Saturday, December 3, 2016

The Jose Flash Review
Cinta Laki-Laki Biasa

Setelah Pesantren Impian di awal tahun dan Jilbab Traveler: Love Sparks in Korea di musim libur Lebaran dirilis, tahun ini ada satu lagi novel Asma Nadia yang mendapatkan giliran diadaptasi ke layar lebar, yaitu Cinta Laki-Laki Biasa (CLLB). Kembali bekerja sama dengan ‘the dream team’; penyusun naskah, Alim Sudio (Assalamualaikum Beijing, Surga yang Tak Dirindukan, dan Pesantren Impian, dan Jilbab Traveler) dan sutradara Guntur Soeharjanto (Assalamualaikum Beijing dan Jilbab Traveler), kali ini giliran Starvision yang mendapatkan giliran mencoba peruntungan. Deva Mahenra, Velove Vexia, dan Nino Fernandez diletakkan di lini terdepan untuk menarik perhatian penonton, sementara Ira Wibowo, Cok Simbara, Dewi Yull, Dewi Rezer, Fanny Fabriana, Donita, Muhadkly Acho, Agus Kuncoro, Dhini Aminarti, dan Adi Nugroho digandeng untuk ‘meramaikan’.

Dibandingkan orang tua dan ketiga kakak perempuannya yang terbiasa hidup glamour, Nania termasuk yang punya pilihan dan gaya hidup ‘unik’. Sebagai tempat magang, ia malah memilih ditempatkan di proyek lapangan pembangunan rumah sederhana yang panas dan bersama pekerja berat. Tapi justru kerja praktek lapangan ini yang mempertemukannya dengan Rafli, laki-laki pekerja keras yang saleh. Di tengah-tengah proyek pun ia menyempatkan sholat dan lebih memilih cara ta’aruf ketimbang pacaran. Menurutnya, laki-laki yang bertanggung jawab itu akan berani dan yakin mengajak gadis pilihannya untuk ber-ta’aruf. Setelah mengalami pasang-surut hubungan, Nania dan Rafli memutuskan untuk segera menikah. Tentu hubungan ini ditentang terutama oleh ibu Nania yang sudah menjodohkannya dengan Tyo, seorang dokter lulusan Jerman. Ujian cinta Rafli tak hanya berhenti di perlakuan keluarga Nania, tapi juga ketika Nania mengalami kecelakaan dan terkena retrogade amnesia. Nania berubah menjadi tidak mengenal Rafli dan kedua anaknya, bahkan tak percaya bahwa dirinya bersuamikan Rafli yang hanya laki-laki biasa.
Dengan sinopsis yang demikian, jelas bahwa Asma Nadia masih ‘memanjakan’ para fansnya dengan fantasi akan sosok pria sempurna, terutama karena faktor ke-relijiusan-nya. Mungkin sudah beranjak dari fantasi akan pria oriental seperti yang dilakukannya di Assalamualaikum Beijing dan Jilbab Traveler, serta memilih pria pribumi yang secara status sosial dan ekonomi biasa-biasa saja. Namun beberapa elemen-elemen ‘khas’ Asma masih dipertahankan, seperti sosok pria yang terlalu sempurna hingga terkesan kurang manusiawi (tapi bisa membuat para penonton wanita histeris), motivasi-motivasi yang hanya dari sisi reliji saja dan masih jauh dari kata logis ataupun realistis, sampai penggambaran karakter-karakter non-relijius yang terlalu judgemental. Pada akhirnya, bangunan-bangunan cerita drama seperti ini berpotensi jatuh menjadi klise a la sinetron.
Untungnya, CLLB agaknya ‘belajar’ dari film-film Asma sebelumnya dan terlihat upayanya agar elemen-elemen yang mungkin hanya bisa diterima oleh segmen tertentu diminimalisir atau setidaknya mendapatkan porsi yang kecil sehingga tak terlalu terasa menonjol. Misalnya tema ta’aruf yang setidaknya di sini ditampilkan lewat penggambaran karakter Rafli dan Nania yang terlihat benar-benar saling jatuh cinta dan ‘baik-baik’ sehingga tak terkesan sekedar asal taat ajaran agama. Begitu juga penggambaran karakter Rafli yang menjadi lovable bukan karena sekedar relijius, tapi punya kualitas-kualitas (ditambah pembawaan Deva sendiri) di luar reliji, yang tentu membuat penonton non-muslim (dan juga muslim yang lebih mengedepankan logika ketimbang sekedar taat pada aturan agama) tak terasing untuk mengikuti kisahnya. Penempatan porsi karakter Tyo pun masih tergolong pas, tak terlalu berlebihan hingga memperkeruh plot drama utama.
Tak ada masalah juga ketika porsi proses hubungan asmara antara Rafli dan Nania dibuat lebih dari durasi satu jam, sebelum akhirnya masuk ke fase titik balik. Padahal film dengan tema sejenis lebih memilih untuk meletakkan titik balik ini pada paruh pertama dengan perkembangan kisah setelahnya.  Ia justru sengaja untuk menanamkan perkembangan cinta yang cukup dalam atas hubungan karakter Rafli-Nania sebelum ujian yang terberat dimunculkan. Ada keuntungan tersendiri sebenarnya, terutama paruh titik balik yang tak sampai menjadi part membosankan, berjalan terlalu lambat, maupun nuansa depresif yang berlebihan. Plot cliché CLBB masih bisa berjalan dengan lancar dengan nuansa ‘penuh cinta’ yang lembut dan manis di balik arah cerita yang sebenarnya cukup depresif. Logika tentang ciri-ciri penderita retrogade amnesia yang agak janggal drama-drama cliché pun menjadi tertutupi oleh nuansa manis penuh cinta yang dipertahankannya hingga akhir film.
Meski sebenarnya tak terlalu istimewa, setidaknya chemistry antara Deva Mahenra dan Velove Vexia masih mampu menjadi faktor keberhasilan terbesar CLLB, selain secara individu juga terasa mengalami sedikit peningkatan kualitas akting dan kharisma. Hangat, lembut, dan convincing sebagai pasangan yang memang saling mencintai. Begitu juga penampilan cast pendukung yang masih bermain-main di zona aman tipikalnya tapi tetap noticeable. Mulai Nino Fernandez, Ira Wibowo, Cok Simbara, Dewi Yull, Muhadkly Acho, Dewi Razer, Fanny Fabriana, Donita, Agus Kuncoro, dan Adi Nugroho.
Teknis CLLB suprisingly digarap dengan serius sehingga menjadi salah satu faktor mengapa ia begitu enak untuk diikuti. Mulai sinematografi Rendra Yusworo dengan pergerakan kamera smooth sesuai kebutuhan cerita dan pemanfaatan elemen-elemen visual yang sebenarnya generik tapi tetap mampu berfungsi secara maksimal, artistik Allan Sebastian dan kostum Aldie Harra (terutama untuk kostum Velove) yang terlihat didesain dengan konsep yang matang, hingga tata musik Andhika Triyadi yang mampu menghindarkan CLLB dari rasa sinetron. Bahkan mungkin salah satu gubahan musik scoring terbaik dari Andhika. Tak ketinggalan theme song Cinta Sejatiku yang dibawakan oleh Deva sendiri dengan baik dan menyatu dalam cerita dan nuansanya.

CLLB mungkin masih menawarkan roman-roman religi fantasi khas Asma Nadia yang sudah punya fanbase cukup besar. Namun bagaimana ia diadaptasi ke layar lebar dengan treatment yang jauh lebih acceptable untuk penonton non-muslim (dan juga penonton muslim yang lebih mengedepankan logika ketimbang sekedar taat aturan agama), dengan dukungan teknis yang juga jauh lebih tertata sehingga terkesan lebih sinematis, merupakan sebuah pencapaian tersendiri, baik bagi Asma, Alim, Guntur, bahkan juga Deva dan Velove pada derajat tertentu. Adaptasi Asma Nadia terbaik to date? In many ways, bisa jadi. PR berikutnya untuk film dengan unsur reliji: menghilangkan judgemental yang terlalu negatif untuk karakter-karakter non reliji-nya.
Lihat data film ini di filmindonesia.or.id.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates