Sunday, December 25, 2016

The Jose Flash Review
Hangout

Baru Lebaran lalu Raditya Dika mencetak sukses Koala Kumal yang berhasil menggaet 1.8 juta penonton lebih, di akhir tahun ini ia mencoba peruntungan di genre serta konsep yang jauh berbeda dari biasanya. Jika image-nya selama ini sudah tertanam kuat komedi olok-olok diri karena status jomblo, kali ini ia ‘bermain-main’ menggabungkan komedi absurd khas-nya dengan thriller misteri a la Agatha Christie (terutama Ten Little Niggers atau kemudian juga dikenal sebagai And Then There Were None – 1939 – yang sudah beberapa kali diadaptasi ke berbagai medium, termasuk layar lebar). Tak hanya itu, nama-nama populer tanah air, mulai Soleh Solihun, Bayu Skak, Titi Kamal, Surya Saputra, Prilly Latuconsina, Gading Marten, Dinda Kanya Dewi, sampai Mathias muchus, digandeng untuk meramaikan sekaligus mengundang penonton sebanyak-banyaknya. Sejak trailer pertama dirilis, film bertajuk Hangout ini sudah mengundang rasa penasaran akan seperti apa racikan komedi-thriller a la Raditya Dika. Menariknya lagi, Hangout dirilis hanya enam hari sebelum film yang digarap oleh komika terkemuka tanah air lainnya, Ernest Prakasa, Cek Toko Sebelah dirilis. Maka akhir tahun ini bisa menjadi ajang battle yang seru dari dua komika populer tanah air yang sudah tak perlu diragukan lagi kekuatan masing-masing fanbase-nya.

Raditya Dika yang selama ini berprofesi sebagai aktor tapi seringkali aktingnya dinilai datar dan begitu-begitu saja, sedang berada di ujung tanduk. Tak hanya karir yang semakin tidak jelas, sewa rumah pun menunggak beberapa bulan. Di saat yang hampir bersamaan, ia menerima undangan ke sebuah pulau pribadi terpencil dari seseorang misterius. Menurut sang manajer, si pengirim undangan sudah membayar down-payment yang lumayan. Karena rasa penasaran dan merasa butuh uangnya, Dika pun memenuhi undangan tersebut. Ternyata ia tak sendirian. Ada Soleh Solihun, seorang komika yang pernah punya masalah pribadi soal karir dengan Dika, juga ada Titi Kamal, Gading Marten, Dinda Kanya Dewi, Bayu Skak, Surya Saputra, Prilly Latuconsina, sampai aktor senior, Mathias Muchus. Sama seperti Dika, mereka semua juga tak ada yang tahu siapa sosok si tuan rumah pengirim undangan maupun untuk apa mereka semua dikumpulkan di satu villa di tengah pulau terpencil. Keanehan mulai terjadi ketika jamuan makan malam pertama dimana Mathias Muchus mendadak keracunan dan tewas. Seiring dengan satu per satu dari mereka yang juga berakhir dengan ajal, kecurigaan satu sama lain akan sosok sang pelaku pembunuhan di antara mereka sendiri pun semakin memperkeruh keadaan.
Dengan trailer dan materi promosi yang mengarahkan image film sebagai sebuah thriller misteri pembunuhan berkonsep ‘whodunit’ yang merujuk secara jelas pada kisah misteri karya Agatha Christie, Ten Little Niggers, dengan bumbu komedi absurd khas Raditya Dika sendiri, jelas ekspektaasi penonton manapun, termasuk yang punya referensi cukup banyak di genre thriller misteri ini, berfokus pada jawaban ‘siapa pembunuhnya’ dan ‘apa motifnya’. Apalagi plot utama ini digerakkan dengan konsisten sebagai porsi utama. Sayangnya, arah fokus seperti ini membuat banyak penonton yang kecewa, mostly dengan alasan ‘pembunuhnya sudah tertebak sejak awal’ atau ‘motif pembunuh yang menggelikan’. Yes, jika Anda melihat Hangout hanya dari permukaan terluarnya saja, hanya sejauh itu pula lah yang akan Anda dapatkan.
But let’s just look deeper. No, not that deep with extra thought effort. Jika Anda mengikuti perkembangan dunia selebriti tanah air maupun isu-isu umum populer beberapa tahun terakhir, tentu dengan mudah menemukan bahwa plot ‘misteri pembunuhan’ dengan arah ‘whodunit’ hanyalah sebuah plot device untuk menyampaikan konsep besar yang ingin dibangun Dika. Perhatikan sindiran dan olok-olok (baca: satire) yang bertebaran di sana-sini. Tak sekedar gimmick penghias semata, elemen-elemen satire ini nyatanya menjadi nyawa terbesar dari konsep besar yang diusung Dika lewat Hangout. Ada alasan yang sebenarnya terlihat dengan jelas sepanjang film berjalan, mengapa para selebriti ini memerankan diri mereka sendiri (setidaknya dari nama dan fakta sesungguhnya, bukan dari segi kepribadian asli yang saya rasa mustahil seperti yang tergambar dalam film). Bak This is the EndHangout adalah sebuah komedi chaotic yang tak hanya menyuguhkan satire atas isu-isu dunia selebriti, mulai soal persaingan antara para komika dengan artis-artis yang lebih senior, perbedaan image artis di depan layar dengan aslinya, bahkan sampai kecenderungan kepribadian generasi sekarang, tapi juga  meta dari berbagai elemen-elemen populer, baik dari formula asing yang sudah dikenal luas sebelumnya, misalnya aroma mo-lei-tau a la film-film Mandarin Stephen Chou (karakter Dinda Kanya Dewi merujuk pada aktris legendaris, Sandra Ng, bukan?), adegan-adegan hide-and-seek a la Scream dan I Still Know What You Did Last Summer, gesture parodi dari Scary Movie, sampai fakta-fakta seputar karakter di dunia nyata yang digunakan sebagai bagian penting serta kuat dari grand design-nya. Kesemuanya ini ia racik dengan cerdas menjadi satu adonan yang saling berkaitan secara cukup solid dan konsisten.
Tidak. Dika tak pula sedang berusaha mencari pengakuan dari kaum kritikus film lewat sajian yang meracik berbagai referensi dan formula ke dalam satu paket hiburan. Seperti biasa, ia masih melakukan kesemuanya dengan fun, baik bersama para cast maupun fans setianya yang jumlahnya luar biasa besar. Hangout masih membidik penonton muda yang memang sudah cocok dengan gaya humornya selama ini, yang tak butuh tontonan berbobot maupun jalan cerita yang rumit. Itulah mengapa ada sosok-sosok public figure yang begitu ‘dekat’ dengan target audience utamanya: agar tetap relatable dengan suguhan yang ia sodorkan, termasuk untuk motif pelaku yang memang sudah secara konsisten dikonsep sejak awal. Tak ketinggalan ‘pesan moral’ sisipan sebagai konklusi yang relevan, relatable, dan urgent untuk disampaikan kepada ‘generasi’-nya.
Tak hanya sampai di situ saja kepiawaian Dika dalam menyusun konsep ke dalam naskah, tapi masih ada skill directing yang terlihat semakin berkembang. Meski beberapa penonton mengaku sudah bisa menebak siapa pelaku pembunuhan, beberapa kali ia cukup berhasil membelokkan maupun membuat penonton ragu atas kecurigaan yang sudah mereka tebak. Kemudian penanganan thriller dan suspense moment yang surprisingly, juga berhasil dibangun lewat gerak kamera, fokus visual, maupun timing yang serba tepat.
Namun ada kalanya pula Dika masih terbawa treatment dari film-film rom-com sebelumnya yang lebih laid-back, terutama pada dialog-dialog a la performance komika yang punya struktur tersendiri (misalnya setup dan punchline) dan terkadang ‘kurang sinematis’. Sehingga masih ada part in-between yang terkesan terlalu santai (bukan berarti terlalu lambat ya!) jika disandingkan dengan pace-nya sebagai thriller. Treatment wrap-up juga seharusnya bisa jauh lebih bold dan tetap ‘pecah’, but it’s still (just) okay.
Meski kesemua aktor di sini berperan sebagai diri sendiri, tapi tetap saja ada ‘kepribadian-kepribadian’ fiktif yang disesuaikan dengan image mereka di film-film populer, misalnya Titi Kamal dengan karakter Maura di Ada Apa dengan Cinta, Surya Saputra di Arisan!, atau Prilly Latuconsina di serial Ganteng-Ganteng Serigala. For that purpose, kesemuanya mampu membawakan keseimbangan antara bermain santai, dibawa fun, dan keseriusan untuk menghidupkan karakter sesuai konsep, dengan sangat baik. Raditya Dika kali ini ‘mengalah’. Meski di berbagai materi promosi seolah-olah dialah sang karakter utama, nyatanya karakter Dika justru porsinya yang paling sedikit, termasuk untuk soal perkembangan karakter. Kalau mau jujur, karakter Dika justru diletakkan sebagai ‘pengamat’ laju plot semata, and that’s definitely on purpose. Dinda Kanya Dewi yang kebagian peran ‘korban’ toilet jokes dan mo-lei-tau, terasa yang paling mencuri perhatian dan paling berhasil mengundang tawa. Soleh Solihun semakin terlihat siap untuk porsi peran lebih dengan gesture suspense yang lebih dari cukup untuk mempermainkan persepsi penonton, tanpa harus menanggalkan humor factors dari dirinya selama ini. Bayu Skak pun diberi sedikit ‘suntikan’ kepintaran di tengah-tengah karakterisasi yang menyebalkan yang mampu ia bawakan dengan cukup simpatik pula.
Secara teknis, Hangout pun terasa ditata dengan konsep yang tak asal-asalan. Mulai tata kamera Enggar Budiono yang dengan camera work yang smooth sesuai dengan berbagai kebutuhan adegan. Pun juga kualitas gambar (terutama ketajaman gambar) yang konsisten terjaga, termasuk untuk drone-shot. Editing Ryan Purwoko membuat energi pengarahan Dika yang tepat menjadi semakin terasa pas, terutama untuk momen-momen suspense dan thriller. Keterbatasan visual effect pun berhasil ditutupi oleh editing dengan rapih. Musik Andhika Triyadi yang sering bermain-main dengan ornamen-ornamen bergaya Baroque bak gubahan Danny Elfman untuk film-film Tim Burton, memberikan warna tersendiri untuk ranah film Indonesia. Pun juga cukup mewakili tone film yang misterius sekaligus fun.
So in the end, tergantung bagaimana ekspektasi Anda atas Hangout. Jika Anda tergolong cocok dengan humor Raditya Dika selama ini dan tak punya banyak referensi atas plot misteri pembunuhan ‘whodunit’, Hangout adalah sajian yang segar, baik dari Dika maupun di ranah perfilman Indonesia. Bagi Anda yang mengharapkannya menjadi film misteri pembunuhan serius dengan revealing yang mind-blowing atau malah twist-ending, sudah hampir pasti Anda akan kecewa. In other hands, jika Anda sama seperti saya, tak begitu menyukai isu-isu kekinian dan dunia selebriti Indonesia dewasa ini, tapi tetap mengikuti sehingga familiar, Hangout adalah sajian yang sangat menghibur, dengan konsep yang menarik, serta diracik secara cerdas pula. Toh, bakat dan skill menulis naskah maupun directing Raditya Dika semakin terlihat di sini. Good job!
Lihat data film ini di filmindonesia.or.id
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates