Monday, December 5, 2016

The Jose Flash Review
Bulan Terbelah di Langit Amerika 2

Akhir tahun 2015 lalu, Bulan Terbelah di Langit Amerika (BTdLA) produksi Maxima Pictures yang berhasil menggaet 900 ribu penonton lebih. Film yang diadaptasi dari novel karya Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra ini merupakan follow up dari film yang juga diangkat dari novel karya mereka sebelumnya, 99 Cahaya di Langit Eropa. Tahun 2016 ini, Maxima (dengan bendera yang baru: Max Pictures) menghadirkan sekuel dari BTdLA dengan komposisi cast dan crew utama yang kurang lebih sama. Alim Sudio dan Baskoro Adi pun bergabung bersama Hanum dan Rangga untuk menyusun naskahnya, sementara Rizal Mantovani masih dipercaya sebagai sutradara. Bulan Terbelah di Langit Amerika 2 (BTdLA2) menjadi semakin bikin penasaran dengan isu yang provokatif (sekaligus delusional), ‘apakah benar muslim penemu benua Amerika?’ sebagai materi promonya.

Melanjutkan kisah dari installment sebelumnya, Hanum kali ini ditugaskan oleh kantor berita pusat untuk melakukan penyelidikan terhadap isu bahwa pelaut muslim Cina bernama Cheng Ho sudah lebih dulu mendarat di Benua Amerika jauh sebelum Christopher Columbus. Meski Rangga, sang suami, meragukan kondisinya, Hanum pun mengambil tawaran ini. Perjalanan mereka berdua ke San Francisco berbarengan dengan niat Azima Hussein dan putrinya. Sarah, yang berniat bersilaturahmi kepada sang ibu yang sempat memutuskan tali kekeluargaan setelah Azima memutuskan menjadi mualaf dan menikahi mendiang suaminya. Sementara itu Stefan, sahabat Rangga, stress dan melarikan diri pada alkohol setelah kekasihnya, Jasmine yang sedang hamil, meninggalkannya karena ia bukan tipe married-man. Siapa sangka misi jurnalistik Hanum kali ini membuatnya terlibat dengan mafia Cina di San Francisco.
Meski trailer pertama yang dirilis membuat BTdLA terkesan membosankan dan mengangkat tema reliji yang itu-itu saja, trailer kedua menjanjikan tema petualangan yang lebih menarik, bak National Treasure. Adegan-adegan petualangan itu memang ada di dalam film, tapi ternyata bukanlah porsi yang utama. Bahkan Anda tak akan menemukan jawaban maupun kesimpulan yang memuaskan dari pertanyaan provokatif dari tagline tersebut. BTdLA2 malah terasa seperti ekstensi yang tak perlu dari installment pertamanya. Ada banyak plot yang coba dihadirkan, termasuk pembahasan ‘apakah benar muslim penemu Amerika?’. Sayangnya kesemua plot ini dihadirkan dengan porsi yang tak seimbang dan saling tumpang tindih. Malahan secara keseluruhan, plot Azima dan Sarah yang berupaya melekatkan kembali tali silaturahmi dengan sang ibu, Hyacinth, serta upaya Stefan mengembalikan Jasmine ke pelukannya terasa mendapatkan porsi terbesar sementara plot petualangan investigasinya justru terkesan dikesampingkan dan asal ada. Sub-plot tentang pasang-surut hubungan Hanum-Rangga terutama tentang upaya mempunyai anak sebenarnya bisa jadi menarik dan punya korelasi yang baik jika meletakkan petualangan investigasi sebagai plot utamanya. Faktanya, sub-plot ini pun terkesan asal ada, tanpa perkembangan yang  berarti, dan bahkan dengan konklusi yang hanya berupa title card. Well, secara keseluruhan, plot yang disusun BTdLA2 terasa sangat kacau, semuanya dijejalkan paksa dalam satu paket.
Dari jajaran cast utama, hampir kesemuanya tampil hanya karena popularitas masing-masing. Bukan salah mereka, tapi karena porsi karakter yang tak memberikan kesempatan lebih untuk jadi menarik. Baik Acha Septriasa, Abimana Aryasatya, Rianti Cartwright, maupun Nino Fernandez. Ira Wibowo sebagai Hyacinth, ibu Azima, masih tampil tipikal seperti peran yang biasa dilakoninya. Boy William ‘mengganggu’ lewat aksen Cina Singapura (bukannya karakter yang ia mainkan seharusnya asli Cina Hui?) yang terlalu dibuat-buat. Yeslin Wang (istri Delon) sebenarnya tampil cukup menarik. Sayang konsistensi penggunaan bahasa menjadi distraksi. Satu-satunya cast yang menarik perhatian saya adalah Hannah Al-Rasyid yang somehow kharisma aktingnya paling bersinar di sini.
Untuk proyek se-high profile ini, teknis BTdLA2 masih tergolong generik. Misalnya saja sinematografi dari Patrick Tashadian yang biasa saja, termasuk untuk adegan-adegan petualangan. Shot-shot outdoor dengan setting San Francisco masih sedikit lebih tajam ketimbang kebanyakan film Indonesia dengan setting luar negeri yang memang terlihat ‘colongan’. Editing Ryan Purwoko pun tak bisa membantu banyak dalam menyeimbangkan porsi plot-plot yang bertebaran tak beraturan maupun menjaga pace cerita supaya tetap nyaman diikuti. Tak ada yang istimewa untuk tata artistic Frans Dede V dan kostum Aldie Harra. Banyak adegan dengan latar outdoor yang terlihat tempelan greenscreen. Tata suara pun tak terdengar istimewa. Scoring music Joseph S. Djafar masih mengiringi kesan-kesan dramatis di beberapa adegan. Setidaknya sekedar memberi warna lebih kendati tak sampai maksimal memancing emosi penonton ataupun menjadi nada-nada yang signatural. Begitu pula theme song Bulan Terbelah yang dibawakan oleh Acha Septriasa dan Omar yang tergolong mediocre, jauh dari kesan memorable.

Sama seperti kebanyakan drama religi Indonesia, BTdLA2 tak menawarkan apa-apa selain preach yang disampaikan secara lisan (dan blak-blakan), tak sampai merasuk ke dalam tubuh cerita, dengan kemasan drama romansa dan keluarga biasa yang juga tak digali lebih. Terasa seperti extensi drama dari seri pertamanya yang tak begitu perlu ada dan dirangkai dengan kacau sehingga secara keseluruhan gagal memberikan impresi emosi apa-apa.
Lihat data film ini di filmindonesia.or.id.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates