Wednesday, December 14, 2016

The Jose Flash Review
Rogue One:
A Star Wars Story

Sejak kemunculan pertama kalinya di tahun 1977, franchise Star Wars yang kemudian menjadi franchise terbesar Hollywood, sudah menampakkan kekayaan universe yang berlimpah selain plot utama tentang ‘dinasti’ Skywalker. Tak heran kemudian muncul berbagai spin-off dalam bentuk animasi, novel, graphic novel, game, maupun fanfic yang tak terhitung jumlahnya. Setelah LucasFilm Ltd. dibeli oleh Disney tahun 2012 senilah US$ 4.05 milyar, kesempatan ekspansi serta eksplorasi kisah-kisah Star Wars menjadi lebih besar lagi. Disney tentu tak mau menyia-nyiakan nilai empat milyar dollar Amerika tersebut dengan hanya bertumpu pada ekspansi plot utama yang dimulai dari The Force Awakens (TFA) tahun 2015 lalu.

Spin-off pun dimulai dari Rogue One: A Star Wars Story (RO) yang dirilis tahun 2016 ini dan akan terus hadir bergantian dengan installment plot utama tiap tahunnya. Setelah 2017 Episode VIII, masih ada antologi kisah-kisah spin-off lainnya, seperti yang sudah direncanakan tahun 2018, film stand-alone Han Solo. Proyek RO dipercayakan kepada sutradara Gareth Edwards (Monsters, 2010; dan Godzilla, 2014) sementara naskahnya disusun oleh Chris Weitz (Antz, Nutty Professor II: The Klumps, About a Boy, The Golden Compass, dan Cinderella). Konon setelah melihat hasil akhirnya, Disney memutuskan untuk melakukan beberapa perombakan dengan melibatkan Tony Gilroy (Michael Clayton dan franchise Jason Bourne sampai The Bourne Legacy). Kabar reshoot menjadi tanda tanya sekaligus keraguan fans Star Wars akan kualitas RO. Nevertheless, fans sejati tentu tak bisa tak antusias menyambut kisah karakter-karakter baru yang secara timeline terletak beberapa bulan sampai persis sebelum pembuka installment pertama, Star Wars (yang kemudian diberi titel tambahan Episode IV: A New Hope).
Ketika Imperial Galactic Empire masih baru menguasai galaksi, pengaruhnya sudah luar biasa. Seorang gadis muda bernama Jyn Erso yang baru tertangkap pasukan Empire diselamatkan oleh pihak tak dikenal. Ternyata mereka berasal dari kaum pemberontak mencari ayah Jyn, Galen Erso, seorang pemberontak yang dipaksa oleh Empire untuk membangun senjata mematikan yang bisa membumi hanguskan semua planet di seluruh galaksi. Mereka mengira Jyn bisa menjadi akses untuk menemukan Galen dan menggagalkan pembangunan senjata mematikan tersebut. Petualangan pencarian Jyn akan sang ayah membuatnya turut membantu kaum pemberontak, terutama bersama seorang pilot bernama Cassian Andor, sebuah droid bekas Empire yang diprogram ulang, K-2SO, mantan pilot Tie-fighter, Bodhi Rook, seorang pendekar buta yang terobsesi dengan kekuatan Force, Chirrut Imwe, dan partnernya, Baze Malbus. Menemukan Galen Erso rupanya hanyalah awal dari misi lebih besar yang akan menentukan masa depan seluruh planet di galaksi setelah Galen ternyata punya agenda tersendiri.
RO memang ‘hanyalah’ sebuah spin-off, tapi tentu fans Star Wars yang jumlahnya luar biasa banyak di seluruh dunia harus di-serve setidaknya dengan spirit dan soul yang masih senada dengan plot utamanya. Chris Weitz (dan tim penyusun cerita) memang terasa menawarkan kisah yang tergolong sederhana (hanya tiga paragraf di prolog A New Hope) namun dikembangkan menjadi jalinan plot yang masih menarik. Karakter-karakter dan planet-planet baru yang baru diperkenalkan di sini sebenarnya tak jadi masalah. Sayangnya, introduksi yang dilakukan terasa terlalu rumit dengan kelokan-kelokan cerita yang tak begitu penting. Alhasil jalinan plot di satu jam pertama RO bagi beberapa penonton bisa jadi membosankan, apalagi penonton yang tak mengikuti kisah saga Star Wars (mungkin faktor absen-nya crawl prologue di awal film yang selama ini sudah menjadi ciri khas franchise Star Wars?). Jika TFA dirancang untuk bisa menjadi entrée yang accessible bagi penonton awam sekalipun, maka RO akan lebih susah untuk dipahami penonton awam (at some point bakal tidak lagi peduli dengan perkembangan ceritanya). Pasalnya, RO memang memberikan cukup banyak hint koneksi dengan installment-installment induknya, terutama A New Hope, tapi tak memberikan penjelasan yang cukup untuk dipahami penonton baru. Misalnya kemunculan Star Destroyer, tapi tak disebutkan sama sekali perannya dalam cerita, bahkan penyebutan nama pun tidak ada.
Kemudian yang tak kalah noticeable-nya adalah porsi penggambaran sepak terjang tiap karakter, termasuk karakter-karakter utama, seperti Jyn Erso, Cassian Andor, Chirrut Imwe, Baze Malbus, Bodhi Rook, yang masih jauh dibandingkan aspek serupa di installment-installment Star Wars lainnya. Ambil contoh karakter lead female heroine, Jyn Erso, yang terkesan hanya sebagai biduk penggerak cerita tanpa layer berarti yang bisa membuat karakternya mampu lebih mengundang simpati penonton atau sekedar lebih menarik, setara karakter Rey di TFA, misalnya. Kondisi yang serupa juga terjadi pada karakter-karakter lainnya. Bahkan potensi romance chemistry antara Jyn-Cassian pun dilewatkan begitu saja. Ini bisa jadi faktor gaya penceritaan Gareth Edwards yang memang terlihat sering ‘menahan-nahan’ emosi kendati memunculkan spark-spark yang kentara. Ini pula lah yang membuat berbagai emosi penting di banyak kesempatan terkesan lewat begitu saja tanpa kesan yang mampu menggerakkan emosi penonton, seperti momen kehilangan orang penting dan momen-momen patriotis. In short, RO terasa seperti sebuah rangkaian cerita sampingan yang berjalan linear dan berkesinambungan dengan plot utama, tapi mengabaikan emosi-emosi maupun aspek personal yang seharusnya bisa menjadikannya lebih dari sekedar kisah spin-off. Jauh berbeda dengan soul dan spirit Star Wars selama ini.
Untungnya, RO punya paruh kedua yang menarik, enjoyable, dan seru untuk disimak. Bukan faktor perkembangan plot yang sebenarnya bisa dengan mudah diduga oleh fans Star Wars maupun penonton yang sekedar mengikuti kisahnya, tapi rangkaian adegan battle yang ditata dengan sangat intense. Mengingatkan (atau malah melebihi) akan adegan serupa di A New Hope, lengkap dengan melibatkan pesawat-pesawat serta berbagai elemen desain produksinya. Serta yang susah dipungkiri adalah kemampuannya untuk tetap membuat fans Star Wars bersorak dan bertepuk tangan lewat adegan terakhir yang menyambung langsung dengan A New Hope, sama seperti ketika TFA menutup episodenya.
Sejak trailer pertama dirilis, Felicity Jones sebagai Jyn Erso tampak seperti pilihan yang sangat tepat. Image Felicity kemudian begitu melekat kuat dengan karakter Jyn Erso. Sayangnya ternyata di film utama, karakter lead female heroine yang dibawakan Felicity masih tergolong lemah, apalagi jika dibandingkan porsi serupa yang dimiliki Princess Leia atau Rey. Saya melihat bukan sepenuhnya salah Felicity. Bisa jadi memang style directing Edwards yang membuat karakter-karakternya terkesan serba tanggung untuk ditanam ke benak penonton. Hal yang serupa terjadi pada Diego Luna sebagai Cassian, Ben Mendelsohn sebagai Orson Krennic, Riz Ahmed sebagai Bodhi Rook, Genevieve O’Reilly sebagai Mon Mothma, dan Forest Whitaker sebagai Saw Gerrera. Donnie Yen sebagai Chirrut îmwe beruntung bisa menarik perhatian lebih berkat aksi beladiri-nya yang memberikan warna tersendiri pada franchise. Selevel di bawahnya ada Wen Jiang sebagai Baze Malbus yang punya ‘jatah’ bela diri lebih sedikit. Mads Mikkelsen sebagai Galen Erso mungkin porsinya sangat sedikit tapi kekuatan kharismanya lebih dari cukup untuk menjadi noticeable bagi penonton. Terakhir, Alan Tudyk berhasil membuat karakter droid K-2SO yang bak C3PO versi lebih cerdas, nyinyir, dan kick-ass, jadi karakter yang lebih menarik ketimbang karakter-karakter manusianya.
Di divisi teknis, Greig Fraser menyumbangkan shot-shot yang megah, sinematis, mendukung storytellng dengan cukup maksimal. Editing John Gilroy, Colin Goudie, dan Jabez Olssen secara garis besar mampu membuat laju film cukup lancar. Setidaknya mereka sudah mencoba untuk membuat perkembangan plot berkelok-kelok dengan detail adegan yang kurang informatif menjadi lebih watchable. Desain produksi Doug Chiang dan Neil Lamont memberikan feel dan nuansa yang kurang lebih sama dengan trilogi klasik Star Wars, terutama A New Hope, tanpa terkesan kuno. Musik score Michael Giacchino terdengar berusaha membuat variasi-variasi dari score asli John Williams. Sayangnya, seringkali terasa trying too hard to be different but still in the similar feel. Alhasil banyak momen yang (lagi-lagi) terasa ‘ditahan-tahan’ dan not-not yang terkesan ‘diplesetkan’. Bahkan final score di credit title saya mengendus ada ‘campuran’ score The Magnificent Seven. Gimmick 3D tak menawarkan banyak keistimewaan, baik secara depth-of-field apalagi pop-out effect. Namun mengalaminya di teater IMAX tentu jauh lebih maksimal daripada di layar biasa, dengan dukungan Dolby Atmos sekalipun.
Bagi fans Star Wars, RO jelas film yang pantang untuk dilewatkan. Hasilnya bisa jadi either you love it or you hate it. Setidaknya hint-hint yang tersebar masih menarik untuk dijadikan bahan analisis. Namun  penonton awam (ya, Anda juga termasuk jika mengira RO adalah sekuel dari TFA) bisa jadi lost sejak menit awal hingga (setidaknya) paruh kedua. Itu pun jika Anda cukup sabar dan tidak putus asa untuk mencari tahu kaitan plot RO dengan plot utama Star Wars Saga. Jika Anda mulai tertarik, coba tonton kembali setidaknya A New Hope dan Revenge of the Sith (Episode III) sebagai modal. Bagi saya pribadi, RO tak punya daya lebih selain sekedar sebuah spin-off. Ia masih belum bisa menciptakan feel yang sama seperti ketika saya menyaksikan film-film dari plot utama franchise berulang-ulang. 
Lihat data film ini di IMDb.

The 89th Academy Awards Nominees for:

  • Visual Effects - John Knoll, Mohen Leo, Hal Hickel, and Neil Corbould
  • Sound Mixing - David Parker, Christopher Scarabosio and Stuart Wilson


Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates