Saturday, December 3, 2016

The Jose Flash Review
Dear Zindagi

Nama Gauri Shinde sebagai sineas wanita di Bollywood meroket ketika film debutnya, English Vinglish (2012) banjir pujian maupun sukses menjadi box office. Maka kesempatan untuk membuat film dengan skala yang lebih besar pun terbuka lebih besar. Tak tanggung-tanggung, proyek Dear Zindagi (DZ) yang sudah direncanakan sejak pertengahan 2015 lalu mendapatkan dukungan dari Gauri Khan lewat Chillies Entertainment dan Karan Johar lewat Dharma Productions. Di jajaran cast-nya pun berhasil menggaet aktris muda yang sedang naik daun, Alia Bhatt dan sang legenda himself, Shah Rukh Khan. Tentu nama-nama ini membuat DZ yang sebenarnya punya budget biasa-biasa saja mengundang excitement dari banyak pihak, bahkan langsung menyandang status high profile project. Meski tanggapan kritik beragam, DZ terbukti mencetak box office di negaranya dan beberapa negara lain di seluruh dunia. Tentu cast menjadi faktor utamanya. Namun reputasi Shinde sendiri jelas tak bisa dianggap remeh.
Kaira adalah seorang wanita muda yang menjalani karir menjanjikan sebagai seorang sinematografer. Sang produser yang kerap bekerja sama dengannya, Raghuvendra, sebenarnya berkali-kali memberikan sinyal asmara padanya, tapi entah kenapa Kaira memilih untuk mengabaikannya. Sampai ketika Raghu akhirnya berencana menikahi mantannya, Kaira baru sadar betapa ia sendiri sebenarnya juga jatuh cinta pada Raghu dan menyesal telah mengabaikan sinyal-sinyalnya selama ini. Kesempatan bekerja untuk project Raghu di Amerika Serikat pun dilewatkannya. Keadaannya semakin memburuk ketika ia diusir dari apartemennya karena sang induk semang lebih ingin menyewakan apartemen-apartemennya kepada pasangan suami-istri. Maka terpaksa lah ia pulang ke ruamh keluarganya di Goa. Sebenarnya Kaira enggan karena ia tidak nyaman dengan bagaimana orang tua dan lingkungan memperlakukannya. Sahabat-sahabatnya, Fatima, Jackie, dan Ganju, menyarankan Kaira untuk berkonsultasi dengan ‘Dokter Otak’ untuk menyembuhkan perasaan dan pikiran aneh yang akhir-akhir ini menyerangnya. Takdir mempertemukan Kaira dengan Dr. Jehangir Khan atau yang biasa dipanggil Jug. Perlahan terkuaklah pengalaman masa lalu Kaira yang menjadi pembentuk kecenderungan kepribadian Kaira saat ini, termasuk kenapa ia begitu takut untuk menjalin hubungan romantis. Along with the session, seorang musisi bernama Rumi mendekatinya. Kaira pun semakin dibuat bingung. PR untuk memperbaiki dirinya sendiri pun semakin mendesak untuk diselesaikan.
Mengusung tema self-discovery setelah muncul perasaan dan pikiran aneh (baca: anxiety), DZ mengingatkan saya akan Eat Pray Love. Keduanya memang punya ‘gejala’ yang mirip, terutama masalah ketakutan untuk memulai hubungan romantis. Ternyata keduanya punya jalan sendiri-sendiri yang mana membuatnya jadi menarik. Mungkin kesan preachy dengan segudang quotable line tak terhindarkan. Namun DZ berhasil membalut kesan preachy ini dengan proses transformasi yang tak hanya natural, tapi juga membuat penonton ikut merasakan segala emosi yang dialami Kaira sekaligus menyenangkan untuk diikuti. Kendati demikian, ada kalanya penonton dibuat bertanya-tanya, kok bisa tiba-tiba Kaira punya perasaan anxiety. Well, in many cases, wajar jika ada ‘serangan’ mendadak tanpa sebab yang jelas pada manusia. I’ve been there too. DZ kemudian berhasil meruntut sebab-sebabnya dengan rapih lewat perjalanan flashback masa lalu Kaira yang mungkin juga dialami oleh sebagian besar penonton, terutama yang tinggal dan tumbuh di budaya Timur. Dengan demikian, DZ terasa seperti sebuah sesi konsultasi dan terapi membuat feel good about our own selves yang menyenangkan bersama psikolog se-kharismatik Shah Rukh Khan. Efeknya bisa beragam terhadap penonton. Wajar jika ada yang merasa begitu relate, sementara tak sedikit pula yang tetap menganggap sesi yang ditawarkan DZ terlalu preachy dan dibuat-buat. As for me, DZ tetap lah sebuah proses sesi konsultasi dan terapi yang sangat menyenangkan dan esensial bagi siapa saja. Lengkap dengan analogi-analogi serta guyonan-guyonan yang cerdas, mampu setidaknya menimbulkan senyum di banyak kesempatan.
Menempati porsi paling dominan, Alia Bhatt terbukti mampu memberikan performa dengan kualitas terus meningkat, tak hanya pesona fisik yang sudah tak perlu diragukan lagi. Transformasi dengan emosi-emosi sesuai porsi disampaikan Bhatt dengan begitu natural dan nyata. Simpati penonton pun dengan mudah diraih, bahkan mungkin empati atau malah ‘menohok’ penonton. Chemistry yang dibangunnya bersama karakter-karakter pria maupun sahabat-sahabatnya, seperti SRK, Kunal Kapoor (sebagai Raghuvendra), Ali Zafar (sebagai Rumi), Ira Dubey (sebagai Fatima), Yashaswini Dayama (sebagai Jackie), dan Rohit Saraf (sebagai Kiddo) pun terjalin dengan sangat hangat dan convincing. SRK seperti biasa, memanfaatkan kharismanya yang sangat kuat untuk menghidupkan karakter Jug dengan sangat lovable dan admirable. Saya tak bisa membayangkan bagaimana jadinya nuansa keseluruhan film tanpa kharisma sebesar SRK dari pemeran karakter Jug. Sementara aktor-aktris pendukung lain tampil cukup baik dan memikat sesuai porsi masing-masing.
Menghiasi naskah dan aura feel-good yang begitu kuat dari Shinde, sinematografi Laxman Utekar menambah keindahan yang memanjakan mata, terutama dalam mengeksplorasi setting Goa. Pergerakan kameranya mendukung pace cerita yang tergolong santai tapi tidak terkesan lambat. Tentu peran editing Hemanti Sarkar juga menjadi faktor yang tak kalah penting. Desain produksi Rupin Suchak pun menambah production value lewat desain-desain interior dengan detail-detail props yang punya andil penting dalam plot. Tak lupa pula musik dari Amit Trivedi yang semakin memperkuat emosi-emosi yang ingin ditanamkan pada penonton, termasuk nomor-nomor musikal yang catchy dan hummable, seperti Just Go to Hell Dil, Love You Zindagi, serta Tu Hi Hei.

Dari nama SRK, Alia Bhatt, dan Gauri Shinde saja, sebenarnya sudah membuat DZ film  yang layak untuk ditonton. Tentu dengan isu dan cara penyampaian yang ditawarkan, DZ menjadi film yang wajib ditonton, terutama bagi Anda yang sering merasa feel bad pada diri sendiri atau anxiety tanpa sebab. Bagi saya pribadi, DZ bak sebuah sesi terapi yang esensial dan menyenangkan. It’s made me feel so good about my own self afterwards. So can you. Yeah it’s whole 5/5 from me for making me feel so good after a nice, warm, and meaningful process.
Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates