Galih dan Ratna

The Indonesia's very own romantic couple has been reborn to the millenial era.
Opens March 9. Read more.

Moammar Emka's Jakarta Undercover

The Jakarta's famous night life is going to be a hype one more time!
Read more.

Kong: Skull Island

The giant King Kong roars again!
Opens March 8. Read more.

Logan

Hugh Jackman to portray Wolverine for one last time.
Read more.

Beauty and the Beast

Disney to bring the classic magical animation to live action with Emma Watson!
Opens March 17.

Saturday, April 30, 2016

The Jose Flash Review
Ada Apa dengan Cinta 2

Setelah kesuksesan Petualangan Sherina tahun 1999, Mira Lesmana lewat bendera Miles-nya memproduksi karya kedua yang kali ini bergenre drama remaja. Di tengah kondisi perfilman nasional yang masih lesu, kehadiran Ada Apa dengan Cinta? (AADC) di awal tahun 2002 langsung disambut dengan luar biasa. Tak hanya berhasil membukukan angka sekitar 2.7 juta penonton (yang artinya juga masuk lima besar film Indonesia terlaris sampai saat ini), AADC menjelma jadi ikon generasi yang legendaris sampai saat ini. Mulai dari scene, quote, lagu, sampai elemen-elemen remeh lainnya, menjadi ikonik yang memorable. Kesuksesan ini tentu sayang jika tak dimanfaatkan menjadi sebuah franchise, mengingat tak banyak film Indonesia yang berhasil melahirkan franchise kuat. Jika sekuel saat itu dianggap susah untuk dikembangkan, maka serial TV jadi pilihan.  Sinemart memproduksi serialnya sebanyak 104 episode yang tayang Desember 2003 sampai Juli 2005.

Lalu pertengahan 2015, sebuah aplikasi chat memproduksi sebuah film pendek yang tentu saja digunakan sebagai promotional tool, seolah-olah menyambung kisah genk Cinta dan Rangga. Se-Indonesia tentu langsung heboh dan menganggap bahwa ini adalah teaser untuk sekuel AADC setelah 13 tahun. Let’s say, benar, kontrak iklan dengan aplikasi chat itu sebagai teaser untuk kembali membangun awareness, tapi tak salah juga jika ada yang menduga, produksi film pendek ini adalah salah satu cara mengumpulkan budget pembuatan AADC2. Apalagi setelah Pendekar Tongkat Emas yang awalnya digadang-gadang dijadikan pancingan untuk lahirnya AADC2, merugi secara komersial. The show must go on. Miles lantas menggandeng Legacy Pictures yang ‘sukses’ dengan Kapan Kawin. Maka diproduksi lah AADC2, terutama untuk memuaskan dahaga kerinduan fans film pertamanya, dan sebisa mungkin, menjaring fans baru dari generasi yang sudah berbeda.

Setelah 14 tahun, genk Cinta; Milly, Maura, dan Karmen sepakat untuk berkumpul lagi. Kembalinya Karmen dari rehab menjadi momen yang dirasa pas bagi mereka untuk liburan bersama ke Jogjakarta. Kebetulan Cinta sedang ada event seni di kota budaya itu. Berniat seru-seruan bak masih SMA, mereka malah tak sengaja bertemu dengan Rangga yang beberapa tahun yang lalu mendadak memutuskan hubungan dengan Cinta tanpa alasan yang jelas. Rangga jauh-jauh mengunjungi Jogjakarta dari New York untuk berdamai dengan masa lalu, terutama dengan sang ibu kandung yang merindukan kehadirannya. Menurut Karmen, ini adalah kesempatan untuk Cinta dan Rangga menuntaskan urusan di antara mereka berdua sebelum Cinta menikahi kekasihnya yang seorang businessman, Trian. Sempat menolak ide tersebut, namun bagaimanapun juga, Cinta akhirnya bertemu Rangga. Akhirnya Cinta setuju untuk mengusahakan ‘perdamaian’ dengan Rangga. Tentu ini menjadi penentuan penting tentang bagaimana kelanjutan hubungan keduanya.

Sebagai sebuah franchise dengan jutaan penggemar, tak hanya di Indonesia, tapi juga Malaysia dan Brunei Darussalam, kelanjutan kisah AADC tak bisa dikembangkan dengan main-main. Belum lagi ketika bertemu dengan para kritik yang selalu punya alasan untuk tidak mencerca karya. Maka menjaga keseimbangan di antara keduanya; memuaskan penggemar dan menjaga kualitas cerita dan penggarapan, mejadi krusial. Tentu, dengan reputasi Miles dan penyutradaraan yang beralih dari Rudi Soedjarwo ke tangan Riri Riza, kualitas AADC2 sebenarnya tak perlu dipertanyakan lagi.

Meski dibangun atas konsep cerita perjalanan nostalgia persahabatan dan berdamai dengan masa lalu (terutama lewat karakter Rangga yang mencoba berdamai dengan Cinta dan ibu kandungnya), PR paling utama yang sebenarnya berhasil dikerjakan dengan memuaskan adalah membawa kembali atmosfer nostalgic dari AADC pertama. Karakter-karakter utama, terutama genk Cinta, Mamet, dan Rangga, masih mampu melanjutkan karakter yang sama setelah sekian lama. Elemen-elemen penting yang memperkuat tiap karakter utama berhasil dipertahankan, dengan perkembangan kedewasaan yang seimbang. Keseimbangan karakter otentik dan kedewasaan ini paling terasa, misalnya ketika terjadi tarik-ulur hubungan antara Cinta-Rangga. Di satu sisi, Cinta masih menyimpan dendam yang mendalam terhadap Rangga, tapi sisi ‘kedewasaan’-nya lalu berusaha untuk berdamai. Sementara di sisi terdalamnya, Cinta sebenarnya juga masih punya harapan-harapan.

Begitu juga plot persahabatan Cinta-Karmen-Milly-Maura yang meski porsinya terkesan dikalahkan porsi hubungan Cinta-Rangga, masih berusaha ditampilkan di sini. Tak hanya seru-seruan bak popular-teenage-chick-click, tapi juga ikatan emosional yang meski tak terasa sekuat di AADC (ini cukup wajar dipahami, mengingat semakin dewasa, ada sekat antara urusan pribadi dalam persahabatan), tetap terasa. Peran Alya yang di AADC pertama sebagai tempat curhat terdekat Cinta, kali ini digantikan oleh Karmen yang berkat berbagai permasalahan hidup, menjadikannya punya pemikiran yang lebih bijak dan dewasa.

Pemilihan kota New York dan Jogjakarta sebagai setting terasa punya kepentingan yang kuat untuk memperkuat karakter. Terutama Jogjakarta yang mana tak hanya berhasil dieksplor untuk membuat penontonnya ingin menjalani tour ala AADC2, tapi juga memperkuat karakter serta hubungan Rangga-Cinta sebagai penikmat seni-budaya. Misalnya, adegan wayang boneka yang seolah menjelaskan hubungan antara Cinta-Rangga dan Cinta-Trian. Dialog-dialog antara keduanya yang terasa awkwardly sweet, natural, tapi mampu menjelaskan perasaan terdalam masing-masing, terjadi dengan berbagai latar landmark Jogja yang tak begitu banyak orang tahu. Seolah menciptakan adegan-adegan ikonik tersendiri, bak Jesse-Celine di trilogy Before milik Richard Linklater. Tentu saja dengan signatural taste mereka sendiri.

Above all, yang menjadikan AADC2 begitu powerful adalah kemampuannya membuat tiap adegan begitu emosional bagi penonton, tanpa dramatisasi berlebihan. Oke, faktor nostalgic dan kedekatan penonton dengan para karakter yang sudah dijalin sejak film pertamanya memang menjadikan tugas ini terlihat lebih mudah. Namun kepiawaian Riri Riza membangun adegan-adegan down-to-earth dan cliché menjadi begitu terasa powerful, ditambah akting para aktornya, adalah motor utamanya. Apalagi estafet bangku penyutradaraan dari Rudi ke Riri yang jelas-jelas punya style yang berbeda. Terbukti Riri berhasil menghadirkannya, tanpa meninggalkan berbagai signatural khasnya di berbagai momen. Misalnya shot-shot silent ala Riri ketika di Brooklyn, serta shot-shot lain yang mengingatkan saya akan Petualangan Sherina dan Gie. Mungkin emotional impact-nya tak semagis AADC pertama, tapi bagi saya, tetap punya emotional impact tersendiri. Sepanjang film.

Melanjutkan peran sebelumnya, Dian Sastrowardoyo dan Nicholas Saputra menjadi daya tarik utama. Porsi karakter yang mendominasi sekaligus performa yang memang sekuat AADC pertama, menjadi faktornya. I have to say, hanya Dian dan Nicho yang bisa memainkan karakter berbahasa baku tapi tetap terdengar wajar. They still are. Keseimbangan antara the same characters dan kedewasaan, sekaligus pergulatan emosi antara keduanya, juga berhasil ditampilkan dengan sangat wajar dan natural.

Adinia Wirasti yang punya jam terbang akting paling banyak pasca AADC, tentu tak punya banyak masalah melanjutkan peran Karmen. Tak semeledak-meledak dulu, transformasi karakternya menjadi lebih wise dan sedikit lebih introvert, masih dalam kadar masuk akal. Sissy Priscillia sebagai Milly menjadi pencuri perhatian penonton berkat karakternya yang mungkin tak selugu dulu, tapi tetap menjadi pencair suasana dan pengundang senyum sekaligus tawa di banyak momen. Sementara Titi Kamal yang sebenarnya punya porsi karakter paling sedikit dan taksemenonjol Sissy, masih mampu menarik perhatian penonton lewat tingkahnya.

Di jajaran pemeran pendukung, terutama Dennis Adishwara, Chrisitan Sugiono, dan Ario Bayu, mungkin tak punya porsi karakter yang cukup penting atau kuat, tapi tetap saja kemunculannya menarik perhatian untuk lebih menyemarakkan film. Terakhir, Dimi Cindyastira yang memerankan adik tiri Rangga, Sukma, menjadi yang terlemah. Performa aktingnya masih sangat mentah dengan ekspresi-ekspresi sinetron-ish ketimbang pendalaman karakter yang natural.

Di teknis, sinematografi Yadi Sugandi yang sudah menjadi partner langganan dengna Riri, menjadi salah satu kekuatan utama dalam menghadirkan atmosfer nostalgic sekaligus emosional AADC2. Tak hanya berhasil mengekplorasi kontras kota New York dan Jogjakarta dengan begitu terasa kuat, tapi juga mampu bercerita tersendiri di atas plot adegan-adegan yang berjalan. Alunan score dan musik-musik dari Melly Goeslaw dan Anto Hoed turut memberikan nyawa lebih hidup sepanjang film. Musik-musiknya mungkin tak sememorable AADC pertama, tapi tetap saja berhasil menghanyutkan penonton ke dalam cerita sepanjang film. Notable credit dari saya, Ora Minggir Tabrak dari Kill the DJ yang seolah mem-fusion nuansa urban dan budaya tradisional.

Desain produksi oleh Eros Eflin yang dibantu oleh Chitra Subiyakto sebagai penata busana dan Jerry Octavianus sebagai penatara rias, melanjutkan konsep pop, yang kini ditambahkan karakter sophisticated dan maturity dengan begitu cantik serta yang terpenting, menguatkan tiap karakter.
Sayang, editing W Ichwandiardono membuat banyak sekali transisi shot terasa kurang mulus yang sedikit mengganggu kenyamanan menonton, terutama karena ini tergolong film yang kekuatannya terletak pada kemampuan menghanyutkan emosi penonton. Beberapa kontinuiti angle yang miss pun masih terasa di sana-sini. Namun setidaknya koherensi antar adegan masih terjaga sehingga tetap nyaman untuk diikuti.

So, jika Anda ragu-ragu akan menyukai AADC2 atau tidak, maka akan sangat tergantung pada pihak mana Anda berasal dan apa ekspektasi Anda. Saya bisa memahami Mira-Riri membuat AADC2 untuk memuaskan kalangan mayoritas penggemarnya dengan menghadirkan berbagai tribute nostalgic dan adegan-adegan yang diharapkan penonton, dengan jawaban-jawaban yang cukup memuaskan dan wajar atas berbagai pertanyaan yang muncul dari AADC pertama. Keseimbangan antara karakter-karakter yang sama dan berbagai kedewasaan berhasil dicapai, tanpa terasa terlalu cheesy ataupun sok cerdas/sok bijak/sok dewasa. Justru pergulatan antara perasaan terdalam dan desakan untuk bersikap dewasa dijadikan salah satu elemen cerita tentang perjalanan persahabatan serta berdamai dengan masa lalu yang menarik untuk disimak. Cliche? Mungkin, tapi justru itulah yang membuat AADC begitu membumi, dekat dengan mayoritas penontonnya, sekalipun sudah menyandang status ‘dewasa’. Itulah resep sukses komersial AADC (dan juga AADC2) yang memang digarap dengan konsep yang jelas, kuat, serta teknis yang serba mumpuni. Itu pula yang membuat banyak fans  selalu kangen untuk menontonnya berulang-ulang, lagi dan lagi.

Lihat data film ini di filmindonesia.or.id

Thursday, April 28, 2016

The Jose Flash Review
Captain America: Civil War

Kesuksesan Marvel (di bawah kendali Disney) merangkai konsep besar Marvel Cinematic Universe alias MCU terus-terusan diraih. Khusus menjelang summer tahun ini, Marvel berani terang-terangan head-to-head dengan pesaingnya dengan jadwal rilis yang hanya sekitar satu bulan setelah most-anticipated DC’s installment, Batman v Superman: Dawn of Justice (BvS). Bahkan konsep ‘versus’ terkesan mirip. Jika Batman melawan Superman di BvS, maka Marvel memasang Captain America untuk kontra Iron-Man di Captain America: Civil War (CACW). Penonton awam sekalipun hampir pasti akan membandingkan keduanya. Tentu jawabannya mana yang lebih baik, terutama akan tergantung terhadap tingkat familiaritas tiap penonton atas masing-masing franchise. Sisanya, urusan selera. Meski mengusung tema yang lebih cocok menyandang titel The Avengers, installment ini memakai judul Captain America. Keputusan ini bukan tanpa alasan. Dimotori oleh Anthony & Joe Russo yang sudah duduk di bangku sutradara sejak Captain America: The Winter Soldier, serta penulis naskah, Christopher Markus & Stephen McFeeiy yang juga sudah di-hire sejak Captain America: The First Avenger, seharusnya tak ada yang perlu dicemaskan dengan CACW.

Pasca Avengers: Age of Ultron, tim Avengers mendapatkan kecaman dari PBB yang menginginkan Avengers bertindak sesuai persetujuan mereka, tidak lagi menjadi badan independen. Pasalnya, ada banyak peristiwa yang menewaskan banyak korban tak bersalah akibat aksi mereka menumpas musuh-musuh. Sebagai investor dan founder, Tony Stark memilih untuk ‘main aman’ dan berniat menanda-tangani perjanjian dengan PBB. Sebaliknya, Steve Rogers merasa timnya harus bertindak secara independen, tanpa intervensi pihak manapun. Perpecahan kubu pun terjadi. Natasha Romanoff (Black Widow), James Rhodes (War Machine), T’challa (Black Panther), dan Vision memilih berpihak pada Tony, sementara Sam Wilson (Falcon) dan Wanda Maximoff (Scarlet Witch) sependapat dengan Rogers. Untuk memperkuat kubu, Rogers memanggil Scott Lang (Ant-Man) dan Clint Barton (Hawkeye) yang telah pensiun. Stark tak mau kalah. Ia merekrut pemuda bernama Peter Parker yang video aksinya sebagai Spider-Man menjadi viral. Sementara itu Rogers menduga ada konspirasi di balik serangan-serangan yang menyulut kecaman PBB. Terlebih setelah dari kamera pengamanan, muncul sosok Bucky Barnes alias Winter Soldier yang ada di TKP.

CACW tentu tak butuh basa-basi untuk memperkenalkan tiap karakter yang menjejali installment ini. Ia langsung masuk ke konflik utama yang jika ditelaah, mengusung beberapa isu sekaligus: perseteruan akibat perbedaan pendapat antara kubu Stark dan Rogers. Konflik ini mempertajam karakter masing-masing, beserta dengan seluruh anggota kubunya. Even further, bisa jadi analisis gaya leadership. Lalu, isu mana yang lebih penting: membiarkan korban collateral damage berjatuhan demi menghindarkan bencana dengan korban yang jauh lebih banyak, atau sebaliknya. Keputusan dengan beban moral yang sedikit mengingatkan saya akan tema serupa di Eye in the Sky. Terakhir, isu dendam yang alih-alih menyelesaikan masalah, justru memperburuk segalanya. Ketiga isu ini terjalin saling mendukung dengan porsi seimbang dan sama-sama terasa kuat. Kudos to duo screenwriter yang telah menulis naskah CACW secara efektif. Juga, naskah berhasil membuat semua karakter dari kedua buku punya porsi yang seimbang. Tak ada yang terasa kalah porsi ketimbang yang lain. Penonton manapun punya alasan jelas untuk mengidolakan salah satu dari mereka atau kesemuanya sekalipun.

Sedangkan elemen yang tak kalah pentingnya adalah pengarahan Russo Brothers yang menerjemahkan naskah padat dan bold itu menjadi sebuah experience action-adventure khas MCU yang fun untuk range usia penonton seluas-luasnya, tanpa kehilangan esensi-esensi dari naskahnya. For that purpose, they did it. Even much better than ever in the MCU, so far. Saya sangat menikmati berbagai adegan aksi dan perang yang tak hanya eye-candy, tapi juga terkesan a lot of fun. Mulai adegan pertarungan pembuka, pertarungan akbar antara dua kubu di bandara yang begitu akbar dan so much fun, sampai pertarungan head-to-head di klimaks yang thought-provoking. Belum lagi elemen dari soon-to-be-Spider-Man-reboot yang exciting.  Durasi yang nyaris dua setengah jam tak terasa sama sekali. So many fun elements were stuffed here.

Aktor-aktris yang sudah mengisi peran masing-masing sejak lama, seperti Chris Evans, Robert Downey, Jr., Scarlett Johansson, Anthony Mackie, Don Cheadle, Jeremy Renner, Paul Bettany, Elizabeth Olsen, dan Paul Rudd, masih tampil semeyakinkan sebelum-sebelumnya. Mungkin Evans dan Downey, Jr. yang terasa sedikit lebih menonjol berkat momen-momen emosional penting yang begitu berhasil dihadirkan. Sebastian Stan sebagai Winter Soldier juga sedikit mengalami perkembangan yang cukup banyak, terutama dari segi emosional, dibandingkan di Captain America: The Winter Soldier, apalagi di Captain America: The First Avenger. Daniel Brühl sebagai karakter antagonis, Zemo, menghadirkan kharisma villain yang kuat dan manipulatif. Chadwick Boseman sebagai T’Challa alias Black Panther, melengkapi jajaran karakter superhero di MCU yang menarik untuk disimak sepak terjangnya. Tom Holland sebagai the brand new Peter Parker alias Spider-Man terbukti mematahkan kecemasan saya. Ia lebih berhasil mendekati karakter Peter Parker di komik The Amazing Spider-Man daripada Andrew Garfield. And Aunt May… Gosh, akhirnya karkternya ikut-ikutan dibikin fun. Tak lagi nenek-nenek tak berdaya. I definitely want to see more Marisa Tomei as Aunt May!

Tak perlu meragukan lagi teknis dari CACW yang sudah pasti memanjakan indera penglihatan dan indera pendengaran. Mulai sinematografi Trent Opaloch yang mendukung adegan-adegan aksi terasa begitu dinamis dan fun. Didukung pula editing Jeffrey Ford-Matthew Schmidt yang mampu menjaga pace cerita tak membosankan dengan jejalan isu-isu yang diselipkan, bisa dipahami dengan mudah oleh penonton dari range usia manapun, dan yang terpenting, terasa begitu kuat dalam benak penonton. Scoring dari Henry Jackman yang sudah seperti pakarnya modern action-adventure, semakin menambah taste keseruan tiap adegan, pun juga emosional ketika dibutuhkan. Fasilitas surround dimanfaatkan pula secara maksimal dengan begitu powerful.

Jika Anda memilih format 4DX 3D, maka CACW menawarkan experience yang benar-benar berbeda dibandingkan format biasa. Seat motions yang bekerja begitu presisi, tak terasa berlebihan, dan yang paling bikin terasa maksimal adalah sinematografi dan editingnya yang begitu mendukung. Rasakan pertarungan satu lawan satu yang melibatkan hantaman dan tendangan, kejar-kejaran, terbang bak Falcon, melesat bak Ant-Man, serta berayun-ayun bak Spider-Man. Water spray dari depan untuk adegan hantaman dan tendangan, ankle water spray yang cukup banyak memberikan efek kejut yang menyenangkan. Tak ketinggalan asap, kilatan cahaya, serta scorch aroma. I have to admit, the best 4DX 3D experience I’ve ever had so far!

Jujur, saya sebenarnya tak begitu into MCU, yang menurut saya tak lebih dari sekedar fun experience yang juga tak begitu kuat berkesan dalam benak saya. Tapi kali ini saya harus mengakui ke-solid-an konsep besar MCU yang (akhirnya) mampu menyeimbangkan unsur fun dengan esensi cerita yang berbobot. Unsur fun-nya pun jauh lebih memorable ketimbang installment-installment MCU sebelumnya. The most awesome, fun, and thought-provoking movie in the MCU so far. Wajib bagi siapapun yang mengaku moviegoers. Lebih wajib lagi bagi yang mengikuti film-film MCU. Oya, tak lupa mengingatkan. Seperti film-film MCU lainnya, CACW punya dua aftercredit yang sama-sama menarik. Jadi jangan sampai buru-buru keluar dari teater!

Lihat data film ini di IMDb

Saturday, April 23, 2016

The Jose Flash Review
Surat Cinta untuk Kartini

Tema biopic sempat menjadi primadona di ranah perfilman Indonesia. Satu per satu tokoh maupun pahlawan nasional diangkat ke layar lebar. Namun akibat dari adat-istiadat untuk menghormati sosok-sosok (terutama yang telah tiada) yang masih begitu kental, tak jarang biopic Indonesia terjerumus ke dalam lubang yang sama: menampilkan sosok yang serba sempurna dari karakter sentral, yang jelas menjadi tak manusiawi. Bahkan ada cukup banyak kasus yang membuat sosok sang tokoh sentral berjarak dengan penonton. Akibatnya, penonton tidak bisa memahami peran penting dari tokoh tersebut. Kasus lainnya, biopic lebih berfokus pada kejadian-kejadian kronologis yang detail, mengesampingkan storytelling dengan angle tertentu yang memungkinkan penonton bisa memahami sang tokoh sentral, misalnya. Agak repot juga sih sebenarnya menggarap biopic di Indonesia. Selalu saja ada pihak yang menggugat keotentikan cerita film maupun detail. Alhasil, biopic yang digadang-gadang bisa membuat penonton (khususnya siswa-siswi) belajar sejarah dengan cara yang lebih menyenangkan ketimbang dari buku pelajaran, terus-terusan gagal untuk ‘menyentuh’ maupun sekedar ‘mendekati’ range penonton yang luas. Belajar dari yang sudah-sudah, agaknya MNC Pictures mencoba untuk menggunakan pendekatan lain untuk mengangkat biopic tentang sosok pahlawan wanita yang tiap tahun diperingati secara khusus, R. A. Kartini. Sejak awal MNC Pictures menegaskan bahwa Surat Cinta untuk Kartini (SCuK) ini adalah cerita fiksi yang diinspirasi oleh sosok R. A. Kartini. Dengan demikian, seharusnya SCuK sedikit lebih terbebas dari klaim keotentikan cerita maupun elemen-elemennya.

Seorang guru wanita baru masuk ke kelas hendak menceritakan tentang kiprah R. A. Kartini. Karena sudah bosan, anak-anak di kelas protes. Untung ada seorang pria yang masuk dan mencoba menceritakan kisah R. A. Kartini dari perspektif seorang tukang pos. Adalah Sarwadi, tukang pos yang baru pindah dari Semarang ke Jepara, bersama putri semata wayangnya, Ningrum. Perhatiannya teralihkan ketika mengantarkan sepucuk surat kepada salah satu putri bupati Jepara yang tentu saja berasal dari kalangan priyayi (bangsawan), R. A. Kartini. Tak mengindahkan peringatan dari sahabatnya, Mujur, Sarwadi terus-terusan mencari cara untuk mendekati Kartini. Setelah mengetahui Kartini bercita-cita mendirikan sekolah untuk mendidik putra-putri bumiputra (pribumi), Sarwadi pun memanfaatkan Ningrum untuk mendekatinya. Sarwadi turut membantu Kartini mengumpulkan anak-anak di desanya untuk menjadi murid Kartini. Sebagai tempat mengajar, ia memilih sebuah pantai sepi yang sebenarnya dikhususkan untuk orang-orang Belanda. Semangat Sarwadi, begitu juga Kartini terpatahkan begitu mendengar kabar Kartini akan dipinang menjadi istri keempat Bupati Rembang. 

Tak ada yang salah dengan pendekatan fiksi untuk menceritakan kembali sebuah biopic. Formula ini bukan barang baru lagi di ranah perfilman asing, seperti Hollywood atau Eropa, tapi masih tak banyak dilakukan di Indonesia. Apalagi diakui bahwa karakter fiktif Sarwadi dihadirkan berdasarkan surat-surat yang pernah ditulis oleh Kartini sendiri. Maka MNC Pictures tergolong berani mengambil pendekatan beresiko ini. Seperti yang ditampilkan sebagai narasi pembuka, SCuK agaknya memang sengaja lebih menyasar ke penonton anak-anak. Laju cerita SCuK dibuat se-simple mungkin dengan pace yang cukup lambat. Bagi penonton yang mengharapkan cerita yang dinamis dan kompleks, sayangnya harus dibuat kecewa.

Apalagi yang mengharapkan detail-detail otentik yang terkesan diabaikan. Misalnya saja Kartini yang terkesan bebas ke mana-mana tanpa kawalan ketat. Sebagai seorang bangsawan, ini tentu mustahil. Belum lagi detail lain seperti pantai yang digunakan berombak besar, yang mustahil ada di pesisir utara Jepara, motif kain batik yang berbeda antara bangsawan dan rakyat biasa, serta detail-detail lain yang bisa secara otomatis bikin penonton yang paham, ilfil. Menilik dari minimnya setting yang digunakan, saya menduga ini semua dilakukan untu memotong budget. Toh, dengan label “cerita fiksi yang diinspirasi oleh kisah R. A. Kartini”, itu semua sah-sah saja, bukan?

Sebagai penonton dewasa yang mengenal sosok R. A. Kartini hanya sebagai pahlawan pejuang emansipasi wanita dan minim cerita yang lebih detail, saya bisa merasakan kondisi sosio-kultural di era itu.  Lewat adegan-adegan yang cukup gamblang, adat dan kebiasaan yang menurut kacamata sekarang terlalu mengekang, seperti perkawinan paksa di usia muda, kesempatan pendidikan yang mustahil untuk rakyat jelata, sampai perasaan seorang wanita yang bahkan tidak dianggap sebagai ibu oleh anak kandungnya. Semua ditampilkan dengan dramatisasi yang cukup untuk menyentuh saya. Tak hanya itu, kiprah sederhana Kartini yang selama ini terkesan kurang bisa dirasakan secara langsung, mampu digambarkan SCuK dengan jelas. Setidaknya, poin positif yang penting (dan jarang dicapai biopic Indonesia) ini tersampaikan dengan cukup terasa lewat SCuK.

Chicco Jerikho sebagai Sarwadi, sang storytelling device terasa yang paling menonjol dari jajaran cast, meski bukan juga performa terbaiknya. Ia menghidupkan karakter Sarwadi dengan sangat baik, meski detail karakternya memang tak begitu banyak diberikan. Sayang dalam banyak kesempatan, bahasa Jawa dan aksen Jawa Tengah-nya terdengar tidak konsisten. Begitu juga dengan penggunaan bahasa serta aksen Jawa Tengah untuk karakter-karakter lain.

Sebagai debut, Rania Putrisari tak buruk. Bukan salahnya jika sosok Kartini digambarkan sebagai seorang wanita lemah lembut yang punya cita-cita besar tapi tak cukup berani untuk lebih ‘memberontak’, seperti sosok yang kita kenal selama ini. Mungkin ini untuk kepentingan dramatisasi agar lebih mudah. So, Rania terkesan memainkan karakter yang aman dan biasa saja. Kalem, lemah lembut, dan malu-malu. Debutant lainnya, bintang cilik, Christabelle Grace Marbun, harus lebih sering membiasakan diri berakting, termasuk pengucapan dialog yang lebih natural lagi. Sebagai pemeran pendukung, Ence Bagus cukup berhasil sekedar menjadi karakter penyegar suasana, meski tak sampai menjadi karakter yang memorable. Terakhir, Donny Damara sebagai Ario Sosroningrat, terasa biasa saja. Bahkan mungkin banyak yang tidak menyangka (atau bahkan tidak peduli?) bahwa Donny-lah pemerannya.

Lupakan sejenak detail-detail otentik yang diabaikan dan minimnya setting yang digunakan. SCuK sebenarnya masih berusaha tampil cantik di layar lewat art-nya. Asalkan Anda tergolong awam untuk detail-detail set, maka upaya itu cukup berhasil. Scoring Aghi Narottama dan Bemby Gusti berhasil menghantarkan emosi-emosi adegannya dengan lembut. Tak sampai jadi catchy atau memorable, tapi cukup berhasil semakin menghidupkan adegan. Sinematografi Muhammad Firdaus mungkin juga tak istimewa, tapi lebih dari cukup untuk bercerita dan memberikan kesan sesuai eranya. Begitu juga editing Yoga Krispratama yang tak istimewa selain sekedar cukup efektif dalam bercerita, dengan pace yang pas.

Secara keseluruhan, SCuK memang terkesan tanggung atau malah ‘asal’ dengan cukup banyak yang diabaikan. Alur cerita dan pace-nya terlalu sederhana tanpa konflik yang benar-benar terasa mencuat bagi beberapa kelompok penonton. Namun coba ajak anak-anak untuk menyaksikannya. Siapa tahu cukup efektif untuk menjelaskan kondisi socio-kultural dan kiprah Ibu Kartini saat itu. Jika berhasil, maka pendekatan ‘nyeleneh’ SCuK ini bisa dicoba untuk biopic lain yang memang ditargetkan untuk anak-anak. Tidak ada yang salah dengan itu, mengingat pelajaran sejarah lebih penting ditanamkan sejak dini, bukan?

Lihat data film ini di filmindonesia.or.id

Monday, April 18, 2016

The Jose Flash Review
Eye in the Sky


Film bertemakan perang atau penyergapan pelaku teroris dengan pendekatan humanity dan moral dilemma sudah sangat sering diangkat. Malah pendekatan ini justru menjadi formula supaya filmnya dianggap berbobot di mata kritikus dan penonton umum. Terakhir, kita disuguhi 13 Hours: The Secret Soldier of Benghazi dari Michael Bay. Sebenarnya ada film Inggris yang hype-nya tidak terlalu hingar bingar dengan promo yang terkesan minim, tapi punya angle yang menarik tentang penyerangan pelaku teroris. Berbeda dengan kebanyakan tema perang/penyergapan teroris yang berdasarkan kejadian nyata, Eye in the Sky (EitS) justru memilih menjadi film fiksi. Toh, yang menjadi highlight bukanlah kejadiannya, tapi proses yang penuh perhitungan dan pertimbangan di balik suatu kejadian. Naskahnya ditulis oleh Guy Hibbert (Five Minutes of Heaven) dan disutradarai Gavin Hood (X-Men Origins: Wolverine dan Ender’s Game), EitS menjadi film terakhir dari mendiang aktor Alan Rickman.

Sebuah operasi penyergapan komplotan teroris di Kenya dikepalai oleh Kolonel Katherine Powell akhirnya menemukan sarang teroris lewat sebuah drone. Setelah melalui pertimbangan dan kalkulasi, mereka sebenarnya punya otorasi untuk langsung meledakkan sasaran. Mendadak muncul seorang anak perempuan yang menggelar dagangan rotinya tepat di depan lokasi sasaran. Tiap divisi pun bimbang akan terus menjalankan misi atau menunggu. Tak hanya sampai ke Kolonel Katherine Powell, tapi juga melibatkan Jendral Frank Benson, staf kementrian Inggris, sekretaris asing Inggris, bahkan Sekretaris Negara Amerika Serikat, yang kesemuanya saling ping-pong dan ‘cuci tangan’. Berbagai hukum dan pertimbangan dampak internasional mereka kaji sebagai penentu tetap berjalannya misi atau tidak. Sementara di dalam rumah sasaran, para pelaku sudah siap melancarkan aksi dengan rompi peledak. Time is running out, waiting for critical decision.

Berbeda dengan film-film bertemakan perang atau penyergapan teroris biasanya, EitS tidak mengumbar adegan konfrontasi terang-terangan. Sebagian besar justru berfokus pada dialog antar karakter di lokasi-lokasi berbeda membahas berbagai aspek hukum dan dampak. Kendati demikian, bukan berarti EitS jadi film politik serius yang membosankan. Gavin Hood berhasil menjadikan EitS sebuah thriller yang sangat gripping, mulai misi pengintaian dengan drone mini seukuran serangga, sampai detik-detik penentuan misi peledakan. Semua dengan pace yang sangat pas untuk membuat penonton geregetan dan was-was.

Namun di baliknya, kekuatan terbesar EitS yang menjadikannya tak sekedar another war/terrorism assault movies adalah naskah Hibbert yang memasukkan berbagai pertimbangan hukum, moral, dan dampak internasional yang mungkin terjadi sebagai dampak jika misi peledakan tetap dijalankan. Semuanya dirangkai sesuai koherensi antar adegan dan efek emosi penonton yang sesuai. Penonton awam sekalipun diajak berpikir betapa banyak dan rumit pertimbangan keputusan sebuah misi peledakan, tidak asal dijalankan. Bukan sekedar soal siapa yang benar atau salah, siapa yang patut disalahkan, atau dampaknya mending mana; memakan korban satu orang sipil tapi berhasil menyelamatkan kemungkinan korban lain yang jauh lebih banyak jika tak segera ditindak, atau sebaliknya. There is no truly safe option. Satu formula yang masih tergolong jarang di film sejenis yang mungkin hanya sejauh mengajak penonton ikut merasakan dilema moral atau dampak psikologis. Ini bukan berarti EitS mengabaikan dua aspek yang juga penting ini. Di momen yang pas EitS tetap menghadirkannya pula.

Jajaran karakter-karakter utama diisi oleh aktor-aktris senior yang tak perlu diragukan lagi kapasitas aktingnya. Hellen Mirren terkesan begitu powerful, tegas, tapi juga bisa menunjukkan kebimbangan sebagai Kolonel Katherine Powell. Almarhum Alan Rickman pun memberikan performa yang setara dengan Mirren sebagai Letnan Jendral Frank Benson. Aaron Paul sebagai Steve Watts yang bertugas sebagai pilot drone, dengan moral dan psychological dilemma yang begitu terlihat dan terasa dari ekspresi wajahnya. Sementara Barkhad Abdi yang dikenal lewat perannya di Captain Phillips yang mengganjarnya nominasi Oscar, mungkin porsinya tak cukup banyak dan tak cukup untuk mengundang simpati penonton, tapi tetap patut menerima kredit. Setidaknya dalam peran protagonis, meninggalkan image antagonis di film yang melambungkan namanya itu.

Nuansa ketegangan yang berhasil dihadirkan EitS tak luput dari peran sinematografi Haris Zambarloukos, terutama dalam mengarahkan kamera dari sudut pandang drone yang memberikan efek suspense maksimal untuk adegan-adegan pengintaian. Editing Megan Gill pun berperan sangat penting dalam menjaga pace yang tepat, tak terlalu lambat sehingga terkesan membosankan, pun juga membuat segala dilema dan pertimbangan terasa jelas bagi penonton awam sekalipun. Scoring Paul Hepker dan Mark Kilian tak terlalu dramatis ataupun megah, tapi lebih dari cukup untuk mengiringi momen-momen thrill maupun emosional menjadi terasa jauh lebih mendalam.

In term of war/terrorism assault themed movie, EitS jelas exceptional. Menghadirkan nuansa thriller dan emosional di balik tema yang lebih bersifat politis, tapi dengan penuturan yang jelas serta sederhana, EitS sangat menghibur sekaligus berbobot secara proporsional. Salah satu film wajib bagi penggemar tema sejenis, bahkan untuk penonton biasa.

Lihat data film ini di IMDb.

The Jose Flash Review
The Huntsman: Winter's War

Dongeng klasik princess tak pernah kehabisan ide untuk dimodifikasi. Salah satu yang paling menarik perhatian di tahun 2012 lalu adalah Snow White and the Huntsman (SWatH) yang menjadikan dongeng romantis sebuah film aksi petualangan bersetting era medieval. Jujur, formula seperti ini tak begitu menarik minat saya. I’ve had enough of medieval war atau peperangan dengan seragam armor and sword. (Apalagi pemerannya Kristen Stewart yang sudah bikin saya turn-off sejak The Twilight Saga). Namun rupanya SWatH menjelma menjadi franchise yang menguntungkan bagi Universal Pictures sehingga berniat untuk dikembangkan lebih lanjut. Tahun 2016, sebuah installment bertajuk The Huntsman: Winter’s War (THWW) dirilis. Dengan menggunakan judul The Huntsman instead of Snow White, jelas bahwa karakter Snow White tak lagi menjadi tokoh sentral. To be exact, THWW merupakan prekuel sekaligus sekuel dari SWatH, atau bisa juga disebut sebagai spin-off.

Alkisah, Ratu Ravenna yang tamak menggunakan berbagai cara untuk memperluas wilayah kekuasaannya, termasuk membunuh. Sang adik, Freya, pun dididik serupa. Maka ketika ia mendapati Freya hamil dan berniat lari dengan kekasihnya, Ravenna merekayasa kematian anak dan kekasihnya. Freya murka dan mendirikan kerajaan sendiri dengan satu aturan, tidak ada yang boleh jatuh cinta karena dianggap sebagai kelemahan. Bertahun-tahun kemudian, dua prajurit Freya; Sara dan Eric ditemukan diam-diam memadu kasih. Freya pun membunuh Sara tepat ketika hari mereka berdua merencanakan kabur dari kerajaan. Eric yang patah hati tak punya pilihan lain selain tetap menjadi seorang Huntsman. Bertahun-tahun kemudian, Raja William dari Tabor meminta tolong Eric untuk mencari cermin ajaib yang hilang ketika akan dipindahkan ke sebuah tempat aman. Raja William mengutus dua orang kurcaci, Nion dan Gryff untuk membantu Eric. Di perjalanan, Eric menemukan kenyataan lain yang mencengangkan. Misi pencarian cermin ajaib pun berujung pada konfrontasi dengan Freya dan Ravenna.

Dibandingkan SWatH, THWW menawarkan plot yang lebih jauh lagi dari pakemnya. Dari dongeng princess menjadi murni action-adventure fantasy. Tak ada yang salah dengan konsep demikian, meski bagi saya ini juga bukan sesuatu yang istimewa. Apalagi plot dasarnya yang dengan mudah mengingatkan siapa saja akan animasi sukses Disney, Frozen, beberapa tahun lalu. Esensi cinta yang jauh lebih penting above anything and can conquer anything, memang tak sampai terasa cheesy, tapi sebagai film blockbuster yang lebih mementingkan fun factor, juga tak terasa unik, kuat, ataupun berkesan. Untung saja sebagai sebuah film action-adventure blockbuster, THWW masih punya cukup banyak adegan pertarungan yang seru. Tak istimewa, saya tahu tak akan tertanam lama dalam benak saya, tapi harus diakui, cukup eye-candy dan menghibur sesaat.

Salah satu faktor utama yang membuat THWW menarik adalah penampilan ketiga aktris utamanya: Charlize Theron, Emily Blunt, dan Jessica Chastain. Meski tidak tampil sebagai trio (alias berdiri sendiri-sendiri), ketiganya mampu ‘menyihir’ penonton dengan pesona masing-masing. Theron dengan kharisma villainous yang anggun, berkelas, sekaligus keji, bak Angelina Jolie di Maleficent. Blunt dengan keanggunan, serta kekerasan sekaligus kerapuhan hati. Sedangkan Chastain dengan badass action performance-nya yang seksi. Meski terkesan dikalahkan ketiga aktris utama, Chris Hemsworth sebagai Eric masih mampu memikat khususnya penonton wanita dengan kharisma protagonis jagoan. Bukan salahnya jika karakter Eric menjadi kalah menarik perhatian. Kemudian sebagai karakter-karakter penyegar suasana, Nick Frost, Rob Brydon, Sheridan Smith, dan Alexandra Roach sebagai kurcaci-kurcaci, cukup berhasil menyeimbangkan nuansa keseluruhan film yang serius dan depresif.

Sinematografi Phedon Papamichael cukup berhasil membuat adegan-adegan aksinya terasa seru dan dinamis, dipadu dengan editing Conrad Buff yang juga serba tepat. Namun yang paling memikat tentu saja desain produksi Dominic Watkins yang megah, luxury, dan cantik. Tak ketinggalan visual effect yang begitu memukau, terutama ketika Ravenna bertransformasi dari cairan ke bentuk asli. Stunning! Kredit lain yang patut diapresiasi adalah sound design yang sangat sangat memanjakan telinga. Powerful, crispy, clear, dan punya detail yang luar biasa. Fasilitas surround 7.1. dimanfaatkan dengan teramat maksimal untuk menghadirkan experience yang makin menggelegar.

Jadi tentukan ekspektasi yang tepat sebelum menonton THWW. Tak perlu berharap terlalu muluk, karena ia memang dibuat sebagai tontonan hiburan yang seru, tanpa perlu banyak berpikir, dan tentunya eye-and-ear-candy. Nikmati saja tiap momennya, karena belum tentu kesemuanya bisa menempel lama dalam benak.

Lihat data film ini di IMDb.

Thursday, April 7, 2016

The Jose Flash Review
10 Cloverfield Lane

Tahun 2007 lalu muncul sebuah teaser trailer tanpa judul. Penonton hanya diberi clue produksi Bad Robot yang identik dengan J. J. Abrams. Baru kemudian ketika Transformers rilis, trailer pertamanya dirilis, bersamaan dengan berbagai promo viral yang dilakukan Abrams. Cloverfield pun menjadi salah satu film found footage yang paling banyak dibicarakan orang-orang hingga saat ini. Tahun 2016 ini tiba-tiba muncul trailer sebuah film berjudul 10 Cloverfield Lane (10CL) yang juga diproduksi oleh Bad Robot, hanya 2 bulan sebelum jadwal rilis. Tentu ini membuat penggemar Abrams bersemangat untuk mencari tahu segala sesuatunya tentang project ini. Lagi-lagi trailernya tampak sangat minimalis dan misterius, menimbulkan cukup banyak pertanyaan dan rasa penasaran. Salah satunya, tentu saja, apakah 10CL ini sekuel dari Cloverfield dan apakah punya konsep yang sama, yaitu found footage? Disutradarai oleh pendatang baru, Dan Trachtenberg, naskah 10CL dikembangkan oleh tim yang terdiri dari Josh Campbell (editor The Chronicle of Narnia: Prince Caspian), Matthew Stuecken, dan Damien Chazelle (penulis naskah sekaligus sutradara Whiplash).

Michelle, seorang wanita muda tampak bingung dan gelisah mengendari mobilnya sendirian. Tiba-tiba mobilnya ditabrak dan ia tak sadarkan diri. Ketika terbangun, ia sudah berada di dalam sebuah ruangan kecil dalam keadaan kaki terborgol. Howard, pemilik ruangan itu menjelaskan bahwa ia lah yang berjasa menyelamatkan dirinya ketika kecelakaan dan membawa dirinya ke dalam bunker itu. Michelle yang tak lantas percaya dengan cerita Howard, berusaha kabur tapi selalu berhasil digagalkan oleh Howard. Michelle pun semakin curiga. Kehadiran Emmett yang juga ada di bunker itu membuat Michelle mulai percaya, termasuk tentang serangan yang membuat udara di luar terkontaminasi radiasi berbahaya. Kehidupan mulai tenang dan ketiganya mulai akrab, sebelum satu demi satu kejadian membuat kepercayaan Michelle goyah.

Jujur, saya menuliskan sinopsis 10CL di atas dengan sangat hati-hati. Bukannya apa. Menurut saya 10CL adalah film yang makin asyik diikuti jika kita tidak terlalu banyak tahu informasi tentang film ini. Itulah mengapa trailernya dibuat seminimalis mungkin. Makin sedikit yang Anda ketahui tentang film ini, semakin asyik pula Anda akan mengikuti dan menikmati tiap menitnya sampai akhir.

Pertama, saya sangat mengapresiasi naskah 10CL yang begitu efektif menceritakan dengan alur yang tepat dan dengan detail-detail adegan yang relevan serta diletakkan secara efektif, sehingga meski kita sudah tahu bahwa ini adalah sebuah sci-fi yang melibatkan alien, tiap menit dan detailnya membuat kita ragu mana yang benar, mana yang sebenarnya terjadi. Seiring dengan durasi, saya terus-terusan dibuat penasaran mengikuti tiap alur ceritanya, sekaligus ikut merasakan ketegangan luar biasa yang dialami oleh Michelle dan Emmett. Selain naskah yang solid, kemampuan penyutradaraan yang tak kalah mumpuninya ditunjukkan Trachtenberg. Berkatnya, 10CL menjadi begitu mengasyikkan dan hide-and-seek thriller-nya benar-benar gripping!

Nuansa tegang namun mengasyikkan turut didukung oleh performa aktor yang meski tak banyak tapi sangat berhasil mengaduk-aduk emosi penonton. John Goodman sebagai Howard menjadi yang paling menarik perhatian saya. Sosok misterius yang bisa bengis tapi juga bisa hangat, membuat penonton asyik menerka-nerka identitas dan kepribadiannya. One solid and very strong performance from Goodman. Malah mungkin bisa jadi salah satu performa terbaiknya di film. Mary Elizabeth Winstead tak kalah bersinarnya sebagai satu-satunya wanita di jajaran lead cast. Curiosity, suspicious, sekaligus courage dibawakan dengan sangat baik, convincing, powerful, dan berhasil menarik simpati penonton pula. Ini juga bisa jadi salah satu peran Winstead yang akan paling diingat. John Gallagher Jr. sebagai Emmett memang tak diberi peran yang cukup berarti dibandingkan dua lead-nya yang dominan dan diperankan dengan sangat baik pula. Bukan berarti ia tampil buruk. Hanya saja dengan porsi yang demikian, tak banyak perhatian maupun simpati penonton tersisa untuk karakternya. Terakhir, jangan lewatkan sumbangsih suara Bradley Cooper sebagai… tebak-tebak sendiri saja lah.

Hampir keseluruhan teknis 10CL mendukung keberhasilan nuansa maupun naskahnya. Mulai sinematografi Jeff Cutter dalam memanfaatkan ruang sempit dan terbatas, hasil desain produksi Ramsey Avery dan timnya, menjadi menarik untuk dieksplor tiap sudutnya. Tak ketinggalan kepiawaiannya menampilkan nuansa claustrophobic sepanjang film, terutama sekali di beberapa adegan yang sangat berhasil bikin penonton ‘sesak’. Editing Stefan Grube yang dengan sangat presisi dalam membangun nuansa curiosity, thriller, dan drama ketika menyampaikan narasinya yang berpotensi membosankan tapi nyatanya tetap berhasil bikin penonton semakin penasaran. Scoring dari Bear McCreary (The Boy, The Forest) yang makin terasa berkelas, epic, dan emotionally gripping. Tata suara yang mumpuni menghadirkan keseimbangan bass yang powerful, crisp, clear, detail yang mengagumkan, termasuk misalnya suara Michelle ketika memakai ‘baju aman’, dan terakhir, efek surround yang memanjakan telinga.

Like I said before, 10CL adalah tipe film yang makin asyik ditonton dan diikuti jika kita tahu seminim mungkin info tentang filmnya sebelum menonton. Sekalipun Anda sudah menerka ini adalah sebuah sci-fi yang melibatkan alien, ia tetap saja berhasil membuat Anda ragu-ragu tentang kebenarannya. Ini berkat penulisan naskah, adegan-adegan yang mengikat, dan akting para aktor yang juara. Nikmati saja tiap adegan yang terus-terusan mengundang rasa penasaran sampai akhir. This is definitely one of my most favorite thriller ride in a movie I’ve ever experienced.

Lihat data film ini di IMDb.

Monday, April 4, 2016

The Jose Flash Review
The Bodyguard [特工爺爺]


Trend tema badass oldman yang ditandai dengan cukup gemilang oleh Liam Neeson lewat Taken membuat aktor-aktor laga yang sudah memasuki usia senja termotivasi untuk kembali beraksi. Tak hanya di Hollywood yang salah satu puncaknya adalah ensemble cast di The Expendables, tapi kini juga merambah sinema lainnya. Salah satunya tentu saja sinema Cina yang saat ini menjadi pesaing terbesar Hollywood. Adalah Sammo Kam-Bo Hung atau yang di sini kita kenal sebagai Sammo Hung, aktor laga spesialis martial art yang sudah membintangi ratusan film dan bahkan juga menyutradarai beberapa di antaranya. Aksi kembalinya di layar lebar (sebagai lead action hero) ketika usia menginjak 64 tahun sekaligus menandai kembalinya di bangku sutradara secara penuh setelah terakhir Mr Nice Guy dan Once Upon a Time in China and America tahun 1997 lalu ini jelas menjadi kabar baik bagi para penggemarnya. Tak hanya itu, aktor Cina legendaris lainnya, Andy Lau, turut mengisi peran sekaligus produser.

Ding Hu adalah mantan anggota biro keamanan pusat yang sudah pensiun. Kini ia tinggal sendiri di sebuah kota kecil di perbatasan Cina-Rusia. Sang putri seolah membencinya setelah tak sengaja ia lalai hingga sang cucu menghilang. Parahnya lagi, Ding Hu diduga mengidap dementia. Yang menaruh perhatian lebih kepadanaya adalah sang induk semang, Madame Park. Selain itu ada juga seorang gadis cilik bernama Cherry yang sering diam-diam mengunjunginya ketika mendapatkan perlakuan yang tak baik dari sang ayah. Hingga suatu ketika ayah Cherry menghilang, Ding Hu dan Cherry menjadi semakin dekat, bak kakek dan cucu. Sekembalinya, ternyata Ding Hu punya konflik dengan mafia setempat dan mafia Rusia. Ding Hu yang seharusnya menjadi saksi terhambat oleh dementia. Hanya kemampuan bela diri yang dimilikinya untuk menyelesaikan konflik ini.

Secara garis besar cerita, The Bodyguard mungkin tidak menawarkan sesuatu yang benar-benar baru. Dari premise demikian sebenarnya bisa ditebak pula, apa yang menjadi komoditas utamanya: aksi beladiri yang seru dan drama hubungan Ding Hu dan Cherry yang mengharu biru. Benar saja, dua komoditas utama ini berhasil memerankan perannya. Sequence-sequence aksi bela diri yang brutal, ditangani dengan pace dinamis, shot dan editing yang pas, membuat semuanya tampak amazing. Momen-momen emosional tanpa harus terkesan drama berlebihan pun disuguhkan dengan cukup menyentuh.

Namun yang menjadi permasalahan terbesar The Bodyguard adalah penyusunan alur cerita yang terkesan bertele-tele di banyak kesempatan. Layer background cerita mafia terasa begitu berlebihan tanpa punya kedalaman maupun detail lebih yang membuat saya lebih tertarik untuk mengikutinya. I mean, perlukah ada dua kubu mafia; Cina dan Rusia, yang saling bersengketa? Salah satu kubu saja sebenarnya sudah cukup untuk membuat fokus karakter Ding Hu atau hubungan antara Ding Hu dan Cherry tetap terjaga. Kesan bertele-tele pun terasa pula ketika adegan pertarungan klimaks yang masih diikuti penyelesaian-penyelesaian cukup panjang.

Sebagai lead action hero, Sammo Hung masih punya kharisma yang begitu kuat, ditambah martial art skill yang juga masih amazing. Tak ketinggalan drama presence yang sama kuatnya untuk menyentuh emosi penonton. Chemistry yang dijalinnya bersama si cilik, Jacqueline Chan Pui-Yin pun tak hanya believable, tapi juga berhasl menarik simpati saya. Tentu saja kehadiran Jacqueline sendiri menjadi pencuri perhatian tersendiri. Kemudian, Li Qin-Qin sebagai sang induk semang, Park, turut menarik perhatian lewat karakternya yang seringkali mengundang tawa.

Sisanya, jajaran special appearance dari aktor-aktor Hong Kong terkemuka, seperti Jun Hu, Biao Yuen, Shaofeng Feng, Wah Yuen, dan Eddie Peng, tak memberi banyak kontributor yang menarik perhatian dan bersifat ‘blink and you’ll miss it’. Tak terkecuali pula, sutradara legendaris, Tsui Hark yang kembali menjadi cameo setelah beberapa waktu lalu kita lihat di Mermaid. Mungkin hanya Andy Lau yang diberi porsi lebih banyak dan dengan kharisma yang mumpuni pula, sehingga menjadikan karakternya lebih mendapatkan perhatian penonton.

Tak begitu istimewa di desain produksi, The Bodyguard beruntung masih punya sinematografi Ardy Lam (yang sudah berpengalaman menangani puluhan film aksi Hong Kong legendaris) dan editing Chi Leung-Kwong yang berhasil menjadikan pace dan energi The Bodyguard terjaga dengan sangat baik sebagai sebuah film aksi beladiri. Scoring dari Ngai Lun Wong dan Janet Yung turut mengiringi adegan-adegan thrill, aksi, dan drama dengan pas serta tepat sasaran. Kadang bernuansa classic American country, instrumen drum ala Birdman, dan sesekali orkestra. Didukung pula dengan tata suara yang cukup mumpuni, termasuk pembagian kanal surround yang terdengar dimanfaatkan dengan baik, adegan-adegan aksi brutal The Bodyguard terasa excellent.

Sebagai kesatuan film cerita yang utuh, The Bodyguard memang terasa bertele-tele dan mungkin juga punya detail yang kurang bisa membuat penonton peduli, terutama dari sudut villain. Susunan antar adegan pun seringkali terasa kurang enak diikuti. Jelas, bukan film terbaik Sammo Hung, baik sebagai aktor maupun sutradara. Namun untuk urusan komoditas utamanya; memberikan hiburan lewat adegan-adegan aksi beladiri yang brutal dan menegangkan, serta momen-momen emosional, The Bodyguard masih cukup layak untuk dinikmati di layar lebar.

Lihat data film ini di IMDb.

The Jose State of Mind
The Liebster Award 2016

Just received The Liebster Award 2016 from one of my fellow movieblogger, Paskalis Damar (Sinekdoks). I think it's fun and could have been informative for my beloved readers. So yes, why didn't I accept the challenge, answer it, and pass it on. Here we go...

Part 1: Answering Sinekdoks' questions
01. Mention your most favorite movie since 2000! 
(Sebutkan satu film favoritmu yang rilis sejak tahun 2000!)
Hmmm, I have to say... Inglourious Basterds by Quentin Tarantino. 

02. Mention your most favorite movie quote of all time!
(Sebutkan satu movie quote favoritmu sepanjang masa!)
"Life was like a box of chocolates. You never know what you're gonna get." Tau lah yah dari film apa.
03. If The Dark Knight trilogy is included, are you at DC or Marvel?
(Kalau trilogi Dark Knight dimasukkan, kamu lebih pilih DC atau Marvel?)
Tough question. I mean from DC side, I loooooove The Dark Knight Trilogy, Tim Burton's Batman, and even Man of Steel. Other than those, nothing much interested me. From Marvel side, I looooove all X-Men installments and Sam Raimi's Spider-Man, but I don't really dig The Avengers franchise. Soooo... based on how many movies I love, I guess I have to answer Marvel.

04. What’s your most favorite movie sequel ever?
(Apa sekuel film favoritmu sepanjang masa?)
Nggak pake mikir, Empire Strikes Back. Along with all its sequels afterwards. Including the prequel trilogy.

05. If you can make a movie crossover (like The Avengers or Freddy vs. Jason), what movies would that be? And give a title.
(Kalau kamu bisa bikin film crossover kayak Batman v Superman atau Freddy vs. Jason, film-film apa yang mau kamu gabungkan? Sertakan judul crossovernya.)
Hmmm... apa yah? Austin Powers dan James Bond seru kali yah? Oh, how I miss Austin Powers' movies! Judulnya mungkin James Bond meets Austin Powers: The World is Not Behaved. Atau License to Behave.

06. If your life were a movie, who will possibly direct it?
(Kalau hidupmu adalah film, siapa yang cocok menyutradarainya?)
Gue pengen banget film tentang gue itu komedi atau musikal. So Farrelly Brothers or Baz Luhrmann will be the best choice.

07. If your life were a movie, what’s the title?
(Kalau hidupmu adalah film, apa judulnya?)
Pa'an yak? The Jose Movie aja lah. Simple. Hahaha...
08. If you could live in a movie for a week, what movie would you choose to live in?
(Kalau kamu bisa hidup dalam sebuah film selama seminggu, film apa yang kamu pilih?)
Banyak! Austin Powers, Star Wars, Kill Bill, Inglourious Basterds, Shrek. Above all, Moulin Rouge seru kali yak.
09. What does your blog’s name/title really mean?
(Apa arti nama blogmu sebenarnya?)
Nggak ada yang arti khusus sih. Just movie reviews according to Vincent Jose. That's all.
10. How would you describe your interaction with your blog’s audience? Is it like a teacher to students or what?
(Coba deskripsikan interaksimu dengan pengunjung blogmu! Apakah seperti guru dan murid atau ada yang lain?)
Penulis dan fans-nya. Hahahaha... Becanda. Ya penulis dan pembaca aja lah ya, biar kesannya nggak sombong. Lebih asyik lagi kalau bisa terlibat diskusi yang cerdas.

11. Now please describe your blog in 3 adjectives!
(Deskripsikanlah blog-mu dengan 3 kata sifat saja.)
Evolving. Objective. Divers.


Actually I have to make another 11 questions to pass to another bloggers. But for now, I still don't have enough time to make ones. So just wait until next time. I'll think about the questions to pass. See ya around and never to forget, ALWAYS SEE MOVIES AS THOSE WERE MADE AS!

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates