Tuesday, December 27, 2016

The Jose Flash Review
Assassin's Creed

Kendati film adaptasi dari video game sudah sejak lama mendapatkan stigma negatif dan seringkali flop di pasaran, upaya untuk mengambilnya sebagai materi layar lebar selalu dilakukan dengan harapan bisa lebih baik atau setidaknya masih mampu meng-grab pemain game-nya yang jumlahnya tak bisa dianggap remeh. Syukur-syukur bisa sekaligus mengubah stigma tersebut. Namun tentu ini bukan upaya yang mudah untuk dilakukan. Upaya terbaru dilakukan Ubisoft dengan franchise terbesar mereka, Assassin’s Creed (AC), yang pertama kali dirilis tahun 2007 dan sudah ada sembilan judul game utama serta beberapa judul pendukung. Tak tanggung-tanggung, Ubisoft sampai membuka divisi sendiri atas nama Ubisoft Motion Pictures dengan menjadikan adaptasi AC sebagai proyek pertama mereka. Awalnya sempat menggandeng Sony Pictures di tahun 2011, tapi negosiasi yang panjang dan keinginan kontrol kreativitas yang lebih besar membuat mereka akhirnya memutuskan untuk memproduksi sendiri. New Regency, RatPac Entertainment, dan Alpha Pictures kemudian turut bergabung, dengan 20th Century Fox sebagai distributor internasional.

Michael Fassbender yang sudah ditunjuk untuk mengisi peran utama sejak 2012 dan bahkan sempat menjadi salah satu produser, mengkonfirmasi keterlibatannya. Naskah final-nya disusun ulang oleh Michael Lesslie (Macbeth), setelah sebelumnya dikerjakan oleh Adam Cooper dan Bill Collage (Exodus: Gods and Kings, The Transporter Refueled, dan Allegiant), sementara bangku sutradara dipercayakan kepada sineas Australia yang populer lewat adaptasi terbaru Macbeth (2015), Justin Kurzel. Ini akan menjadi ‘reuni’ Kurzel bekerja sama dengan Fassbender dan Marion Cottilard setelah Macbeth, sekaligus proyek termahal Kurzel, yaitu sebesar US$ 130 juta (bandingkan dengan Macbeth yang hanya berbudget US$ 15 juta!). AC versi layar lebar menghadirkan karakter-karakter yang berbeda, termasuk karakter utama. Hanya karakter antagonis, Alan Rikkin dan beberapa elemen khas yang masih dipertahankan. Harapannya selain memanjakan pemain game-nya, sekaligus tetap memberikan element of surprise, baik bagi pemain game maupun awam.
Tepat setelah dieksekusi mati, Callum Lynch, seorang kriminal terbangun di sebuah fasilitas medis modern. Menurut Dr. Sophia Rikkin yang merawatnya, Cal dibawa ke fasilitas milik Abstergo Industries karena dirinya dipercaya sebagai keturunan terakhir yang tersisa dari kaum Assassin. Konon kaum Assassin sejak abad ke-15 sudah menjadi pelindung Apple of Eden dari tangan kaum Ordo Templar. Abstergo memanfaatkan Callum untuk menjadi objek proyek Animus, dimana ia akan terhubung dengan leluhurnya yang anggota kaum assassin, Aguilar de Nerha, melalui sebuah alat, agar menemukan di mana letak Apple of Eden yang dipercaya merupakan rahasia dari kehendak bebas manusia pada jaman Nabi Adam dan Hawa. Menurut Dr. Sophia Rikkin, Apple of Eden inilah kunci penyembuhan untuk menghapus sifat dasar kekerasan dalam diri manusia.
Di abad ke-15, Cal sebagai Aguilar bersama dengan assassin lainnya, Maria, sedang mencegat iring-iringan kereta yang membawa Pangeran Ahmed de Granada, putra Sultan Muhammad XII, yang diculik oleh kaum Templar dengan permintaan tebusan Apple of Eden. Tugas Cal ternyata tak semudah itu. Belum lagi ternyata Abstergo Industries punya agenda lain dari penemuan Apple of Eden ini.
Secara garis besar, plotline yang ditawarkan AC versi film ini masih sejalan dengan game pertamanya. Hanya saja karakter sentral di game, Desmond, diubah menjadi Callum. Ada intrik tentang kebutuhan umat manusia saat ini yang tak lagi mengenai kehendak bebas, tapi jaminan keamanan. Meski sudah sering dibahas di film (terutama pasca 9/11), tetap saja menarik untuk dijadikan salah satu pondasi cerita. Sayangnya, intrik ini nyatanya hanya menjadi pertanyaan retorika semata, tanpa dikembangkan apalagi diberikan konklusi jelas. Sisanya, plot AC masih digerakkan secara generik, bak perpaduan antara The Matrix dan Prince of Persia. Tak ada yang salah sebenarnya dengan formula generik seperti ini, selama plotnya dikembangkan jadi menarik, misalnya yang paling sederhana pengembangan hubungan antar karakter atau sekedar hubungan sebab-akibat antar adegan yang runtut. Namun AC tak menyuguhkan ‘requirement-requirement minimal’ tersebut. Bahkan struktur cerita AC termasuk berantakan dan anti-klimaks.
Ada banyak adegan dimana Kurzel terasa kesusahan menerjemahkan elemen-elemen cerita yang ingin disampaikan ke dalam bentuk visual. Ditambah dengan style penyutradaraan Kurzel yang masih ala-ala Macbeth; lambat, sunyi, dan minim ekspresi emosi. Adegan-adegan pertarungan dan petualangan (yang jumlanya saja sudah sangat sedikit) juga tak banyak membantu karena di-direct dengan skill action yang masih jauh dari kata ‘jelas’, apalagi mengasyikkan. Alhasil, tak heran jika cukup banyak penonton yang mengeluhkan AC sebagai sajian yang membosankan (atau malah ketiduran?), dengan arah plot yang tidak begitu jelas gara-gara storytelling Kurzel yang lemah di genre ini. Alih-alih memberikan klimaks yang ‘pecah’, super seru, ataupun epik, ia justru berjalan datar-datar saja dengan konklusi yang terlampau generik, jika tak mau disebut mengambang.
Akting para performance pun tak memberikan kontribusi berarti untuk mengangkat mood film. Fassbender sebenarnya masih memberikan performa sekaligus kharisma yang cukup sebagai lead. Sayangnya, potensinya tak diberi ruang lebih untuk benar-benar terasa kuat sepanjang film. Marion Cotillard sebagai Dr. Sophia Rikkin tampak berusaha keras ‘menahan diri’ dan suppressed. Dengarkan saja tone suaranya di hampir semua part-nya. Sangat berbeda jauh dari performa di film-film high profile Cotillard lainnya. Begitu pula Jeremy Irons sebagai Alan Rikkin, Brendan Gleeson sebagai Joseph Lynch (ayah Callum), Charlotte Rampling sebagai Ellen Kaye, dan Michael K. Williams sebagai Moussa dan Baptiste yang kapasitas aktingnya terasa mubazir di sini. Noticeable karena reputasi para aktornya, tapi gagal untuk menjadi performance yang memorable, atau sekedar menarik perhatian.
Teknis AC sebenarnya juga berusaha keras untuk mumpuni. Alih-alih memberikan improvement pada penceritaan yang lemah, sinematografi Adam Arkapaw lebih sering justru memperlemah adegan, terutama adegan-adegan laga yang meski terlihat seru tapi terasa datar dan hambar. Begitu pula editing Christopher Tellefsen yang memperparah ritme dan tone di hampir keseluruhan film. Gimmick 3D tak terlalu terasa, baik dari segi depth-of-field, apalagi gimmick pop-out. Musik dari adik Justin, Jed Kurzel terdengar monoton sehingga semakin menghanyutkan penonton (dalam lelap). Sound design masih tergolong aman, meski tak memberikan kedalaman dimensi lebih lewat fasilitas tata suara surround yang ada.
Upaya perdana Ubisoft untuk mematahkan stigma film adaptasi dari game selalu buruk masih jauh dari berhasil. Malah mungkin AC adalah salah satu film adaptasi game terburuk yang penah dibuat. Bisa jadi karena faktor directing style Justin Kurzel yang tidak cocok dengan treatment genre sejenis seharusnya. Kalaupun (jadi) dibuat sekuelnya (di ending jelas sangat terbuka akan kemungkinan tersebut), perlu perombakan konsep treatment yang lebih menghibur ketimbang apa yang ditawarkan Kurzel di sini. As for now, jika Anda sejak awal sudah tertarik untuk menontonnya, baik karena Anda termasuk fan video game-nya atau sekedar Fassbender-factor, go for it without any expectations. Namun sebaliknya, tak perlu ragu untuk skip.
Lihat data film ini di IMDb
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates