Thursday, December 29, 2016

The Jose Flash Review
Cek Toko Sebelah

Sebagai bangsa yang kaya akan etnis dan budaya, Indonesia seharusnya kaya pula akan ide cerita untuk diangkat ke medium film. Sayang, sampai saat ini tak banyak yang berani mengangkatnya. Lebih tepat lagi, belum menemukan formula kemasan yang pas sehingga tetap menarik untuk dibahas, tidak hanya sekedar display kebudayaan dengan plot cliche, kedalaman ala sinetron, atau cenderung depresif. Salah satu yang berani dan punya style tersendiri untuk menyampaikannya adalah Ernest Prakasa. Identitasnya sebagai etnis Cina (Yes. Sorry SBY, menurut saya penggunaan istilah ‘Tionghoa/Tiongkok’ untuk menggantikan ‘Cina’ sebagai solusi diskriminasi adalah menggelikan. Seluruh dunia menggunakan kata ‘Cina’ dan tak ada yang terkesan ofensif) dan profesinya sebagai komika membuatnya mampu ‘mengawinkan’ kedua elemen ini jadi kemasan yang menghibur sekaligus berbobot. Sementara ada komika yang ‘terjebak’ dengan image materinya hingga terus-terusan mendaur ulang tema yang itu-itu saja, Ernest memang masih menggunakan tema yang serupa (yaitu tentang “life as an Indonesian-Chinese”), tapi membidik topik yang berbeda dan tak kalah menarik sekaligus krusial untuk dibahas karena bisa jadi relevan secara universal. Jika tahun lalu Ngenest adalah sebuah self-discovery, maka Cek Toko Sebelah (CTS) yang diusungnya tahun ini adalah sebuah potret kondisi sosial, terutama tipikal keluarga etnis Cina di Indonesia. Ernest masih dibantu oleh Jenny Jusuf (Filosofi Kopi) dan sang istri, Meira Anastasia, untuk menyusun naskahnya, serta memboyong lusinan komika dan aktor-aktris populer tanah air untuk meramaikan karya terbarunya ini.

Seperti kebanyakan etnis Cina Indonesia, Erwin dan koko (kakak)-nya, Yohan, lahir dari seorang ayah, Koh Afuk, pemilik sebuah toko kelontong. Bahkan setelah melewati kematian sang istri yang turut membangun toko tersebut, Cik Lili, dan Tragedi 98, toko kelontong bernama Toko Jaya Baru tetap berdiri dengan beberapa karyawan setia. Kondisi kesehatan Koh Afuk yang kian menurun membuatnya berpikir untuk pensiun dan mempercayakan toko kelontong ke anak-anaknya. Bukannya memberi kepercayaan kepada Yohan sebagai putra sulung yang berprofesi sebagai fotografer, Koh Afuk justru meminta Erwin untuk melanjutkan bisnis toko kelontong ini. Erwin yang karirnya sedang menanjak karena dipromosikan sebagai brand director of Southeast Asia, harus dihadapkan pada pilihan sulit; mengejar mimpi karirnya atau membahagiakan sang ayah dengan menuruti permintaannya. Koh Afuk bahkan sampai memberi opsi Erwin untuk mencoba mengurus toko selama sebulan saja. Jika ia tidak menikmati, maka ia boleh melanjutkan pilihan karirnya sendiri. Kekasih Erwin, Natalie, yang lebih bergaya hidup modern tentu berharap Erwin lebih memilih mengejar mimpi karirnya.
Yohan yang berharap menjadi kepercayaan Koh Afuk, iri dan jadi lebih sensitif terhadap adiknya. Untung ada Ayu, sang istri yang yang selalu berhasil menenangkan dengan pemikiran-pemikiran bijaknya. Ternyata mengurus toko kelontong tak semudah yang dibayangkan Erwin. Selain harus menghadapi persaingan dengan toko sebelah, ia juga harus mengambil keputusan bijak ketika ada developer properti yang berniat membeli tokonya.
Mengulik potret kondisi sosial etnis tertentu jelas lebih rumit ketimbang membahas self-discovery yang lebih bersifat pribadi. Oleh sebab itu, di CTS Ernest sebenarnya ditantang untuk menyampaikan kompleksitas yang mau tak mau saling berkaitan secara sebab-akibat lewat sebuah kesatuan sajian, tanpa terasa tumpang tindih. Selain dilemma pribadi tentang pilihan mengejar ambisi karir pribadi atau berkorban demi balas budi kepada keluarga (terutama orang tua), tapi juga problematika-problematika ‘turunan’-nya, seperti melepaskan nostalgia masa lalu, rekonsiliasi hubungan kekeluargaan, persaingan, dan above all, komunikasi di antara anggota keluarga. Ernest terbukti mampu memasukkan kesemua elemen-elemen cerita ini ke satu racikan yang terasa saling berkorelasi, mengalir lembut, tanpa kesan terlalu dijejalkan ataupun tumpang tindih.
Pada akhirnya memang ada yang harus ‘dikorbankan’. Sayangnya yang harus berkorban justru elemen yang seharusnya mendapatkan porsi terbesar, yaitu perkembangan karakter Erwin sebagai karakter utama dengan dilemma yang menjadi fokus utama plot. Jika dibandingkan perkembangan karakter Koh Afuk dan Yohan, karakter Erwin terasa yang paling under-developed. Ada, tapi konfliknya sekedar ditunjukkan di permukaan saja, tanpa ada dimensi lebih. Dengan demikian, saya lebih melihat CTS sebagai film dengan fokus treatment ke konflik, bukan karakter. Konflik-lah yang menjadi lakon utama cerita. Tak hanya konflik utama saja, tapi juga turunan-turunan yang saling berkaitan, yang sudah saya sebutkan di paragraf sebelumnya. Kebetulan, karakter Yohan dan Koh Afuk menjadi kunci dari konflik yang dihadapi Erwin. Kendati in the end, keputusan dari Erwin sendirilah yang menjadi highlight terbesar konklusi film. Penyelesaian konflik memang terkesan terlalu komikal untuk perpaduan yang lebih cenderung ke arah realis, serta agak terkesan 'dipaksakan', tapi masih sah saja dilakukan dalam konteks komikal.
Untungnya, naskah CTS masih terasa disusun dengan begitu rapih, baik secara struktur, detail karakter yang konsisten, penyampaian informasi-informasi sekunder secara implisit (tapi tak kalah penting untuk mendapatkan cerita yang utuh, seperti misalnya etnis Ayu yang pribumi membuatnya kurang mendapatkan restu dari orang tua Yohan) lewat adegan-adegan  yang dibumbui dengan berbagai gaya treatment, mulai joke khas komika (dengan struktur patennya; setup dan punchline) yang mostly worked, hingga homage ke beberapa style film populer (especially Quentin Tarantino’s – ingat adegan genk capsa dengan konversasi tentang sayur dan buah which reminded me of Reservoir Dog’s conversation about Madonna, Wes Anderson’s –lewat karakter-karakter scoring-nya-, dan Edgar Wright’s –lewat adegan-adegan komikal-nya-). Above all, yang tak kalah pentingnya adalah bagaimana ia menjaga keseimbangan antara sensitivitas drama dengan komedi khas Ernest. Bukan perkara mudah untuk bisa membuat penonton tersentuh sekaligus tertawa terbahak-bahak dalam rentang waktu yang tak terlalu lama. CTS melakukannya dengan keseimbangan yang luar biasa, transisi yang mulus, dan saling berkorelasi dengan plot utama. Ernest terbukti punya directing sense drama dan komedi yang sama besarnya, yang ia suntikkan secara maksimal ke dalam CTS. Ditambah konklusi yang ternyata sangat wise, jauh dari kekhawatiran yang sempat muncul dalam benak saya di pertengahan film bahwa akan jatuh menjadi pilihan cliché yang diambil kebanyakan individu etnis Cina Indonesia, dan yang paling penting, menyenangkan semua pihak, tanpa harus ada yang merasa ‘berkorban’. Kelebihan-kelebihan inilah yang akhirnya berhasil membuat saya mentolerir kekurangan di porsi karakter utama. It worked really well. Leave everybody in a very good mood afterward. Senyum, puas, bahagia, lega, dan semoga saja, punya dampak yang kuat ke anggota keluarga masing-masing penonton.
Dengan porsi yang paling terbatas, Ernest sendiri sebagai Erwin memang terasa tak terlalu menunjukkan kapasitas akting. He’s still himself as we see daily. Sementara kekuatan akting terbesar dipamerkan oleh Dion Wiyoko sebagai Yohan yang sangat terasa sebagagai puncak pencapaian aktingnya, dan Chew Kin Wah yang semakin menunjukkan kualitas prima aktingnya setelah di My Stupid Boss lewat karakter Koh Afuk. Adinia Wirasti sebagai Ayu mungkin hanya karakter pendukung, tapi sekaligus menjadi penyeimbang di banyak momen. Mungkin masih tak jauh beranjak dari peran tipikal Adinia, tapi terbukti berhasil menjadi komponen dari plot utama yang penting. Gisella Anastasia sebagai Natalie memang hanya ditampilkan one-dimensional dan dibawakan dengan kharisma yang biasa saja, tapi not bad as a beginner.
Kemunculan puluhan pendukung dan cameo sebenarnya masing-masing tak hanya noticeable tapi juga cukup memorable berkat ‘panggung’ yang layak, tapi ada beberapa yang memang tampil paling menonjol ketimbang yang lain. Asri Welas sebagai Bu Sonya jelas menjadi everybody’s favorite scene stealer, disusul Dodit Mulyanto sebagai Kuncoro, Yusril Fahriza sebagai Naryo yang kemayu, Yeyen Lidya sebagai Anita, Gita Bhebhita sebagai Bu Hilda, Anyuncadel, Awwe sebagai Ojak (yang saya setuju, mirip Panji!), Tora Sudiro sebagai Robert, Budi Dalton sebagai Pak Nandar, geng capsa; Aming (Edward Suhadi), Aloy (Sylvester Aldes), dan Abdur Arsyad (Vincent), sampai anak Presiden Jokowi, Kaesan Pangarep sebagai sopir taksi.
Ernest pun tampak tak ingin main-main dengan aspek-aspek teknisnya. Kendati ada beberapa part yang pergerakan kameranya kurang mulus, tapi jelas sinematografi Dicky R Maland menunjukkan keinginan Ernest untuk mencoba memadukan berbagai style, yang hasilnya jadi menarik. Editing Cesa David Luckmansyah di sini masih khas style-nya dan tipikal Starvision. Secara keseluruhan tak ada masalah berarti, terutama dalam menggerakkan plot, memadukan drama dan komedi dengan timing serta porsi yang proper, maupun menggabungkan elemen-elemen cerita yang cukup banyak dalam proporsi yang kurang lebih seimbang, dan style yang variatif pula (terutama yang paling noticeable, match cut dan J-cut). Namun ada beberapa bagian, terutama di prolog, yang masih terasa kurang mulus dan agak jumping. Mungkin faktor kurang stock gambar atau sense mensinkronkan komposisi gambar dengan perpindahan shot yang perlu dipertajam lagi. Pemilihan lagu memberikan emosi lebih ke adegan, terutama Let You Go (which reminded me a lot of John Mayer’s) dan I Still Love You dari The Overtunes untuk momen-momen dramatis, juga Senyuman & Harapan dari kolaborasi GAC dan The Overtunes yang jadi theme song, serta Parampampam dari GAC untuk momen-momen bahagia. Sayang ada beberapa pemotongan lagu di tengah-tengah adegan paling emosional yang agak menurunkan emosi yang sudah terbangun sangat kuat. Scoring Andhika Triyadi tak kalah variatif dengan style visual Ernest sehingga memberikan warna yang beragam pada film. Ada 'aroma' bereferensi pada scoring film-film Wes Anderson (terutama Alexandre Desplat di The Grand Budapest Hotel) dan sedikit scoring Danny Elfman di film-film Tim Burton meski tak sekental di Hangout. Poin tersendiri juga untuk artistik Windu Arifin, terutama setting toko yang dipenuhi plesetan-plesetan brand (minuman buah Lae-Lae, terigu Segitiga Pengaman bergambar kancut, dan masih banyak lagi yang bikin ngakak) hasil kolaborasi dengan buah pikiran gokil dari Bene Dion Rajagukguk.
CTS memang masih punya beberapa kekurangan, tapi hasil akhir yang mampu menggabungkan drama dan komedi dengan sensitivitas serta keseimbangan luar biasa, leaving everybody happy, maka semua kekurangan itu masih bisa ditolerir. Apalagi ini baru karya Ernest kedua sebagai penulis naskah, sutradara, sekaligus aktor. CTS jelas menunjukkan peningkatan yang luar biasa sejak Ngenest tahun lalu, apalagi dengan kompleksitas plot yang jauh lebih besar. Saya sangat merekomendasikan CTS untuk ditonton bersama seluruh anggota keluarga. Will worked even better if you’re from Indonesian-Chinese family, dengan pola pikir dan kondisi yang kurang lebih sama. Bisa jadi ada perubahan ke arah yang lebih baik di antara anggota keluarga. Jarang ada film Indonesia yang punya dampak sebaik dan sekuat ini bagi penontonnya. Maka dari itu layak untuk dirayakan.
Lihat data film ini di filmindonesia.or.id
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates