Sweet 20

Tatjana Saphira to perform young Niniek L. Karim in South Korea's hit remake.
Opens Lebaran 2017.

Jailangkung

Rizal Mantovani and Jose Purnomo to pass-on the Jailangkung mythology.
Opens Lebaran 2017.

Surat Kecil untuk Tuhan

Bunga Citra Lestari starred in a child-abuse awareness tearjerker based on Agnes Davonar's best seller novel series.
Opens Lebaran 2017.

Mantan

Gandhi Fernando to find his soul mate out of five fabulous exes.
Read more.

Transformers: The Last Knight

Michael Bay to put the dino-bots back to the world for another mission.
Opens June 21st.

Sunday, January 31, 2016

The Jose Flash Review
Airlift

Cerita kemanusiaan tentang penyelamatan warga sipil di tengah berkecamuknya perang atau kerusuhan selalu menjadi subjek film yang menarik. Sampai sekarang yang paling saya ingat adalah The Schindler’s List karya Steven Spielberg dan Argo karya Ben Affleck. Keduanya sukses diganjar penghargaan di mana-mana dan ceritanya juga mampu menarik simpati penonton. Tak kalah, tanah Hindustan juga punya kisah nyata serupa dimana sebanyak 170.000 warga India dievakuasi dari Kuwait dengan menggunakan pesawat terbang setelah melewati berbagai perjuangan yang mengancam nyawa. Awal tahun 2016 ini, kisah penyelamatan tersebut diangkat ke layar lebar oleh Raja Krishna Menon (Barah Aana dan proyek selanjutnya, remake versi Hindi dari Chef-nya Jon Favreu) dengan bintang utama Akshay Kumar dan Nimrat Kaur. Siapa sangka, film bertajuk Airlift ini ternyata sukses secara komersial sekaligus dipuji oleh banyak pihak.

Cerita dimulai ketika seorang pengusaha Hindi bernama Ranjit Katiyal yang sukses di Kuwait. Saking suksesnya, ia seringkali merasa menjadi orang Kuwait yang lebih modern ketimbang tanah leluhurnya. Kedigdayaannya diuji ketika tahun 1990, Kuwait diserang oleh Irak. Awalnya, Ranjit mengira ketegangan politik ini hanya berlangsung sementara, sehingga ia dengan entengnya menyuruh istrinya, Amrita, dan putri tunggalnya, Simu, mengungsi sementara ke London. Ketegangan semakin menjadi ketika pasukan Irak benar-benar menginvasi Kuwait dan membunuhi tiap warga yang lewat. Satu-satunya jalan adalah mengungsi ke kedutaan India. Rupanya keputusan ini pun tak memberikan banyak kelegaan karena di sana juga sudah mengungsi 500 orang keluarga dan kerabat staf kedutaan. Mereka semua terjebak di gedung itu jika mau selamat. Mereka juga tak bisa mengungsi ke negara lain karena tiap perbatasan dan bandara dijaga dengan sangat ketat.

Tak mau tinggal diam, Ranjit mengupayakan berbagai cara untuk membawa orang-orang India ini pulang ke negaranya. Mulai dari bantuan dari departemen luar negeri India sampai jalan ‘bawah tanah’ lewat kapal sampah. Jumlah pengungsi yang awalnya ratusan pun membengkak menjadi 170.000 orang. Resikonya tak main-main. Nyawa ribuan orang India menjadi taruhannya.

Di genre seperti ini, penentu keberhasilannya adalah bagaimana ia bisa menyentuh sisi-sisi emosional penonton. Misalnya ketegangan maksimal seperti yang pernah ditunjukkan oleh No Escape atau momen-momen kemanusiaan yang menyentuh seperti di Schindler’s List. Di menit-menit awal, Airlift mencoba menampilkan keduanya tapi masih belum berhasil menimbulkan efek emosi bagi saya. Seiring dengan berjalannya alur, akhirnya Airlift menampilkan beberapa aspek yang menarik dan berhasil mengusik emosi sekaligus nalar saya. Pertama, perubahan karakter Ranjit sendiri yang awalnya tidak peduli sama sekali dengan orang lain menjadi sosok yang mengupayakan penyelamatan semua orang. Perubahan karakter yang kontras dengan sang istri yang awalnya justru sebaliknya, tapi kini turut mendukung sang suami. Kedua, seorang bapak tua, salah satu karakter pengungsi, digambarkan selalu mengeluh dengan yang dialaminya, tanpa mau memahami upaya dan resiko yang telah dilakukan Ranjit. Ia merasa Ranjit mempermainkan dirinya dan pengungsi yang lain. Momen dimana Amrita membela suaminya dengan rasional di hadapan si bapak, menjadi momen paling favorit saya. Tak hanya berhasil membangkitkan simpati saya kepada karakter-karakternya, tapi juga menyentil sisi-sisi ego manusia yang kerap muncul di saat-saat genting seperti di film.

Tak perlu meragukan kharisma Akshay Kumar sebagai lead yang sudah kerap kali dibuktikannya. Di Airlift pun ia memberikan performa maksimal pada karakternya yang punya perkembangan serta eksplorasi emosi paling menarik untuk disimak. Ia berhasil menghidupkan kesemua tugas ini dengan sangat baik dan jelas terasa. Tak terkecuali chemistry dengan Nimrat Kaur yang mungkin tak membuat mereka jadi pasangan yang selalu manis, tapi setidaknya ada beberapa momen penting bagi keduanya yang menunjukkan kekuatan hubungan yang luar biasa.

Untuk visualisasi, Airlift menghadirkan kualitas visual effect yang cukup, misalnya untuk adegan ledakan. Tak terlalu terlihat fantastis, tapi sudah lebih dari cukup. Sinematografi dan desain produksi pun patut mendapatkan kredit tersendiri dalam menghidupkan berbagai nuansa yang ditampilkan. Sayangnya, entah asli dari masteringnya atau kondisi sound system di auditorium tempat saya menonton, tata suara Airlift terdengar di bawah rata-rata. Bisa jadi berbagai adegan emosional di awal-awal film gagal ‘mengusik’ saya gara-gara tata suara yang terdengar kurang powerful dan jernih. Sound effect dan scoring terdengar tenggelam dan pecah di banyak bagian. Besar kemungkinan faktor mastering aslinya, karena saya tidak menemui kualitas demikian di ruang auditorium yang sama untuk film berbeda.


In the end, Airlift mungkin tidak secara konsisten sempanjang film mampu menggugah emosi saya. Namun ia punya momen-momen penting yang menampilkan berbagai aspek menarik dari kejadian, yang pada akhirnya berhasil mengusik nalar dan emosi saya sekaligus. So yes, Airlift menghadirkan treatment yang lebih dari sekedar layak untuk peristiwa evakuasi bersejarah yang sampai memecahkan rekor menerbangkan 170.000 orang pengungsi dengan 488 penerbangan. Sayang untuk dilewatkan begitu saja.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Saturday, January 30, 2016

The Jose Flash Review
The Finest Hours

Baru Desember 2015 lalu kita disuguhi kisah survival kapal pemburu paus Essex yang tenggelam dan mengilhami kisah Moby Dick. Di awal tahun ini kita disuguhi pula sajian serupa, tapi kali ini berasal dari studio yang punya reputasi film keluarga, Walt Disney Pictures. Diangkat dari kisah nyata yang juga sudah dibukukan oleh Michael J. Tougias dan Casey Sherman tahun 2009 lalu, The Finest Hours (TFH) sebenarnya punya cerita mukjizat yang cukup menarik untuk diangkat. Naskahnya dikerjakan oleh Scott Silver yang punya reputasi bagus (The Fighter dan 8 Mile), dibantu Paul Temasy dan Eric Johnson, sementara bangku penyutradaraan dipercayakan kepada Craig Gillespie (Lars and the Real Girl, Fright Night, dan film Disney 2014 lalu, Million Dollar Arm). Jajaran cast pun tergolong menjanjikan, mulai Chris Pine, Ben Foster, Casey Affleck, hingga Eric Bana. Namun tak bisa dipungkiri, skala proyek TFH tak se-epic In the Heart of the Sea ataupun The Perfect Storm.

Di saat hendak meminta ijin untuk menikahi kekasihnya, Miriam, Bernie Webber justru ditugaskan oleh Daniel Cluff untuk menyelamatkan penumpang dua kapal tanker minyak, SS Fort Mercer dan SS Pendleton, yang karam saat badai terburuk di pesisir Timur New England. Dengan sebuah motorboat dan ditemani Richard Livesley, Andy Fitzgerald, serta Ervin Maske, Bernie harus menembus badai dan ombak raksasa. Belum lagi ternyata ada 30 orang penyintas dari kapal SS Fort Mercer yang harus dibawa pulang. Hanya mukjizat yang doa dari warga.

Di film bertemakan disaster dan survival, ada dua hal yang bisa ‘dijual’ untuk menarik perhatian penonton: adegan disaster yang dahsyat dan/atau kisah kemanusiaan yang mampu menyentuh emosi penonton. TFH memulai dan memfokuskan kisahnya sepanjang film pada karakter Bernie. Sejak hubungannya dengan Miriam menjadi pembuka film, jelas bahwa TFH bertumpu pada karakter-karakternya untuk menarik simpati penonton.  Seiring dengan berjalannya alur, muncul pula karakter-karakter lain yang tak kalah mengundang simpati, terutama Ray Sybert, salah satu engineer di SS Fort Mercer dan Richard Livesley. Namun begitu ‘tantangan’ menghantam (baca: adegan-adegan bencana bermunculan), ‘pendekatan’ karakter-karakter tersebut kepada penonton belum cukup kuat untuk membuat saya bersimpati. Sekedar khawatir dengan nasib mereka, misalnya. Target audience yang memang untuk keluarga membuat tampilan bencana jadi terkesan ‘mild’. It just happened. Nothing to make me feel the thrill or just worrying at all. In the end, TFH menjadi tontonan yang hambar dan membosankan.

Konsep visual TFH yang seperti ini agaknya memang mengarah pada gaya vintage yang ingin diusung sesuai setting ceritanya. Mulai set-set yang terkesan dilakukan di dalam studio hingga gaya penceritaan yang to-the-point, tanpa kedalaman karakter yang bisa membuat penonton peduli. Tak heran jika konsep ini sudah tidak relevan lagi dengan selera penonton jaman sekarang yang sudah terbiasa diberi suguhan spektakuler, tak terkecuali saya.

Chris Pine sebagai Bernie, karakter lead, sebenarnya memberikan performa yang mampu mengundang simpati penonton terbesar, dibandingkan karakter-karakter lainnya. Jika biasanya memerankan karakter heroic yang gahar, kali ini Pine harus memerankan karakter heroic yang cenderung minder dan sangat kalem. He’s still living it up nicely. Ben Foster menjadi ‘sidekick’ yang paling berkesan, Richard Livesey. Casey Affleck masih belum cukup kharisma untuk membuat karakter Ray Sybert jadi standout. Yang paling naas, Eric Bana terkesan hanya pendukung yang bisa diperankan oleh siapa saja. Terakhir, Holliday Grainger, tampil memukau berkat parasnya yang klasik, sesuai dengan setting cerita, selain tentu saja karena menjadi satu-satunya wanita di jajaran cast lini depan.

Dengan konsep vintage, tentu desain produksi berperan sangat penting untuk menghidupkan nuansa ’50-an. TFH patut diberi kredit lebih untuk aspek ini. Selain itu, meski terkesan lebih mild ketimbang film-film bergenre sejenis, TFH sebenarnya masih punya visualisasi bencana yang patut diapresiasi. Setidaknya membuat saya sempat berceletuk kaget sekejap di beberapa adegan. Misalnya kapal SS For Mercer yang terbelah atau ombak-ombak raksasa yang bergulung. Apalagi jika disaksikan di layar IMAX yang menambah feel maski tak begitu signifikan. Format 3D tidak terlalu memberikan sensasi seperti depth maupun gimmick pop-out. Sementara tata suara masih memompakan efek-efek suara yang dahsyat terutama untuk adegan badai dan ombak. Termasuk juga efek surround yang cukup maksimal dimanfaatkan.

Dengan referensi film survival/disaster yang cukup banyak dan punya kekuatan masing-masing, TFH tentu terasa jadi yang paling kurang berkesan dibandingkan yang lain. Baik dari segi emosional kemanusiaan maupun kedahsyatan visualisasi bencana, sama-sama terasa kurang kuat. Ada, tapi tidak begitu memberikan impact bagi saya. At least bagi saya, TFH memperluas pengetahuan saya tentang kejadian evakuasi miraculous yang terjadi di New England era ’50-an. Tak lebih.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Surat dari Praha

Nama Angga Dwimas Sasongko sebagai sineas Indonesia semakin berkibar seiring karya-karya yang terus mendapatkan perhatian berbagai penghargaan film. Musisi sekelas Glenn Fredly pun tak berhenti mendukung visi Angga sejak Cahaya dari Timur: Beta Maluku, Filosofi Kopi, dan kini di karya terbarunya, Surat dari Praha (SdP). Diinspirasi dari cerita para eksil mahasiswa Indonesia yang menetap di Praha setelah tidak bisa pulang ke negaranya karena di-ban pemerintahan Orde Baru,  serta lagu-lagu ballad cantik dari Glenn sendiri, SdP mencoba menawarkan warna  baru untuk sinema Indonesia.

Larasati yang sedang menggugat cerai suaminya berusaha membujuk sang ibu, Sulastri agar meminjamkan sertifikat rumah sebagai jaminan gadai pengurusan sidang perceraian. Sampai akhir hayat sang ibu, Larasati belum berhasil mendapatkannya. Surat wasiat Sulastri justru memberikan hak kepemilikan rumah itu dengan syarat Larasati mau menyampaikan langsung sebuah kotak terkunci ke sebuah alamat di Praha. Tanpa rasa ingin tahu, Larasati melakoninya. Kotak pun diantarnya langsung ke seorang pria seusia ibunya, Jaya. Sialnya, Jaya menolak mentah-mentah kotak dan kehadirannya. Meski awalnya bersikap keras, perlahan Jaya melunak karena belas kasihan terhadap Larasati yang berada di negara asing sendirian. Perlahan pula Larasati mengetahui siapa Jaya sebenarnya dan pengaruhnya terhadap Sulastri dan dirinya. Kesemuanya mengarah ke sebuah sejarah kelam Indonesia terhadap para mahasiswanya yang tak bisa pulang saat Orde Baru karena dituduh PKI.

Selama ini sinema Indonesia lebih sering mengangkat tema sejarah lewat sebuah biopic linear yang sayangnya, jarang punya fokus poin yang jelas. SdP menawarkan fakta sejarah dengan sudut pandang penceritaan dan formula yang sedikit berbeda. Karakter Larasati dipilih sebagai lead yang berkembang untuk menemukan ‘kedamaian’ dengan dirinya sendiri dan sang ibu lewat pertemuannya dengan Jaya. Sejarah kelam yang pernah mewarna negeri ini pun menjadi latar yang tak sekedar latar, tapi punya emotional impact yang sangat besar dan kuat terhadap fokus cerita. Di atas kertas, mungkin plot SdP berjalan dengan begitu sederhana, tapi sebenarnya sudah sangat padat memuat semua yang penting untuk disampaikan penonton agar merasakan setiap emosi yang terjadi di layar, baik dari sudut pandang Larasati maupun Jaya.

Namun kekuatan paling besar dari SdP adalah bagaimana treatment Angga membawa sekaligus menggerakkan keseluruhan mood film menjadi begitu pas dengan naskah M. Irfan Ramli (Cahaya dari Timur: Beta Maluku).  SdP bak sebuah harmonisasi melodius, baik secara musikal, visual, maupun emosi. Saya yang kebetulan menontonnya sendirian seolah seperti sedang melakukan solo traveling di kota Praha sambil mendengarkan alunan melodi lagu yang sangat mendukung saya mengamati tiap sudut kota dan berkontemplasi melalui karakter-karakter yang saya lihat di layar. Cita rasa yang diracik dengan begitu indah menghantarkan cerita SdP yang sederhana menjadi sebuah pengalaman personal yang begitu kuat terasa secara emosional.

Kekuatan racikan Angga didukung pula oleh performance sekaligus chemistry yang luar biasa kuat dari dua lead-nya, Julie Estelle dan Tio Pakusadewo. Perkembangan karakter Larasati di awal memang tak terlalu banyak, tapi dibuat mengalir hingga akhir film. Luapan emosi Julie yang meledak-ledak mungkin tak terlalu istimewa, tapi proses perubahan menjadi lebih melunak dan berhasil berdamai dengan diri sendiri, mampu ditampilkan dengan sangat convincing dan logis. Begitu juga proses perubahan karakter Jaya yang mulus dibawakan oleh Tio. Ketika keduanya berhasil sama-sama meredakan emosi, keduanya menjadi paduan yang manis, hangat, tanpa tendensi hubungan yang canggung.

Widyawati yang tampil sekilas di awal film turut memberikan semacam ‘pengantar’ cerita yang mengesankan. Rio Dewanto yang berperan sebagai Dewa mungkin terasa tak begitu penting selain penghantar product placement, tapi kehadirannya cukup berkesan. Setidaknya, star-factor-nya cukup berperan untuk menghiasi nuansa keseluruhan film. Terakhir, kehadiran Jajang C. Noer, Chicco Jerikho (yang juga duduk sebagai salah satu produser), Shafira Umm, dan ibunda mendiang Ryan Hidayat, Eva Jaryfova, sebagai Loretta, menjadi cameo yang cukup menarik perhatian.

Visi Angga menjadi makin sempurna berkat dukungan teknis. Mulai sinematografi Ivan Anwal Pane yang tak hanya mampu merekam keindahan kota Praha secara panoramik, namun juga berhasil menggerakkan emosi cerita lewat pergerakan kamera. Latar kota Praha pun menyatu dengan sangat baik dengan cerita. Tata suara Satrio Budiono menghasilkan keseimbangan yang sangat pas untuk dialog, musik, dan sound effect. SdP menjadi sajian yang mengalir tenang, namun berjalan mantap dan yang paling penting, tak membosankan. Tentu ini berkat editing Ahsan Andrian yang punya timing serba pas sehingga menghasilkan emosi maksimal tanpa terkesan berlebihan. Terakhir lagu-lagu yang dihadirkan, termasuk yang dibawakan oleh Julie dan Tio sendiri, Nyali Terakhir dan Sabda Rindu, berhasil menjadi lagu-lagu yang melekat kuat dalam benak penonton, jauh setelah film selesai. Ini berkat tema serta melodi yang diletakkan pas untuk mengiringi visualnya.


Terakhir, SdP yang sempat diwarnai kontroversi karena tudingan plagiarism dari cerpen berjudul sama karya dosen salah satu perguruan tinggi di Malang, membuktikan bahwa rasa dan emosi yang berhasil dihadirkan lewat film jauh lebih penting ketimbang storyline linear yang itu-itu saja untuk genre sejarah. Ada aspek-aspek lain yang bisa dieksplor, bahkan mungkin lebih menarik dari sejarah itu sendiri. Toh sudut pandang ‘dampak’ dari sejarah punya relevansi yang lebih penting untuk masyarakat saat ini. Tudingan plagiarism juga terkesan dibuat-buat karena latar belakang eksil mahasiswa Indonesia yang harus berdiam di Praha adalah fakta sejarah yang bebas diceritakan ulang lewat berbagai sudut pandang di berbagai media. Sama seperti kamp Auschwitz saat jaman Nazi yang sudah berkali-kali diangkat. Selama digarap dengan kedalaman cerita yang cukup, terfokus, disertai fakta, serta digarap menjadi sebuah sajian yang sangat baik, why not?

Lihat data film ini di filmindonesia.or.id.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Wednesday, January 27, 2016

The Jose Flash Review
The New Adventures of Aladdin
[Les Nouvelles Aventures d'Aladin]

Siapa yang tidak kenal kisah Aladdin dari hikayat 1001 malam? Walt Disney saja sudah pernah mengangkatnya menjadi salah satu film animasi klasik sepanjang masa. Tak terhitung banyaknya adaptasi yang dilakukan ke berbagai medium. Yang terbaru, Perancis mempersembahkan kisah petualangan ‘baru’ Aladdin sebagai sajian Natal tahun 2015 lalu. Sempat diputar di Festival Sinema Perancis Desember 2015 lalu, The New Adventures of Aladdin (NAA) atau yang judul aslinya Les Nouvelles Aventures d’Aladin ini akhirnya juga menyambangi bioskop reguler Indonesia. Disutradarai Arthur Benzaquen masih bekerja sama dengan penulis naskah Daive Cohen, yang dikenal sebagai kreator serial komedi Zak.

Di depan pacarnya, Sam mengaku bekerja kantoran. Padahal sebenarnya ia pengangguran dan bahkan sedang merencanakan perampokan di Galeries Lafayette bersama partnernya, Khalid. Sam berpura-pura bekerja sebagai Santa Claus untuk mendapatkan akses. Malang, Sam justru terjebak di tengah anak-anak yang memaksanya mendongeng kisah Aladdin. Sam pun memulai narasi cerita petualangan Aladin versinya yang penuh dengan kejutan.

Aladdin menurut Sam, yang diperankan oleh Sam sendiri, bersama Khalid, adalah seorang penipu di kota Baghdad. Tak sengaja, Aladdin bertemu seorang wanita misterius yang membuatnya jatuh hati, yang ternyata adalah putri Sultan, Putri Shallia. Karena aksi kejahatannya, Aladdin diasingkan di gurun pasir. Sementara itu Vizir, sang perdana menteri yang memerintah kota, punya niat jahat untuk menggulingkan kekuasaan Sultan melalui Putri Shallia. Sebuah peristiwa membuat Aladdin menemukan lampu wasiat berisi Jin yang bersedia mengabulkan tiga permintaan. Salah satunya tentu saja menjadi seorang pangeran agar dianggap layak menikahi Putri Shallia, sekaligus menggagalkan rencana jahat Vizir.

Sepintas mungkin tak banyak hal baru yang ditawarkan oleh adaptasi dongeng Aladdin kali ini. Tapi jangan salah, Benzaquen-Cohen menyelipkan cukup banyak twist dari cerita aslinya sebagai bumbu. Alhasil NAA bak sebuah spoof atau parodi dari kisah 1001 Malam, Aladdin. Formula humor yang ditawarkan sebagian besar mengingatkan saya akan formula adapatasi live action Astérix & Obélix atau spoof Robin Hood, Robin Hood: Men in Tights. Memasukkan berbagai budaya pop modern seperti musik hip-hop sebagai bahan guyonan, awalnya NAA terkesan garing. Tapi seiring dengan berjalannya durasi, ternyata konsistensi jokes konyol tapi cerdas ini terasa makin lucu bagi saya. Dari yang hanya senyum-senyum, akhirnya berhasil membuat saya terbahak-bahak di banyak momen. Hit and miss, but to me, mostly hit.

Seperti kisah Natal lainnya, NAA juga tak melupakan heart factor yang diletakkan di penghujung cerita. Membuat karakter Sam yang dibenci namun bisa ditertawakan penonton, menjadi karakter yang lovable. Apalagi setelah cerita dongeng Aladdin yang disampaikan oleh Sam termanifestasi dalam kehidupan nyata. NAA pun ditutup dengan manis dan hangat.

Sebagai lead untuk peran komedik, Kev Adams punya kharisma yang lebih dari cukup. Fisik yang tergolong biasa saja terangkat oleh kemampuannya melucu sekaligus memainkan karakter yang lovable. Eric Judor yang kita kenal lewat parodi Die Hard, La Tour Montparnasse Infernale, berperan  sebagai jin  yang tak kalah kocaknya. Begitu pula William Lebghil sebagai Khalid yang memnghidupkan karakter flamboyan. Di lini female character, Vanessa Guide sebagai Putri Shallia jelas punya pesona kecantikan yang membius sekaligus tak canggung bertingkah konyol. Diikuti Audrey Lamy sebagai Rababa yang jadi female comedic character terkuat di sini.

Selain sinematografi Pierre Aïm yang memframing adegan-adegan kota Baghdad dengan cantik, art direction dan special visual effect patut diberikan kredit tersendiri. Aspek-aspek fantasi berhasil dihidupkan dengan cukup realistis tanpa mengurangi nuansa fantasinya. Editing Brian Schmitt juga berperan penting untuk menjaga pace cerita NAA tetap berjalan penuh energi, bahkan ketika menyampaikan momen-momen hearty-nya. Tata suara turut ditata dengan lebih dari layak guna menghidupkan petualangan sekaligus membangun kemegahan adegan musikal.


Sebagai paket hiburan yang segar, NAA bolehlah dijadikan pilihan. Apalagi jika Anda ternyata cocok dengan gaya humor ala Astérix & Obélix yang gokil. It’s a lot of fun, hilarious, and in the end, warm.

Lihat data film ini di IMDb dan Pathé International.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
The Himalayas [히말라야]

Baru bulan September lalu kita ‘diajak’ mendaki Everest, kali ini Korea Selatan tak mau kalah mengundang dunia mengenal salah satu tokoh mountaineer populer mereka, Um Hong-Gil, yang sudah sukses menjalankan misi mendaki 16 puncak tertinggi di dunia dalam jangka waktu 12 tahun. Beliau adalah orang Korea Selatan pertama dan ke-11 di dunia yang menerima penghargaan Himalayan Crown. Sampai sekarang, total ia sudah berhasil mencapai puncak Everest sebanyak tiga kali, termasuk sisi Utara dan Selatan Everest. Film biopic yang bertajuk The Himalayas ini konon sukses mengalahkan pendapatan Star Wars: The Force Awakens di negara asalnya. Terkesan ‘hanya’ jago kandang, tapi mengalahkan franchise sebesar Star Wars tentu sebuah prestasi yang tidak main-main.

Kapten tim pendakian berpengalaman, Um Hong-gil, pertama kali bertemu Park Moo-taek ketika ia menyelamatkan Moo-taek dan temannya, Park Jung-bok. Hong-gil memperingatkan keduanya untuk tidak pernah mendaki gunung lagi karena menganggap mereka terlalu ignorant terhadap aturan-aturan keselamatan yang harus dipatuhi para pendaki. Bertahun-tahun kemudian keduanya muncul sebagai calon junior tim pendaki yang diajukan untuk tim Hong-gil. Setelah perjuangan meyakinkan yang tak mudah, Hong-gil setuju keduanya dilatih dan menjadi anggota tim pendakinya. Sebuah misi menuju puncak Kangchenjunga, puncak tertinggi ketiga di dunia, membuat keduanya menjalin persahabatan yang lebih erat.

Seiring dengan waktu, faktor kesehatan dan keluarga membuat Hong-gil memutuskan untuk pensiun dari mountaineering. Padahal ia pernah berikrar akan menaklukkan 16 puncak dunia bersama Moo-taek. Ikrar itu menjadi mustahil ketika Moo-taek diberitakan meninggal dunia dalam perjalanan mendaki puncak Utara Everest bersama 2 orang lainnya, Jang Min dan Baek Jun-ho. Setahun kemudian, Hong-gil memutuskan untuk mengumpulkan timnya kembali ke Everest dan membawa pulang jenazah Moo-taek, Jang Min, dan Baek Jun-ho.

Berbeda dengan beberapa film bertemakan mountaineering, The Himalayas tak berfokus pada sebuah misi penjelajahan mendaki puncak Everest semata. Ia justru mengambil kisah persahabatan antara Hong-gil dan Moo-taek untuk dibangun dan menjadi potret kemanusiaan (serta persahabatan) di circle mountaineering dengan latar Everest. Ini yang membuat kisah The Himalayas menjadi menarik. Penonton diajak untuk mengenal dan dekat dengan mereka, sehingga pada titik-titik tertentu bisa dimanfaatkan untuk memancing emosi penonton. Harus diakui, dalam film bertemakan seperti ini, mau apapun fokusnya, tetap saja daya tarik utamanya adalah elemen emosi yang dialami penonton. Baik itu sisi kemanusiaan yang menyentuh atau petualangan yang menegangkan. And you know them Korean, they’re really good at exploiting emotional side. So yes, The Himalayasi sangat berhasil membuat penonton merasakan kehilangan, kehangatan bersahabatan, kenikmatan sebuah pencapaian, sampai teror di tengah misi pendakian. Way way much more than Everest did.

Ada beberapa aspek menarik pula yang diangkat oleh The Himalayas, yang membuat penonton semakin memahami pola pikir para mountaineering. Seperti misalnya tentang apa yang dicari dan dirasakan ketika sudah sampai puncak, kenapa harus turun setelah bersusah-susah naik, prinsip ‘meminta ijin gunung’ ketimbang ‘menaklukkan gunung’, hingga implementasi metafora pendakian di kehidupan sehari-hari. Pandangan budaya Korea Selatan terhadap kematian juga bisa terlihat dengan jelas ketika tim Hong-gil mau bersusah payah membawa pulang jenazah Moo-taek. Misi yang sangat langka dalam sejarah pendakian Everest. Aspek-aspek inilah yang menjadi poin lebih yang memperkaya cerita The Himalayas selain sekedar cerita petualangan pendakian (baca: menaklukkan) puncak Everest semata.

Hwang Jeong-min yang pernah mencapai sukses di Ode to My Father dan Veteran sekali membuktikan bahwa usia yang sudah tidak muda bukan menjadi halangan kesuksesan di film. Jeong-min berhasil memerankan karakter utama, Um Hong-gil, dengan kharisma penuh. Tak terlalu butuh detail karakter tertentu yang istimewa, tapi Jeong-min sangat berhasil memainkan emosi dan menarik simpati penonton. Chemistry persahabatan yang dijalin bersama Jung Woo (Moo-taek) terasa convincing dan natural meski digambarkan mengalami naik-turun yang cukup dramatis. Selain dari mereka berdua, hampir ke semua cast, terutama pemeran anggota tim pendakian Hong-gil, tampil pas sesuai porsi masing-masing. Tetap jadi perhatian penonton tapi tak sampai mengusik fokus utama, Hong-gil dan Moo-taek.

Cerita yang terjalin apik didukung pula oleh sinematografi Kim Tae-sung yang berhasil merekam petualangan pendakian pada momen-momen terpentingnya, emosi-emosi terdalam, serta yang terpenting, merekam keindahan panorama Everest secara maksimal. Ketajaman gambar cukup konsisten terjaga, di layar sebesar Sphere X sekalipun. Ada beberapa adegan long shot dan panoramic yang terlihat sedikit di bawah ketajaman gambar-gambar utama yang mungkin direkam dengan action camera, tapi tidak sampai merusak cinematic experience secara keseluruhan. Tata suara juga patut mendapat kredit lebih, terutama karena detail sound effect dan pembagian kanal surround yang luar biasa, sehingga menambah kesan realistis experience-nya. Favorit saya, suara gesekan ascender equipment dan tentu saja badai salju.

So yes, The Himalayas mungkin bukan film tentang penjelajahan Puncak Everest yang paling berkesan ataupun ultimate. Tapi cerita kemanusiaan yang ditampilkan dengan apik dan berhasil mengundang emosi penonton secara maksima, serta aspek-aspek filosofis pendakian yang disertakan, bagi saya The Himalayas memperkaya wawasan tentang mountaineering. Cinema experience lebih maksimal jika Anda menyaksikannya di layar sebesar Sphere X dengan tata suara mumpuni pula.

Lihat data film ini di KMDb
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Love the Coopers

‘Kering’-nya film bertemakan Natal beberapa tahun belakangan ini membuat tiap film Natal menarik untuk disimak. Termasuk Love the Coopers (LTC), sebuah drama komedi keluarga (yang ternyata nggak keluarga-keluarga banget) anti-Christmas dengan gaya penceritaan bak omnibus seperti yang pernah ditawarkan Love Actually tahun 2003 lalu. Daya tarik utamanya tentu saja ensemble cast papan atas yang menghiasi layar. Mulai Diane Keaton, John Goodman, Alan Arkin, Marisa Tomei, Ed Helms, hingga generasi Olivia Wilde, Amanda Seyfried, dan Anthony Mackie. Padahal yang duduk di bangku sutradara dan penulis naskahnya tergolong ‘berkelas’, Steven Rogers dan Jessie Nelson yang pernah bekerja sama untuk naskah Stepmom (1998), selain filmografi masing-masing yang cukup mengesankan.

Sama seperti keluarga kebanyakan, pasangan Sam dan Charlotte Cooper mengharapkan momen Natal sebagai momen berkumpulnya semua anggota keluarga. Terutama Charlotte yang baru menyadari bahwa kecintaannya dengan keluarganya membuat cinta terhadap suaminya, Sam, memudar. Tahun ini, Charlotte memutuskan untuk mengumumkan hal terbesar dalam keluarganya setelah 40 tahun pernikahan saat perayaan Natal.

Di sisi lain, ternyata tiap anggota keluarganya merasa kurang antusias untuk berkumpul saat Natal. Si putra sulung, Hank yang sudah bercerai dengan istrinya, Angie, baru saja kehilangan pekerjaan sehingga merasa minder dan tertekan ketika berkumpul. Sementara Eleanor, adiknya, mengalami trauma dengan yang namanya cinta sehingga memutuskan untuk menjalin affair dengan pria beristri. Ketika di bandara, tak disangka ia bertemu Joe, seorang opsir militer yang ternyata ‘nyambung’ dengannya. Ayah Charlotte, Hank, menjalin hubungan yang menarik dengan seorang waitress muda tempat ia biasa makan, Ruby. Mereka sering diskusi tentang banyak hal, salah satunya tentang film lawas. Ketika Ruby memutuskan untuk pindah kerja, Hank mengajaknya makan malam Natal bersama keluarga Cooper. Terakhir, Emma, adik Charlotte, memutuskan untuk mencuri anting-anting sebagai kado Natal untuk kakaknya dengan alasan tak ingin memberikan sesuatu yang berharga ketika didapatkan untuk orang yang ia tidak sukai. Malangnya, aksi Emma terendus sekuriti dan ia pun dibawa oleh Opsir Williams. Selama perjalanan Emma justru terlibat aksi saling curhat dengan Opsir Williams. Makan malam Natal menjadi puncak yang menentukan, apakah keluarga Cooper akan retak untuk selamanya.

Serupa dengan Love Actually, LTC berusaha menyajikan karakter-karakter menarik dengan konflik yang juga menarik. Bedanya, jika Love Actually menampilkan konflik yang sederhana dengan pengembangan yang sederhana namun manis, karakter-karakter LTC punya konflik yang terkesan lebih kompleks. Konflik-konflik batin yang sebenarnya tak terjelaskan dengan kata-kata namun bisa dirasakan. Naskah Rogers dan pengarahan Nelson bisa menunjukkannya, tapi belum mampu memberikan penjelasan yang cukup logis dan rasional. Tak hanya soal penyebabnya, tapi juga keputusan maupun resolusi yang diambil oleh para karakternya. Ini terasa sekali pada karakter Charlotte yang memutuskan untuk bercerai atau Eleanor yang bisa jatuh cinta kepada Joe meski sebelumnya sempat terjadi tarik ulur love-hate. We might be able to feel it, but we’re so confused how come or why. Belum lagi jika kita ingin menjelaskan hubungan antara Hank dan Ruby. Beberapa sequence flashback dan imajiner mencoba untuk membuat kesan ‘gokil’ dalam penceritaan. Meski pada akhirnya tak banyak membantu penceritaan, selain sekedar cukup membuat penonton tersenyum.

Jajaran cast papan atas jelas membuat LTC masih menyenangkan untuk diikuti. Terutama sekali Diane Keaton sebagai Charlotte yang penampilannya selalu mengagumkan, tak peduli sesederhana apapun karakter yang ia mainkan. Chemistry love-hate dengan John Goodman pun terjalin dengan menarik dan meyakinkan. Daya tarik berikutnya jatuh kepada Olivia Wilde sebagai Eleanor yang somehow terasa sangat kuat dibandingkan yang lain sejak menit pertama. Above all, I love the way she talked and laughed. So adorable!

Marisa Tomei sebagai Emma yang manipulatif namun seorang joker yang kata-katanya selalu bikin tersenyum tampil cukup mengesankan. Jake Lacy sebagai Joe juga menarik dan sedikit mengingatkan saya akan sosok Hugh Grant. Alan Arkin dan Amanda Seyfried berhasil menjalin chemistry yang kuat sebagai ‘pasangan yang aneh’ sehingga tak sampai terkesan  terlalu ‘menyimpang’. Terakhir, Anthony Mackie berhasil menampilkan sosok Opsir Williams yang pendiam namun terasa memendam kepedihan dan ketakutan yang besar.

Di atas sinematografi dan editing yang tak terlalu istimewa, scoring dari Nick Urata dan pilihan versi lagu-lagu Natal-nya menjadi daya tarik tersendiri. Tak hanya berhasil mengiringi, tapi juga sekaligus memperkuat emosi tiap adegan.

Untungnya di balik cerita yang terkesan absurd dan resolusi yang terkesan ‘semudah itu berubah’, LTC masih menyisakan beberapa momen khas Christmas-movie yang masih berhasil membuat hati terasa sejuk. Most of them were sweet moments and full of joy. Maka jika syarat utama Christmas movie dikatakan berhasil hanya sejauh itu, LTC masih layaklah menjadi sajian ringan di hari Natal. Setidaknya lebih dari cukup untuk uplifting suasana Natal yang identik dengan joy and warm.

Lihat data film ini di IMDb
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
The 5th Wave

Satu lagi novel young adult dystopian yang diangkat ke layar lebar dengan harapan menjadi franchise sukses seperti halnya The Hunger Games, Divergent, dan The Maze Runner. Masih dengan formula yang tak jauh-jauh dari survival adventure dengan bumbu romantis, The 5th Wave diangkat dari novel berjudul sama karya Rick Yancey yang mendapatkan banyak review positif. Bahkan dinobatkan sebagai salah satu buku young-adult terbaik tahun 2013 oleh The New York Times dan finalis Best Young Adult Fantasy or Science Fiction novel tahun 2013 versi Goodreads. Tentu prestasi ini membuat studio besar berebut hak cipta untuk diangkat ke layar lebar. Yang beruntung mendapatkannya adalah Sony Pictures di bawah bendera Material Pictures yang dipegang oleh Tobey Maguire dan GK Films milik Graham King. Tentu saja hadirnya buku kedua, The Infinite Sea yang rilis tahun 2014 dengan review yang tak kalah bagusnya, serta seri pamungkas, The Last Star, yang direncanakan rilis Mei 2016 ini, membuat Sony berharap T5W bisa jadi tambang emas franchise baru mereka. Dengan naskah adaptasi dikerjakan oleh Susannah Grant, Akiva Goldsman, dan Jeff Pinkner yang sudah sangat berpengalaman menulis naskah karya-karya blockbuster, sementara bangku sutradara dipercayakan kepada J Blakeson yang tergolong pendatang baru dengan filmografi masih minim, tentu T5W sebenarnya menjadi tawaran yang menarik.

Hidup Cassie Sullivan sebagai gadis SMA yang cantik namun tidak terlalu populer berubah ketika mendapati kotanya diserang oleh benda asing yang tiba-tiba muncul di langit. Menurut berita, alien menyerang bumi dalam lima tahap. Tahap pertama sampai keempat sudah dilalui seluruh dunia, yang menyisakan hanya segelintir penyintas. Termasuk kedua orang tua Cassie. Berdua bersama sang adik, Sam, Cassie mengembara ke sana kemari hingga sampai di camp penyintas. Pihak militer di bawah komando Kolonel Vosch menjanjikan sebuah tempat aman untuk para penyintas yang masih anak-anak. Sebuah kejadian menyebabkan Sam terbawa ke tempat tersebut, sementara Cassie tertinggal. Cassie pun bertualang melewati jalan-jalan sepi dengan bahaya mengintai sewaktu-waktu menuju lokasi aman tersebut. Dengan bantuan Evan Walker yang ditemuinya di tengah jalan, siapa sangka mereka menemukan kenyataan di luar dugaan ketika sampai di tempat yang diklaim paling aman tersebut.

Sejak menit awal, saya merasakan formula yang sangat sangat familiar dari genre sejenis. Saya pun dengan mudah membaca dan menebak arah cerita. Ada  nuansa I Am Legend yang mungkin pengaruh dari penulis naskah  Akiva Goldsman, tapi secara garis besar tetap saja rasa teenage-nya yang paling dominan. Tapi jangan salah, dibandingkan adaptasi young adult dystopian sebelumnya, T5W bisa dibilang menduduki posisi terbawah. Saya melihat ada beberapa penyebab. Yang paling pertama adalah kurangnya inovasi dari formula-formula yang sudah sangat generik. Kedua, alih-alih membuat karakter-karakternya terasa menarik, T5W lebih berfokus pada kronologis cerita (yang statusnya sudah sangat cliché itu!). Chemistry antara Cassie dan Evan (apalagi Cassie dan Ben) tidak dikembangkan dengan cukup untuk membuatnya convincing. Satu-satunya yang menarik dari cerita mungkin hanya twist yang meskipun sebenarnya sudah bisa terbaca sejak awal, tapi harus saya akui menarik. Namun segera setelah revealing moment, T5W ditutup dengan jauh dari kata memuaskan, apalagi mengesankan. Tidak ada adegan petualangan maupun pertarungan yang berkesan, selain serangan di awal film yang cukup mencengangkan selama beberapa detik. Tak ada pula dialog-dialog menarik. Ditangani dengan penyutradaraan yang datar dan ala kadarnya pula. T5W tak terasa punya greget sama sekali, di aspek mana pun, baik drama, romance, thriller, maupun adventure.

Chloë Grace Moretz adalah salah satu aktris muda yang paling bersinar saat ini. Maka dipasangnya sebagai lead seharusnya bisa dengan mudah jadi daya tarik bagi penonton film blockbuster maupun film serius. Dan yah, di sini Moretz memang cukup kuat menjadi lead (dibanding cast yang lain) meski Cassie yang kita lihat di layar ditulis sebagai just another teenage girl. Tak seberkesan Katniss atau Tris. Di lini lead actor ada Alex Roe yang untungnya diberi adegan yang bisa berkesan untuk penonton sehingga porsinya sebagai pendamping lead actress bisa sedikit di atas yang lain. Meski lagi-lagi, dibandingkan peran yang sama di film sejenis lainnya, masih kalah daya tarik. Nick Robinson yang baru saja kita lihat di Jurassic World, sebagai Ben Parish, tak buruk namun perlu porsi yang jauh lebih banyak lagi (jika ada sekuelnya kelak) untuk menjadi karakter berkesan. Karakter lain yang ingin saya lihat lebih banyak porsinya ke depan adalah Ringer yang diperankan Maika Monroe. Aktris muda yang kita kenal lewat The Bling Ring dan It Follows ini bakal kita lihat lagi di sekuel Independence Day, Resurgence. Sementara di lini aktor yang lebih senior, ada Liev Schreiber sebagai Colonel Vosch dan Maria Bello sebagai Sergeant Reznik yang terasa paling menonjol.

I have to say tak ada yang begitu istimewa di teknis, baik dari segi sinematografi dari Enrique Chediak yang cukup untuk bercerita namun kurang untuk membuat adegan-adegan serunya berkesan, maupun editing Paul Rubell atau score gubahan Henry Jackman. Special FX lumayan untuk adegan serangan The Others namun tak terlalu istimewa pula dengan detail yang tidak terlalu menonjol. Tata suara cukup terdengar dahsyat dengan bass yang cukup dalam dan pembagian kanal surround yang cukup terasa. Terakhir, theme song Alive dari Sia di credit title menjadi salah satu yang menonjol dari T5W.

Overall, presentasi T5W memang masih jauh di bawah pesaing di genre sejenis. Bukannya berinovasi dalam hal bercerita, misalnya dengan penggambaran karakter-karakter yang menarik (yang biasanya berhasil menyelamatkan banyak film-film formulaic), ia memilih untuk ikut-ikutan yang sudah ada, tapi dengan penggarapan yang serba asal ada. Mulai naskah sampai penyutradaraan yang standard. Dengan penghasilan domestik opening weekend yang ‘hanya’ US$ 10 juta, Sony Pictures kayaknya harus berpikir berkali-kali untuk melanjutkan installment-installment berikutnya. 

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Monday, January 25, 2016

The Jose Flash Review
Petualangan Singa Pemberani: Atlantos

Jika product placement lewat sebuah film adalah hal yang lumrah terjadi, di Hollywood sekalipun, maka produk yang menjadikan film layar lebar sebagai salah satu promotional tools-nya sangat jarang terjadi. Adalah Wall’s lewat line up es krim bertarget market anak-anak, Paddle Pop, yang berani membawa karakter ikoniknya, seekor singa jantan, ke layar lebar. Sejauh ini sudah ada empat film panjang yang dirilis lewat medium DVD gratisan tiap pembelian produknya, dan juga diputar di layar lebar dengan dukungan teknis yang tentu saja jauh lebih baik, seperti tata suara surround dan gimmick 3D. Dimulai dengan Petualangan Singa Pemberani (2012), Petualangan Singa Pemberani 2 (2013), Petualangan Singa Pemberani: Dinoterra (2014), dan Petualangan Singa Pemberani Magilika (2015). Awal 2016, Paddle Pop kembali bekerja sama dengan studio animasi asal Thailand, The Monk Studios, Batavia Pictures, Pop Up 3D, dan Lowe Indonesia, melahirkan film kelimanya, Petualangan Singa Pemberani Atlantos (PSPA). Istimewanya, mereka tak hanya menawarkan format 2D dan 3D seperti sebelumnya, tapi juga format 4DX yang lisensinya di Indonesia dipegang oleh group CGV Blitz. Bangku sutradara kembali dipegang oleh Lee Croudy (PSP 1 & 2), dan voice talent utama juga masih diisi oleh Giring ‘Nidji’, didukung Yuki Kato, dan Oka Antara.

Raja Paddle Pop kedatangan Tuan Jambul, seorang pengusaha pengeboran minyak PT. Jambul Jaya yang meminta restunya untuk melakukan kegiatan di lepas pantai. Dengan alasan minyak sangat dibutuhkan semua orang, Raja Paddle Pop memberikan restunya. Pada saat peresmian, seorang anjing laut betina, Bella, memperingatkan Paddle Pop bahwa kegiatan pengeboran minyak itu telah membawa dampak polusi dan penyakin bagi warga. Belum sempat mengambil tindakan, daratan diserang oleh Jendral Khan beserta gurita raksasa, Ikaros, yang murka atas perusakan ekosistem laut di kerajaannya. Singkat cerita, ayah Bella diculik oleh Khan. Maka Raja Paddle Pop, Bella, Liona, Spike si landak, dan Twitch si bunglon, kembali bertualang ke negeri bawah laut untuk bernegosiasi demi kedamaian antara negeri daratan dan lautan, serta tentu saja membebaskan ayah Bella. Ternyata petualangan membawa mereka lebih jauh lagi, mengharuskan mereka menemukan Mutiara Pencipta sebagai penawar dari Mutiara Penghancur yang digunakan oleh Jendral Khan. Untung saja mereka juga mendapatkan bantuan dari Janggo, bajak laut insaf beraksen Madura dan seekor penguin bernama Eska.

Saya belum pernah menyaksikan film animasi Paddle Pop sebelumnya karena jujur saja, tidak begitu tertarik. Apalagi film yang ditayangkan di bioskop sudah rilis duluan dalam format DVD gratisan dengan pembelian es krim. Dalam benak saya, kisah petualangan Paddle Pop pasti ditulis dengan fantasi yang ngaco kesana-kemari, asal petualngan bergerak terus, dan kental pesan moralnya ketimbang peduli akan pengalaman sinematik maupun jalan cerita yang logis. Di installment kelimanya ini, saya mencoba memberanikan diri menyaksikannya di layar bioskop dengan format 3D.

Di luar dugaan, ternyata cerita PSPA ditulis dengan sangat layak untuk sebuah kisah petualangan fantasi untuk anak-anak. Alurnya berjalan dengan sangat lancar, step-step yang runtut dan kontinuiti terjaga, serta fantasi yang masih dalam koridor logis (kecuali, tentu saja part fabel-nya). Petualangan yang disajikan pun ternyata cukup menghibur, seru, dan enjoyable untuk diikuti. Jauh dari kesan depresif yang ditunjukkan oleh trailer-nya. Beberapa humor, terutama yang sifatnya innocent (mengingat target audience utamanya adalah anak-anak), ditebar di saat-saat yang tepat tanpa terkesan terlalu berlebihan. Serta yang paling penting, pesan moral yang disampaikan pun disampaikan dengan cara yang begitu halus, lebih menyatu dengan jalan cerita ketimbang sekedar blak-blakan disampaikan lewat dialog seperti yang saya khawatirkan selama ini. Alhasil, ‘pesan moral’ ini terasa lebih kuat dan menggugah ketika disampaikan.

Voice talent di sini rata-rata memberikan performa yang cukup baik dalam menghidupkan karakter-karakternya. Mulai Giring ‘Nidji’ sebagai Raja Paddle Pop, Yuki Kato sebagai Liona (menggantikan Putri Titian, Chelsea Olivia, dan Rachel Amanda), Oka Antara sebagai Jendral Khan, dan Naura sebagai Bella. Tapi above all, favorit saya adalah karakter Janggo, bajak laut insaf beraksen Madura. Mungkin aksennya ini memang dimaksudkan sebagai elemen komedi semata dan terkesan dibuat-buat, tapi terbukti berhasil membuat saya sekedar tersenyum melihat tingkahnya. Tak ketinggalan, karakter Pak Jambul yang suaranya tak kalah catchy.

Secara teknis animasi, saya dibuat cukup terpana oleh detail karakter yang luar biasa, lengkap dengan pergerakan yang tergolong cukup kompleks namun tampak begitu smooth. Lihat saja detail kostum Eska, rambut Paddle Pop dan Liona, atau janggut Janggo. Pergerakan ketika Paddle Pop melompat di perpustakaan juga menunjukkan kualitas animasi yang tak main-main. Meski bukan berarti tak ada celahnya, seperti sinkronisasi gerak bibir dengan suara dan detail animasi air yang kurang realistis. But well, animasi air memang punya tingkat kesulitan yang paling tinggi. Saya cukup paham jika ‘sekedar’ latar dijadikan alasan untuk kekurangan ini. Tata suara memang tak sampai memanfaatkan tiap kanal 7.1 dengan detail sound effect serta pembagian suara yang kentara, namun overall berhasil menyajikan suara yang terdengar mantap, lengkap dengan bass yang cukup dalam, untuk menghidupkan adegan-adegan petualangannya. Sementara gimmick 3D ternyata tampil cukup baik dengan depth yang lumayan terasa serta sesekali efek pop-out. Quite fun.

I have to say, I was quite surprised with sajian PSPA secara keseluruhan. Way better than I thought it will be. Memang belum sampai menjadi kisah petualangan epic yang bakal menyandang status klasik atau remarkable. Pun juga kualitas animasi secara keseluruhan yang masih belum merata kualitasnya. Tapi overall, saya benar-benar mengapresiasi effort yang dilakukan, mulai dari desain karakter, penulisan cerita, hingga penggarapan animasi. It’s really a good one. Semoga saja Wall’s dan timnya tak pernah lelah ataupun jenuh untuk terus konsisten memproduksi dan mengembangkan kualitas produksinya dari film ke film.

Lihat data film ini di filmindonesia.or.id.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Sunday, January 24, 2016

The Jose Flash Review
Fathers and Daughters

Kisah hubungan antara orang tua dan anak sudah berkali-kali diangkat dan terbukti seringkali ampuh untuk menguras emosi sekaligus emosi penonton. Logikanya mudah, semua orang pasti punya orang tua, dan drama orang tua-anak akan dengan mudah relate dengan siapa saja. Tinggal bagaimana meramu formula-formula yang sudah familiar sehingga tetap berhasil memancing emosi penonton. Sebuah naskah dari project Black List tahun 2012 yang ditulis oleh Brad Desch tentang hubungan ayah dan putrinya terpilih untuk diangkat ke layar lebar serta diproduksi bersama oleh PH Amerika Serikat dan Italia. Sutradara Gabriele Muccino yang pernah sukses dengan formula serupa lewat The Pursuit of Happyness dan Seven Pounds ditunjuk menjadi kapten, dengan deretan cast yang tak boleh diremehkan. Mulai Russell Crowe, Amanda Seyfried, Aaron Paul, Diane Kruger, Quvenzhané Wallis, hingga Jane Fonda. Dengan nama-nama yang tergolong berkelas di Hollywood, film bertajuk Fathers and Daughters (FaD) ini jelas menarik perhatian.

Pasca kecelakaan yang menewaskan istrinya, Jake Davis mengalami gejala kejang-kejang yang memungkinkannya menderita penyakit yang lebih serius. Jake terpaksa menitipkan putri tunggalnya, Katie, ke keluarga adik sang istri, Elizabeth, dan menjalani terapi selama beberapa bulan. Setelah selesai terapi, Elizabeth bersikeras untuk mengadopsi Katie, dengan alasan secara finansial Jake sedang jatuh. Mulai dari nol, Jake yang seorang penulis novel terkenal bersikeras menyelasaikan novel terbaru demi mempertahankan hak asuh Katie. Namun ternyata kesehatan Jake sebenarnya belum sepenuhnya pulih.

Setelah dewasa, Katie bekerja sebagai relawan di sebuah badan sosial yang menangani anak-anak yatim piatu. Katie tertarik dengan seorang gadis muda, Lucy, yang mogok bicara semenjak ibu kandungnya meninggal dunia. Tak ada seorang pun yang berhasil membuat Lucy berbicara satu kata pun. Perlahan Katie mencoba menjalin pertemanan dengan Lucy dan memulihkan psikologisnya. Siapa sangka Katie sendiri punya masalah dengan relationship yang membuatnya selama ini lebih memilih untuk one night stand ketimbang menjalin hubungan yang serius. Kehadiran seorang pria bernama Cameron yang mengaku penggemar berat Jake, membuat Katie semakin bimbang dengan ketakutan dirinya sendiri selama ini.

Secara garis besar FaD memang punya cerita pertalian psikologis yang menarik dan berpotensi untuk menjadi tearjerker ampuh. Benar saja, Muccino memang berhasil membuat beberapa momen spesialnya begitu menyentuh dan menggugah emosi saya tanpa harus menampilkan adegan tangis berlebihan, misalnya ketika lagu Close to You yang membuat adegannya terasa begitu manis sekaligus memilukan. Upaya untuk menautkan masa kecil Katie dengan dampak psikologisnya ketika dewasa yang ‘mati rasa’ hingga lebih memilih untuk one night stand, sebenarnya juga jadi materi yang menarik. Apalagi sub-plot hubungan antara Katie dan Cameron dikembangkan dengan cukup baik. Beberapa adegan seks yang meski memang tak ditunjukkan secara eksplisit, tapi di ranah film tentang orang tua dan anak tergolong mengejutkan.

Sayangnya, FaD memilih alur campuran yang membuat penonton bingung untuk fokus. Ditambah lagi pergantian alurnya tergolong random, tanpa punya hubungan yang cukup kuat maupun mulus. Alih-alih mendapatkan pemahaman sekaligus emosi yang utuh, penonton dibuat bingung dengan arah dan tujuan film. Belum lagi sub-plot tentang Katie dan Lucy yang sebetulnya juga menarik, terasa menjadi yang paling tidak punya pertautan apa-apa dengan kedua sub-plot lainnya.  Lagi-lagi fokus emosi saya harus terpecah-pecah. Gagal menjadi tontonan utuh yang bagus, salah satu yang bisa dinikmati dari FaD adalah beberapa momen yang memang berhasil memancing emosi penonton.

Keberhasilan itu tentu tak lepas dari performa yang sangat baik dari para aktornya. Terutama Russell Crowe sebagai Jake Davis dan Amanda Seyfried sebagai Katie. Crowe dengan kharismanya bisa dengan mudah mencuri simpati penonton. Belum lagi mentality breakdown hingga seizure yang dilakoni oleh Crowe dengan begitu hidup dan menyentuh. Seyfried mungkin lebih banyak terlihat bingung dengan keadaan karakternya, namun tentu saja ia punya momen yang menunjukkan performa akting mumpuninya. Kylie Rogers yang memerankan Katie kecil pun memberikan performa sekaligus chemistry akting yang begitu kuat dengan Crowe. Aaron Paul tak buruk meski saya merasa ia terlalu ‘keras’ untuk karakter Cameron. Quvenzhané Wallis dan Diane Kruger tak punya porsi yang cukup untuk memukau penonton. Perhatian saya justru tercuri oleh penampilan Jane Fonda sebagai agen Jake, Teddy Stanton.

Sinematografi Shane Hurlbut memberikan nuansa dan pace yang smooth untuk FaD yang memang cenderung melankolis. Tak istimewa, tapi tergolong pas untuk nuansa dan mood film. Alex Rodriguez sebagai editor yang menjadi salah satu faktor penentu jalan cerita FaD mungkin kebingungan untuk membuatnya kesatuan cerita yang utuh dengan tiga sub plot yang berjalan paralel. Not completely his fault, tapi tetap saja tanggung jawab keseluruhan ada di tangannya. Musik dari Paolo Buonvino mengiringi momen-momen terbaiknya, seiring dengan pemilihan lagu-lagu yang berhasil menguras emosi penonton. Tak ketinggalan pemilihan theme song berjudul sama, Fathers and Daughters, yang menandai kembalinya Michael Bolton, membuat penonton ingin memeluk ayah atau anak ketika kredit mulai berjalan.

Seperti kebanyakan film tentang orang tua dan anak, FaD masih bisa berhasil menguras emosi penonton bahkan mungkin sampai menitikkan air mata, entah itu air mata kesedihan, kerinduan, atau kebahagiaan. Namun sebagai satu rangkaian cerita utuh yang sejatinya saling berhubungan, FaD masih termasuk gagal. Alhasil ia gagal pula menjadi salah satu film orang tua-anak yang bakal bisa bertahan dalam benak untuk jangka waktu yang lama. Well, jika Anda tetap bersikeras ingin mencobanya, setidaknya masih bisa mengandalkan performa akting dari para cast. 

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Wednesday, January 20, 2016

The Jose Flash Review
The Hateful Eight

Bagi penggemar setianya, tiap perilisan film terbaru Quentin Tarantino alias QT adalah hukum wajib untuk ditonton di layar lebar dengan spesifikasi terbaik. Di film kedelapannya ini, Hateful Eight (H8), QT menambahkan lagi alasan dari hukum wajib itu: film ini di-shot dengan Ultra Panavision 70 yang sampai sekarang tergolong jarang digunakan karena alasan biaya. Terhitung H8 baru film ke-11 yang menggunakan proses ini setelah di antaranya, Ben-Hur (1959), Mutiny on the Bounty (1962), The Greatest Story Ever Told (1965), dan yang terakhir Khartoum (1966). Tak hanya proses pembuatannya, penayangan spesial sesuai dengan yang diinginkan QT menjadi terbatas karena hampir semua bioskop di seluruh dunia sudah beralih ke proyektor digital. Maka ada dua versi H8: versi asli dengan seluloid 70mm berdurasi 187 menit (termasuk 12 menit overture dan 6 menit adegan yang memang didesain khusus untuk proyektor 70mm) yang pada akhirnya ditayangkan secara roadshow karena berbagai keterbatasan, dan versi wide-release dengan format digital berdurasi 167 menit. Kompensasi lainnya yang harus ‘diterima’ penonton versi digital dengan lapang dada adalah black bar di atas-bawah gambar karena faktor aspect ratio 2.76:1 yang tergolong sangat tidak lazim. Tapi tentu saja ini semua tidak menyurutkan antusiasme fansnya untuk ‘berziarah’, meski ditambah ‘drama’ di balik pembuatannya yang disebabkan kebocoran naskah dan menyebabkan QT sempat ngambek tidak ingin melanjutkan produksi. Akhir 2015, H8 siap dinikmati dan tentu saja membuat para juri berbagai festival di awal 2016 melirik karya terbarunya ini.

Awalnya diset sebagai sekuel Django Unchained (DU), namun akhirnya dijadikan cerita berdiri sendiri karena QT ingin membuat penonton ‘bersenang-senang’ dengan karakter baru yang belum dikenal, H8 mengambil setting pasca Perang Sipil di Amerika Serikat. Kalau mau dihitung-hitung, setting ini masih termasuk paska DU. Penonton dipertemukan dengan penghuni sebuah kereta kuda di tengah badai salju. Kereta itu dikendarai oleh O.B., yang dibayar untuk mengangkut John Ruth, seorang bounty hunter yang dikenal dengan julukan ‘the hangman’ karena selalu membawa buruannya hidup-hidup untuk dibawa ke tiang gantungan, bersama Daisy Domergue, buronan wanita tukang jagal yang kepalanya dihargai 10.000 dollar. Di tengah jalan, mereka mengangkut Major Marquis Warren, bounty hunter kulit hitam legendaris yang mantan pasukan kavalri, dan Chris Mannix yang mengaku calon sherrif baru di kota tujuan mereka semua, Red Rock.

Pertemuan yang sempat mengakibatkan ketegangan ini masih belum apa-apa dibandingkan ketika mereka singgah di Minnie’s Haberdashery. Ditinggal pemiliknya yang sebenarnya sudah kenal baik dengan Marquis dan John, kehadiran empat pria di kedai itu terasa mencurigakan, setidaknya bagi Marquis. Ada Oswaldo yang mengaku eksekusioner hukuman gantung di Red Rock, yang artinya John nantinya akan menyerahkan Daisy ke dirinya ketika tiba di Red Rock, Joe Gage yang mengaku sedang perjalanan pulang ke rumah ibunya di luar kota Red Rock untuk merayakan Natal, Bob yang mengaku karyawan Minnie, yang diserahi kepercayaan menjalankan kedai itu selama dirinya pergi ke Utara untuk menjenguk sang ibu, serta Jenderal Sandy Smithers yang reputasinya tidak perlu diragukan lagi. Siapa sangka di antara orang-orang yang terjebak di Minnie’s Haberdashery ini ternyata saling bersinggungan, one way or another, dan memuncak menjadi peristiwa akbar. Singkatnya, wrong persons met the wrong persons in the wrong place at the wrong time.

Penggemar setia QT pasti sudah tahu persis bagaimana ekspektasi terhadap film-filmnya. Tak hanya look yang sangat signatural QT bak sinema grindhouse kelas B 80’an yang selalu terlihat dari opening title, pembagian chapter, dan musik pengiring yang dipotong sewaktu-waktu, tapi juga style penceritaannya yang suka memasukkan dialog basa-basi yang sekilas terkesan nggak nyambung tapi selalu berhasil membangun tensi tersendiri, karakter-karakter eksentrik, klimaks tak terduga, serta tentu saja bumbu gore yang tak kalah gilanya. Tentu saja H8 punya semua itu. Bahkan ia butuh waktu sekitar satu setengah jam untuk memperkenalkan karakter-karakter pentingnya beserta latar belakang masing-masing yang nantinya menjadi penyulut klimaksnya, melalui dialog-dialog serta monolog. Referensi Perang Sipil dimasukkan ke dalam latar belakang para karakter, tak hanya sekedar latar belakang, tapi punya impact yang cukup besar terhadap kecenderungan tiap karakter, terutama isu rasialis yang diwakili oleh Marquis. Tiap dialog terasa tak sembarangan dipasang, karena tiap detail katanya punya pengaruh dan hint terhadap karakter serta ‘bekal’ yang penting bagi penonton untuk menganalisis kejadian-kejadian berikutnya. Dialog dan monolog yang cukup panjang ini mengingatkan saya gaya penceritaan salah satu masterpiece QT, Reservoir Dogs. Latar yang sebagian besar di dalam interior Minnie’s Haberdashery dan sedikit outdoor bersalju, menjadikan H8 terasa seperti sebuah panggung opera dengan plot yang runtut, rapi, kuat, dan tentu saja membuat karakter-karakter eksentriknya tampak lebih menarik.

Namun keseruan utama mengikuti plot H8 meski berdurasi cukup panjang adalah bagaimana QT mengajak penonton menebak-nebak apakah tiap karakter menyampaikan fakta atau kebohongan, lengkap dengan analisis-analisis tajam ala karakter Marquis. Sampai film berakhir pun ada cukup banyak hal yang dilontarkan para karakternya yang meninggalkan misteri, apakah kenyataan atau bualan semata. In this case, seperti biasa QT membiarkan penonton menganalisa sendiri dan punya ‘keyakinan’ sendiri-sendiri. Tak hanya itu, penonton diajak pula untuk menganalisa untung-rugi, klausa sebab-akibat, serta what’s the worst that could happened dari tiap keputusan yang ditawarkan. Tentu saja tak semua penonton bisa menikmati ‘permainan’ yang ditawarkan QT ini, but if you’re interested enough, you’ll love it til the end.

Samuel L. Jackson yang selama ini jadi langganan QT tapi untuk supporting role, akhirnya kali ini didapuk menjadi lead. Tak menyia-nyiakan kesempatan ini, Samuel memberikan performa terbaiknya, sesuai dengan kharisma-nya yang memang sudah kuat. Karakter Marquis yang eksentrik, manipulatif, namun juga cerdas dalam mengalisis, berhasil dihidupkan dengan sangat meyakinkan oleh Samuel.

Kesemua karakter yang ditulis dengan porsi sama-sama kuat dan saling mendukung secara seimbang di sini sebenarnya diperankan dengan sangat baik oleh para aktor sesuai kebutuhan masing-masing karakter. Lihat saja karakter John Ruth yang diperankan Kurt Russell dengan kharisma yang cukup kuat dalam mengundang simpati penonton, Demian Bichir sebagai Bob dengan aksen Meksikonya, Tim Roth sebagai Oswaldo Mobray yang mengingatkan saya akan karakter-karakter yang diperankan Christoph Waltz di film-film QT, Michael Madsen sebagai Joe Gage, Bruce Dern sebagai General Sandy Smithers, bahkan James Parks (aktor langganan QT juga) sebagai O.B. Namun yang paling menonjol adalah penampilan Jennifer Jason Leigh sebagai Daisy Domergue. Jennifer berhasil bertransformasi jadi karakter ‘sakit jiwa maksimal’ yang luar biasa kasar, bengis, sekaligus mampu memainkan emosi penonton. Tak heran jika The Academy mengganjarnya nominasi Best Actress in a Supporting Role untuk perannya di sini. Daya tarik yang tak kalah kuatnya adalah Walton Goggins sebagai Chris Mannix yang memorable berkat gesture, cara berbicara, dan beberapa line yang terlontar dari mulutnya. Sebagai bonus, Goggins juga berfungsi menjadi the joker yang cukup berhasil memancing tawa penonton.

Kehadiran cameo lain seperti Zoë Bell dan Dana Gourrier (aktris langganan QT) menambah semarak suasana. Tak ketinggalan, Channing Tatum yang harus saya akui, penampilan singkatnya begitu berkesan, malah mungkin jadi salah satu peran terbaik yang pernah ia mainkan.

Tak perlu meragukan hasil dari penggunaan proses Ultra Panavision 70. Setiap frame H8 bak panggung opera megah yang kaya akan detail dan warna. Aspect ratio yang lebih lebar dibandingkan umumnya film layar lebar (2.35:1 atau 1.85:1) semkin menambah kemegahan visualnya yang memanjakan mata. Robert Richardson tau betul bagaimana memaksimalkan format ini lewat framing dan pergerakan kamera yang tak hanya efektif menangkap detail adegan, tapi juga menghasilkan frame-frame berkomposisi sempurna. Ia tahu betul bagaimana style QT dalam bercerita. Begitu juga dengan editor Fred Raskin yang sudah bekerja sama dengan QT sejak Kill Bill. Berhasil menggantikan peran editor langganan QT, Sally Menke, Raskin pun paham pace dan energi bercerita QT dengan serba pas.

Komposer Ennio Morricone yang akhirnya setuju mengaransemen original score untuk film QT, semakin menambah kemegahan pengalaman sinematiknya, tak terkecuali score dari The Thing yang diakui QT punya pengaruh cukup banyak terhadap H8, dan score The Exorcist yang mengiringi adegan-adegannya menjadi terasa semakin magis. Tata suara memaksimalkan fasilitas 5.1. surround dengan detail yang luar biasa serta keseimbangan antara dialog, sound effect, suara latar (terutama suara badai), dan score.

In the end, H8 memang ‘sangat QT’. Ia masih menggunakan formula biasanya dalam membangun plot. Namun H8 membuat saya semakin kagum dengan kecermatan dan kecerdasannya dalam menyusun naskah. Tak hanya berhasil menciptakan karakter-karakter yang serba kuat dengan latar belakang masing-masing, namun dalam menciptakan kejadian demi kejadian yang punya impact terhadap kejadian berikutnya. Alhasil, H8 menjadi tontonan opera yang asyik diikuti karena permainan analisis true-or-lie dan untung-rugi. Kegilaan QT juga sekali lagi membuat H8 seringkali tak terduga, namun punya konklusi yang sangat memuaskan. Mungkin efeknya belum bisa membuat saya mengalami katarsis sebesar Inglourious Basterds atau Pulp Fiction, tapi jelas jauh lebih mengalir, rapi, dan mengasyikkan ketimbang Django Unchained. Apalagi dengan tawaran pengalaman sinematik yang luar biasa, baik dari segi audio maupun visual, H8 wajib ditonton oleh penggemar QT di bioskop dengan layar sebesar mungkin dan audio equipment sedahsyat mungkin, setidaknya sekali dalam seumur hidup.

Lihat data film ini di IMDb

88th Academy Awards nominee for:

  • Best Performance by an Actress in a Supporting Role - Jennifer Jason Leigh
  • Best Achievement in Cinematography - Robert Richardson
  • Best Achievement in Music Written for Motion Pictures, Original Score - Ennio Morricone
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Sunday, January 17, 2016

The Jose Flash Review
Wazir [वाज़िर]

Di lini utamanya, Bollywood memang didominasi oleh ke-khas-annya, yaitu romance atau masala (genre campur-campur, mulai romance, keluarga, dan action), tapi beberapa tahun terakhir ada satu-dua genre thriller investigatif yang menawarkan tema-tema segar dan mengeksplor banyak aspek yang tergolong jarang dilirik film-film negara lain. Awal tahun 2016 ini, Bollywood punya Wazir, sebuah thriller investigatif yang mencoba memainkan mind-game manipulatif. Proyek yang digagas oleh Vidhu Vinod Chopra ini awalnya akan dijadikan produksi Chopra pertama di Hollywood dengan bintang Dustin Hoffman. Sayang produser Robert Newmyer meninggal dunia sebelum siap direalisasikan. Akhirnya Chopra menggandeng Bejoy Nambiar dan tim penulis naskah yang pernah bekerja sama dengannya di Shaitan dan David, ditambah Abhijat Joshi yang sudah melahirkan karya-karya Hindi notable macam Mission Kashmir, 3 Idiots, dan PK. Memperkuat interest factor, Nambiar menggandeng aktor legendaris Amitabh Bachchan dan Farhan Akhtar yang kita kenal lewat Zindagi Na Milegi Dobar serta sutradara film blockbuster, duologi Don.

Pasca kematian sang putri ketika memburu teroris bernama Farooq Rameez, seorang opsir Anti-Terrorism Squad, Daanish Ali, dihantui rasa bersalah, bahkan sampai nekad memburu sang teroris secara pribadi yang mengakibatkan skorsing dari satuannya. Bahkan istrinya, Ruhana, juga menyalahkannya karena nekad memburu Rameez saat sedang bersama keluarganya. Upaya bunuh dirinya digagalkan oleh kehadiran Pandit Omkar Nath Dhar yang ternyata adalah guru catur putrinya semasa hidup. Pandit perlahan menghibur dan memulihkan jiwa Daanish lewat permainan catur. Tak hanya sebagai permainan, Pandit juga mengambil metafora catur dalam kehidupan. Ketika persahabatan mereka jauh lebih dekat, terkuak masa lalu Pandit yang kehilangan putrinya, Nina karena kecelakaan jatuh dari tangga di rumah Menteri Kesejahteraan, Qureshi. Kebetulan saat itu Nina mengajar catur putri Qureshi, Ruhi. Namun Pandit yakin kematian Nina disebabkan oleh Qureshi sendiri. Sayang kasus ini akhirnya ditutup oleh pihak kepolisian.

Merasa berhutang budi, Daanish mulai melakukan penyelidikan terhadap Qureshi, termasuk mendekati Ruhi sendiri. Satu per satu petunjuk semakin mendekatkan Daanish dengan Qureshi dan fakta-fakta tentang identitasnya di masa lalu. Keadaan semakin mencekam setelah Pandit mulai diteror oleh sosok yang mengaku bernama Wazir, yang dalam permainan catur merepresentasi The Queen alias Sang Ratu.

Sejak awal, Wazir menunjukkan formula yang tak jauh berbeda dengan beberapa film Hindi lain: balas dendam, keluarga, dan persahabatan. Metafora permainan catur pun awalnya seperti sekedar pemanis yang membuat cerita menjadi terkesan lebih cerdas. Nilai lebihnya terletak pada dialog-dialog cerdas dan indah, terutama dari karakter Pandit. Bahkan saya sempat mengernyitkan dahi ketika Daanish lebih memburu Wazir ketimbang target utamanya, Qureshi, yang notabene bos dari Wazir. Namun rupanya Wazir menunjukkan lebih dari itu ketika cerita bergulir lebih jauh dan aroma twist menarik mulai tercium. Metafora catur pun tak hanya menjadi pemanis cerita supaya terkesan smart, namun menjadi basis utama cerita. Mungkin twist-nya tak benar-benar baru, namun bisa nge-blend dengan begitu rapi, cerdas, serta relevan. Pengulangan adegan yang memperjelas revealing moment, yang mungkin memang bertujuan mempermudah penonton awam memahaminya, jadi tak begitu mengganggu bagi saya. Elemen drama persahabatan dan keluarga yang menjadi ‘kulit luar’ mampu mendukung cerita dengan keseimbangan yang pas, tanpa terkesan saling tumpang tindih.

Daya tarik utama di Wazir tentu saja penampilan Amitabh Bachchan yang kekuatan kharisma-nya tak sedikit pun pudar. Berkat karakter Pandit yang memang menarik, ditambah dialog-dialog cerdas, Amitabh seolah menjadi nyawa utama film. Porsi (dan pesona) Farhan Akhtar mungkin masih kalah dengan Amitabh, namun setidaknya ia berhasil membentuk chemistry persahabatan yang begitu kental dengan karakter Pandit, serta cukup berhasil menarik simpati penonton. Kecantikan Aditi Rao Hydari sebagai Ruhana tak punya porsi cukup dalam cerita untuk mampu menarik perhatian. Justru di jajaran cast pendukung, Neil Nitin Mukesh sebagai sosok Wazir, John Abraham sebagai S.P., dan terutama si cilik Mazel Vyas sebagai Ruhi, yang di klimaks mampu menyedot emosi penonton secara maksimal.

Sinematografi Sanu Varghese mungkin tak terlalu istimewa, namun setidaknya cukup mampu bercerita dengan efektif. Editing dari Chopra sendiri dibantu Abhiajat Joshi berperan cukup penting dalam menjaga energi sekaligus emosi cerita secara seimbang. Terakhir, tentu saja musik-musik Rohit Kulkarni yang meski tidak dihadirkan sebagai musical performance, namun beberapa berhasil jadi memorable, terutama sekali Tere Bin.

Tanpa musical performance (lagu-lagu hanya diletakkan sebagai latar adegan), durasi yang ‘hanya’ 1 jam 42 menit, plot yang berjalan lugas dan runtut, Wazir menjadi sajian tontonan yang padat dan  sangat mengasyikkan. Sayang untuk dilewatkan, apalagi jika Anda termasuk fan Amitabh Bachchan atau penggemar film thriller investigatif yang cerdas dan punya twist menarik. 

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Tuesday, January 12, 2016

The Jose Flash Review
Midnight Show

Renee Pictures adalah PH film Indonesia yang tergolong baru namun berani memproduksi film dengan berbagai genre. Setelah drama romantis, komedi chaotic, dan horor, sebagai film keempatnya, Renee Pictures mempersembahkan slasher thriller bertajuk Midnight Show (MS). Dari ide cerita Gandhi Fernando dikembangkan oleh penulis naskah Husein M. Atmodjo. Ginanti Rona Tembang Asri ditunjuk sebagai sutradara. Sebelumnya sutradara wanita muda ini dikenal sebagai astrada dari film-film bertemakan slasher seperi Rumah Dara dan The Raid. Daya tarik lainnya adalah keterlibatan aktris Acha Septriasa sebagai lead yang mana ini merupakan kali pertamanya membintangi film thriller/horor, setelah selama ini dikenal sebagai bintang drama romantis.

Bersetting di akhir dekade 90-an, dimana iklim usaha bioskop semakin meredup. Di tengah menurunnya jumlah penonton, bioskop Podium mempekerjakan Naya yang bertugas menjadi penjaga loket, sang projeksionis, Juna, sang sekuriti, Allan, petugas kebersihan, Lusi, dan pemilik bioskop, Pak Johan. Suatu malam akan diputar film berjudul Bocah sebagai tayangan midnight show di Podium. Konon film ini berdasarkan kisah nyata seorang bocah yang menghabisi seluruh keluarganya secara kejam. Penayangan sempat akan dibatalkan karena tak ada penonton, namun di menit-menit terakhir satu per satu berdatangan. Ada seoang bapak tua yang terlihat kebingungan, sepasang kekasih, Ikhsan dan Sarah, serta seorang pemuda misterius ber-hoodie hitam, Juna. Keadaan semakin mencekam ketika terjadi pembunuhan di dalam studio saat pemutaran film Bocah. Tak hanya berusaha menyelamatkan diri agar tidak menjadi korban berikutnya, mereka juga harus memecahkan misteri siapa pelakunya dan apa hubungannya dengan film Bocah yang sedang diputar.

Genre slasher thriller terhitung masih jarang ada di film Indonesia. Maka tiap kali kemunculan film serupa yang digarap dengan baik, menjadi daya tarik tersendiri. Tak terkecuali untuk Midnight Show yang jelas menunjukkan peningkatan cukup signifikan dari produksi Renee Pictures di berbagai departemen. Overall, Ginanti berhasil menghidupkan nuansa mencekam dan menegangkan sejak menit pertamanya. Ia juga berhasil menghadirkan adegan-adegan hide-and-seek dan slasher-nya dengan energi serta momentum yang serba tepat. Ini menjadikan MS sajian thriller berkelas yang berhasil mengacak-acak emosi penonton. Ada beberapa scene yang terasa terlalu carried away dan karena keberadaannya cukup sering terjadi, sehingga sedikit mempengaruhi laju penceritaan. Ganjalan lain juga terasa ketika ia berusaha membuka satu per satu layer rahasianya. Adegan-adegan revealing ditampilkan dengan agak kurang luwes sehingga mungkin membuat penonton harus berkonsentrasi lebih untuk memahaminya, atau malah perlu analisis ulang setelah film berakhir. Kendati demikian, cara ia menjaga dan akhirnya membuka satu per satu layer rahasianya harus diakui tergolong cerdas dan tidak semudah biasanya untuk ditebak. Termasuk juga konsep cerita secara keseluruhan yang layak mendapatkan apresiasi lebih.

Penampilan Acha Septriasa sebagai lead di film thriller ternyata masih memberikan performa terbaik. Ia mampu menjadi lead yang cukup kuat untuk mengundang simpati sekaligus menjadi motor penggugah emosi penonton. Gandhi Fernando sebagai Juna yang selama ini dicibir karena selalu tampil di film-film yang ia produksi, memberikan performa yang jauh lebih baik daripada sebelumnya. Setidaknya ia sudah tampil lebih santai, laid-back, dan tidak berakting berlebihan maupun terkesan dibuat-buat seperti sebelum-sebelumnya. Gesata Stella sebagai Lusi juga menunjukkan performa akting yang lebih baik dari biasanya, tentu ini berkat karakter yang memang lebih menantang ketimbang yang selama ini ia perankan. Ratu Felisha yang sudah berpengalaman di genre thriller/horror, masih memberikan kualitas performa yang setara lewat karakter yang sebenarnya tergolong tipikal. Sementara Boy Harsya, Daniel Topan, dan Ronny P. Tjandra tidak punya running time yang cukup untuk menjadikan karakter mereka lebih menarik lagi.

Dalam menjalankan misinya, MS dibekali teknis yang sangat mumpuni sekaligus mendukung. Sinematografi Joel Fadly Zola yang dengan sangat baik memframe tiap kejadian penting dengan latar desain produksi berkelas dari Aek Bewava. Bioskop ‘klasik’ Galaxy di Bogor dan bioskop Mall Cimanggis, Depok yang ketika syuting masih beroperasi namun sudah tidak lagi delapan bulan setelah syuting selesai, menjadi setting ‘sempurna’ untuk menghidupkan nuansa creepy. Tata suara terdengar begitu detail dan punya keseimbangan sound effect, score music, dan dialog yang sangat baik, lengkap dengan pemanfaatan fasilitas surround yang maksimal serta scoring-scoring berkelas namun ‘sakit jiwa’ dari Jerapah Sound. Editing dari Andhy Pulung tu, termasuk coloring yang membuatnya tampak semakin berkelas, turut menjadikan flow cerita dan energi MS terjaga sebagai sebuah sajian thriller.

Bagi penggemar slasher thriller, MS jelas sajian yang haram untuk dilewatkan di layar lebar. Dengan dukungan teknis yang sangat mendukung, konsep cerita yang cerdas dan rapi, meski ada beberapa bagian yang masih kurang luwes disampaikan secara visual, MS adalah a smart and gripping slasher thriller we rarely experience. 

Lihat data film ini di filmindonesia.or.id.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates