Monday, December 5, 2016

The Jose Flash Review
Kahaani 2: Durga Rani Singh

Tahun 2012 lalu sinema Hindia mengejutkan publik internasional lewat Kahaani. Film thriller investigasi yang menggabungkan elemen action, petualangan, motherhood, dan mitologi tradisional, sertapunya salah satu twist ending paling brilian ini tak hanya berhasil secara komersial (dengan mengumpulkan US$ 16 juta di seluruh dunia dalam 50 hari) maupun rekoknisi di berbagai ajang penghargaan, tapi juga meningkatkan popularitas banyak pihak. Mulai aktor Nawazuddin Siddiqui sampai kota Kolkata. Tahun 2016 ini sutradara/penulis naskah Sujoy Ghosh kembali menggandeng Vidya Balan untuk sebuah sekuel. Meski sempat tertunda sejak 2013 karena perbedaan visi dengan co-produser yang lain, proyek ini akhirnya tetap jalan. Awalnya pada 2014, Ghosh membuat konsep cerita Kahaani 2 sebagai film yang berdiri sendiri berjudul Durga Rani Singh dengan aktor Irrfan Khan dan Vidya Balan. Sayangnya kedua aktor ini mundur dan Ghosh memutuskan untuk menjadikannya sebagai sekuel dari Kahaani. Ghosh menjadikan sekuel ini bukan sebagai kisah lanjutan yang berhubungan langsung dengan Kahaani pertama, tapi sebagai kisah baru dengan tema dan style penceritaan serupa. Ia ingin membuat Kahaani sebagai sebuah seri dengan cerita yang berbeda-beda seperti kisah detektif Feluda. Kahaani yang artinya ‘cerita’ memungkinkan konsep ini. Aktor populer Arjun Rampal pun didapuk untuk mendampingi Vidya Balan, serta tentu saja menambah daya tariknya.
Cerita dibukan dengan Vidya Sinha, seorang wanita yang tinggal di kota kecil Chandan Nagar bersama putri tunggal yang menginjak remaja dan lumpuh, Mini. Tiap berangkat kerja, Vidya menitipkan putrinya pada seorang perawat yang datang ke rumah. Tujuannya bekerja cuma satu: mengumpulkan uang untuk membawa Mini ke Amerika Serikat untuk berobat meski tak ada jaminan bahwa ia akan sembuh total dan bisa kembali berjalan. Baginya, harapan masih lebih baik daripada tidak ada sama sekali. Suatu hari Vidya mendapati Mini hilang. Anehnya, sang perawat dan tetangga mengaku sebelumnya mendapatkan telepon dari Vidya untuk pergi. Pencarian Vidya berujung pada MMS ancaman ynag mengarahkannya ke suatu tempat. Sayang, belum sampai tujuan Vidya ditabrak hingga koma. Inspektur Inderjet Singh yang datang karena ditugaskan untuk menangani kasus tabrakan ini begitu kaget karena mengenali wajah Vidya tapi dengan identitas wanita yang pernah berarti di masa lalunya. Lewat buku harian Vidya yang didapatnya sebagai hasil penggeledehan di rumah, Inderjet menemukan rahasia demi rahasia tentang apa yang sebenarnya terjadi.
Kahaani pertama menjadi begitu populer dan viral karena punya twist ending yang brilian, mungkin belum pernah ada di film manapun sebelumnya. Masalahnya, film dengan daya tarik semacam ini susah untuk dikembangkan menjadi franchise dengan daya tarik yang sama. Penonton tetap akan tertarik tapi berharap untuk mendapatkan ‘kejutan’ serupa tapi berbeda, karena the same shock just won’t work twice. Itulah yang juga terjadi pada Kahaani 2: Durga Rani Singh. Sayangnya, tak hanya kisah yang benar-benar baru dan tak ada hubungannya dengan seri sebelumnya, daya kejut jalinan plot kali ini masih jauh jika dibandingkan Kahaani. Malahan mungkin banyak penonton yang sejak pertengahan film sudah bisa menduga rahasia apa saja yang coba dihadirkan.
Namun bukan berarti Kahaani 2 adalah film yang buruk. Sebenarnya, ia masih punya premise yang menarik dengan jalinan plot yang ditata dengan baik serta (saya) tak (menemukan) ada hole yang mengganggu pula. Tema motherhood (yang masih konsisten dengan Kahaani pertama) dengan sisi yang berbeda bagi saya juga cukup thought-provoking.
Vidya Balan tetap tampil menarik sebagai sosok Vidya Sinha. Ada keseimbangan yang pas antara sisi baik dan sisi buruk beralasan sehingga penonton menyadari kesalahan-kesalahan yang diperbuatnya tapi tetap menaruh simpati penuh pada karakternya. Arjun Rampal sebagai Inspektur Inderjet pun mengimbangi pelakonan kuat dari Vidya. Kharismanya masih terasa kuat tanpa harus mendistraksi porsi Vidya. Para pemeran pendukung pun diberi porsi yang juga cukup untuk jadi menarik dan rata-rata dilakoni dengan kualitas yang pas pula. Mulai Jugal Hansraj sebagai Mohit Dewan, Amba Sanyal sebagai Mrs. Dewan, Tota Roychoudhury sebagai Arun, Kaushik Sen sebagai sang pembunuh bayaran yang dingin mematikan, serta tentu saja Tunisha Sharma sebagai Mini kecil.
Sinematografi Tapan Basu mungkin tak terlalu istimewa atau signatural, tapi lebih dari cukup untuk membuat perjalanan plot investigasinya nyaman untuk diikuti dan mampu membuat rasa penasaran. Bersama editing Namrata Rao, beberapa adegan jump-scare-nya berhasil membuat saya terhenyak tanpa kesan murahan dan pace berenergi yang sangat pas di genrenya. Scoring Clinton Cerejo mungkin tak terlalu memorable untuk jangka waktu lama, tapi terbukti memberikan kesan pada film keseluruhan dengan pas, baik untuk adegan-adegan thriller maupun hearty moments-nya.

Bagi penonton yang mengharapkan twist ending sedahsyat Kahaani mungkin akan kecewa dengan apa yang disuguhkan Ghosh kali ini. Namun jika Anda cukup terbuka untuk mengikuti jalinan plot baru dengan formula-formula yang cukup familiar, tanpa twist ending muluk-muluk, Kahaani 2 masih bisa menjadi pilihan tontonan investigasi yang menarik dengan jalinan plot yang tertata baik pula. Saya masih bisa menikmatinya dan tetap tertarik untuk cerita-cerita baru dengan treatment yang setara di seri Kahaani berikutnya. Tentu harapan untuk menemukan the same feel as in the first installment tetap ada, tapi setidaknya asal tetap punya premise yang selalu menarik dan ditata dengan baik sudah lebih dari cukup.
Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates