Wednesday, December 14, 2016

The Jose Flash Review
Befikre
[बेफिक्रे]

Jika Anda termasuk rajin mengikuti perkembangan sinema Bollywood, ada kecenderungan trend tema akhir-akhir ini, yaitu proses kedewasaan dalam hubungan asmara. Termasuk di dalamnya, mendefinisikan cinta yang sesungguhnya, yang ‘meant to be as a long-term relationship partner’. Belum lama ini ada Katti Batti dan Ae Dil Hai Mushkil. Uniknya, sinema Bollywood selalu punya treatment berbeda-beda dan unik meski mengusung tema yang itu-itu saja. Sajian terbaru bertema sejenis di penghujung tahun 2016 adalah Befikre (yang arti dalam bahasa Inggris-nya: carefree) yang diproduksi, ditulis, dan disutradarai oleh CEO salah satu studio raksasa India, Yash Raj Films (YRF) sendiri, Aditya Chopra. Ini menandai come back-nya dalam menyutradarai setelah Dilwale Dulhania Le Jayenge (1995), Mohabbatein (2000), dan Rab Ne Bana Di Jodi (2008). Jarangnya ia duduk langsung di bangku sutradara membuat Befikre jadi sesuatu yang menarik. Menambah daya tariknya, aktor Ranveer Singh (Gunday, Finding Fanny, dan Bajirao Mastani) dipasangkan dengan aktris yang masih tergolong pendatang baru, Vaani Kapoor (Shuddh Desi Romance dan Aaha Kalyanam), serta dipilihlah setting secara keseluruhan di Paris yang notabene adalah kota paling romantis di dunia.

Film dibuka dengan montase pasangan yang sedang memadu kasih di kota Paris. Di tengah hangatnya asmara-asmara tersebut, ternyata ada pasangan yang sedang beradu argumen; Dharam dan Shyra.  Pasangan berdarah India ini telah tinggal bersama selama kurang lebih setahun setelah pertemuan yang berlanjut dengan perjanjian tak ada ikatan apa-apa, termasuk ucapan ‘I love you’. Hubungan mereka diwarnai tantangan-tantangan gila yang dilakukan bersama. Dharam bekerja sebagai komika di sebuah bar India di Paris, sementara Shyra putri pemilik restoran India yang sesekali bekerja paruh waktu sebagai pemandu wisata. Seiring dengan waktu, Shyra merasakan semakin tidak cocok dengan Dharam. Sementara Dharam mencoba move on dengan berkencan bersama wanita-wanita lain.
Meski sepakat untuk ‘berpisah’, keduanya juga mencoba untuk tetap bersahabat, termasuk men-share pengalaman masing-masing tiap kali berkencan dengan orang lain. Yang terjadi selanjutnya masing-masing justru adu menunjukkan bahwa bisa move on tanpa satu sama lain. Sampai suatu ketika Shyra berkencan dengan seorang bankir yang awalnya dikira membosankan tapi ternyata bisa akrab dengan Dharam juga, Anay. Shyra memang merasa telah tumbuh dewasa daripada dirinya ketika berhubungan tanpa status dengan Dharam, tapi ia juga bimbang untuk menerima lamaran Anay. Dharam lah satu-satunya orang yang bisa memberikan pertimbangan untuk Shyra. Dilematis perasaan di antara Dharam dan Shyra pun kembali muncul.
Secara premise, Befike memang masih mengusung tema move on dan friendzone. Daya tariknya kemudian bertumpu pada chemistry antar karakter utama dan tentu saja latar Paris. Ternyata kedua elemen ini tak hanya sekedar menjadi daya tarik semata, karena Aditya Chopra selaku penulis naskah sekaligus sutradara merancang kesemuanya menjadi kesatuan yang solid. Latar Paris tak semata-mata sekedar menjadi gaya-gayaan atau asal terlihat indah ataupun glamour, tapi menjadi kontras dengan apa yang terjadi pada pasangan karakter utama. Begitu juga sisi  personal dari karakter yang punya andil besar terhadap konflik cerita. Misalnya perbedaan Anay yang masih kental dengan tradisi tradisional India tapi curious terhadap gaya hidup bebas ala Barat, dengan Shyra yang sejak lahir sudah dibesarkan di Paris sehingga punya pola pikir carefree ala Parisien serta asing (tapi punya kerinduan kecil jauh di dalam hatinya) akan budaya India. Elemen free lifestyle (misalnya ditunjukkan lewat gaya hidup ‘kumpul kebo’) pun tak semata-mata menjadi gaya-gayaan atau asal jadi kontroversi. In the end, ia membuat pilihan ‘kumpul kebo’ sebagai bagian proses pembelajaran dan kedewasaan yang realistis serta valuable. Serta yang tak kalah pentingnya adalah penggambaran sosok wanita sebagai pihak yang punya pengaruh penting terhadap hubungan dan punya pilihan sikap sendiri, tak sekedar feminisme sempit sebebas-bebasnya.
Kesemua elemen-elemen ini dimasukkan Aditya menjadi satu blend yang terasa terjalin solid dan saling mendukung, dengan arah pasang-surut hubungan yang bisa dirasakan secara emosi oleh penonton sepanjang durasi yang mencapai 130 menit, sehingga mampu mengundang simpati pula. Ya, ia masih punya ending yang tergolong generik di genre sejenis dalam sinema India, tapi berkat bangunan plotnya yang tertata baik, menjadi relevan di mata (maupun hati) penonton. In the end, bukan pilihan ending seperti apa yang disampaikan, tapi -bagaimana prosesnya dan mengapa- yang jauh lebih penting. For this purpose, Befikre menunjukkan salah satu pilihan atas definisi cinta (sebagai pasangan) dan pendewasaan hubungan asmara yang layak dijadikan salah satu pertimbangan love lesson.
Chemistry Vaani Kapoor dan Ranveer Singh tentu menjadi salah satu faktor keberhasilan dan nyawa Befikre. Keduanya pun mampu menunjukkan ups-and-downs serta perkembangan emosi yang natural. Dalam menghidupkan masing-masing karakter pun keduanya punya kharisma lead yang kuat dengan pesona masing-masing. Pendatang baru, Armaan Raihan sebagai Anay juga mampu mengimbangi chemistry keduanya dengan kharisma serta pesona yang lebih dari cukup. Julie Ordon sebagai Christine mungkin terasa seperti just another hot white girl, tapi daya tarik fisiknya dan keseksian personality-nya memang terasa. Sementara Akarsh Khurana dan Ayesha Raza Mishra sebagai ayah-ibu Shyra mungkin porsi perannya tak terlalu banyak, tapi keduanya cukup noticeable berkat momen yang dimiliki, terutama untuk Ayesha Raza Mishra.
Dari teknis produksi, Befikre tertata dengan baik pula. Sinematografi Kaname Onoyama memberikan pergerakan kamera yang senada dengan flow film, serta tak kalah pentingnya, mampu mem-framing musical-musical scene-nya dengan feel yang seiring. Editing Namrata Rao memperkuat gambar-gambar bidikan Onoyama dengan plot flow yang enjoyable (dan menyenangkan) untuk diikuti. Terakhir tapi salah satu elemen paling penting dalam film adalah musik arahan Vishal Dadlani, Mikey McCleary, dan Shekar Ravjiani yang ear-catchy dan memorable. Dengarkan saja Labon Ka Karobaar yang memadukan ornamen-ornamen etnik India dan Parisien, Nashe Si Chadh Gayi atau Love is a Dare yang punya sampling dari C&C Music Factory, Gonna Make You Sweat, theme song Ude Dil Befikre, You and Me, Khulke Dulke, serta yang paling menjadi favorit saya karena memperkuat adegan-adegan dilematis hubungan Dharam-Shyra, Je T’aime. Salah satu kompilasi soundtrack Hindi terbaik di tahun 2016 ini.
Befikre mungkin tak menawarkan sesuatu yang baru, terutama jika Anda familiar dengan film-film Bollywood. Namun Aditya Chopra menghadirkannya dengan treatment dan kemasan yang tak hanya menarik, tapi juga tertata menjadi satu paket yang solid, serta yang tak kalah pentingnya, menyenangkan untuk diikuti. Penuh gairah, seksi, menyenangkan, manis, sekaligus menawarkan pilihan definisi (kedewasaan) cinta yang relevan dan notable.
Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates