Galih dan Ratna

The Indonesia's very own romantic couple has been reborn to the millenial era.
Opens March 9. Read more.

Moammar Emka's Jakarta Undercover

The Jakarta's famous night life is going to be a hype one more time!
Read more.

Kong: Skull Island

The giant King Kong roars again!
Opens March 8. Read more.

Logan

Hugh Jackman to portray Wolverine for one last time.
Read more.

Beauty and the Beast

Disney to bring the classic magical animation to live action with Emma Watson!
Opens March 17.

Wednesday, March 30, 2016

The Jose Flash Review
The Young Messiah

Yesus Kristus adalah salah satu figur reliji terbesar yang pernah ada di dunia, dan tentu saja bagi umat Kristiani, Ia adalah figur terpenting. Karena ‘terikat’ sebagai bagian dari iman agama besar, kisah Yesus tidak bisa sembarangan diangkat ke layar lebar. Bible atau Injil yang menjadi sumber utama lebih sering dipakai jika berniat ‘main aman’. Namun lama-kelamaan muncul kejenuhan juga jika terus-terusan mengangkat pure-Biblical. Maka novel fiksi yang mencoba mengangkat kisah hidup Yesus lewat kacamata yang berbeda-beda dilirik. Martin Scorsese tahun 1988 pernah mengangkat novel The Last Temptation of the Christ karya Nikos Kazantzakis ke layar lebar dan menjadi kontroversi besar. Tahun 2016 ini, satu lagi salah satu episode hidup Yesus yang coba diangkat ke layar lebar. Diangkat dari novel fiksi Christ the Lord: Out of Egypt, karya Anne Rice, yang kita kenal sebagai penulis novel seri The Vampire Chronicles dan pernah diangkat ke layar lebar lewat Interview with the Vampire dan Queen of the Damned. Novel itu pun punya sekuel berjudul Christ the Lord: The Road to Cana, dan yang belum pernah dipublikasikan, The Kingdom of Heaven. Uniknya, Anne menulis trilogi ini setelah menyatakan memeluk Katolik, tapi pada akhirnya memutuskan untuk menjaga jarak dengan organisasi Kristen karena ketidak setujuannya dengan pernyataan Gereja tentang berbagai isu sosial. Meski akhirnya memutuskan untuk menjadi seorang humanis sekuler, Anne mengaku tetap menaruh iman kepada Tuhan.

Produksi film yang lantas diberi judul The Young Messiah (TYM) ini hasil kerjasama beberapa rumah produksi, antara lain 1492 Pictures milik Chris Columbus (Home Alone, franchise Harry Potter), Ocean Blue Entertainment, Hyde Park Entertainment milik Ashok Amritraj (produser film-film erotis macam franchise Night Eyes dan terkahir, Careful What You Wish For), dan CJ Entertainment asal Korea Selatan. Digarap oleh sineas keturunan Iran, Cyrus Nowrasteh, yang dikenal lewat The Stoning of Soraya M., dibantu sang istri, Betsy Giffen Nowrasteh.

TYM dibuka ketika Yosef dan Maria memilih untuk pindah ke Alexandria, Mesir, setelah Kaisar Herodes mengutus membunuh semua bayi berusia di bawah 1 tahun di Israel. Yesus yang berusia 7 tahun tak sengaja membuat keributan sehingga mereka memutuskan untuk kembali ke Israel. Apalagi setelah kematian Kaisar Herodes, mereka berpikir kondisi sudah lebih aman untuk kembali ke kota asal mereka, Nazareth. Yesus sendiri bingung dengan identitas diri dan kondisi dirinya, sementara kedua orang tuanya enggan menjelaskan. Punya kemampuan untuk membuat mukjizat seperti membangkitkan orang mati dan pengetahuan-pengetahuan tentang ilahi yang mencengangkan para Rabbi. Sementara itu putra Herodes yang kini menggantikan tahta sang ayah yang mendengar kabar kembalinya keluarga Yesus ke tanah Israel, mengutus panglima perang, Severus, untuk memburu Yesus.

Jika Anda (benar-benar) seorang Kristiani, tentu tahu bahwa fase terpenting dalam hidup Yesus adalah menjelang kematian dan kebangkitan-Nya yang dianggap sebagai karya penebusan dan keselamatan semua umat manusia, sekaligus menjadi inti ajaran Kristiani. Tak heran jika kemudian fase ini menjadi yang paling sering diangkat ke berbagai medium. Bahkan Passion of the Christ dari Mel Gibson yang kontroversial beberapa tahun lalu dikritik lebih mengeksploitasi sisi kekerasan dan penderitaan Yesus, bukan kebangkitan yang menjadi bagian paling penting dari karya penebusan. Keputusan mengangkat fase Yesus kecil jelas menjadi keputusan yang dianggap berani. Pertama, fase ini tak banyak terdapat di Injil sehingga memungkinkan timbulnya kontroversi dari kaum fundamentalis yang mungkin saja menuding sesat dan semacamnya. Kedua, tak banyak kejadian penting di fase ini selain kebimbangan Yesus mencari jawaban atas dirinya sendiri, which is di sini sebenarnya tak butuh durasi sepanjang 1 film layar lebar juga. Maka tak heran jika secara keseluruhan TYM mengalami kendala dalam laju cerita yang tak banyak bergerak maju. Pertanyaan-pertanyaan dari kegundahan Yesus kecil pun tak sepenuhnya terjawab.

Tak heran jika kemudian dimasukkan sub-plot tentang pengejaran oleh putra Herodes melalui Severus kepada keluarga Yesus untum sedikit ‘menghias’ film. Namun bukan berarti TYM tidak menawarkan sesuatu yang substansial dan menarik untuk dibahas (atau setidaknya, direnungkan). Terutama bagi penonton yang paham dengan ajaran Kristiani dan konsep turunnya Yesus ke dunia, tentu TYM menjadi sebuah kajian yang menarik tanpa harus terkesan sesat. Bagaimana rasanya menjadi Yesus yang selama ini kita kenal sebagai Juru Selamat juga pernah mengalami pergulatan iman ketika belum menyadari tujuan hidup yang sebenarnya. Selain dari itu, beberapa trivia tentang kisah Yesus yang mungkin selama ini sempat kita pertanyakan dalam benak menjadi faktor menarik lainnya untuk menambah wawasan. Meski tak sepenuhnya bisa dipercaya (bahkan ada adegan Yesus membuat mukjizat ketika masih kecil, padahal kita semua tahu Yesus melakukan mukjizat pertamanya ketika dewasa), setidaknya juga tidak asal-asalan muncul.

Tidak ada yang benar-benar istimewa dari penampilan para aktornya, tapi juga tak tampil buruk. Adam Greaves-Neal sebagai Yesus cukup hidup dalam menunjukkan kegelisahan seorang anak kecil berusia 7 tahun. Vincent Walsh dan Sara Lazzaro sebagai Yosef-Maria di balik screen presence yang tak terlalu banyak dan penting, memberikan performa yang cukup convincing. Spotlight utama tentu saja Sean Bean sebagai Severus yang notabene aktor paling populer dibandingkan jajaran cast lain. Tak terlalu istimewa, tapi Bean berhasil mencuri perhatian berkat kharisma bintangnya yang memang tak mudah pudar begitu saja. Jonathan Bailey sebagai putra Herodes dan Rory Keenan sebagai Setan menjadi penampilan favorit saya sepanjang film. Terakhir, Jane Lapotaire sebagai Sarah, juga mencuri perhatian saya. Dengan screen presence yang terbatas, kekuatan akting dan kharismanya bisa dengan mudah membekas dalam benak saya.

Di teknis pun tak juga ada yang benar-benar istimewa atau remarkable. Sinematografi Joel Ransom cukup jelas membingkai plot, didukung editing Geoffrey Rowland yang terasa serba pas. Desain produksi Francesco Frigeri yang menyulap Matera, Italia, menjadi Nazaret lebih dari cukup untuk terlihat otentik. Scoring dari John Debney lebih dari cukup untuk menjadikan TYM terasa berkelas sekaligus menghantar emosi adegan.

TYM sejatinya memang bukan film Biblical yang sengaja dibuat se-epic Passion of the Christ, King of Kings, atau sejenisnya. Dari materi cerita yang diangkat pun sebenarnya sudah bisa dilihat skala ceritanya, just a beginning story or a side-story. So bagi yang memahami kisah Yesus Kristus dan konsep keilahiannya, TYM masih bisa menjadi sajian yang menarik untuk dibahas dan direnungkan. Sebaliknya, bagi yang non-Kristiani atau yang tidak terlalu familiar dengan konsep ke-Tuhanan Yesus sesungguhnya, TYM bisa jadi tontonan yang membosankan dan tidak jelas.

Lihat data film ini di IMDb.

Tuesday, March 29, 2016

A Short Feature by Vincent Jose
Tukokno, Supermen!


I noticed a lot of people, some of them are this blog's frequent readers, wondering what if the writer (which is me) making his own movie. Well, this is my latest short feature, titled Tukokno, Supermen.
It should be competed for Go-Video 2016 held by Go-Jek Indonesia, but didn't make it to the big 20. As usual, you can always watch it, like it, subscribe the channel, dislike it, give any kind of comments, and share it if you like. I know it's not perfect, due to budget, equipment, and cast boundaries, but allow me to share it with you. Enjoy!

P.S.: English subtitle available. Simply click on CC/subtitles button.

Friday, March 25, 2016

The Jose Flash Review
Abdullah & Takeshi

Trend komika yang dipercaya menjadi daya tarik sebuah film belum berhenti. Malah kini perlahan merambah bangku sutradara. Setelah Raditya Dika dan Ernest Prakasa, kali ini giliran Kemal Palevi yang diberi kerpecayaan oleh Multivision Plus Pictures untuk mengarahkan sekaligus menulis naskah serta bermain sebagai sala hsatu lead actor di film komedi untuk pertama kalinya, Abdullah & Takeshi (A&T). Meski punya premise ala sinetron Putri yang Tertukar, tapi A&T punya latar belakang cerita yang lebih bold dan menarik untuk diangkat.

Ketika ospek, Takeshi dan Abdullah bersaing mendapatkan perhatian dari Indah. Tak saling menyadari ada yang aneh dengan diri mereka, justru Indah yang mempertanyakan fisik Takeshi dan Abdullah. Takeshi yang dibesarkan oleh orang tua Jepang, terlihat seperti orang Arab. Sebaliknya, Abdullah yang dibesarkan oleh orang tua Arab sama sekali tidak ada ciri-ciri fisik khas Arab. Setelah melakukan penyelidikan, Indah mendapat fakta bahwa Abdullah dan Takeshi tertukar di rumah sakit ketika masih baru lahir. Untuk lebih meyakinkan lagi, mereka bertiga memutuskan untuk berangkat ke Jepang demi mengkonfirmasi ke rumah sakit tempat keduanya lahir.

Satu hal yang paling membuat saya semangat untuk nonton A&T adalah ia punya bekal materi yang menarik untuk digali, baik sebagai materi cerita maupun bahan guyonan: perbedaan budaya Jepang dan Arab. Well, A&T memang bisa dibilang cukup memanfaatkan daya tarik itu lewat beberapa guyonannya dan cukup berhasil menggelitik saraf tawa saya pula. Sayangnya, yang porsinya lebih banyak justru guyonan-guyonan khas Kemal dan Lolox sebagai komika yang tidak berkorelasi dengan situasi dan, sorry to say, most of the time, I don’t understand what’s funny about it. Selain dari itu, ada pula joke sindiran sosial yang cukup bikin saya tersenyum, meski tak semuanya berhasil mengena. Materi cerita pun tak berhasil dikembangkan lebih dalam atau menjadi lebih menarik. What’s written in the synopsis was all you got from the whole movie. Padahal sebenarnya ada cukup banyak kemungkinan arah plot yang potensial. Misalnya tentang hubungan Indah dengan keduanya. Alhasil, A&T terasa seperti komedi menarik yang masih mentah. Just like that.

Kemal dan Dion Wiyoko cukup menarik dan convincing memerankan karakter cross-over meski dalam konteks komedi. Pendatang baru, Nasya Marcella sebagai Indah berhasil mencuri perhatian saya. Tak hanya faktor fisiknya yang memang mempesona, tapi juga keluwesannya membawakan karakter Indah. Tak istimewa, tapi berhasil dihidupkan dengan pesona yang lebih dari cukup olehnya. Lolox tampil seperti kebanyakan komika yang tampil sebagai cameo di film, Ayumi Harada-Hiromitsu Harada sebagai orang tua Takeshi cukup mampu memberikan keseimbangan antara menggelitik sekaligus hangat sebagai keluarga. Begitu juga Mike Lucock dan Natali Sarah sebagai orang tua Abdullah yang lebih populer sehingga mampu menjadi sumber komedi yang lebih terasa berhasil.

Tidak ada yang istimewa di teknis, mulai sinematografi Dimas Imam Subhono yang masih tergolong mampu bercerita dengan baik, editing Cesa David Luckmansyah yang mampu menjaga pace dan energi sebagai sebuah komedi di balik arah cerita yang ‘begitu saja’.

Dengan naskah yang lebih solid dan renyah, saya sebenarnya bisa melihat cukup banyak potensi di A&T untuk menjadi karya komedi yang cerdas, menyentil, sekaligus sangat menghibur. Sayangnya hasil akhir A&T terasa masih mediocre, biasa-biasa saja. Gagal menjadi sebuah komedi yang remarkable, setidaknya A&T masih boleh lah dijadikan tontonan ringan di saat butuh tertawa lepas atau sekedar senyum-senyum.

Lihat data film ini di filmindonesia.or.id.

Friday, March 4, 2016

The Jose Flash Review
London Has Fallen

Lihat data film ini di IMDb.

The Jose Flash Review
Pesantren Impian

Lihat data film ini di filmindonesia.or.id.

The Jose Flash Review
Comic 8: Casino Kings Part 2

Comic 8 bukanlah franchise yang main-main. Selalu mencetak angka di atas 1 juta penonton (1.6 juta penonton untuk Comic 8 tahun 2014 dan 1.2 juta penonton untuk Comic 8: Casino Kings Part 1), jelas ini fenomena yang masih sangat jarang terjadi di scene film Indonesia. Meski keputusan membagi Casino Kings menjadi 2 bagian terdengar seperti proyek aji mumpung yang mengakibatkan part 1-nya seperti sekedar intro menuju klimaks semata, toh antusias penonton tak menurun. Terbukti sampai penayangan  minggu kedua, part 2 ini berhasil mengumpulkan angka 1.5 juta penonton. Bukan tak mungkin ini bakal melampaui perolehan Comic 8 di tahun 2014 lalu. Terlepas dari kritik serta munculnya fans dan haters, fenomena ini jelas menunjukkan bahwa sebenarnya formula-formula box office untuk penonton Indonesia sudah mulai bisa dibaca dan ditangkap oleh produser film. Toh munculnya fans dan haters menjadi salah satu bukti ‘keberhasilan’ sebuah franchise, setidaknya dari segi marketing yang berhasil menciptakan topik tersendiri.

Melanjutkan langsung dari part 1-nya, delapan komika utama kita masih harus menyelesaikan permainan jebakan yang telah disiapkan The King dan kaki tangan pelaksananya, Dr. Pandji. Mereka berhadapan dengan jagoan-jagoan film aksi veteran, seperti Barry Prima, Welly Dozan, George Rudy, dan Lydia Kandou. Sementara itu agen Interpol Chintya, mulai mengorek info dari Indro yang akhirnya membuat keduanya bekerja sama menyelamatkan kedelapan komika serta membongkar kedok kejahatan The King di pulau terpencilnya.

Sebelum membahas lebih jauh, patut dipahami dulu konsep besar Comic 8. Tak hanya sekedar komedi dengan menjual guyonan khas dari masing-masing komika, Comic 8 dibungkus dengan cerita ala agen rahasia, tak ketinggalan twist-twist yang bagi saya, menarik dan tak sekedar asal ngetwist, tapi punya relevansi-relevansi logis dari setup-setup sebelumnya. Coba perhatikan tiap detail cerita, meski terkesan main-main, tapi perjalanan plotnya masih dalam koridor logika yang baik dan digarap serius. Ensemble cast yang all star tentu menjadi faktor daya tarik yang tak kalah kuatnya. It’s a pure entertainment dengan berbagai elemen-elemen box office yang punya nilai hiburan tinggi. So, jelas Anda salah alamat jika mengharapkan subteks sosial atau apapun itu seperti yang dibandingkan oleh salah satu kritik media cetak besar nasional dengan film komedi lain, Talak 3 atau Ngenest. Jika hanya membandingkan karena perkara sama-sama genre komedi, jelas kurang relevan, karena konsepnya jelas-jelas berbeda.

About Part 2 sendiri, karena melanjutkan langsung, maka ia membuka dengan beberapa cuplikan dari seri sebelumnya dan langsung to the point melanjutkan kisahnya. Satu per satu twist pun dibuka. Ada yang memang cukup substansial bagi cerita, seperti twist di ending film, tapi ada pula yang sengaja memang cuma sekedar untuk dijadikan materi komedi, seperti tentang identitas asli The King. Speaking of jokes, masih mengusung style yang tak beda jauh dari seri-seri sebelumnya. Secara porsi mungkin agak sedikit berkurang, hit and miss pula, tapi secara keseluruhan, masih bisa membuat penonton yang kebetulan cocok dengan gaya humornya, tertawa terbahak-bahak. Atau setidaknya sekedar menyimpulkan senyum, seperti yang sering terjadi pada saya sepanjang film. Yang membuat saya lebih bahagia adalah melihat penonton lain yang bisa tertawa terbahak-bahak sepanjang film dan itu tidak terlihat dipaksakan atau dibuat-buat. Once again, soal humor, tingkat keberhasilannya sangat tergantung pada selera tiap penonton. Jadi betapa soknya saya jika mengklaim tidak lucu sementara jelas-jelas berhasil membuat penonton lain tertawa terbahak-bahak. Selain humor, Part 2 juga menawarkan lebih banyak adegan aksi yang bertebaran dan sangat eye candy. Favorit saya, tentu saja pertarungan Prisia Nasution vs Hannah Al Rashid.

Penampilan delapan komika utamanya; Ernest Prakasa, Mongol Stres, Kemal Palevi, Bintang Timur, Babe Cabiita, Fico Fachriza, Arie Kriting, dan Ge Pamungkas, masih menjalankan peran masing-masing dengan stabil, meski secara porsi masing-masing harus berbagi dan sayangnya, di sini tak terlalu sememorable seri-seri sebelumnya. Begitu juga dengan pemeran-pemeran pendukung seperti Pandji Pragiwaksono, Sophia Latjuba, Donny Alamsyah, dan Hannah Al Rashid. Sementara Indro dan Prisia mendapatkan porsi yang lebih banyak dan lebih penting dari seri sebelumnya. Sisanya, terasa lebih sebagai cameo yang tak terlalu penting tapi memang semakin meramaikan suasana. Mulai Agus Kuncoro, Candil, Ence Bagus, Sacha Stevenson, Soleh Solihun, Bagus Netral, Ray Sahetapy, Temon, Boris Bokir, Gandhi Fernando, Joe P Project, Boy William, Agung Hercules, Nikita Mirzani, dan Cak Lontong.

Visual effect menjadi salah satu elemen penting dari franchise Comic 8. Kabar baiknya, saya harus mengakui special visual effect Part 2 mengalami perkembangan yang cukup signifikan dari seri-seri sebelumnya. Abaikan dulu penampilan naga terbang di penghujung film yang mungkin masih terlihat CGI-nya, tapi perhatikan pesawat jet yang dikendarai oleh Agus Kuncoro dan Candil, atau lihat juga adegan penyerangan rumah Indro yang digarap dengan baik sehingga berhasil menciptakan ketegangan. Sinematografi dan pergerakan kamera Dicky R Maland terasa sangat efektif dan berenergi untuk visualisasi film aksi, bersinergi dengan editing Andi Mamo yang berhasil menjaga pace keseluruhan film dengan pas. Tata suara juga digarap dengan tidak kalah seriusnya. Tak hanya terdengar menggelegar berkat sound effect-sound effect spektakuler, tapi juga membagi kanal surround dengan cukup cermat.

So, angka selalu di atas 1 juta penonton jelas bukan prestasi sembarangan. Apalagi rekor diraih dalam waktu yang tak sampai seminggu. Alih-alih mencibir dan membanding-bandingkan dengan film Indonesia lain yang jelas kurang relevan, ada baiknya justru mempelajari fenomena ini untuk diimplementasikan pada film-film lain. Bagaimana pun yang paling utama dari film adalah disukai oleh penontonnya dan bisa menghibur. Tanpa penonton yang tertarik, maka sia-sialah film tersebut dibuat. Mau sebawel atau sepenting apapun esensi yang coba ditampilkan lewat film tersebut. Comic 8 adalah contoh film yang berhasil membangun sebuah franchise, terlepas dari fenomena ‘love it or hate it’ yang tak terelakkan. Jika Anda cocok dengan style-nya, nikmati saja. Jika memang sejak awal mengakui tidak cocok, ya lebih baik tidak perlu memaksakan untuk nonton. Menikmati film sebenarnya se-simple itu, bukan? Toh bagi saya, meski tak terlalu istimewa, harus diakui Comic 8: Casino Kings Part 2 was explosively entertaining.

Lihat data film ini di filmindonesia.or.id.

The Jose Flash Review
Gods of Egypt


Ketika legenda dan mitologi Yunani sudah sampai pada titik jenuh untuk diangkat ke layar lebar, sudah saatnya Hollywood melirik mitologi peradaban dunia tertua lain yang tak kalah menariknya; Mesir! Selama ini Hollywood terhitung sangat jarang mengangkat mitologi Mesir. Itu pun lebih banyak mengangkat sosok legendaris mummy sebagai materi horor. Padahal Mesir punya mitologi dewa-dewi yang tak kalah menarik dan banyaknya dengan Yunani ataupun Romawi. Peluang ini yang tampaknya dilirik oleh Lionsgate/Summit Entertainment. Digandeng lah sutradara Alex Proyas yang cukup berpengalaman menggarap film-film bertema fantasi dengan desain produksi ‘unik’ macam Dark City, I, Robot, dan Knowing, tapi sudah absen selama 7 tahun, di bawah bendera Mystery Clock Cinema. Untuk naskah, dipilih duet Matt Sazama dan Burk Sharpless yang sebelumnya menggarap naskah Dracula Untold dan The Last Witch Hunter. Dengan budget konon sampai US$ 140 juta, Gods of Egypt (GoE) jelas merupakan project yang sangat ambisius dari studio non-big five.

Tepat saat upacara inaugurasi Dewa Horus sebagai pemimpin tahta Mesir, menggantikan sang ayah, Dewa Osiris, sang paman yang merupakan Dewa Kegelapan, Set, datang mengacau. Tak hanya membunuh Osiris, Set juga mencongkel kedua mata Horus hingga tak berdaya. Tahta Mesir pun dikudeta oleh Set. Di bawah kekuasaan Set, rakyat Mesir mengalamai penderitaan akibat pemerintahan diktatornya yang semena-mena. Seorang pemuda pemberani bernama Bek dan kekasihnya, Zaya, percaya bahwa hanya Horus harapan rakyat Mesir untuk kembali hidup sejahtera. Maka mereka berdua mencoba untuk membantu Horus kembali mengumpulkan kekuatannya dan menggulingkan tahta Set. Bukan hal yang mudah, mengingat Horus yang sebelumnya tak peduli dengan rakyat dan lebih sering menghabiskan waktu untuk berfoya-foya serta mabuk-mabukan, sudah kehilangan semangat hidup.

Meski secara garis besar ceritanya tak beda jauh dengan mitologi dewa-dewi lain, konsep budaya Mesir kuno jelas menjadi daya tarik yang segar dan menarik. Apalagi ternyata di tangan Proyas, GoE menjadi tontonan aksi petualangan yang mengasyikkan. Tak hanya jalinan plot yang mengalir lancar, tapi juga berhasil menghadirkan karakter-karakter yang lovable, terutama Bek dan Zaya. Perkembangan karakter Horus yang cukup kuat pun menjadi elemen yang tak kalah menariknya. Seringkali petualangannya terasa terlalu rapi, bahkan mungkin terlalu mulus, tapi dengan durasi yang cukup panjang, yaitu 2 jam 7 menit, Proyas berhasil menyuguhkan tiap elemen ceritanya dengan porsi yang cukup seimbang, petualangan yang menarik untuk diikuti, dan tentu saja visualisasi yang sangat memanjakan. Tak ketinggalan, esensi serta subteks menarik, terutama tentang kekuasaan, keberanian, dan pengorbanan, mampu diselipkan Proyas dengan cukup menarik.

Ada tiga karakter yang sama-sama menonjolnya di GoE. Pertama, Nikolaj Coster-Waldau sebagai Horus yang meski tak terlalu ikonik, namun kharismanya sebagai lead protagonist lebih dari cukup. Perkembangan karakter yang ditulis dengan wajar pun ditampilkan Waldau dengan baik pula. Kedua, Gerard Butler yang meski porsinya tak sebanyak Waldau tapi berkat kharisma yang kuat menjadikan karakternya punya daya tarik yang sejajar dengan Horus. Terakhir, bintang muda, Brenton Thwaites yang beruntung memainkan karakter lovable, Bek. Aura ketulusan dan keberanian Bek dengan sangat meyakinkan ditampilkan Thwaites. Selain dari itu, Courtney Eaton sebagai Zaya, Elodie Yung sebagai Hathor, dan Emma Booth sebagai Nephthys, menjadi eye-candy dengan pesona sensualitas sangat tinggi, mengimbangi testosteron yang menjadi porsi utama. Lini berikutnya, Chadwick Boseman sebagai Thoth berhasil menjadi penyegar yang menghibur. Terakhir, Geoffrey Rush sebagai Ra dan Rufus Sewell sebagai Urshu, seperti biasa menampilkan karakter berkharisma kuat dan unik untuk mampu mencuri perhatian.

Salah satu komoditas utama sekaligus kekuatan terbesar GoE adalah tampilan visualisasinya yang spektakuler. Okay, mungkin beberapa CGI-nya terasa terlalu ‘fantasi’ dan over the top. Bahkan ada seorang teman yang mengaku seperti menonton serial Saint Seiya. Namun yang patut saya hargai adalah kepiawaian Proyas beserta dengan sinematografer Peter Menzies Jr. yang piawai membuat visualisasi super megah sebagai latar cerita sekaligus memanfaatkan pergerakan kamera sebagai roda petualangan yang seolah mengajak penonton ikut terlibat di dalamnya. Penggunaan kamera Panavision Primo berlensa seri 70 yang baru digunakan pertama kali oleh film ini jelas dimanfaatkan dengan sangat maksimal. Dengan efek 3D yang sangat memikat, baik dari segi depth of field dan pop out gimmick, saya sangat merekomendasikan sebisa mungkin mengalaminya di format IMAX 3D.
Tata suara pun digarap dengan sangat baik untuk menghadirkan suara yang sangat powerful, menggelegar, jernih, crisp, keseimbangan yang sangat baik antara dialog dan efek suara lainnya, serta penggunaan efek surround yang juga tak kalah maksimalnya. Visual dan audio yang begitu mumpuni ini jelas sangat mendukung petualangan dan aksi GoE menjadi begitu epic.

So yes, bagi Anda penggemar cerita mitologi dewa-dewi, GoE jelas sebuah petualangan yang tak boleh dilewatkan begitu saja. Malahan, wajib sebisa mungkin mengalaminya di IMAX 3D. Mungkin memang tak ada yang terlalu istimewa maupun benar-benar baru dari segi cerita, tapi setidaknya alami sebuah petualangan yang ditata dengan sangat enjoyable oleh Proyas. Other than that, nikmati saja visualisasinya yang memanjakan mata.

Lihat data film ini di IMDb.

Wednesday, March 2, 2016

The Jose Flash Review
Stay with Me

Nama Rudi Soedjarwo memang menjadi semacam jaminan mutu di perfilman Indonesia. Keberhasilannya lewat Ada Apa dengan Cinta?, Mengejar Matahari, Pocong 2, Mendadak Dangdut, sampai Garuda di Dadaku 2, menorehkan namanya di jajaran sineas Indonesia bergengsi. Beberapa tahun belakangan, Rudi lebih memilih untuk mementori workshop filmnya sendiri dengan nama Rumah Terindah yang kemudian berubah nama menjadi Underdog Kickass dan terakhir, Underdog Fightback. Tak hanya workshop, Rudi mengajak murid-muridnya ini untuk ikutan memproduksi film layar lebar. Di bawah bendera IFS (Integrated Film Solution), studio film one-solution yang juga ia dirikan, Rudi menghasilkan Janji Hati tahun 2015 lalu. Meski sudah memasang aktor muda yang sedang naik daun, Aliando Syarief sebagai lead, sayangnya JH tak begitu berhasil secara komersil. Tak putus asa, tahun 2016 ini Rudi kembali memproduksi film keduanya di bawah bendera IFS, Stay with Me (SwM) yang kali ini menggandeng Boy William dan pendatang baru, Ully Triani. Konon, menurut Rudi, SwM adalah film yang paling personal bak diary yang ia tuturkan lewat medium film.

Boy dan Deyna bak pasangan serasi yang memang sudah ditakdirkan berjodoh. Sayang, pasca kematian orang tuanya dalam sebauh kecelakaan pesawat, Deyna memutuskan untuk tinggal bersama sang tante di Eropa. Deyna meminta Boy berjanji untuk selalu setia menunggunya kembali. Bertahun-tahun berlalu, kehidupan mereka masing-masing pun berlanjut. Boy menjadi sutradara film dengan seorang istri dan seorang putri. Di tengah rumah tangganya yang mendingin setelah sang istri mengaku tak lagi mencintainya, Boy tak sengaja bertemu lagi dengan Deyna. Tak beda jauh, Deyna juga sudah menikah dengan pengusaha kaya dan dikaruniai putra. Meski berawal dengan canggung, perlahan kehangatan di antara keduanya kembali terjalin. Sekarang keputusan mereka berdua lah yang akan menentukan arah hubungan ini.

Secara keseluruhan, SwM bak sebuah film dokumenter (atau semacam video pre-wed?) yang menggambarkan pasang-surut hubungan Boy-Deyna. Berjalan dengan sangat lambat, ia lebih menawarkan kecantikan visual sebagai gantinya. Yang paling mengganggu saya adalah ketika sudah menyadari bahwa mereka masih saling mencintai dan keadaan rumah tangga masing-masing yang sudah tak patut dipertahankan lagi, Boy-Deyna sebenarnya tak perlu berpikir panjang untuk kembali bersatu. Alih-alih, ia malah memasukkan dilematis dari sisi Deyna yang terasa dangkal dan sedikit membuat saya mengernyitkan dahi. Terutama ketika tercetus angka 50 miliar yang menjadi motivasi Boy bekerja keras dan bisa menikahi Deyna. I mean, tak jelas buat apa uang sebanyak 50 miliar yang disebutkan Deyna di percakapannya dengan sang tante lewat telepon. Lagipula, sebegitu matrenya kah Deyna merasa tak kuasa menceraikan suaminya? Padahal jika mau nekad dan tak peduli, dengan mudah Deyna memutuskan menceraikan sang suami. Lika-liku, yang menurut saya, tak begitu penting dan agak tak masuk akal. Sebaliknya, tanpa lika-liku tersebut, SwM mungkin hanya punya durasi yang jauh lebih singkat. Let’s say, 1 jam saja, instead of 107 menit yang menjadi durasi akhirnya.

Di balik plotnya yang tak begitu banyak berkembang, Boy William dan Ully Triani sebenarnya berhasil menjalin chemistry yang kuat dan cukup memorable bagi penonton. Sebagai karakter individu, Boy mungkin terasa sedikit berkembang dari peran-peran tipikal. Pun tak buruk. Sementara Ully yang masih pendatang baru, juga berhasil menjadi daya tarik tersendiri. Tak hanya lewat fisiknya (terutama curve dan garis wajah), tapi juga kepribadiannya. Selain dari itu, Natasha Ratulangi sebagai Key, istri Boy, dan Firman Hermansyah sebagi suami Deyna, tak buruk tapi juga tak sampai mencuri perhatian saya.

Salah satu yang membuat saya tetap bertahan mengikuti kisah SwM adalah sinematografi Arfian yang memang cantik, bak dokumentasi prewed. Tone warna desain Ariyo Erlangga yang lebih ke pastel juga mendukung nuansa itu. Sementara musik dari Andi Rianto lewat suguhan orkestranya menghiasi hampir keseluruhan adegan, terasa sangat berusaha untuk mengisi pace cerita yang super lambat menjadi lebih bertenaga. Sedikit terasa berlebihan, tapi tetap patut mendapatkan kredit tersendiri.

Sebagai karya yang diakui sangat personal dan konon katanya menjadi semacam diary bagi Rudi, saya tak bisa terlalu menjustifikasi SwM. Tak buruk, tapi lewat penuturannya yang lambat, melankolis, dan perkembangan cerita yang tak banyak dengan durasi yang 107 menit, ia jelas bukan jadi film drama romantis favorit saya. Setidaknya saya masih menghargai konsep hubungan roman dewasa yang tidak jatuh menjadi klise pada moralitas berkeluarga a la Indonesia.

Lihat data film ini di filmindonesia.or.id.

Tuesday, March 1, 2016

The Jose Flash Review
The Other Side of the Door

Jika Hollywood sudah sejak lama melirik horor Asia, terutama Jepang, sebagai sumber ‘inspirasi’, maka kali ini giliran Inggris yang mencoba untuk mencari source horor dari belahan Asia lainnya yang menarik untuk dimasukkan ke dalam formula horor klasiknya. Sutradara Inggris, Johannes Roberts yang sebelumnya dikenal lewat film horor Forest of the Damned (2005), F (2010), dan Storage 24 (2012), bekerja sama dengan penulis naskah Ernest Riera yang sempat menggarap sekuel dari Forest of the Damned tahun 2011 lalu, mencoba menghadirkan horor mitologi India ke ‘peradaban’ barat lewat The Other Side of the Door (TOSotD). Sebagai lead, digandeng lah aktris yang kita kenal lewat serial The Walking Dead, Sarah Wayne Callies, didukung pula oleh aktor yang kerap jadi sosok makhluk halus di film-film seperti Mama dan Crimson Peak, Javier Botet.

Maria, suaminya, Michael, memutuskan untuk menetap di India bersama kedua anaknya, Oliver dan Lucy. Naas, putra sulung mereka, Oliver, tewas dalam sebuah kecelakaan saat Maria yang memegang kemudi. Dirundung rasa bersalah, Maria tak bisa berhenti meratapi kepergian Oliver, sementara Michael dan Lucy sudah lebih dulu bisa melanjutkan hidup. Melihat kesedihan majikannya, Piki, asisten rumah tangga mereka, menceritakan tentang mitos ritual kuno di sebuah kuil terpencil di luar kota yang konon bisa membuatnya bisa berkomunikasi dengan orang-orang yang sudah meninggal dengan berbekal menaburkan abu jazad orang tersebut. Namun yang perlu diingat, apapun yang dibicarakan ‘sang roh’, manusia dilarang untuk membukakan pintu kuil atau jiwanya akan terjebak dan tidak bisa bereinkarnasi.

Maria pun nekad mengunjungi kuil tersebut sendirian dan menjalani ritual tersebut. Benar saja ia bisa kembali berkomunikasi dengan Oliver. Namun Maria tak sengaja melanggar larangan dan membuka pintu. Semenjak itu kehidupan di rumah keluarga Maria-Michael perlahan berubah menjadi semakin suram. Tanda-tanda kembalinya Oliver ke rumah terlihat, tapi tak ada yang benar-benar yakin bahwa yang kembali itu memang benar-benar Oliver.

Secara premise dasar, TOSotD sebenarnya tak menawarkan sesuatu yang benar-benar baru. Seseorang yang melanggar aturan mitos kuno karena kerinduan terhadap orang-orang yang disayangi tapi berbuntut bencana sudah beberapa kali diangkat. Namun yang masih jarang diangkat adalah mitologi India sebagai source horor. Masih memanfaatkan formula-formula generik untuk membangun suasana ketegangan dan terutama, mengaget-ngageti penonton. Pun secara keseluruhan, perkembangan plot TOSotD juga terasa tak banyak. Di tengah-tengah film, ia justru banyak menghabiskan durasi untuk membangun suasana-suasana ketegangan tanpa perkembangan plot yang berarti. Alhasil pace terasa begitu lambat, meski saya mengakui, masih cukup enjoyable berkat score-score pembangun nuansa creep dan elemen-elemen tradisional India yang memang berhasil. Baru ketika hendak memasuki klimaks dan konklusi, plot menjadi lebih menarik dan memaksimalkan kengerian lewat sedikit elemen gore.

Penampilan Sarah Wayne Callies sebagai Maria, seorang ibu yang dirundung stres dan kerinduan yang sangat terhadap sang putra, lebih dari cukup untuk menarik simpati penonton di balik perasaan ngeri dari suasana horor-nya. Ini jelas menjadi drama yang cukup memberikan poin tersendiri sehingga tak sekedar menjadi just another horror movie. Jeremy Sisto tak punya banyak screentime untuk membuat penonton peduli, sementara si cilik Sofia Rosinsky sebagai Lucy dan Logan Creran sebagai Oliver masih bisa lebih menarik perhatian penonton di balik kepolosan mereka. Suchitra Pillai sebagai Piki mendukung nuansa tradisional India yang creepy dengan baik, ditambah Javier Botet sebagi Myrtu yang sosok kehadirannya selalu haunting.

Desain produksi David Bryan serta art dari Prashant Laharia menjadi kekuatan utama di teknis untuk membangun nuansa creepy, mulai kuil kuno sampai rumah Michael-Maria yang juga tak kalah mendukung dengan tampilan klasik yang tetap cantik. Sinematografi dari Maxime Alexandre juga cukup efektif membingkai keindahan desain produksi meski secara angle dan pergerakan kamera tak ada yang terlalu istimewa. Tak ketinggalan  score gubahan Joseph Bishara yang  sangat kuat mendukung suasana seram lewat musik-musik tradisional yang terdengar eerie, berpadu dengan tata suara yang serba pas, baik dari segi keseimbangan suara sampai pembagian kanal efek surround yang cukup dimanfaatkan secara maksimal.

TOSotD mungkin memang tidak menawarkan sesuatu yang baru di ranah film horor, tapi lewat penyajian unsur budaya India yang masih jarang kita lihat (atau alami) dan ternyata cukup berhasil dalam membangun nuansa ngeri, terutama secara psikologis, maka ia masih layak untuk dialami di layar lebar. My advice, untuk merasakan kengeriannya secara maksimal, jangan biarkan konsentrasi Anda terpecah oleh hal lain, seperti mengecek gadget. Biarkan diri Anda hanyut di dalam suasana eerie yang ia bangun, maka TOSotD bak hipnotis yang menghantui, bahkan mungkin sampai beberapa saat setelah film berakhir.

Lihat data film ini di IMDb.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates