Saturday, December 3, 2016

The Jose Flash Review
Headshot

The Raid dan The Raid: Berandal tak hanya menjadi salah satu pembangkit genre action di film Indonesia, tapi juga salah satu tonggak sejarah terpenting sepanjang sejarah film Indonesia. Sejak itu, beberapa film bergenre action mencoba untuk menorehkan prestasi serupa, tapi belum ada yang benar-benar layak menyamai pencapaian tersebut. Maka Mo Brothers; Timo Tjanjanto dan Kimo Stamboel yang kita kenal lewat Rumah Dara (2010) dan Killers (2014), mencoba untuk membuat prestasi yang setara, setidaknya dikenal di peredaran internasional. Bertajuk Headshot, Mo Brothers menggandeng Iko Uwais yang sudah populer bahkan di kancah internasional lewat franchise The Raid, didukung Julie Estelle dan Very Tri Yulisman yang juga sempat muncul di The Raid: Berandal, Chelsea Islan, Zack Lee, dan aktor Singapura yang juga stuntman sekaligus koreografer bela diri, Sunny Pang. Mendapat sambutan hangat di Toronto International Film Festival dan L’estrange Fetival Paris serta sudah dibeli untuk peredaran di berbagai negara, Headshot akhirnya siap menyapa penonton di rumah sendiri.

Film dibuka dengan lumpuhnya pengamanan di sebuah penjara dan seorang gembong mafia yang dikenal sebagai Lee kabur. Dua bulan kemudian, sesosok pria tak sadarkan diri dengan luka tembakan di kepala dirawat di sebuah rumah sakit oleh mahasiswi kedokteran yang sedang praktek, Ailin. Ketika terbangun, ia tak ingat identitas maupun masa lalunya. Ailin memberinya nama Ishmael. Perlahan benih cinta tumbuh di antara Ailin dan Ishmael. Namun kisah mereka tak berlangsung lama karena kabar sadarnya Ishmael memicu Lee dan anak buahnya memburu mereka berdua. Ishmael harus meladeni mereka semua hingga masa lalu Ishmael dan siapa sosok Lee yang sebenarnya terkuak.
Secara plot, Headshot memang tergolong sangat sederhana. A la Jason Bourne, atua malah kelewat generik di genrenya. Namun bukan itu yang ingin dikedepankan oleh Mo Brothers. Seperti yang diharapkan, Headshot menawarkan adegan-adegan aksi yang brutal dan sadis nyaris tanpa henti.  Namun agaknya ia ingin ‘merangkul’ range penonton yang lebih luas lagi dengan memasukkan gimmick-gimmick comedic di sana-sini. Mulai pemilihan kata-kata dialog, cara pengucapan dialog, celetukan-celetukan cheesy, bahkan gesture-gesture gerakan karakter. Bagi penonton yang kelewat serius, bisa jadi elemen ini menggelikan dan mengganggu kenikmatan. Tapi in my opinion, kesengajaan memasukkan unsur-unsur ini justru merupakan upaya Mo Brothers untuk ‘merangkul’ pula penonton yang tidak tahan dengan adegan-adegan sadis. Dengan demikian, humor-humor ini seolah menawarkan kengerian yang diakibatkan oleh adegan-adegan brutal menjadi satu paket yang fun dan menghibur. Sedikit mengingatkan saya akan film-film aksi Hong Kong yang dibintangi Jackie Chan, hanya saja pada derajat kebrutalan yang jauh di atasnya.

Permasalahan yang kemudian mungkin muncul adalah karena saking minimnya perkembangan cerita, ‘drama’ di sela-sela babak pertarungannya terkesan sedikit melemahkan pace dan tensi yang sebenarnya sudah tergarap dengan enerji dinamis. Untung saja tidak dibuat kelewat bertele-tele maupun mendayu-dayu sehingga tak begitu menjadi masalah berarti pada first viewing. Detail medis pun banyak yang asal. Tak begitu menjadi masalah bagi penonton awam, tapi ngaco bagi penonton yang punya latar belakang tenaga medis.
Dengan perkembangan plot yang minim, Headshot pun menawarkan konsep cerita yang juga tak muluk-muluk. Sederhana, tapi cukup berbobot. Tema pengaruh parenting saat kecil terhadap psikologis seseorang disampaikan dengan sangat halus, konsisten, dan sederhana, sehingga mudah dipahami oleh penonton terawam sekalipun.
Selain aksi bela diri, Iko Uwais mencoba melakoni peran yang lebih banyak melibatkan emosi di sini. Mungkin masih banyak kekakuan, terutama dalam membangun chemistry dengan Chelsea Islan dan melakoni adegan-adegan (yang seharusnya romantis). Chelsea Islan tampil pas sesuai porsi perannya sebagai Ailin. Julie Estelle sebaagai Rika porsinya masih tak beda jauh dari perannya di The Raid: Berandal. Kendati secara keseluruhan aksinya di Headshot masih di bawah The Raid: Berandal, tapi kharisma action-hero (atau action-villain?)-nya semakin terpancar menarik. Sunny Pang sebagai Lee menjadi daya tarik tersendiri di balik suara dan gesture pengucapan dialog yang tenang tapi ‘mengancam’. Zack Lee, Ganindra Bimo, David Hendrawan, Very Tri Yulisman tampil seimbang sesuai porsi masing-masing. Sementara Epi Kusnandar, Teuku Rifnu Wikana, dan Ario Bayu yang masing-masing tampil sekilas, tapi cukup memberikan kesan.
Seperti biasa, Mo Brothers memberikan effort yang maksimal di semua lini teknisnya. Mulai sinematografi Yunus Pasolang yang bergerak dinamis bersinergi dengan koreografi dan tata action Iko, meski agak shaky tapi tak sampai bikin pusing. Perputaran kamera 360 derajat di beberapa kesempatan menunjukkan effort yang patut diapresiasi itu. Editing Arifin Cuunk pun mempertajam pace yang ingin dibangun, termasuk upaya untuk membuat elemen drama romantis tak sampai mengganggu energi action-nya. Tata suara dari Richard Hocks terdengar crisp, mantap, tapi jernih di sepanjang film. Fasilitas surround pun dimanfaatkan dengan cukup maksimal. Scoring music dari Fajar Yuskemal dan Aria Prayogi terdengar unik lewat suara-suara industrial-techno a la Steve Jabonsky dalam mengiringi adegan-adegan aksi, bahkan juga romantisnya dengan sangat baik. Tak ketinggalan theme song Impostor Heart dari Andre Harihandoyo & Sonic People yang akhirnya memberikan 'rasa' lebih pada kisah roman Ishmael-Ailin pada klimaksnya, juga Dalam Buaian Rembulan dari Artidewi yang memberikan ironi lebih pada satu adegan action-nya.

Bagi Anda yang merindukan genre action dengan produksi yang tergarap rapi (bahkan di berbagai kesempatan, luar biasa) di sinema Indonesia, Headshot adalah tontonan wajib. Jika Anda tergolong tidak tahan dengan adegan-adegan sadis, tak perlu khawatir. Ia masih menyelipkan elemen-elemen menghibur tambahan untuk menawarkan kengerian tersebut. You will grin and cheer back to back or even in the same time, throughout the  movie. And yes, thanks to LSF yang meloloskan semua detail-detail brutal nan sadis di Headshot sehingga kenikmatan menyaksikannya terasa utuh.
Lihat data film ini di IMDb dan filmindonesia.or.id.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates