Wednesday, December 14, 2016

The Jose Flash Review
The Professionals

Tahun 2016 ini MNC Pictures semakin terlihat gencar memproduksi film layar lebar. Setelah Surat Cinta untuk Kartini, 1 Cinta di Bira, dan Me vs Mami, kini giliran The Professionals (TP) yang ditangani langsung oleh eksekutif produser Affandi Abdul Rachman. Ini menandai come back Affandi di bangku sutradara setelah terakhir Negeri 5 Menara 2012 silam. Menariknya, TP ini berani mengusung tema yang termasuk sangat jarang (atau malah belum pernah sama sekali?) diangkat di ranah film Indonesia, yaitu heist atau ‘perampokan’. Gambaran umumnya seperti Ocean’s Eleven. Ketika mulai merilis materi-materi promo pun, ia punya ‘look’ yang menjanjikan. Naskahnya dikerjakan oleh Baskoro Adi Wuryanto (Bulan Terbelah di Langit Amerika 1-2, Hi5teria, Dejavu: Ajian Puter Giling, Kampung Zombie, Ghost Diary, dan Sawadikap) bersama Stella Gunawan (Ghost Diary). Sementara jajaran cast populer, mulai Fachri Albar, Arifin Putra, Cornelio Sunny, Imelda Therine, Lukman Sardi, sampai pendatang baru, Richard Kyle, dan Melly Nicole, tentu menambah daya tarik TP.

Film dibuka dengan Abi yang harus mendekam di penjara karena dijebak oleh partner bisnisnya di PT. Trimitra, Reza. Setelah bebas, Abi berniat membalas dendam kepada Reza, tapi tidak dengan cara terang-terangan. Ia mulai mengumpulkan orang-orang yang pernah dikhianati oleh Reza. Ada Cokro, ahli mekanika analog, Jo yang gemar melakukan tantangan-tantangan berbahaya, Ferry yang pakar teknologi digital, dan Sophie yang punya pesona fisik sekaligus cerdas. Rencana menggulingkan Reza dari dalam pun dimulai. Tentu ini bukan perkara mudah karena Reza sendiri sudah menyiapkan pengamanan yang super ketat untuk menjaga asetnya.
Familiar dengan premise demikian? Memang, ini merupakan premise paling dasar dan generik di genre heist. Jika ingin jadi sajian film heist yang menarik, ada banyak elemen yang bisa ditonjolkan. Misalnya kerumitan dan kecerdasan dalam menyusun langkah demi langkah proses perampokan atau aspek thriller yang ditata baik sehingga mampu memompa adrenaline penonton ketika mengikutinya. Atau bisa juga detail layer cerita yang unik sehingga penonton dibuat penasaran dengan apa yang akan terjadi berikutnya atau saat revealing. Sayangnya TP masih belum mampu memenuhi kesemua kriteria tersebut, apalagi bagi penonton yang punya referensi banyak di genre sejenis.
Mari abaikan sejenak detail cerita yang mostly tidak jelas, seperti bidang bisnis PT Trimitra yang dijadikan latar. TP menyusun langkah-langkah proses heist yang terlalu basic. We all have seen it all before. Tak ada pula kerumitan ataupun kecerdasan lebih yang mengajak penonton ikut terlibat berpikir atau sekedar dibikin penasaran. Bahkan ada cukup banyak hole yang meski dijelaskan saat twisted revealing, tetap saja mendistraksi feel sepanjang mengikuti plotnya. Belum lagi setelah saya pikir-pikir pasca film berakhir, why would you need to make such a sneaky effort if you’re going to use such raid in the end?
Namun kekurangan terbesar TP sebagai (sekedar) tayangan pure entertainment adalah spirit yang terasa sangat kurang untuk menggerakkan plot action-thriller yang coba diusungnya. Bukan soal pace laju cerita yang sebenarnya sudah lebih dari cukp, tapi upaya membuat (baca: menghidupkan) tiap adegan jadi punya tensi yang mengikat. Padahal seandainya ia gagal menghadirkan semua daya tariknya sebagai sebuah action-thriller heist, setidaknya masih bisa punya energi action-thriller yang terasa untuk menghibur. As in TP, masih jauh.
Ketika naskah tak memberikan karakteristik yang menarik dan berdimensi lebih, tak banyak yang bisa digali oleh para aktornya. Fachri Albar sebagai Abi dan Arifin Putra sebagai Reza masih menjadi diri sendiri atau karakter tipikal yang pernah dilakoni sebelumnya. Fachri masih harus belajar mengucapkan dialog dengan artikulasi yang lebih jelas, meski kali ini tak terlihat se-blank ketika di Pesantren Impian. Arifin Putra kembali memerankan karakter antagonis dengan derajat kharismatik yang kurang-lebih setara dengan perannya di The Raid: Berandal. Imelda Therinne memanfaatkan pesona keseksian dan keanggunannya dengan cukup maksimal dalam memerankan sosok Nicole. Begitu pula pendatang baru Melly Nicole yang tak kalah mencuri perhatian. Cornelio Sunny sebagai Ferry terasa sedikit ‘naik kelas’ dari peran-peran sebelumnya. Richard Kyle sebagai Jo mungkin juga menaikkan sedikit ‘kelas’-nya pasca Ini Kisah Tiga Dara, tapi ‘perjalanan’-nya masih cukup jauh. Terakhir tapi tak kalah pentingnya, Lukman Sardi sebagai Cokro, mungkin satu-satunya karakter dengan layer lebih dan berhasil dihidupkan Lukman dengan kualitas aktingnya yang tak perlu diragukan lagi.
Tata kamera Suadi Utama atau editing Yoga Krispratama mungkin bukanlah penyebab energi action-thriller TP menjadi tidak sebagaimana dibutuhkan. Mungkin saja stock gambar yang memang kurang atau arahan yang masih belum cukup untuk genre action-thriller. Coloring look TP di beberapa part memang terlihat classy, sementara di banyak kesempatan lainnya justru terlihat sangat ‘FTV’. Visual effect dari Andhy Pulung overall tergolong rapi dan memuaskan. Tata suara Khikmawan Santosa tak ada kendala berarti, tapi juga tak ada yang istimewa. Tata musik dari Aghi Narottama sebenarnya cukup sesuai dengan tema heist yang mendebarkan. Sedikit mengingatkan akan tune-tune film bertema heist di era 80-90’an (atau opening credit Pintu Terlarang?). Sayangnya belum cukup mampu mengangkat feel film ketika diselaraskan dengan susunan gambar.
TP memang masih cukup jauh untuk mampu menggarap tema heist dengan kualitas yang (setidaknya) menghibur. Apalagi jika Anda termasuk punya referensi film bertema heist cukup banyak. Nevertheless, keberaniannya untuk menghadirkan tema yang jarang (atau malah belum pernah) diangkat di layar film Indonesia tetap patut mendapatkan kredit tersendiri. Dengan upaya yang cukup serius, mulai penulisan naskah yang tidak asal jadi hingga desain look, TP tetap layak mendapatkan apresiasi. Siapa tahu ini bisa jadi jalan untuk film-film Indonesia bertema heist lainnya yang ditata dengan jauh lebih baik lagi di berbagai aspek ke depannya. 
Lihat situs resmi film ini dan di filmindonesia.or.id.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates