Wednesday, December 14, 2016

The Jose Flash Review
Sing

Trend film animasi tahun 2016 ini rupanya jatuh pada fabel dengan karakter-karakter binatang yang berperilaku menyerupai manusia. Terhitung ada Kung Fu Panda 3, Zootopia, The Angry Birds Movie, dan The Secret Life of Pets. Illumination Entertainment yang pertengahan tahun melepas The Secret Life of Pets, di penghujung tahun ini mencoba menawarkan film animasi Sing. Konsepnya yang musikal dengan memuat lagu-lagu populer lintas jaman sedikit mengingatkan saya akan Trolls yang dirilis belum lama ini. Tak heran jika saya mengira Sing akan menjadi gabungan antara Zootopia dan Trolls pada derajat tertentu. Ide ini berasal dari Garth Jennings (The Hitchhiker’s Guide to the Galaxy, Son of Rambow) yang duduk selaku penulis naskah sekaligus sutradara bersama Christophe Lourdelet yang sudah berpengalaman di balik film-film animasi seperti Balto, A Monster in Paris, The Lorax, Arthur Christmas, The Pirates! Band of Misfits, Despicable Me 2, dan Minions. Selebriti-selebriti yang digandeng untuk menyumbangkan suaranya pun tak tanggung-tanggung. Mulai Matthew McConaughey, Reese Witherspoon, Seth McFarlane, Scarlett Johansson, John C. Reilly, Taron Egerton, sampai Jennifer Saunders dan Jennifer Hudson. Dengan track record film-film animasi Illumination yang lebih untuk menghibur ketimbang mengedepankan value, saya sudah menyiapkan diri dengan ekspektasi secukupnya sebelum menonton.

Sejak pertama kali menonton pertunjukan opera, impian terbesar seekor koala bernama Moon Buster adalah punya gedung pertunjukan opera sendiri dan mengelolanya. Rupanya tantangan dan rintangan tak hanya berhenti sampai berhasil mendirikan gedung opera. Kini, gedung opera miliknya terancam disita pihak bank karena ternyata tak banyak yang meminati pertunjukan opera yang ia tawarkan. Setelah memutar otak, Moon beride untuk menggelar sebuah audisi menyanyi berhadiah uang tunai yang ia ambil dari sisa-sisa simpanannya selama ini. Ia berharap audisi ini menarik perhatian banyak binatang dan menggeliatkan kembali pertunjukan operanya. Gara-gara kesalahan sang asisten, seekor iguana betina tua bernama Karen, nilai hadiah uang tunai yang ditawarkan menjadi seratus kali lipat. Berbagai binatang di penjuru kota pun tertarik untuk mengadu keberuntungan dengan bakat masing-masing. Mulai seekor babi ibu rumah tangga dari dua puluh lima ekor babi, Rosita, tikus bersuara ala Frank Sinatra tapi arogan, Mike, landak betina berjiwa rockstar, Ash, gorilla gunung yang sering diajak sang ayah merampok tapi punya suara emas, Johnny, sampai gajah betina bersuara merdu yang tidak pede, Meena. Posisi Moon semakin terjepit ketika semua kontestan sadar bahwa Moon tak punya uang sebanyak itu. Maka Moon harus memutar otak untuk membuat kontesnya berjalan lancar dan menarik perhatian banyak audience sehingga operanya dapat kembali berjaya.
 Plot yang ditawarkan Sing mungkin memang tak ada yang benar-benar baru ataupun istimewa. Mengingatkan saya akan premise The Producers (2005) yang diangkat dari pertunjukan panggung, dengan kemasan pop dan catchy untuk range usia penonton yang cukup lebar. Semuanya mengalir lancar dengan formula-formula generik di genrenya. Sing pun memberikan porsi yang tergolong serba seimbang untuk sub-plot karakter-karakter yang banyak. Namun yang menjadi kekuatan terbesar adalah keberhasilannya dalam merangkai momen-momen secara tepat sehingga bisa cukup memancing emosi penonton (favorit saya; Johnny’s son-and-dad moment dengan iringan I Dit It My Way yang dibawakan karakter Mike). Mungkin in the end kesan value yang tersisa selepas film berakhir tak sekuat seperti yang dibuat Trolls atau film-film animasi lini atas lainnya, tapi ia masih mampu membuat Anda mengingat momen-momen memorable tersebut sebagaimana performa-performa musikalnya yang akan instantly membuat Anda ikut bersenandung dan bertepuk tangan. Value-value penting yang diusung pun tersampaikan dengan cukup mulus tanpa terkesan saling tumpang-tindih, mulai “Satu-satunya jalan ketika berada pada dasar terendah adalah naik”, self-acceptance, sampai berani menaklukkan ketakutan diri.
Kendati didukung selebriti-selebriti populer, kebanyakan performa suara di Sing mampu menyamarkan image asli mereka. Siapa yang sangka koala imut seperti Moon ternyata disuarakan oleh Matthew McConaughey, atau ibu-ibu galau yang ternyata menakjubkan, Rosita, disuarakan oleh seorang Reese Witherspoon. Ini sama sekali tak buruk. Justru menjadi bukti bahwa voice-voice talent ini mampu menghidupkan karakter-karakter yang mereka isi suaranya tanpa pengaruh suara artis aslinya, bertolak belakang dengan trend (seperti yang pernah diusung oleh DreamWorks Animation) yang justru membuat tampilan karakter animasi semirip mungkin (atau identik) dengan fisik voice talent populernya. Pun saya tak menyangka Taron Egerton (Johnny) dan bahkan Seth MacFarlane (Mike) punya suara yang luar biasa dalam bernyanyi.
Desain karakter adalah salah satu faktor terpenting dalam sebuah film animasi. Apalagi jika memang dikembangkan menjadi sebuah franchise dengan penjualan merchandise. Sing termasuk yang cukup berhasil dalam mencapai tujuan tersebut. Kendati masih termasuk generik (untuk desain masing-masing spesies), tapi masih sangat mudah dikenali. Desain produksi secara keseluruhan pun sejalan dengan desain karakternya. Ceria, penuh warna-warna cerah, tapi tak sampai jadi terlalu mencolok. Editing Gregory Perler membuat laju plot lebih dari cukup, sangat enjoyable untuk diikuti, dengan takaran serta peletakan ‘percikan-percikan’ humor yang pas, dan musical-musical moment yang tertata megah. Pemilihan puluhan lagu populer lintas era menyatu dengan scoring Joby Talbot yang mungkin tak terlalu remarkable, tapi cukup untuk memberi warna serta emosi ke dalam jalinan ceritanya. Tak ketinggalan sound design yang ‘meriah’ tapi tak berisik, keseimbangan elemen-elemen suara yang terjaga baik, serta pemanfaatan fasilitas Dolby Atmos yang cukup maksimal.
Ekspektasi ‘secukupnya’ yang saya pasang ketika menyaksikan Sing ternyata membuahkan keuntungan tersendiri. Ia berhasil meruntuhkan image film-film animasi Illumination yang lebih mengedepankan sisi hiburan (dengan treatment chaotic comedy) ketimbang value. Bahkan sejauh ini mungkin pencapaian storytelling terbaik Illumination setelah Despicable Me. Toh nomor-nomor musikalnya sangat memanjakan indera penglihatan dan pendengaran. You will sing and cheer along. 
Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates