Saturday, December 3, 2016

The Jose Flash Review
Underworld: Blood Wars

Underworld bisa jadi sebuah franchise yang menarik untuk dikaji. Hikayat bak Romeo & Juliet di tengah perseteruan antara vampire dan lycan (werewolf) yang melambungkan nama Len Wiseman sebagai sutradara film layar lebar sekaligus menjodohkan dirinya dengan mantan istri, Kate Beckinsale ini akhirnya berkembang menjadi tiada akhir seperti franchise Resident Evil. Sejak installment pertama di tahun 2003, sebenarnya tak pernah benar-benar mencetak angka box office yang mencengangkan, apalagi di peredaran domestik yang cenderung menurun. Hanya pendapatan internasional saja yang setidaknya bisa mendulang lebih banyak pemasukan. Namun dengan budget yang memang tergolong minim untuk genrenya, maka Lakeshore Entertainment selalu tertarik untuk terus menghidupkan franchise ini. Sementara kritik sejak installment pertama lebih banyak yang memberikan impresi negatif. Seiring dengan waktu dan bongkar-pasang cast & crew, tak terasa Underworld sudah sampai pada installment kelimanya dengan sub-judul Blood Wars.

Awalnya Lakeshore berniat membuat sebuah reboot dari franchise ini, tapi kemudian urung dan lebih memilih untuk melanjutkan kisah dari installment ke empat. Kate Beckinsale kembali memerankan Selene, bersama Theo James sebagai David yang menjadi lead male sejak installment keempat, Underwold: Awakening, menggantikan sosok Michael (Scott Speedman). Naskahnya disusun oleh Cory Goodman yang pernah menggarap naskah Priest dan The Last Witchhunter, sementara bangku sutradara dipercayakan kepada sutradara wanita, Anna Foerster yang mana ini merupakan debutnya sebagai sutradara film layar lebar setelah selama ini lebih banyak bertindak sebagai DoP, visual effect director, second unit director, dan menyutradarai beberapa TV series, seperti Outlander, Army Wives, dan Criminal Minds. Di Amerika Serikat, Underworld: Blood Wars (UBW) dijadwalkan tayang 6 Januari 2017, sementara kita di Indonesia mendapatkan privilege untuk menyaksikannya sekitar sebulan lebih awal.
Setelah menjadi buron karena dianggap berkhianat pada kaum vampire sekaligus diburu kaum Lycan karena darah sang putri dipercaya punya khasiat untuk menjadi hibrida Vampire-Corvinus, Selene hidup tak menentu dan menyembunyikan sang putri, Eve, agar terhindar dari buruan dua kubu. David, vampir murni yang berubah menjadi hibrida setelah mendapatkan kucuran darah Selene, bersama sang ayah, Thomas, dan Semira yang merupakan tetua vampire, berusaha meyakinkan dewan tetua vampire untuk memberikan pencabutan status kriminal Selene karena dipercaya bisa dimanfaatkan untuk melatih kaum vampire berperang dengan kaum lycan. Selene yang awalnya ragu pun akhirnya melihat ini kesempatan yang baik untuk membersihkan namanya sekaligus meregenerasi para vampire. Namun rupanya ini semua hanyalah jebakan untuk tujuan jahat yang jauh lebih besar. Sementara perang antara vampire dan lycan pun kembali pecah.
Sejak installment pertama sebenarnya satu-satunya hal menarik yang ditawarkan oleh franchise Underworld adalah sajian aksi brutal yang tak segan-segan mengucurkan darah dan memutilasi organ-organ tubuh. Abaikan perkembangan plot yang awalnya sederhana hingga lambat laun menjadi meluber ke mana-mana tanpa arah tujuan yang jelas. Begitu pula yang terjadi di UBW. Masih dipenuhi komoditas utamanya, tapi dengan kemampuan menjadi-sajian-memorable yang masih tak beranjak jauh dari installment-installment sebelumnya. Saya masih susah mengidentifikasi adegan tertentu merupakan bagian dari installment yang mana, saking tak ada adegan atau detail adegan yang benar-benar mengesankan meski at the viewing moment, cukup enjoyable. Sementara jalinan plot yang coba dihadirkan semakin ribet dan membuat saya makin tak peduli. Seperti perkembangan plot a la FTV-ish atau TV series-ish. Pada akhirnya, seperti installment yang sudah-sudah, melelahkan untuk diikuti, apalagi perduli.
Penampilan para cast-nya pun rata-rata mediocre. Kate Beckinsale dan Theo James masih tak beranjak jauh dari seri-seri sebelumnya. Bukan salah mereka untuk tak melakukan effort lebih, mengingat memang tak diberi penulisan perkembangan karakter yang berarti maupun menarik. Lara Pulver sebagai sosok villain yang sensual, manipulatif, sekaligus terlihat licik, Semira, mungkin terasa yang paling mencuri perhatian, meski penampilannya tergolong tipikal seperti yang dilakukan Eva Green di Dark Shadows, misalnya. Di lini berikutnya ada Charles Dance sebagai Thomas, Tobias Menzies sebagai Marius, Bradley James sebagai Varga, Clementine Nicholson sebagai Lena, serta Daisy Head sebagai Alexia, masing-masing menjadi pendukung dengan porsi yang seimbang dan masih cukup noticeable.
Teknis UBW juga rata-rata masih pada kualitas yang setara dengan installment-installment sebelumnya. Mulai sinematografi Karl Walter Lindenlaub yang sekedar cukup dalam memvisualisasikan adegan-adegan aksinya dengan jelas, tanpa ada yang terasa punya excitement lebih maupun menimbulkan kesan tertentu untuk jangka waktu yang lama. Begitu pula editing Peter Amundson yang sekedar membuat plotnya berjalan dengan cukup jelas, tanpa kontribusi untuk memberi warna lebih pada film secara keseluruhan. Desain produksi Ondrej Nekvasil masih menjaga konsistensi desain franchise secara keseluruhan dengan beberapa elemen-elemen baru yang masih senada, termasuk desain kostum dari Bojana Nikitovic. Score music dari Michael Wandmacher juga masih melanjutkan konsitensi nuansa dari installment-installment sebelumnya, tanpa ada corak warna baru yang menghiasi. Sementara sound design berfungsi cukup maksimal untuk genrenya meski tak ada yang terlalu istimewa pula.
Memasuki installment kelima, UBW agaknya masih belum begitu beranjak dari kualitas seri-seri sebelumnya, di hampir semua aspeknya, terutama perkembangan plot dan style action-nya. Melelahkan dan butuh penyegaran, sebenarnya. Namun jika Anda tak berharap banyak kecuali sekedar mendapatkan hiburan action brutal secara instant, tanpa memikirkan apakah akan mengingatnya untuk jangka waktu yang cukup lama atau mampu membedakannya dengan installment-installmentnya,  UBW masih boleh lah dijadikan pilihan tontonan. Bagi yang sudah mulai lelah mengikuti kisahnya, jangan sedih. Masih ada yang belum diselesaikan di installment ini. Wiseman pun mengkonfirmasi bahwa Kate Beckinsale masih akan kembali di installment keenam. Jadi siap-siap saja.
Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates