragama Katolik). Apalagi nuansa trailer yang terkesan ‘depresif’ dan menegangkan.

Terbukti trailer tersebut memang misleading. Konflik prasangka negatif terhadap umat muslim bukanlah sebuah prasangka massa, tapi hanya satu orang murid yang memang terpengaruh oleh keluarganya yang punya pengalaman pribadi dengan umat muslim. Bagusnya lagi, ABKB menyelesaikan konflik ini dengan sangat bijak dan lewat visualisasinya, justru sangat mengharukan. Nuansa depresif dan menegangkan yang ditampilkan trailernya pun tak sepenuhnya benar. Secara keseluruhan ABKB justru lebih terasa ceria, menyenangkan, membanggakan, dan (luar biasa) mengharukan. Bahkan ada adegan yang mengingatkan saya akan atmosfer keceriaan ala Sound of Music. Siapapun yang merindukan toleransi antar umat beragama di negeri ini mustahil untuk tak dibuat tersenyum-senyum (dan mungkin sedikit air mata kebahagiaan) oleh adegan-adegan pentingnya. Kelemahan terbesar ABKB terletak pada product placement yang meski tak sampai memaksakan adanya adegan tak penting, tapi kemunculannya masih terlihat mencolok.

Laudya Cynthia Bella sekali lagi membuktikan bahwa dirinya seorang aktris yang tak hanya mampu memainkan karakter dengan emosi yang pas, tapi juga mampu memegang peran lead dengan kekuatan kharismatik yang cukup. Ekspresi wajah yang innocent ditambah karakter dengan sifat yang lovable, berhasil membuat Laudya begitu bersinar dalam mengisi peran Aisyah. Arie Kriting yang selama ini dikenal sebagai komika dan peran-peran yang tak jauh-jauh dari kesan komika, kali ini turut membuktikan diri mampu memainkan peran yang lebih serius. Meski siapa saja tetap bisa melihat sisi komedik dalam karakter Pedro dan juga aksen yang lebih terdengar Ambon ketimbang Timor. Tapi bisa dibilang karakter komedik ini memang disengaja sebagai salah satu daya tarik penonton. Lydia Kandou seperti biasa, tetap bisa menarik perhatian meski perannya sebagai ibu Aisyah tak terlalu banyak dan tergolong tipikal. Apalagi Lydia yang aslinya kita tahu sebagai seorang Kristen yang mengisi peran seorang muslim, kendati ini bukan pertama kali bagi Lydia. Ge Pamungkas dipercaya peran yang masih tak jauh-jauh dari karakter aslinya.

Above all, yang paling menarik tentu saja penampilan aktor-aktor cilik lokal, terutama sekali Agung Isya Almasie Benu sebagai Lordis Defam yang dengan begitu luwes menunjukkan tiap emosi yang dibutuhkan beserta dengan transformasinya yang wajar. Sementara Dionisius Rivaldo Moruk sebagai Siku Tafares masih kaku di banyak kesempatan, baik cara menyampaikan dialog maupun tatapan wajahnya, tapi overall masih tergolong baik sebagai pendatang baru.

Edi Santoso menyumbangkan sinematografi yang berhasil mengeksplorasi keindahan panorama NTT yang terasa begitu terik dan tandus dengan begitu menyatu dengan cerita. Tak ada panorama yang terasa dieksploitasi berlebihan untuk menutupi kelemahan di narasi karena ABKB sudah punya narasi yang cukup kuat. Shot panoramic Edi memang mencuri atensi penonton tapi tak sampai mengganggu narasi utama. Kredit berikutnya wajib disematkan kepada penata musik, Tya Subiakto. Di beberapa part mungkin musiknya terasa ‘berlebihan’ (baca: terlalu grande untuk mengiringi adegan yang bersangkutan), tapi overall musiknya berhasil memberikan ‘nyawa’ lebih ke adegan-adegannya, termasuk pemilihan tembang Natal, Gloria in Excelsis Deo, Mama Yo Quiero, dan favorit saya, lagu wajib misa Gereja Katolik, Agnus Dei versi Misa Dolo-Dolo di credit title. Tata suara yang memanfaatkan fasilitas surround dengan maksimal juga patut diacungi jempol. Ada satu scoring dengan vokal bahasa lokal yang saking dahsyatnya dalam memanfaatkan fasilitas surround, saya sampai menoleh ke berbagai kanal sesuai sumber suara. Semoga versi DVD-nya nanti juga dibekali opsi 5.1 channel.

In the end, menurut saya ABKB adalah contoh film bertemakan toleransi antar umat beragama yang mampu menunjukkan secara nyata dan sederhana, sehingga mudah dipahami serta mempengaruhi secara halus kepada penonton cilik sekalipun. Bagi beberapa penonton mungkin terasa cliché dan cheesy, tapi come on… Untuk kausa sepenting dan sebesar ini, bukankah seharusnya menjangkau range penonton seluas mungkin? Bukankah jika menarget audience dengan pola pikir tinggi, nilai-nilai film ini sudah tak lagi dibutuhkan? Lantas buat apa ‘mengedukasi’ mereka yang sudah paham, bukan? Lagipula kapan lagi film Indonesia punya film yang sangat bagus untuk menyambut Lebaran, Natal, sekaligus Hari Pendidikan Nasional? ABKB mampu dan layak menjadi paket untuk tiga occasion itu.

Lihat data film ini di filmindonesia.or.id.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Thursday, May 19, 2016

The Jose Flash Review
X-Men: Apocalypse

Tanpa terasa para penggemar sudah dibawa pada bagian ketiga atau bisa dianggap sebagai akhir dari trilogi kedua cinematic universe X-Men. Saya sendiri harus mengakui trilogi kedua yang dimulai dengan X-Men First Class (FC) ini punya konsep yang unik dan menarik. Ketika XMFC jelas-jelas menjadi prekuel which started it all dari keseluruhan seri sinematik X-Men, sekuelnya, X-Men Days of Future Past (DoFP) tak sekedar menjadi sekuel tapi juga part yang me-restart semua seri sebelumnya, termasuk trilogi pertama. Maka tak heran jika ada cukup banyak kontinuiti kehadiran karakter yang membingungkan penonton yang mengikuti sejak awal, tapi juga bisa memuaskan banyak kubu fans yang ‘membenci’ apa yang dilakukan kreator versi layar lebar terhadap karakter-karakter favorit mereka. Dengan kata lain, memperbaiki keselahan-keselahan yang dibuat kreator di seri-seri sebelumnya. Kini, cerita pun bergulir maju dengan menghadirkan villain legendaris dari komik lainnya. Terlepas apapun reaksi terhadap trilogi kedua, keberhasilan tiap installment X-Men (termasuk Deadpool yang merupakan spin-off dari X-Men) membuktikan bahwa Fox masih layak untuk tetap terus memegang haknya, tak perlu dikembalikan ke Marvel di bawah Disney, seperti MCU The Avengers.

Sepuluh tahun setelah kejadian DoFP, dunia termasuk sedang dalam fase cool-down, termasuk untuk urusan dengan para mutan. Professor X mewujudkan cita-citanya mendirikan sekolah khusus mutan bersama Hank dan Alex Summers alias Havoc. Sementara Erik Lehnsherr alias Magneto memilih identitas dan kehidupan baru sebagai seorang pekerja pabrik di Polandia, menikah, dan punya seorang putri. Kehidupan yang serba tenang kembali terusik ketika agen CIA, Moira Mactaggert menemukan kebangkitan sosok mistis asal Mesir yang dipercaya sebagai mutan pertama di dunia. Dalam berbagai literatur, sosok yang disebut sebagai En Sabah Nur alias Apocalypse ini selalu punya misi yang sama: menghancurkan tatanan dunia dan membangun tatanan baru yang dianggap lebih baik. Dalam menjalankan misinya, ia selalu disertai oleh empat orang ‘kaki tangan’ yang disebut sebagai ‘the four horsemen’. Benar saja, Apocalypse memang ‘bangkit’ dari kuburnya dan mengumpulkan ‘the four horsemen’ yang baru: dimulai dari Ororo Munroe, mutan pertama yang ia temukan, dilanjutkan Angel, Psylocke, dan terakhir, Erik Lehnsherr.

Menyadari kekuatan luar biasa yang dimilikinya, Apocalypse menculik dan terus membujuk Professor X untuk mendukung misi ‘pembersihan’-nya. Raven, Hank, Moira, didukung Peter Maximoff, siswa-siswa paling berbakat, seperti Jean Grey, Scott Summers, dan mutan yang baru saja diselamatkan Raven, Kurt Wagner alias Nightcrawler, bersatu untuk menemukan Professor X sekaligus menyelamatkan dunia dari misi ‘pembersihan’ Apocalypse.

Coba analisis lebih dalam trilogi kedua yang digagas oleh Bryan Singer dan Simon Kinberg. Tak hanya menjadi sebuah prekuel, ia punya gagasan jelas tentang hubungan friend-and-foe antara Charles Xavier dan Erik Lehnsherr. Kinberg sendiri menegaskan bahwa di FC Erik mencapai puncak kekuatannya, di DoFP Charles menunjukkan kekuatan terbesarnya untuk mengakhiri peristiwa besar, maka Apocalypse keduanya ‘dimanfaatkan’ untuk mengeluarkan kekuatan terbesarnya sekaligus menyampaikan konklusi dari hubungan friend-and-foe keduanya. For that purpose, X-Men Apocalypse menjadi ‘penutup’ yang memuaskan, sekaligus menjadi bridge ke trilogi (baca: ‘babak’) baru seri X-Men yang melibatkan generasi-generasi baru, seperti Steve Summers alias Cyclops, Jean Grey, Peter Maximoff alias Quicksilver, Ororo Munroe alias Storm, dan Kurt Wagner alias Nightcrawler. Namun tunggu dulu, ada PR-PR lain yang tak kalah pentingnya untuk dijalankan di setiap installment sebagai film yang berdiri sendiri. Pertama, porsi yang cukup bagi tiap karakter mutan yang ditampilkan. Jika spekulasi mutan mana saja yang akan tampil di setiap installment-nya selalu menjadi salah satu highlight utama, maka PR yang satu ini pantang untuk diabaikan. X-Men Apocalypse mungkin ‘mengobral’ cukup banyak karakter baru yang tentu saja membuat banyak fans kegirangan. Sayangnya ia masih kewalahan dalam membagi porsi ke semuanya sehingga terasa sama-sama memorable. Misalnya saja Psylocke, Angel, dan yang paling disayangkan, Ororo Munroe alias Storm yang kita ketahui bersama selama ini adalah salah satu karakter penting franchise X-Men, terkesan hanya tempelan yang tak punya presence mengesankan bagi penonton. Memang sih, terutama Ororo Munroe masih bisa tampil lebih banyak di installment berikutnya. Mungkin memang sengaja disimpan untuk sesuatu yang lebih besar nantinya, tapi tetap saja terasa impresi bahwa kehadirannya di sini bahkan mungkin tidak dikenali sebagai soon-to-be-Storm oleh penonton awam. Penyebutan nama karakter saja tidak ada (correct me if I’m wrong. I didn’t hear her name mentioned at all during the movie).

PR berikutnya adalah menampilkan sosok villain yang dipilih sebisa mungkin menjadi salah satu villain yang memorable untuk jangka waktu yang lama. Kalau bisa malah dikenang sebagai villain paling powerful di antara film-film superhero sejenis. Oh yes, secara materi Apocalypse jelas punya potensi menjadi villain paling berbahaya, paling kuat, paling susah dikalahkan. Apalagi sampai berani bawa-bawa berbagai mitologi dan figur reliji yang sudah dikenal dunia sejak lama sebagai alter-egonya. Sayangnya, sosok Apocalypse di sini tak terasa semengerikan atau semengancam di atas kertas. Aspek psikologisnya yang merasa diri sebagai dewa sejak awal peradaban juga tak terasa begitu ditonjolkan di sini. Padahal sebenarnya ini bisa dimanfaatkan untuk membuat sosoknya terasa lebih ‘mengancam’ bagi penonton.

Jajaran cast utama rata-rata masih memainkan karakter masing-masing dengan baik, seperti James McAvoy sebagai Charles dan yang paling menjadi emotional highlight, Michael Fassbender sebagai Erik Lehnsherr. Rose Byrne yang kembali lagi berperan sebagai Moira Mactaggert pun cukup mampu menarik perhatian saya. Sayangnya, justru Jennifer Lawrence yang tampak seperti sudah ogah-ogahan untuk melanjutkan perannya. Oscar Isaac sebagai Apocalypse sebenarnya tak buruk, tapi somehow saya gagal mengenali sosoknya di balik make up itu. Big factornya mungkin penggambaran karakter yang tak terasa cukup kuat.

Evan Peters sebagai Quicksilver masih tetap mencuri perhatian, bahkan mungkin lagi-lagi yang terdepan berkat ‘adegan spesial’ yang seolah khusus dirancang untuk menjadi eye-candy terbesar sepanjang film bak di DoFP. Sophie Turner sebagai Jean Grey mungkin di mata saya masih belum bisa sekedar menyamai pesona/kharisma Famke Janssen, but she’s okay. Begitu juga Tye Sheridan sebagai Scott Summers, Kodi Smit-McPhee sebagai Nightcrawler, Ben Hardy sebagai Angel, Alexandra Shipp sebagai Storm, dan Olivia Munn sebagai Psylocke, masih perlu kesempatan lebih banyak lagi untuk bisa mencuri hati penonton ke depannya. Terakhir, Hugh Jackman dengan karakter ikonik Wolverine-nya, di sini lebih seperti cameo semata.

Soal visual effect, tiap installment X-Men selalu berhasil membuat saya terbelalak kagum. Tak terkecuali di X-Men Apocalypse ini yang saya nobatkan sebagai salah satu visual terbaik dan terkeren so far. Berbagai adegan sadis berhasil pula ditampilkan secara ‘halus’ sehingga masih tergolong ‘aman’ dengan label PG-13. Quicksilver’s ‘special scene’ sekali lagi berusaha ditampilkan dengan skala yang lebih epic dan iringan lagu populer 80-an, Sweet Dreams (Are Made of This) dari Eurythmics yang tak kalah asyiknya dengan adegan serupa di DoFP. Kendati demikian, rupanya benar pepatah the spark will only work once. Decak kagum saya tak sebesar dan semelongo di DoFP, tapi tetap saja harus saya akui, keren. Tak perlu pula saya mengomentari tata suara yang tergarap dengan sangat bagus dan serba seimbang. Tiap adegan spektakulernya terasa semakin megah dan ‘megang’.

Efek 3D yang ditawarkan X-Men Apocalypse pun turut saya acungi jempol. Bahkan opening title-nya menawarkan pengalaman paling asyik dan keren dari sejarah sinematik X-Men. Ditambah cukup banyak shot bak rollercoaster yang memberikan sensasi lebih untuk gimmick 3D (dan tentu saja 4DX)-nya. Untuk pengalaman 4DX, meski tak se-‘ultimate’ Captain America: Civil War, tapi tetap saja menjadi salah satu pengalaman 4DX terbaik. Special note untuk adegan cerebro dan gemuruh gempa di adegan klimaks pun terasa begitu nyata.

Dari segi konsep cerita yang ditawarkan, secara keseluruhan X-Men Apocalypse mungkin terasa masih di bawah DoFP. Namun jangan dilupakan pula tujuan dan peran utama installment ini dari konsep besar trilogi kedua franchise X-Men. Untuk tujuan itu, ia bisa dianggap menyampaikan konklusi yang memuaskan dan menjadi bridge ke trilogi baru yang tetap bikin penasaran bin excited siapa saja. Tentu perjalanan franchise X-Men di tangan Fox bakal masih panjang. Tahun 2017 nanti ada installment ketiga stand alone Wolverine (yang konon menjadi kali terakhir Hugh Jackman memainkan Wolverine) dan satu lagi stand alone yang besar kemungkinan Gambit, dilanjutkan dua installment di tahun 2018 (salah satunya mungkin Deadpool 2). Tak ketinggalan X-Force yang kemungkinan menjadi bagian dari after credit scene X-Men Apocalypse. So, embrace yourself. Awesomeness will still continue whether you like this installment or not.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Tuesday, May 17, 2016

The Jose Flash Review
Baaghi

Sebagai bagian dari kultur sebuah negara, seni/ilmu beladiri seringkali dijadikan produk budaya yang menarik untuk dijual di pasar internasional. Di Asia, Jepang dan Cina terbukti berhasil melakukannya. Bahkan Hollywood melirik berbagai cabang bela diri untuk diangkat ke layar lebar, bahkan ada yang statusnya seklasik Karate Kid atau franchise B-class macam Kickboxer. Bela diri melahirkan pula banyak sekali aktor spesialis laga. Indonesia sendiri sempat naik ke kancah internasional berkat The Raid: Redemption. Sebaliknya, India sebagai salah satu produsen film terbesar dunia terhitung sangat jarang mengangkat tema martial art, meski genre action bukan sesuatu yang asing lagi di ranah perfilman mereka. Tahun 2016 ini sutradara Sabir Khan (Kambakkgt Ishq dan Heropanti) kembali menggandeng Tiger Shroff, putra aktor Hindi legendaris, Jackie Shroff, untuk menjadi lead di Baaghi: A Rebel in Love. Sejak awal perilisannya Baaghi langsung dikait-kaitkan dengan storyline film Telugu, Varsham, Tezaab (yang juga menjadi inspirasi dari Varsham). Bahkan judulnya mengingatkan penonton akan film berjudul sama versi tahun 1990 dan 2000. Tak ketinggalan, pengaruh The Raid: Redemption yang harus diakui begitu terasa di banyak adegan.

Selepas kepergian sang ayah, Ronny bertolak ke Kerala untuk menjadi murid salah satu sahabat sang ayah yang menjadi guru beladiri khas India, Guruswamy. Ronny yang berjiwa pemberontak harus segera beradaptasi dengan gemblengan keras dari Guruswamy. Seiring dengan pelatihannya, Ronny menjalin kisah asmara dengan Sia, gadis yang pernah ditemuinya ketika perjalanan dengan kereta api. Sayang kisah cinta mereka berdua mendapatkan tantangan dari Raghav, yang tak lain dan tak bukan adalah putra tunggal Guruswamy. Pinangan Raghav diterima ayah Sia karena faktor kekayaan yang ditawarkan. Trik dari ayah Sia pun membuat Ronny dan Shia akhirnya saling membenci. Beberapa bulan kemudian, Sia diculik oleh Raghav dan dibawa ke Thailand, tempat Raghav menjalankan bisnis kotornya. Ayah Sia balik berharap Ronny mau menyelamatkan dan membawa pulang Sia kembali ke India. Meski awalnya menolak karena masih sakit hati, Ronny akhirnya tetap menolong atas dasar kemanusiaan. Bentrokan brutal pun tak terelakkan.

Secara garis besar cerita, memang tak ada yang benar-benar istimewa. Formulanya boleh dibilang benar-benar cliché dan generik, bahkan untuk genre martial art sekalipun. Apalagi dengan bumbu romansa picisan a la Hindi. Untungnya, Sabir Khan masih mampu menggerakkan cerita menjadi tetap menarik untuk diikuti. Bumbu romantis picisan tapi dengan kemasan yang manis (we meet everytime we see rain! It’s damn romantic!) dipadu aksi beladiri yang seringkali brutal, sedikit bumbu komedi, dan emosional yang melibatkan seorang anak bisu. Belum lagi ada adegan dua adegan musikal yang mengobati kerinduan saya akan adegan musikal di sinema Hindi (meski yang pertama asyik, yang kedua agak mengganggu laju cerita). Sayangnya, memasuki babak ketiga, Baaghi mulai terasa bertele-tele. Di saat sebenarnya bisa langsung masuk klimaks (yang sangat The Raid: Redemption itu), ia masih ‘bermain-main’ dengan penuntasan hubungan antara Ronny-Sia terlebih dahulu yang sebenarnya bisa diselesaikan secara singkat sebagai adegan pamungkas.

Meski secara keseluruhan masih belum sepenuhnya cukup kuat sebagai lead, Tiger Shroff perlahan menemukan kharisma yang pas untuk menjadi seorang lead. Sementara Shraddha Kapoor sebagai Sia cukup mampu mengimbangi Tiger dengan aura kecantikan dan keseksian yang tak kalah dengan beberapa bintang muda wanita yang sedang naik daun beberapa tahun terakhir, seperti Alia Bhatt misalnya. Sudheer Babu sebagai Raghav tampil just like another Hindi’s villain, sementara yang sebenarnya cukup menarik justru Sunil Grover sebagai ayah Sia. Terakhir, penampilan guru besar Shifuji Shaurya Bharadwaj sebagai Guruswamy yang sangat kharismatik, juga patut mendapatkan kredit tersendiri.

Baaghi tak menawarkan sinematografi oleh Binod Pradhan yang benar-benar istimewa, selain sekedar pas untuk menyampaikan keseluruhan plotnya, serta yang paling penting membawa nuansa manis bin romantis, begitu juga adegan laga brutal menjadi lebih menggigit. Sedikit kredit (seperti layaknya film-film Hindi lain) untuk musical performance Cham Cham yang mengobati kerinduan saya akan kehadiran musical performance di film Hindi yang kian kemari kian terkikis. Musical performance ke-dua, Sab Tera yang sejatinya tak perlu ada dengan visualisasi cheesy, tapi masih cukup memanjakan mata lewat latar panoramic-nya.

Dibandingkan beberapa judul film Hindi akhir-akhir ini yang tergolong ‘berbobot’ (tapi minim musical performance yang menurut saya seharusnya tak boleh absen di sinema Hindi), Baaghi terasa ‘setia’ dengan pakem-pakem generik Bollywood. Tak sampai menjadi menu masala yang ultimate dan berkesan bak Dilwale akhir 2015 lalu, tapi ia cukup menjadi hiburan ringan yang cukup menghibur pula, terlepas dari aspek-aspek yang comot sana-comot sini. Nikmati saja sebagai sajian aksi martial art brutal dengan bumbu romantis yang cukup manis. Setidaknya sejak menonton Baaghi, tiap hujan turun saya jadi ingat adegan Cham Cham, begitu pula dengan janji antara Ronny dan Sia.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
The Angry Birds Movie

Tak terbantahkan, Angry Birds (AB) menjadi salah satu tonggak sejarah penting dunia video game sejak kemunculannya di akhir tahun 2009. Tak hanya menjadi salah satu aplikasi mobile paling laris sepanjang masa dan punya berbagai seri, termasuk dari franchise populer macam Star Wars, Rio, dan Transformers, AB pun berkembang menjadi salah satu franchise era 2000-an yang patut diperhitungkan. Setelah serial animasi, tinggal menunggu waktu saja ada major studio yang tertarik mewujudkannya. Adalah Sony Pictures Imageworks yang berpengalaman mengerjakan semua produksi Sony Pictures Animations, yang berhasil bekerja sama dengan Rovio Animation untuk membawa AB ke layar lebar dengan judul The Angry Birds Movie (TABM). Proyek ini tergolong ambisius. Rovio Entertainment sampai harus memangkas sebanyak 250 karyawan atau setara 40% dari seluruhnya pada pertengahan 2015 lalu, yang mana sisanya dikaryakan untuk mengerjakan versi layar lebar ini. Untuk marketing promosinya saja, Rovio dan Sony konon mengeluarkan hingga sekitar US$ 300 juta, melebihi budget pembuatannya sendiri yang ‘hanya’ US$ 80 juta. Ini tak hanya menandai rekor budget film paling mahal di Finlandia, tapi juga budget promosi terbesar yang pernah dilakukan oleh Sony Pictures Animations. Meski ini merupakan pengalaman penyutradaraan pertama bagi Clay Kaytis (pernah terlibat dalam penggarapan animasi berbagai film Disney, mulai Pocahontas sampai Frozen) dan Fergal Reilly (storyboard artist di berbagai proyek animasi Sony Pictures Animation, seperti Open Season, Cloudy with a Chance of Meatballs, The Smurfs, dan Hotel Transylvania) yang baru pertama kali menyutradarai, serta dukungan penulis naskah Jon Vitti (The Simpsons dan Alvin and the Chipmunks), kesemuanya jelas punya pengalaman lebih dari cukup di bidangnya (baca: animasi).

Jika selama ini kita mengenal si burung merah sebagai karakter utama game, di versi layar lebar ini kita diajak mengetahui latar belakang burung yang punya nama sebutan Red. Lahir dari telur misterius, Red tidak punya keluarga. Ketika tumbuh menjadi anak-anak, ia pun tergolong social outcast. Terutama karena alis tebalnya yang tak lazim di kalangan burung. Tak heran jika Red lantas menjadi pribadi yang pemarah. Sebuah peristiwa tak terduga membawa Red ke komunitas anger management yang dikelola oleh Matilda dan memperkenalkannya dengan ‘sesama’ pasien bad temper; Chuck, burung kuning yang punya kelebihan bisa bergerak secepat kilat, Bomb, burung hitam yang bisa literally meledak jika emosinya terpancing, serta Terrence, burung merah overweight.

Kedamaian Pulau Burung terusik ketika datang sebuah kapal besar berisi para babi hijau yang diketuai oleh Leonard. Berdalih datang dalam damai dan membawa peradaban ke Pulau Burung, diam-diam ternyata para babi ini mencuri telur-telur burung untuk disantap. Awalnya Red tak dipercaya, maka ia bertualang bersama Chuck dan Bomb untuk menemukan sang pahlawan legenda, The Mighty Eagle, untuk membantu mereka meyakinkan warga Pulau Burung. Ternyata sosok The Mighty Eagle sudah jauh berbeda dari yang diceritakan kepada para murid di sekolah selama ini. Ia kini menjadi sosok narsistik pemalas. Sementara itu, ketika para babi berlayar kembali ke pulaunya, barulah seluruh warga menyadari bahwa kekuatiran Red adalah benar. Ia pun dipercaya untuk mengupayakan agar telur-telur yang dicuri bisa pulang dengan selamat. Berbekal ketapel yang dihadiahi oleh para babi dan bad temper, Red memimpin para burung menyerang pulau babi.

Jujur, ketika pertama kali mendengar rencana adaptasi layar lebar, saya tidak bisa membayangkan narasi cerita seperti apa yang ingin disampaikan sebagai modifikasi dari gameplay yang sekedar menyerang para babi dengan burung beterbangan menggunakan ketapel. Okay, yang pasti ada pertarungan antar kubu burung dan babi. Ketika menyaksikan langsung, saya langsung tersenyum dengan cerita background-nya. Tema karakter social outcast yang berubah menjadi pahlawan memang bukan sesuatu yang baru terutama di ranah animasi. Nama Shrek jadi yang paling pertama muncul dalam benak saya. Tak ada yang salah dengan itu, toh memang punya relevansi yang baik dengan perkembangan cerita utamanya. Apalagi dengan mengusung tema seperti ini, bisa dengan mudah pula menyisipkan berbagai guyonan (terutama crude humor yang sifatnya mengolok-olok). Maka berbagai formula generik animasi bak Shrek diinjeksikan ke dalamnya. Hasilnya ternyata sama sekali tidak mengecewakan. Bukan sesuatu yang baru, tapi tetap berhasil menghibur. Komposisinya yang cukup seimbang antara slapstick yang bisa dipahami penonton cilik dan muda, dan humor bereferensi pop culture (seperti misalnya spoof dari X-Men Days of Future Past, The Shining, Breaveheart, Wild Hogs, Hamlet, sampai Magic Mike, dijamin mampu mengundang tawa dari berbagai kalangan penonton. Oh yeah, sekali lagi kita disuguhi esensi tentang kelebihan yang mungkin dimiliki oleh orang-orang yang dianggap ‘aneh’, but it’s okay since it had good relevance in its story case. Pace yang tergolong cepat (dan most of the time, berisik!), sama seperti kebanyakan film-film animasi produksi Sony Pictures Animation, untungnya masih bisa dengan nyaman diikuti dan dinikmati oleh penonton cilik sekalipun.

Nama-nama populer di jajaran voice cast sebenarnya bisa jadi salah satu nilai jual TABM. Meski cukup berhasil menghidupkan tiap karakter menjadi unik, tapi tak ada yang sampai tahap ikonik. Misalnya Jason Sudeikis sebagai Red, Sean Penn sebagai Terence (yang tergolong ‘hemat’ dialog), Danny McBride sebagai Bomb, dan Bill Hader sebagai Leonard. Maya Rudolph sebagai Matilda masih sedikit lebih menarik karena faktor female cast di antara para pria. Sementara yang paling mencuri perhatian saya adalah Peter Dinklage sebagai Mighty Eagle yang berhasil mengkombinasikan karakter perkasa dengan lazy ass gokil secara seimbang.

Tidak ada pula yang benar-benar istimewa ataupun baru dari gaya animasi TABM. Namun harus diakui tampilan full vibrant colors sangat memanjakan mata, dengan dukungan gimmick 3D yang lumayan pula. Mungkin depth of fields-nya biasa-biasa saja, tapi beberapa pop-out gimmick cukup menyenangkan, terutama paruh-paruh burung yang keluar dari layar. Sound mixing tergarap dengan sangat baik dengan keseimbangan pas antara sound effect, scoring iconic yang di-mix ulang jadi semakin asyik, dan pilihan soundtrack yang familiar di telinga generasi 2000-an sekaligus 80-an (ada Rick Astley, Scorpions, Black Sabbath, dan I Will Survive yang di-recycle oleh Demi Lovato!), menambah suasana ceria yang diusung sepanjang durasi.

So TABM sejatinya dibuat hanya untuk menjadi pure entertainment (dan tentu saja, pengembangan franchise dari sebuah game laris manis). Tak perlu membanding-bandingkan dengan animasi-animasi dengan konsep tinggi bin kuat macam produksi Pixar, misalnya. Ia bahkan tak tertarik untuk menjadi seperti itu. Maka nikmati saja sajian yang memang ditujukan untuk range usia penonton seluas mungkin dengan harapan bisa menghibur semua kalangan secara seimbang. Memang tak terlalu istimewa, tapi sangat menghibur. Dengan dukungan backstory yang relevan dengan gameplay-nya pula. So, I guess we don’t need to think too many times just to decide whether watching it or not, especially if you ever enjoy playing the games.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Sunday, May 15, 2016

The Jose Flash Review
Take Me Home [สุขสันต์วันกลับบ้าน]

Sinema Thai memang dikenal sebagai salah satu industri film paling maju di kawasan Asia Tenggara. Di kancah internasional, sudah cukup banyak produk sinema mereka yang dikenal, terutama dari genre horor, martial art, dan romantic comedy. Tahun 2016, penulis naskah sekaligus sutradara Kongkiat Khomsiri merilis karya terbarunya, sebuah horor dengan latar belakang drama keluarga, Take Me Home (TMH- Sook-San-Wan-Glub-Baan). Khomsiri sebelumnya dikenal lewat horor Art of the Devil 2 (Long Khong), Slice, Unseeable, Coming Soon, dan 407 Dark Flight. Di TMH, Khomsiri menggadeng aktor muda paling populer di Thailand, Mario Maurer (Love of Siam, A Little Thing Called Love, Jan Dara: the Beginning, Pee Mak) sebagai lead.

Selama 10 tahun, Tan tinggal di sebuah rumah sakit tanpa ingatan apa-apa tentang dirinya, kecuali nama dan kecelakaan yang membuatnya harus dirawat di rumah sakit selama 10 tahun. Tan tak tinggal diam. Lewat fasilitas internet rumah sakit, ia mencari-cari asal-usulnya. Setelah menemukan artikel koran tentang seorang arsitek yang bunuh diri 10 tahun lalu, yang ia duga sebagai sang ayah, Tan meminta ijin kepada dokter yang merawatnya selama ini untuk pulang. Meski diperingatkan, Tan tetap bersikeras untuk pulang. Setelah sampai di rumah, ia mendapati seorang wanita muda yang mengaku sebagai saudari kembarnya, Tubtim, sudah menikah dengan seorang duda, Chewin yang sudah dikaruniai dua orang anak. Awalnya semua tampak sempurna, sampai Tan mulai merasa bahwa ada yang aneh dengan sosok saudari kembarnya ini. Penasaran dengan apa yang sebenarnya yang terjadi di rumah sempurna itu, Tan menemukan kepingan-kepingan masa lalu yang sempat ia lupakan sebelum kecelakaan.

Horor dengan latar belakang drama keluarga selalu menjadi sesuatu yang menarik, karena tak hanya sekedar berusaha menakut-nakuti penonton, tapi juga punya value kekeluargaan yang tentu saja relate dengan siapa saja (come on, siapapun pasti punya atau pernah punya keluarga, bukan?). Khomsiri memasukkan konsep cerita yang menarik ke dalam suguhan horornya yang bikin penasaran. In the pursuit of family perfection yang memang menjadi bagian dari budaya Timur selama ini menjadi latar belakang yang kuat dan punya muatan kritik sosial yang cukup menggugah.

Sayangnya, Khomsiri agak kesusahan dalam menyampaikan konsep besarnya itu. Alih-alih mengembangkan cerita present time yang nyaris non-existent (hanya sekitar setengah jam pertama dari durasi), ia terlalu banyak (dan lama) bermain-main dengan flashback untuk menjelaskan misterinya. Kepingan-kepingan flashback yang ditampilkan bergantian justru semakin mengaburkan mana yang nyata, mana yang halusinasi. Mana yang masa kini, mana yang masa lalu. Untungnya, karakter Tan dibuat sempat hilang ingatan, sehingga setidaknya bisa jadi explaination device yang masih masuk akal. Sedangkan untuk urusan ‘menakut-nakuti’, ia masih bermain-main dengan generic jump-scare, tapi most of it still worked.

Bisa dibilang Mario Maurer adalah single-fighter-actor yang mendominasi keseluruhan film. Tidak terlalu istimewa sebenarnya, tapi setidaknya ia bisa sedikit keluar dari image sebagai cowok manis dan kalem. Yang menurut saya paling menarik justru Wannarot Sontichai, pengisi peran Tubtim, yang seperti pada film-film dengan karakter serupa, berhasil menampilkan sosok ‘sakit jiwa’ dengan begitu hidup dan membuat saya terdiam terpesona. Cantik dan seksi secara fisik, punya aura sensualitas yang cukup kuat, sekaligus misterius dengan roller-coaster emosi sesuai kebutuhan.

Sinematografi Pramett Chankrasse, scoring, serta sound mixing adalah faktor terbesar keberhasilan TMH sebagai sebuah horor yang mencekam dan menghadirkan suasana creepy. Termasuk pemanfaatan fasilitas surround yang yang cukup efektif dan maksimal. Editing Lee Chatametikool, dibantu Harin Paesongthai, pun cukup efektif dan tepat, terutama ketika menghadirkan adegan yang diulang-ulang tak jatuh menjadi membosankan. Terkadang menggelikan, tapi lama-lama, ngeri juga. Begitu pula desain produksi dari Thana Macaroumput yang memanfaatkan tiap sudut ‘rumah sempurna’  terasa beautifully modern, tapi di sisi lain juga mengerikan.

TMH memang tak sekedar just another Thai horror. Ia punya konsep cerita yang menarik, kuat, dan relevan dengan keluarga Timur. Meski penyampaiannya masih terasa berbelit-belit dan kabur, analisis lebih dalam dengan breakdown tiap adegan sebenarnya masih bisa terbaca dengan jelas. Jika masih tak menemukan detail ending yang jelas, biarlah inti besarnya tetap terasa: Tan has found his home, in any terms.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Friday, May 13, 2016

The Jose Flash Review
The Window

Nama Nurman Hakim di perfilman Indonesia dikenal sejak 3 Doa 3 Cinta (2008), film drama religi tentang persahabatan di pondok pesantren yang dibintangi Nicholas Saputra dan Dian Sastrowardoyo, dimana Nurman bertindak sebagai produser, penulis naskah, sekaligus sutradara. Film keduanya, Khalifah (2011), Nurman lagi-lagi mengulik Islam radikal. Sementara Nan T. Achnas sudah dikenal lebih dulu sebagai sutradara dan penulis skenario sejak film legendaris, Kuldesak (1997), dilanjutkan Pasir Berbisik (2000), Bendera (2002), dan The Photograph (2007). Setelah bekerja sama untuk 3 Doa 3 Cinta dan Khalifah, keduanya kembali bekerja sama lewat project terbaru, The Window, di bawah bendera Triximages. Nurman kembali menggandeng mantan aktor cilik yang kita kenal sebagai pendukung di film-film Warkop, Yoga Pratama, aktris Titi Rajobintang, dan aktor Landung Simatupang, sastrawan yang juga pernah mendukung beberapa judul film nasional.

Bersetting Mei 1998, Dewi adalah wanita muda yang bekerja sebagai seorang tenaga surveryor di sebuah lembaga survey konsumen. Kehidupannya (yang sebenarnya juga masih serba susah) terusik ketika tiba sebuah surat dari kampung halamannya, di Jogja. Maka segeralah Dewi memutuskan untuk pulang kampung. Kita pun diperkenalkan oleh orang-orang di desanya. Sang ayah karyawan perusahaan tembakau yang suka berlaku kasar kepada keluarganya. Sang ibu lebih sering memilih pasrah, termasuk ketika putri sulungnya, Dee, yang keterbelakangan mental, hamil, ia lebih percaya bahwa itu adalah sebuah mukjizat bak Bunda Maria ketika mengandung bayi Yesus. Padahal keluarga mereka bukanlah Katolik ataupun punya latar belakang kekristenan sama sekali. Karena tak ada yang peduli, Dewi tergerak untuk melakukan penyelidikan atas siapa pelaku pemerkosa Dee hingga hamil. Beberapa yang ia curigai, seperti Joko, teman kecilnya yang kini doyan berlagak bak koboi, dan Priyanto, seniman lukis yang dicurigai sebagai narapidana pelarian karena cenderung tertutup sejak kepindahannya di desa itu.

Di permukaan terluar, cara bertutur The Window memang terkesan seperti arthouse yang punya banyak simbol-simbol yang menantang penonton untuk menganalisanya. Seperti bebek-bebek karet atau lukisan-lukisan Priyanto yang dipasang di jendela. Kendati demikian, ia sama sekali tidak menawarkan elemen-elemen cerita yang ‘terselubung’ untuk memahaminya. Secara narasi, ia dapat dengan mudah dipahami oleh penonton awam sekalipun, meski punya pace a la arthouse yang lambat dengan shot-shot panjang. Elemen-elemen cerita yang tampak pada permukaan pun bisa dibaca dengan jelas dan menarik, sebenarnya. Seperti misalnya konsep whodunit (cerita yang menitik beratkan pada misteri siapa pelaku suatu kejahatan sebenarnya) sebagai selubung terluar. Begitu juga latar belakang kondisi keluarga Dewi yang mencoba merepresentasi budaya patriarki masyarakat kita (yang menurut saya, sebenarnya sudah terlalu sering diangkat hingga pada titik jenuh yang cliché).

Sayangnya, sebagai selubung terluar, konsep whodunit tak benar-benar dijalankan sebagai motor penggerak cerita utama. Investigasi yang dilakukan oleh karakter Dewi terkesan sambil lalu, tak ada motivasi yang kuat, dan tak berpengaruh banyak terhadap perkembangan plot sesuai konsep utama. Yang ada justru melibatkan karakter Dewi pada kompleksitas hubungannya dengan para pria, seperti Priyanto dan Joko. Alih-alih memperkaya cerita, ini justru membuat the whole package terasa tak punya fokus dan arah bercerita yang jelas. Setting Mei 1998 pun terkesan tak punya fungsi relevansi apa-apa pada plot utama, kecuali jika Anda menganggap maraknya fenomena perkosaan sebagai benang merah. Belum lagi revealing yang seolah mengamini dugaan terkuat penonton (lantas untuk apa ada adegan-adegan investigasi yang ke mana-mana?) dengan motivasi yang tergolong out-of-nowhere. Ditambah, mid-credit scene (iya, ada!), yang mencoba men-twist cerita, tapi lagi-lagi, terasa out of nowhere, tanpa setup maupun motivasi yang jelas dan kuat.

Tak perlu diragukan lagi, Titi Rajobintang yang punya jam terbang cukup sebagai aktris dan punya kharima tersendiri sebagai lead, karakter Dewi yang porsinya memang dominan, berhasil menjadi daya tarik utama bagi penonton. Seperti kebanyakan karakter yang kerap ia mainkan, Titi menjadi sosok wanita muda yang berani menentang kondisi sosial yang dirasa tidak benar. She’s so strong as her character. Haydar Salish (yang sebelumnya kita kenal sebagai Mas Gatot dari Siti), mengisi porsi berikutnya dengan kekuatan akting yang cukup mengimbangi Titi.

Landung Simatupang sebagai Sang Ayah, Pak Dharsono, memainkan karakter yang cukup kompleks (meski sebenarnya juga tergolong tipikal); ingin dihormati siapa saja, kasar, menyimpang, namun sebenarnya rapuh. Tanpa dijelaskan motivasi transformasi maupun latar belakangnya, setidaknya Landung menghidupkan karakternya dengan natural. Eka Nusa Pertiwi dan Karlina Inawati memberikan dukungan yang sebenarnya cukup maksimal di balik karakter-karakter tipikal yang tak diberi banyak porsi penting. Terakhir, Yoga Pratama yang memerankan Joko, karakter tak kalah ‘ajaib’-nya, memang terasa begitu lepas dan santai. Jika memang konsep seperti itu yang dimaksudkan oleh sutradara dan penulis naskah, maka ia bisa dianggap berhasil, meski tetap saja membuat penonton (setidaknya saya) mengernyitkan dahi.

Sinematografi Billy Tristiandy yang a la-a la arthouse dengan shot-shot panjang, minim pergerakan maupun pergantian angle sebenarnya cukup berhasil membangun mood cerita. Begitu pula editing Ary Prama yang setidaknya tidak sampai membuat shot-shot panjangnya terasa terlalu tenggelam dalam kebosanan. Artistik Eddy Wibowo terutama dalam menghadirkan tiap sudut rumah Bapak Dharsono, pabrik tembakau, hingga rumah Priyanto yang artistik. Sayangnya, satu elemen yang miss berkaitan dengan setting cerita: jembatan halte Transjakarta di awal film. Musik Djaduk Ferianto yang minimalis dan bersifat etnik cukup mewarnai adegan-adegan sesuai porsinya dan sedikit memberikan tambahan emosi di beberapa adegan.

The Window bagi penonton umum mungkin terkesan berat dan berbobot dengan style visual yang arthouse banget. ‘Festival’ banget. Namun menurut saya, ‘rasa arthouse’ hanya terletak pada kemasannya saja, karena ia tetap saja punya penceritaan yang lugas dan to the point, tidak melulu terselubung simbol-simbol. Kalaupun ada simbol-simbol, itu hanya sebagai elemen-elemen pendukung cerita, bukan yang utama. Jadi sejatinya The Window masih bisa dipahami dengan mudah oleh penonton umum sekalipun. Tak ada yang istimewa karena sudah sangat sering diangkat, terutama di ranah perfilman (arthouse) Indonesia yang terkesan hanya mengeksplorasi subjek-subjek itu saja. Begitu juga alur cerita yang entah mau dibawa dengan fokus dan pendekatan yang mana. Semuanya serba tanggung hingga akhirnya tak memberikan kesan apa-apa secara kuat. Andaikan saja ia memperkuat di salah satu elemen sebagai fokus utama, misalnya konsep whodunit yang sebenarnya bisa jadi motor penggerak cerita yang paling menarik, mungkin The Window bisa jadi karya yang jauh lebih berkesan.

Lihat data film ini di filmindonesia.or.id.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates