Monday, December 19, 2016

The Jose Flash Review
My Annoying Brother
[Hyeong/형]

Sudah bukan rahasia lagi bahwa sinema Korea Selatan memang piawai dalam menggarap drama (atau mix-genre apapun) yang begitu emosional hingga sukses membuat penonton ter-bebal sekalipun berkaca-kaca. Tak diabaikan pula karakterisasi yang kuat dalam mendukung momen-momen emosionalnya. Selain meng-eksplorasi emosi lewat hubungan pasangan maupun orang tua-anak, ada satu materi yang pernah sesekali diangkat tapi tergolong jarang, yaitu hubungan antar-saudara (baca: brotherhood). CJ Entertainment selaku distributor film-film Korea Selatan terbesar untuk peredaran internasional tahun ini menawarkan materi tersebut lewat My Annoying Brother (/Hyeong - MAB). Dari salah satu penulis naskah (terutama untuk part-part dramatisasi-nya) Miracle in Cell No. 7 (2013), Young-A Yoo, dan sutradara Soo-Kyung Kwon (Barefoot Kibong – 2006), MAB menggandeng aktor Jung-suk Jo (Architecture 101, Time Renegade), personel boyband EXO-K, Kyung-soo Do alias D.O., serta aktris cantik, Shin-hye Park yang sempat kita lihat sebagai Ye-seung dewasa di Miracle in Cell No. 7. Pencapaiannya di pasar domestik termasuk sukses setelah berhasil mengumpulkan satu juta penonton dalam empat hari pertama perilisannya (sampai tulisan ini diturunkan sudah mencapai tiga juta penonton). Fans sinema Korea Selatan di Indonesia boleh bersorak karena Jive Movies membawa MAB untuk diputar di bioskop-bioskop Indonesia mulai 21 Desember 2016.

Doo-shik, seorang penipu ulung yang sedang mendekam di dalam bui mengajukan permohonan bebas bersyarat dengan alasan ingin merawat sang adik yang seorang atlet Judo, Doo-young baru saja mengalami cidera yang membuatnya buta permanen. Doo-shik berniat memanfaatkan kondisi adiknya ini sekedar untuk keluar dari penjara, menipu, dan menghambur-hamburkan uang warisan dari orang tua mereka. Doo-young sendiri merasa terpukul dan enggan untuk melakukan apapun. Kerjaannya tiap hari hanya meratapi diri di kamar. Kondisi rumah pun berantakan. Kehadiran Doo-shik awalnya tak banyak membantu kondisi Doo-young apalagi ternyata selama ini keduanya sama-sama saling membenci. Namun seiring dengan waktu, terutama karena lama-lama gregetan dengan kondisi Doo-young, Doo-shik perlahan menjadi peduli dan membuata Doo-young kembali semangat untuk membangun hidupnya kembali. Salah satunya adalah menerima ajakan sang pelatih, Soo-hyun, yang ingin Doo-young mengikuti Paralympics (Olimpiade untuk atlet-atlet berkebutuhan khusus) di Rio. Ketika hubungan mereka mulai terjalin hangat, tes kesehatan yang awalnya untuk tujuan menipu, membuat kesempatan Doo-shik untuk membantu Doo-yong kembali menjalani hidup normal semakin menipis.
Dengan premise yang demikian, siapa saja tentu dengan mudah menebak ke arah mana MAB ini akan menuju. Memang tak sampai menjadi tearjerker eksploitatif, karena ia menekankan pada cause yang lebih penting ketimbang sekedar menangisi keadaan, tapi apa yang ditawarkan di sini sebenarnya benar-benar formulaic, apalagi pada ranah sinema Korea Selatan dimana tearjerker seolah-olah sudah menjadi salah satu trademark terkuatnya. Sedikit pembedanya yang membuat MAB lebih menarik adalah bumbu humor yang berasal dari akal-akalan Doo-shik sebagai materi pembangun hubungan antara Doo-shik dan Doo-young, terutama pada babak pertama. Tak sampai jatuh menjadi humor slapstick murahan dan berlebihan, tapi tetap membuat saya tersenyum sambil geleng-geleng kepala atau tertawa terbahak-bahak. Turnover tearjerker di babak kedua memang mengurangi cukup banyak nuansa fun yang sudah terbangun di babak pertama. Transformasi nuansa film pun terjadi. Tak sampai pula menukik menjadi part yang kelewat depresif, tapi juga tidak sampai menekan sisi emosional saya secara mendalam. Like, I can sense the sorrow, but unable to force me to weep. Lantas memang ada ekspresi-ekspresi yang terkesan over-the-top dalam upaya untuk menguras tangis penonton, tapi yang berhasil menyentuh hati saya (kendati tak sampai keluar air mata) justru bagaimana karakter Doo-shik menyikapi momen tersebut agar tidak lebih ‘meledak’. Pilihan ending yang lebih mengedepankan konklusi solutif ketimbang eksploitasi kehilangan pun menutup MAB dengan senyum bahagia dan bangga dari penonton.
Salah satu faktor yang membuat drama MAB berhasil adalah performance para aktornya. Terutama sekali Jung-suk Jo sebagai Doo-shik yang mampu menghidupkan tiap fase karakternya. Mulai an ass dengan berbagai trik-trik licik tapi menggelitiknya, hingga turnover yang natural nan mulus di babak selanjutnya, menjadi sosok yang memang tulus, hingga babak ketiga dimana menjadi final turnover yang akhirnya membuatnya mendapatkan simpati penuh dari penotnon. Bagaimana ia mampu menangani momen-momen menyentuhnya tanpa ledakan-ledakan emosi berlebih, juga menjadi highlight dari performance Jung-suk. Kyung-soo Do sebagai Doo-young pun mampu mengimbangi penampilan Jung-suk, terutama dalam membangun chemistry serta turnover yang tak kalah mulusnya. Ada momen-momen yang seharusnya bisa lebih ‘luwes’ lagi dan terkesan over-the-top, tapi secara keseluruhan ia masih menghidupkan karakternya dengan baik. Shin-hye Park sebagai Soo-hyun mungkin terkesan hanya sebagai pemanis (apalagi karakteristik-nya sebagai pelatih Judo sama sekali tak tampak), tapi dengan tujuan tersebut, ia cukup berhasil sesuai dengan porsi yang diberikan. Terakhir, scene stealer di banyak momen, Gang-hyun Kim sebagai Dae-Chang tentu layak mendapatkan kredit tersendiri.
Teknis MAB memang tak ada yang benar-benar istimewa, tapi mampu mendukung tiap kebutuhan adegan dengan porsi yang serba pas. Mulai sinematografi Se-hoon Ki, editing Min-kyung Shin, hingga musik dari Park Inyoung, dan Kim Tae Sung.

MAB memang tak menawarkan apa-apa yang baru. Formulaic tearjerker dengan sedikit bumbu humor yang menggelitik. Kendati demikian, plotnya dikembangkan dengan treatment dan ke arah yang benar. Over-the-top at some part, tapi tak terkesan eksploitatif. Setidaknya MAB masih mampu membuat suasana sorrow tanpa harus kelewat depresif, meski mungkin tak semua penonton berhasil dibuat menitikkan air mata. Go see it if you’re into such movies.
Lihat data film ini di AsianWiki.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates