Monday, December 26, 2016

The Jose Flash Review
Dangal
[दंगल]

Baru Lebaran tahun ini kita disapa oleh film Hindi bertemakan gulat dari Salman Khan, Sultan, yang kualitasnya sangat baik, akhir tahun ini giliran Aamir Khan yang unjuk gigi di tema yang serupa. Sebagai salah satu aktor papan atas Bollywood, tiap penampilannya tak pernah main-main. Setelah terakhir memikat publik dunia lewat PK tahun 2014 lalu, baru tahun 2016 ini ia bermain di Dangal, sebuah drama berlatar belakang olahraga gulat yang diangkat dari kisah nyata sosok pegulat Mahavir Singh Phogat dan putrinya yang menjadi wanita India pertama yang memenangkan medali emas di Commonwealth Games 2010, Geeta Phogat. Proyek ini sebenarnya sudah tercetus sejak 2012 silam oleh tim kreatif Disney yang kemudian menggandeng Nitesh Tiwari (Chillar Party, Bhoothnath Returns) untuk menyusun naskah sekaligus menyutradarainya. Khan lantas setuju untuk ikut memproduksi dan bermain sebagai lead actor dengan effort yang tak ringan demi perannya ini. Mulai naik-turun berat badan sampai latihan gulat betulan.

Baru merilis trailer pertama, Dangal sudah mencetak rekor sebagai video ketiga yang paling banyak ditonton di YouTube di seluruh dunia, setelah 50 Shades Darker dan Star Wars: The Force Awakens, yaitu sebanyak 4.5 juta penonton dalam jangka waktu 15 jam saja. Di ranah perfilman India, tentu saja ini adalah rekor tersendiri. Disusul review-review positif dari seluruh dunia yang menjunjung tinggi kualitasnya sebagai salah satu film India terbaik sepanjang masa. Maka ketika akhirnya tayang di bioskop-bioskop Indonesia, sayang untuk melewatkannya begitu saja.
Gagal mewujudkan ambisinya meraih medali emas di cabang olahraga gulat yang selama ini ditekuninya, Mahavir Singh Phogat bersumpah putranya kelak yang akan mewujudkan cita-citanya. Pil pahit harus ditelan Mahavir karena sampai pada anak keempat lahir, kesemuanya adalah perempuan. Mahavir hampir saja mengubur dalam-dalam ambisinya dan memilih bekerja kantoran demi menghidupi keluarga sehari-hari, sampai suatu ketika seorang tetangga menegurnya karena kedua putrinya, Geeta dan Babita, menghajar putra mereka hingga babak belur. Sejak itu matanya terbuka dan mulai menggembleng keduanya dengan sangat keras bak atlet gulat sungguhan. Geeta dan Babita merasa keceriaan masa kecilnya terenggut, tapi berubah pikiran ketika mendapati salah satu teman perempuan mereka yang dinikahkan saat masih berusia 14 tahun. Mulai bisa mengabaikan cibiran orang-orang di lingkungan sekitar yang masih kolot, lama-kelamaan keduanya enjoy dengan latihan mereka dan semakin berambisi untuk meraih prestasi setinggi-tingginya lewat olahraga gulat. Tantangan tak berhenti begitu saja. Ketika Geeta akhirnya berhasil masuk pelatnas, ia harus dihadapkan pada pilihan sulit antara ajaran sang ayah yang diajarkan sang ayah selama ini atau sang pelatih, Pramod Kadam, yang justru bertolak belakang.
Di permukaan, Dangal mungkin terkesan seperti layaknya drama sport biopic dengan formula-formula yang biasa digunakan, seperti perjuangan from zero to hero atau pergulatan kepribadian ketika kesuksesan dan popularitas mulai berdatangan. Ternyata ia jauh lebih dari itu. Ada sangat banyak elemen-elemen yang dimasukkan ke dalam film, tapi berhasil dirangkai menjadi satu kesatuan yang saling berkaitan atau malah saling mendukung satu sama lain. Let’s start with its controversial parenting issue. Gemblengan Mahavir terhadap kedua putrinya memang digambarkan kelewat keras, bahkan dengan nomer musikal Haanikaarak Bapu yang semakin meng-highlight ‘penderitaan’ tersebut (baca: meneriakkan protes). Di era milenium ini, gaya parenting seperti itu dengan mudah menjadi bahan kecaman para pemerhati perlindungan anak. Namun di bagian lainnya kemudian, ia menunjukkan betapa gemblengan seperti ini justru pada akhirnya yang membuahkan hasil paling maksimal, tanpa mengorbankan relasi yang intim antara orang tua-anak. For that purpose, Dangal menunjukkan elemen ini dengan begitu kuat dan soulful.
Kemudian ada pula dilematis pilihan antara metode pelatihan yang serba keras tanpa ada kesempatan untuk bersenang-senang sedikit pun atau menjaga keseimbangan antara latihan keras dan bersenang-senang. Keduanya punya sisi plus-minus tersendiri yang tidak bisa dengan mudah memutuskan salah satunya sebagai metode terbaik. Penonton pun sempat diarahkan pada dilema ini. Ada kalanya saya dibuat tak setuju dengan metode Mahavir, tapi kemudian saya juga tak bisa mengelak bahwa gemblengan Mahavir yang ternyata lebih membuahkan hasil. Sebuah dilema yang juga tak kalah sulitnya jika diaplikasikan pada berbagai pilihan dalam kehidupan sehari-hari.
Terakhir yang tak kalah pentingnya adalah isu feminisme yang menyeruak begitu kuat di sepanjang film tanpa harus menjadi protes yang keras. Ketimbang menyampaikannya secara verbal maupun aksi protes keras, Dangal lebih memilih untuk membuktikan secara langsung melalui adegan-adegan emosional, ditambah sedikit line yang mempertegas statement tersebut. Alhasil isu feminisme di sini tak menjadi suatu bentuk protes yang vulgar dan terang-terangan. Sebaliknya, diselipkan dengan begitu elegan dan halus, dengan impact yang justru jauh lebih kuat.
Kesemua isu-isu tersebut masih dibungkus lewat treatment-treatment yang tak kalah istimewanya. Pertama, laju penceritaan Nitesh yang sangat efektif dan padat dalam menyampaikan rentang waktu yang cukup panjang, tanpa meninggalkan impresi-impresi emosi yang kuat di tiap fase. Durasi yang mencapai 160 menit (tanpa nyanyian dan joged lho. Musik-musiknya hanya menjadi background pengiring adegan) benar-benar tak terasa berlalu. Kemudian, penanganan adegan sport-show gulat yang ditata dengan begitu intens, termasuk penggunaan slow-mo yang tak banyak tapi sangat efektif dalam mengaduk-aduk perhatian penonton. Ditambah penjelasan detail-detail serta aturan dalam pertandingan gulat resmi yang sering diabaikan di film-film bergenre sport drama,  yang justru membuat penonton memahami pertandingan sehingga menambah keseruan penonton dalam mengikuti pertandingan demi pertandingan yang ditampilkan.
Tak perlu meragukan effort dan kualitas akting Aamir Khan dalam menghidupkan peran Mahavir Singh Phogat. Dengan kharismanya yang sangat kuat, penonton yang tak setuju dengan keputusan-keputusan karakternya tak akan berani pula untuk menentang secara langsung. Ada rasa kepercayaan pada karakternya yang tertanam dalam benak penonton. Pun juga chemistry luar biasa yang dibangunnya dengan Fatima Sana Shaikh sebagai Geeta Phogat. Sementara Fatima sendiri pun menunjukkan dilematis-dilematis yang dialami karakternya dengan cukup terasa. Sanya Malhotra sebagai Babita Kumari pun masih memberikan performa yang fair di balik porsinya yang masih jauh di bawah Aamir maupun Fatima. Begitu pula Zaira Wasim dan Suhani Bhatnagar yang tak kalah mencuri perhatian serta mengundang simpati penonton sebagai Geeta dan Babita.
Teknis Dangal digarap dengan tak kalah mumpuninya. Sinematografi Sethu Sriram menyuguhkan shot-shot yang tak hanya sesuai dengan maksud adegan, tapi juga camera work yang membuat tiap momennya terasa maksimal. Mulai momen-momen emosional hingga keseruan sport-shows yang mendebarkan. Editing Ballu Saluja pun semakin memperkuat storyline dengan pace yang terjaga kepadatan, efektivitas, serta dampak emosional-nya. Musik-musik dari Pritam (yang sudah menjadi jaminan mutu tersendiri di Bollywood) dan lirik dari Amitabh Bhattacharya kesemuanya memperkuat highlight tiap adegan yang diiringi, dengan tingkat ke-memorable dan ke-hummable-an yang cukup tinggi. Dengarkan saja Haanikaarak Bapu yang menyentuh, Dhaakad dan Gilehriyaan yang membuat tersenyum, Naina yang manis, Idiot Banna yang bikin tertawa sekaligus iba, serta tentu saja theme song Dangal yang membuat penonton ikut bangga sambil berseru ‘dangal… dangal…’, sama seperti theme song Sultan yang membuat saya terus-terusan ikut berseru, ‘Ay Sultan!’.
Tak salah memang jika Dangal menuai pujian, review positif, serta peraihan box office yang fantastis di penghujung tahun 2016 ini. Tak hanya kaya akan isu-isu penting yang dirangkai dengan keseimbangan luar biasa dan detail background sport yang mengagumkan serta menjadi bagian penting dalam meng-engage emosi penonton, tapi juga kemasan yang sangat menghibur, dengan laju plot yang padat dan efektif. Saya pun harus setuju bahwa Dangal adalah salah satu film Hindi terbaik di tahun 2016 ini, dan mengakui bahwa 2016 ini memang merupakan tahun keemasan sekaligus pencapaian tertinggi industri film Bollywood. Luar biasa.

Lihat data film ini di IMDb
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates