Sweet 20

Tatjana Saphira to perform young Niniek L. Karim in South Korea's hit remake.
Read more.

Jailangkung

Rizal Mantovani and Jose Poernomo to pass-on the Jailangkung mythology.
Read more.

Surat Kecil untuk Tuhan

Bunga Citra Lestari starred in a child-abuse awareness tearjerker based on Agnes Davonar's best seller novel series.
Read more.

Spider-Man Homecoming

Make ways for the brand new Peter Parker to return to MCU.
Opens July 5.

Transformers: The Last Knight

Michael Bay to put the dino-bots back to the world for another mission.
Read more.

Saturday, December 31, 2016

The Jose Flash Review
Why Him?

Perseteruan antara calon mertua dan calon menantu ternyata tak hanya menarik pada kebudayaan Timur saja, tapi juga di Barat. Masih terpatri jelas dalam ingatan saya komedi romantis (atau lebih tepatnya komedi keluarga) tentang mertua vs menantu, Meet the Parents yang dilanjutkan sekuelnya, Meet the Fockers dan Little Fockers. Salah satu penulis naskah di balik ketiga seri tersebut, John Hamburg, bersama Ian Helfer (The Oranges) kemudian kembali menyusun naskah bertema serupa dengan modifikasi-modifikasi yang lebih ‘menyesuaikan jaman’ dan treatment yang lebih ‘nakal’. Shawn Levy dan Ben Stiller pun tertarik memproduseri, sementara aktor James Franco dan Bryan Cranston dari serial Breaking Bad, terpilih untuk mengisi peran lini utama. Sementara di lini pendukung, ada Cedric the Entertainer, Zoey Deutch (Beautiful Creatures dan Dirty Grandpa), Megan Mullally dari serial Will & Grace, dan Keegan-Michael Key dari serial MADtv. Yang tak kalah penting, film bertajuk Why Him? (WH) ini diset sebagai film Natal, yang eksistensinya sudah semakin jarang.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
The Girl on the Train

Misteri pembunuhan adalah salah satu genre novel yang paling digemari. Lewat teks, pembaca bisa berimajinasi setinggi dan seluas-luasnya, pun penulis juga bisa memberikan deskripsi serta detail yang luar biasa dalam mengajak pembacanya ‘bermain-main’. Tak sedikit juga novel misteri pembunuhan best seller yang diangkat ke layar lebar. Di era 2010-an, novel The Girl on the Train (TGotT) karya debut Paula Hawkins sukses menduduki posisi pertama di daftar The New York Times Fiction Best Sellers tahun 2015 selama 13 minggu berturut-turut, dan akhirnya dinobatkan sebagai novel dewasa dengan penjualan tercepat sepanjang sejarah. Bahkan ada yang menyebutnya sebagai the next Gone Girl, novel misteri psikologis yang sama-sama menggunakan narator yang tak bisa dipercaya, karya Gillian Flynn yang sudah lebih dulu difilmkan oleh David Fincher tahun 2014 lalu.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Railroad Tigers
[铁道飞虎]

Bagi banyak aktor, usia mungkin menjadi kendala yang membuat karir jadi meredup, apalagi di genre action. Namun beberapa aktor membuktikan bahwa tidak semuanya mengalami hal serupa. Jackie Chan adalah salah satu figur aktor Asia yang layak untuk mewakilinya. Setelah sukses di Hollywood, Chan terus mengekspansi reputasinya di perfilman internasional lewat PH yang didirikannya, Sparkle Roll Media. Setelah tahun 2015 lalu memproduksi film Mandarin dengan budget tertinggi sepanjang masa, Dragon Blade (konon mencapai US$ 65 juta dan menghasilkan hingga lebih dari US$ 123 juta di seluruh dunia), akhir tahun 2016 ini ia merilis Railroad Tigers (RT) yang tak kalah ambisius-nya. Bahkan di tahun 2017 ini, Chan sudah mempersiapkan perilisan 5 film sekaligus, termasuk 3 di antaranya diproduksi di bawah Sparkle Roll Media, yaitu Kung-Fu Yoga, Viy 2 (Journey to China: Mystery of Iron Mask), dan Bleeding Steel. Chan kembali menggandeng Ding Sheng sebagai sutradara, penulis naskah (bersama He Keke), sekaligus editor, setelah berkolaborasi di Little Big Soldier (2010) dan Police Story: Lockdown (2013). Di lini aktor, ada personel EXO, Huang Zitao, Hiroyuki Ikeuchi (Ip Man), Zhang Lanxin (Chinese Zodiac, Skiptrace), bintang Taiwan, Darren Wang, Wang Kai, Zhang Yishang, dan bahkan putra kandung Chan sendiri yang beberapa bulan lalu pernah tersandung kasus narkoba, Jaycee Lee.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Eloise

Film horor yang berdasarkan kisah nyata dan melakukan syuting di lokasi asli kejadian sudah bukan formula baru di genrenya. Bahkan sempat jadi trend. Namun seiring dengan perkembangan jaman, sekedar ‘based on true story’ dan ‘shot on real location’ tak cukup untuk mengundang rasa penasaran penonton untuk menyaksikan filmnya. Salah satu upaya demikian coba dilakukan sekali lagi oleh Buy Here Pay Here Entertainment, SLAM, dan Palm Drive lewat Eloise. Bukan, ini bukan berasal dari cergam anak buah tangan Kay Thompson dan Hilary Knight. Ini adalah sebuah horor fiktif yang menggunakan popularitas sebuah rumah sakit jiwa terbesar di Amerika Serikat, Eloise Insane Asylum (EIA). Sayang, rumah sakit jiwa yang berdiri sejak 1832 di Westland, Michigan, dan saking besarnya sampai punya kode pos sendiri, dengan fasilitas meliputi toko roti, bar, kantor pos, serta gedung pemadam kebakaran sendiri ini sekarang sudah terbengkalai dan ludes terbakar. Hanya tersisa gedung utamanya saja.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Thursday, December 29, 2016

The Jose Flash Review
Cek Toko Sebelah

Sebagai bangsa yang kaya akan etnis dan budaya, Indonesia seharusnya kaya pula akan ide cerita untuk diangkat ke medium film. Sayang, sampai saat ini tak banyak yang berani mengangkatnya. Lebih tepat lagi, belum menemukan formula kemasan yang pas sehingga tetap menarik untuk dibahas, tidak hanya sekedar display kebudayaan dengan plot cliche, kedalaman ala sinetron, atau cenderung depresif. Salah satu yang berani dan punya style tersendiri untuk menyampaikannya adalah Ernest Prakasa. Identitasnya sebagai etnis Cina (Yes. Sorry SBY, menurut saya penggunaan istilah ‘Tionghoa/Tiongkok’ untuk menggantikan ‘Cina’ sebagai solusi diskriminasi adalah menggelikan. Seluruh dunia menggunakan kata ‘Cina’ dan tak ada yang terkesan ofensif) dan profesinya sebagai komika membuatnya mampu ‘mengawinkan’ kedua elemen ini jadi kemasan yang menghibur sekaligus berbobot. Sementara ada komika yang ‘terjebak’ dengan image materinya hingga terus-terusan mendaur ulang tema yang itu-itu saja, Ernest memang masih menggunakan tema yang serupa (yaitu tentang “life as an Indonesian-Chinese”), tapi membidik topik yang berbeda dan tak kalah menarik sekaligus krusial untuk dibahas karena bisa jadi relevan secara universal. Jika tahun lalu Ngenest adalah sebuah self-discovery, maka Cek Toko Sebelah (CTS) yang diusungnya tahun ini adalah sebuah potret kondisi sosial, terutama tipikal keluarga etnis Cina di Indonesia. Ernest masih dibantu oleh Jenny Jusuf (Filosofi Kopi) dan sang istri, Meira Anastasia, untuk menyusun naskahnya, serta memboyong lusinan komika dan aktor-aktris populer tanah air untuk meramaikan karya terbarunya ini.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Earthquake
[Zemletryasenie / երկրաշարժ]

Kita di Indonesia termasuk beruntung memiliki distributor-distributor film yang mengimpor beragam film dari berbagai negara. Salah satu yang patut diapresiasi adalah Moxienotion yang beberapa tahun terakhir mengimpor film-film asing yang berkompetisi untuk kategori Best Foreign Language Film di Academy Awards. Setelah tahun lalu membawa The Wave (Bølgen) dari Norwegia dan Under the Shadow (UK) beberapa bulan lalu, film internasional ketiga yang diimpor adalah Zemletryasenie (atau judul internasionalnya, Earthquake). Film ko-produksi Armenia-Rusia yang dipilih mewakili Armenia di kategori prestisius tersebut untuk kelima kalinya setelah terakhir 2012 silam. Sayang Earthquake didiskualifikasi karena komposisi cast and crew yang dianggap lebih banyak berasal dari Rusia ketimbang Armenia sendiri. Nevertheless, ini adalah kesempatan yang langka untuk bisa menyaksikan sinema Armenia di tanah air. Apalagi film ini bukanlah proyek main-main. Berdasarkan bencana gempa bumi besar yang menimpa Armenia tahun 1988, Earthquake ditangani sutradara muda Armenia yang sukses secara komersial di Rusia seperti lewat The Pregnant (2011), Moms (2012), dan That was the Men’s World (2013), Sarik Andreasyan. Naskahnya disusun oleh tim Sergey Yudakov (The Ghost dan upcoming, Furious), Aleksey Gravitskiy, Arsen Danielyan, dan Grant Barsegyan. Sekedar informasi, The Earthquake yang ditayangkan di Indonesia sudah di-dub ke dalam bahasa Rusia dari bahasa aslinya, Armenia. Bagi saya yang awam terhadap kedua bahasa tersebut, tak menjadi masalah sama sekali.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Tuesday, December 27, 2016

The Jose Flash Review
Passengers

Memadukan sci-fi dengan filosofi sejatinya sudah sejak lama dilakukan. Keduanya memang menjadi pasangan yang klop untuk dikawinkan karena sejatinya sci-fi dengan berbagai kisah di dalamnya tak lepas dari filosofi-filosofi kehidupan manusia, apapun aspeknya. Passengers yang naskahnya sudah ditulis oleh Jon Spaihts (The Darkest Hour, Prometheus, Doctor Strange, dan upcoming, reboot The Mummy) sejak 2007 lalu dan sempat masuk dalam daftar Blacklist (daftar naskah yang paling disukai tapi belum direalisasikan ke dalam bentuk film). Namun penggarapannya tak begitu mulus, mulai pergantian studio dari Weinstein Company dengan budget tak lebih dari US$ 35 juta ke Sony Pictures yang akhirnya memberikan lampu hijau dengan budget US$ 110 juta, pergantian sutradara dari Brian Kirk (serial Game of Thrones dan The Tudors) ke sutradara asal Norwegia, Morten Tyldum (Headhunters, The Imitation Game), sampai pemilihan cast yang awalnya dipilih Keanu Reeves dan Rachel McAdams, Reese Witherspoon, sampai Emily Blunt, sebelum akhirnya dipilih Chris Pratt dan Jennifer Lawrence sebagai keputusan akhir. Disusul Michael Sheen, Laurence Fishburne, dan Andy Garcia. Kabar honor Lawrence yang mencapai US$ 20 juta ditambah 30% dari profit final, sementara Pratt ‘hanya’ dibayar US$ 12 juta, mewarnai menjelang perilisan filmnya.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Assassin's Creed

Kendati film adaptasi dari video game sudah sejak lama mendapatkan stigma negatif dan seringkali flop di pasaran, upaya untuk mengambilnya sebagai materi layar lebar selalu dilakukan dengan harapan bisa lebih baik atau setidaknya masih mampu meng-grab pemain game-nya yang jumlahnya tak bisa dianggap remeh. Syukur-syukur bisa sekaligus mengubah stigma tersebut. Namun tentu ini bukan upaya yang mudah untuk dilakukan. Upaya terbaru dilakukan Ubisoft dengan franchise terbesar mereka, Assassin’s Creed (AC), yang pertama kali dirilis tahun 2007 dan sudah ada sembilan judul game utama serta beberapa judul pendukung. Tak tanggung-tanggung, Ubisoft sampai membuka divisi sendiri atas nama Ubisoft Motion Pictures dengan menjadikan adaptasi AC sebagai proyek pertama mereka. Awalnya sempat menggandeng Sony Pictures di tahun 2011, tapi negosiasi yang panjang dan keinginan kontrol kreativitas yang lebih besar membuat mereka akhirnya memutuskan untuk memproduksi sendiri. New Regency, RatPac Entertainment, dan Alpha Pictures kemudian turut bergabung, dengan 20th Century Fox sebagai distributor internasional.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Monday, December 26, 2016

The Jose Flash Review
Dangal
[दंगल]

Baru Lebaran tahun ini kita disapa oleh film Hindi bertemakan gulat dari Salman Khan, Sultan, yang kualitasnya sangat baik, akhir tahun ini giliran Aamir Khan yang unjuk gigi di tema yang serupa. Sebagai salah satu aktor papan atas Bollywood, tiap penampilannya tak pernah main-main. Setelah terakhir memikat publik dunia lewat PK tahun 2014 lalu, baru tahun 2016 ini ia bermain di Dangal, sebuah drama berlatar belakang olahraga gulat yang diangkat dari kisah nyata sosok pegulat Mahavir Singh Phogat dan putrinya yang menjadi wanita India pertama yang memenangkan medali emas di Commonwealth Games 2010, Geeta Phogat. Proyek ini sebenarnya sudah tercetus sejak 2012 silam oleh tim kreatif Disney yang kemudian menggandeng Nitesh Tiwari (Chillar Party, Bhoothnath Returns) untuk menyusun naskah sekaligus menyutradarainya. Khan lantas setuju untuk ikut memproduksi dan bermain sebagai lead actor dengan effort yang tak ringan demi perannya ini. Mulai naik-turun berat badan sampai latihan gulat betulan.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Sunday, December 25, 2016

The Jose Flash Review
Hangout

Baru Lebaran lalu Raditya Dika mencetak sukses Koala Kumal yang berhasil menggaet 1.8 juta penonton lebih, di akhir tahun ini ia mencoba peruntungan di genre serta konsep yang jauh berbeda dari biasanya. Jika image-nya selama ini sudah tertanam kuat komedi olok-olok diri karena status jomblo, kali ini ia ‘bermain-main’ menggabungkan komedi absurd khas-nya dengan thriller misteri a la Agatha Christie (terutama Ten Little Niggers atau kemudian juga dikenal sebagai And Then There Were None – 1939 – yang sudah beberapa kali diadaptasi ke berbagai medium, termasuk layar lebar). Tak hanya itu, nama-nama populer tanah air, mulai Soleh Solihun, Bayu Skak, Titi Kamal, Surya Saputra, Prilly Latuconsina, Gading Marten, Dinda Kanya Dewi, sampai Mathias muchus, digandeng untuk meramaikan sekaligus mengundang penonton sebanyak-banyaknya. Sejak trailer pertama dirilis, film bertajuk Hangout ini sudah mengundang rasa penasaran akan seperti apa racikan komedi-thriller a la Raditya Dika. Menariknya lagi, Hangout dirilis hanya enam hari sebelum film yang digarap oleh komika terkemuka tanah air lainnya, Ernest Prakasa, Cek Toko Sebelah dirilis. Maka akhir tahun ini bisa menjadi ajang battle yang seru dari dua komika populer tanah air yang sudah tak perlu diragukan lagi kekuatan masing-masing fanbase-nya.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Monday, December 19, 2016

The Jose Flash Review
My Annoying Brother
[Hyeong/형]

Sudah bukan rahasia lagi bahwa sinema Korea Selatan memang piawai dalam menggarap drama (atau mix-genre apapun) yang begitu emosional hingga sukses membuat penonton ter-bebal sekalipun berkaca-kaca. Tak diabaikan pula karakterisasi yang kuat dalam mendukung momen-momen emosionalnya. Selain meng-eksplorasi emosi lewat hubungan pasangan maupun orang tua-anak, ada satu materi yang pernah sesekali diangkat tapi tergolong jarang, yaitu hubungan antar-saudara (baca: brotherhood). CJ Entertainment selaku distributor film-film Korea Selatan terbesar untuk peredaran internasional tahun ini menawarkan materi tersebut lewat My Annoying Brother (/Hyeong - MAB). Dari salah satu penulis naskah (terutama untuk part-part dramatisasi-nya) Miracle in Cell No. 7 (2013), Young-A Yoo, dan sutradara Soo-Kyung Kwon (Barefoot Kibong – 2006), MAB menggandeng aktor Jung-suk Jo (Architecture 101, Time Renegade), personel boyband EXO-K, Kyung-soo Do alias D.O., serta aktris cantik, Shin-hye Park yang sempat kita lihat sebagai Ye-seung dewasa di Miracle in Cell No. 7. Pencapaiannya di pasar domestik termasuk sukses setelah berhasil mengumpulkan satu juta penonton dalam empat hari pertama perilisannya (sampai tulisan ini diturunkan sudah mencapai tiga juta penonton). Fans sinema Korea Selatan di Indonesia boleh bersorak karena Jive Movies membawa MAB untuk diputar di bioskop-bioskop Indonesia mulai 21 Desember 2016.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Friday, December 16, 2016

The Jose Flash Review
Collateral Beauty

Keringnya film-film Natal beberapa tahun terakhir agaknya akan sedikit berbeda tahun ini. Setidaknya Village Roadshow Pictures, Overbrook Entertainment, dan Anonymous Content melalui Warner Bros. mencoba menghadirkan film bertemakan Natal dengan jajaran cast yang tak bisa diabaikan begitu saja. Ada Will Smith, Edward Norton, Kate Winslet, Michael Peña, Helen Mirren, Naomie Harris, dan Keira Knightley. Either pemenang di berbagai ajang penghargaan bergengsi atau pencetak box office hit, bukan? Meski punya elemen magical fantasy, film bertajuk Collateral Beauty (CB) ini mengulik sisi melankoli manusia, terutama dalam menghadapi berbagai permasalahan hidup yang tak terelakkan. Penulis naskah Allan Loeb (21, Wall Street: Money Never Sleeps, Just Go with It, Rock of Ages) pernah ber-statement bahwa naskah aslinya ini merupakan hasil meditasi dari perasaan seseorang dengan perasaan kehilangan mendalam yang terus-terusan mengganggu pikirannya. Pilihan David Frankel (The Devil Wears Prada, Marley & Me, The Big Year, Hope Springs) yang lebih dikenal lewat film-film dengan bumbu humor, justru menjadi daya tarik lebih, selain premise-nya sendiri.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Wednesday, December 14, 2016

The Jose Flash Review
The Professionals

Tahun 2016 ini MNC Pictures semakin terlihat gencar memproduksi film layar lebar. Setelah Surat Cinta untuk Kartini, 1 Cinta di Bira, dan Me vs Mami, kini giliran The Professionals (TP) yang ditangani langsung oleh eksekutif produser Affandi Abdul Rachman. Ini menandai come back Affandi di bangku sutradara setelah terakhir Negeri 5 Menara 2012 silam. Menariknya, TP ini berani mengusung tema yang termasuk sangat jarang (atau malah belum pernah sama sekali?) diangkat di ranah film Indonesia, yaitu heist atau ‘perampokan’. Gambaran umumnya seperti Ocean’s Eleven. Ketika mulai merilis materi-materi promo pun, ia punya ‘look’ yang menjanjikan. Naskahnya dikerjakan oleh Baskoro Adi Wuryanto (Bulan Terbelah di Langit Amerika 1-2, Hi5teria, Dejavu: Ajian Puter Giling, Kampung Zombie, Ghost Diary, dan Sawadikap) bersama Stella Gunawan (Ghost Diary). Sementara jajaran cast populer, mulai Fachri Albar, Arifin Putra, Cornelio Sunny, Imelda Therine, Lukman Sardi, sampai pendatang baru, Richard Kyle, dan Melly Nicole, tentu menambah daya tarik TP.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Rogue One:
A Star Wars Story

Sejak kemunculan pertama kalinya di tahun 1977, franchise Star Wars yang kemudian menjadi franchise terbesar Hollywood, sudah menampakkan kekayaan universe yang berlimpah selain plot utama tentang ‘dinasti’ Skywalker. Tak heran kemudian muncul berbagai spin-off dalam bentuk animasi, novel, graphic novel, game, maupun fanfic yang tak terhitung jumlahnya. Setelah LucasFilm Ltd. dibeli oleh Disney tahun 2012 senilah US$ 4.05 milyar, kesempatan ekspansi serta eksplorasi kisah-kisah Star Wars menjadi lebih besar lagi. Disney tentu tak mau menyia-nyiakan nilai empat milyar dollar Amerika tersebut dengan hanya bertumpu pada ekspansi plot utama yang dimulai dari The Force Awakens (TFA) tahun 2015 lalu.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Befikre
[बेफिक्रे]

Jika Anda termasuk rajin mengikuti perkembangan sinema Bollywood, ada kecenderungan trend tema akhir-akhir ini, yaitu proses kedewasaan dalam hubungan asmara. Termasuk di dalamnya, mendefinisikan cinta yang sesungguhnya, yang ‘meant to be as a long-term relationship partner’. Belum lama ini ada Katti Batti dan Ae Dil Hai Mushkil. Uniknya, sinema Bollywood selalu punya treatment berbeda-beda dan unik meski mengusung tema yang itu-itu saja. Sajian terbaru bertema sejenis di penghujung tahun 2016 adalah Befikre (yang arti dalam bahasa Inggris-nya: carefree) yang diproduksi, ditulis, dan disutradarai oleh CEO salah satu studio raksasa India, Yash Raj Films (YRF) sendiri, Aditya Chopra. Ini menandai come back-nya dalam menyutradarai setelah Dilwale Dulhania Le Jayenge (1995), Mohabbatein (2000), dan Rab Ne Bana Di Jodi (2008). Jarangnya ia duduk langsung di bangku sutradara membuat Befikre jadi sesuatu yang menarik. Menambah daya tariknya, aktor Ranveer Singh (Gunday, Finding Fanny, dan Bajirao Mastani) dipasangkan dengan aktris yang masih tergolong pendatang baru, Vaani Kapoor (Shuddh Desi Romance dan Aaha Kalyanam), serta dipilihlah setting secara keseluruhan di Paris yang notabene adalah kota paling romantis di dunia.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Sing

Trend film animasi tahun 2016 ini rupanya jatuh pada fabel dengan karakter-karakter binatang yang berperilaku menyerupai manusia. Terhitung ada Kung Fu Panda 3, Zootopia, The Angry Birds Movie, dan The Secret Life of Pets. Illumination Entertainment yang pertengahan tahun melepas The Secret Life of Pets, di penghujung tahun ini mencoba menawarkan film animasi Sing. Konsepnya yang musikal dengan memuat lagu-lagu populer lintas jaman sedikit mengingatkan saya akan Trolls yang dirilis belum lama ini. Tak heran jika saya mengira Sing akan menjadi gabungan antara Zootopia dan Trolls pada derajat tertentu. Ide ini berasal dari Garth Jennings (The Hitchhiker’s Guide to the Galaxy, Son of Rambow) yang duduk selaku penulis naskah sekaligus sutradara bersama Christophe Lourdelet yang sudah berpengalaman di balik film-film animasi seperti Balto, A Monster in Paris, The Lorax, Arthur Christmas, The Pirates! Band of Misfits, Despicable Me 2, dan Minions. Selebriti-selebriti yang digandeng untuk menyumbangkan suaranya pun tak tanggung-tanggung. Mulai Matthew McConaughey, Reese Witherspoon, Seth McFarlane, Scarlett Johansson, John C. Reilly, Taron Egerton, sampai Jennifer Saunders dan Jennifer Hudson. Dengan track record film-film animasi Illumination yang lebih untuk menghibur ketimbang mengedepankan value, saya sudah menyiapkan diri dengan ekspektasi secukupnya sebelum menonton.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Thursday, December 8, 2016

The Jose Flash Review
Your Name
[Kimi no Na Wa / 君の名は。]

Full review posting soon.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Tuesday, December 6, 2016

The Jose Flash Review
Equals

Full review posting soon.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Monday, December 5, 2016

The Jose Flash Review
Bulan Terbelah di Langit Amerika 2

Akhir tahun 2015 lalu, Bulan Terbelah di Langit Amerika (BTdLA) produksi Maxima Pictures yang berhasil menggaet 900 ribu penonton lebih. Film yang diadaptasi dari novel karya Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra ini merupakan follow up dari film yang juga diangkat dari novel karya mereka sebelumnya, 99 Cahaya di Langit Eropa. Tahun 2016 ini, Maxima (dengan bendera yang baru: Max Pictures) menghadirkan sekuel dari BTdLA dengan komposisi cast dan crew utama yang kurang lebih sama. Alim Sudio dan Baskoro Adi pun bergabung bersama Hanum dan Rangga untuk menyusun naskahnya, sementara Rizal Mantovani masih dipercaya sebagai sutradara. Bulan Terbelah di Langit Amerika 2 (BTdLA2) menjadi semakin bikin penasaran dengan isu yang provokatif (sekaligus delusional), ‘apakah benar muslim penemu benua Amerika?’ sebagai materi promonya.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Kahaani 2: Durga Rani Singh

Tahun 2012 lalu sinema Hindia mengejutkan publik internasional lewat Kahaani. Film thriller investigasi yang menggabungkan elemen action, petualangan, motherhood, dan mitologi tradisional, sertapunya salah satu twist ending paling brilian ini tak hanya berhasil secara komersial (dengan mengumpulkan US$ 16 juta di seluruh dunia dalam 50 hari) maupun rekoknisi di berbagai ajang penghargaan, tapi juga meningkatkan popularitas banyak pihak. Mulai aktor Nawazuddin Siddiqui sampai kota Kolkata. Tahun 2016 ini sutradara/penulis naskah Sujoy Ghosh kembali menggandeng Vidya Balan untuk sebuah sekuel. Meski sempat tertunda sejak 2013 karena perbedaan visi dengan co-produser yang lain, proyek ini akhirnya tetap jalan. Awalnya pada 2014, Ghosh membuat konsep cerita Kahaani 2 sebagai film yang berdiri sendiri berjudul Durga Rani Singh dengan aktor Irrfan Khan dan Vidya Balan. Sayangnya kedua aktor ini mundur dan Ghosh memutuskan untuk menjadikannya sebagai sekuel dari Kahaani. Ghosh menjadikan sekuel ini bukan sebagai kisah lanjutan yang berhubungan langsung dengan Kahaani pertama, tapi sebagai kisah baru dengan tema dan style penceritaan serupa. Ia ingin membuat Kahaani sebagai sebuah seri dengan cerita yang berbeda-beda seperti kisah detektif Feluda. Kahaani yang artinya ‘cerita’ memungkinkan konsep ini. Aktor populer Arjun Rampal pun didapuk untuk mendampingi Vidya Balan, serta tentu saja menambah daya tariknya.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Saturday, December 3, 2016

The Jose Flash Review
Headshot

The Raid dan The Raid: Berandal tak hanya menjadi salah satu pembangkit genre action di film Indonesia, tapi juga salah satu tonggak sejarah terpenting sepanjang sejarah film Indonesia. Sejak itu, beberapa film bergenre action mencoba untuk menorehkan prestasi serupa, tapi belum ada yang benar-benar layak menyamai pencapaian tersebut. Maka Mo Brothers; Timo Tjanjanto dan Kimo Stamboel yang kita kenal lewat Rumah Dara (2010) dan Killers (2014), mencoba untuk membuat prestasi yang setara, setidaknya dikenal di peredaran internasional. Bertajuk Headshot, Mo Brothers menggandeng Iko Uwais yang sudah populer bahkan di kancah internasional lewat franchise The Raid, didukung Julie Estelle dan Very Tri Yulisman yang juga sempat muncul di The Raid: Berandal, Chelsea Islan, Zack Lee, dan aktor Singapura yang juga stuntman sekaligus koreografer bela diri, Sunny Pang. Mendapat sambutan hangat di Toronto International Film Festival dan L’estrange Fetival Paris serta sudah dibeli untuk peredaran di berbagai negara, Headshot akhirnya siap menyapa penonton di rumah sendiri.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Cinta Laki-Laki Biasa

Setelah Pesantren Impian di awal tahun dan Jilbab Traveler: Love Sparks in Korea di musim libur Lebaran dirilis, tahun ini ada satu lagi novel Asma Nadia yang mendapatkan giliran diadaptasi ke layar lebar, yaitu Cinta Laki-Laki Biasa (CLLB). Kembali bekerja sama dengan ‘the dream team’; penyusun naskah, Alim Sudio (Assalamualaikum Beijing, Surga yang Tak Dirindukan, dan Pesantren Impian, dan Jilbab Traveler) dan sutradara Guntur Soeharjanto (Assalamualaikum Beijing dan Jilbab Traveler), kali ini giliran Starvision yang mendapatkan giliran mencoba peruntungan. Deva Mahenra, Velove Vexia, dan Nino Fernandez diletakkan di lini terdepan untuk menarik perhatian penonton, sementara Ira Wibowo, Cok Simbara, Dewi Yull, Dewi Rezer, Fanny Fabriana, Donita, Muhadkly Acho, Agus Kuncoro, Dhini Aminarti, dan Adi Nugroho digandeng untuk ‘meramaikan’.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Underworld: Blood Wars

Underworld bisa jadi sebuah franchise yang menarik untuk dikaji. Hikayat bak Romeo & Juliet di tengah perseteruan antara vampire dan lycan (werewolf) yang melambungkan nama Len Wiseman sebagai sutradara film layar lebar sekaligus menjodohkan dirinya dengan mantan istri, Kate Beckinsale ini akhirnya berkembang menjadi tiada akhir seperti franchise Resident Evil. Sejak installment pertama di tahun 2003, sebenarnya tak pernah benar-benar mencetak angka box office yang mencengangkan, apalagi di peredaran domestik yang cenderung menurun. Hanya pendapatan internasional saja yang setidaknya bisa mendulang lebih banyak pemasukan. Namun dengan budget yang memang tergolong minim untuk genrenya, maka Lakeshore Entertainment selalu tertarik untuk terus menghidupkan franchise ini. Sementara kritik sejak installment pertama lebih banyak yang memberikan impresi negatif. Seiring dengan waktu dan bongkar-pasang cast & crew, tak terasa Underworld sudah sampai pada installment kelimanya dengan sub-judul Blood Wars.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Dear Zindagi

Nama Gauri Shinde sebagai sineas wanita di Bollywood meroket ketika film debutnya, English Vinglish (2012) banjir pujian maupun sukses menjadi box office. Maka kesempatan untuk membuat film dengan skala yang lebih besar pun terbuka lebih besar. Tak tanggung-tanggung, proyek Dear Zindagi (DZ) yang sudah direncanakan sejak pertengahan 2015 lalu mendapatkan dukungan dari Gauri Khan lewat Chillies Entertainment dan Karan Johar lewat Dharma Productions. Di jajaran cast-nya pun berhasil menggaet aktris muda yang sedang naik daun, Alia Bhatt dan sang legenda himself, Shah Rukh Khan. Tentu nama-nama ini membuat DZ yang sebenarnya punya budget biasa-biasa saja mengundang excitement dari banyak pihak, bahkan langsung menyandang status high profile project. Meski tanggapan kritik beragam, DZ terbukti mencetak box office di negaranya dan beberapa negara lain di seluruh dunia. Tentu cast menjadi faktor utamanya. Namun reputasi Shinde sendiri jelas tak bisa dianggap remeh.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Force 2

Full review posting soon.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates